![]() |
| Abuya Al Habib Abdullah bin Muhammad Baharun. (Sumber: petuah_abuya) |
Jemari itu bergerak nyaris tanpa perintah, menggulir layar demi layar dalam sebuah ritme yang begitu akrab. Mata terpaku pada cahaya biru, sementara dunia di sekitar perlahan memudar dalam keheningan. Ini adalah potret zaman kita: sebuah paradoks di mana teknologi yang dirancang untuk menghubungkan, justru sering kali menjadi sekat paling tebal antara kita dengan kehidupan itu sendiri.











