Skip to main content

Posts

Membuka Lembar Siyarus Salikin Tanpa Tatapan Sang Murobbi

Catatan Majelis bareng Abah Allahyarham Adda'i Illallah Ustadz Mahfudzin bin H Alif Yunus, Desember 2022 lalu. (Didesain oleh AI) *Memoar Ta'lim Malam Kamis: Menjemput Berkah Kitab Siyarus Salikin Tanpa Kehadiran Abah      Semalam adalah malam Kamis awal bulan. Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya pergantian hari biasa. Namun bagiku dan almarhum Abah, malam itu adalah waktu yang sakral - saatnya kami membelah jalanan untuk menjemput tetesan embun ruhani. Saya melangkah keluar dari kamar kost, menatap lurus ke arah rumah Abah yang jaraknya hanya pelemparan batu, sekitar sepuluh meter di depan mata.
Recent posts

Berdamai dengan Rindu: Menemukan Diri di Film "Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya?"

Poster Film "Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?" di XXI Plasa Cibubur. Dokpri/Disisi Malam itu, saya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang agak "nekat": menonton film di jam penayangan terakhir, tepatnya pukul 21.00 WIB. Pilihan saya jatuh pada film yang sedang hangat dibicarakan, judulnya cukup menyentil batin: “Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya?”.

Sisi Gelap Ambisi dan Jebakan Validasi dalam Film "Tunggu Aku Sukses Nanti"

Poster film "Tunggu Aku Sukses Nanti" di Bioskop XXI Mall Ciputra Cibubur, memancarkan atmosfer komedi keluarga. (Dokpri/Disisi) Pernahkah kita bertanya-tanya, untuk siapa sebenarnya kita mengejar kesuksesan? Pertanyaan filosofis ini mendadak muncul setelah saya menyaksikan film terbaru karya sutradara Naya Anindita yang berjudul Tunggu Aku Sukses Nanti . Menontonnya di tengah kesunyian bioskop XXI Mall Ciputra, Cibubur, pada Sabtu malam lalu, memberikan ruang bagi saya untuk mencerna setiap emosi yang disuguhkan.

Di Bawah Naungan Cahaya Murabbi [Kado Milad Abah 2026]

Lentera kecil pengusir kelam, laksana nasihat guru yang menetap di dalam diam. Jawaban doa dalam binar cahaya. (Sumber: Unsplash) Di antara riuh rendah dunia yang fana, Engkau hadir sebagai jawaban dari sujud-sujud panjangku, Seperti rintik hujan yang jatuh di tanah yang dahaga, Nasihatmu mengalir lembut, menetap dalam sanubari tanpa sengketa.

Tentang Hati yang Terbelah dan Rindu yang Belum Tuntas

Dermaga saksi bisu langkah kaki yang kembali mengembara, membawa rindu yang belum tuntas di balik birunya laut. (Sumber: Dokumentasi Pribadi/Disisi)  Duduklah sejenak, kawan. Ambil napas dalam-dalam sebelum jemarimu kembali menari di atas papan ketik atau menggenggam kemudi di tengah riuh rendah klakson kota. Apakah hari ini punggungmu sudah mulai terasa penat oleh tumpukan berkas? Ataukah kakimu sudah kembali akrab dengan aspal panas dan sesaknya gerbong kereta yang seolah tak pernah tidur?

Tentang Mereka yang Menjadi Alasan untuk Pulang

Perjalanan mudik 2026. Dokpri/Disisi@26. Oleh: Disisi Saidi Fatah (Cendekia Al Azzam)  Ada sebuah getar yang tak pernah bisa dijelaskan oleh kata-kata saat roda kendaraan mulai menyentuh aspal tanah kelahiran. Bagi kita yang menghabiskan ratusan hari di tanah rantau, mudik bukan sekadar perkara berpindah tempat atau ritual tahunan menghabiskan jatah cuti.

Puisi: Air Langit di Ujung Sajadah

Tiap ayat Al-Waqiah & Ikhlas kuniatkan untukmu. Biarlah ia turun bak hujan, membasahi jiwamu hingga kembali segar. (Picbest).