Skip to main content

Posts

Sepotong Rindu di Jalur Cariu: Perjalanan Perdana Tanpa Sang Murobbi

Hamparan persawahan yang al faqir abadikan saat melintasi jalanan di Cariu bersama Murobbi pada pagi terakhir saat mengawal beliau berdakwah. (15 Feb 2026/Dokpri/Disisi). Malam Ahad lalu, aspal jalanan menuju Cariu sebenarnya terasa sama seperti biasanya. Masih dengan kelokan yang sama, dingin yang sama, dan jalur yang sudah teramat akrab di ingatan. Namun, malam itu ada sesuatu yang mengganjal di dada. Ada ruang kosong di hati yang membuat perjalanan kali ini terasa benar-benar berbeda.
Recent posts

Semangkuk Sekoteng dan Akar yang Patah

  Ilustrasi oleh AI/Gemini Oleh: Disisi Saidi Fatah  

Membuka Lembar Siyarus Salikin Tanpa Tatapan Sang Murobbi

Catatan Majelis bareng Abah Allahyarham Adda'i Illallah Ustadz Mahfudzin bin H Alif Yunus, Desember 2022 lalu. (Didesain oleh AI) *Memoar Ta'lim Malam Kamis: Menjemput Berkah Kitab Siyarus Salikin Tanpa Kehadiran Abah      Semalam adalah malam Kamis awal bulan. Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya pergantian hari biasa. Namun bagiku dan almarhum Abah, malam itu adalah waktu yang sakral - saatnya kami membelah jalanan untuk menjemput tetesan embun ruhani. Saya melangkah keluar dari kamar kost, menatap lurus ke arah rumah Abah yang jaraknya hanya pelemparan batu, sekitar sepuluh meter di depan mata.

Di Balik Gema Takbir Bogor: Idul Adhaku yang Paling Runtuh, Paling Sepi

Suasana shalat idul adha di Cicadas, Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Rabu, 27 Mei 2026. (Dokpri/Disisi) Bagi seorang anak rantau, hari raya selalu punya dua sisi. Di satu sisi ada rindu yang membuncah pada kampung halaman, di sisi lain ada ketangguhan yang dipaksa tegak di tanah orang. Sejak SMA, aku sudah terbiasa jauh dari orang tua. Angin malam perantauan bukan hal baru bagiku. Namun, tahun ini berbeda. Ini adalah tempat pertamaku beneran merantau jauh, menyeberangi pulau, mengadu nasib di tanah Jawa.

Berdamai dengan Rindu: Menemukan Diri di Film "Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya?"

Poster Film "Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?" di XXI Plasa Cibubur. Dokpri/Disisi Malam itu, saya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang agak "nekat": menonton film di jam penayangan terakhir, tepatnya pukul 21.00 WIB. Pilihan saya jatuh pada film yang sedang hangat dibicarakan, judulnya cukup menyentil batin: “Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya?”.

Sisi Gelap Ambisi dan Jebakan Validasi dalam Film "Tunggu Aku Sukses Nanti"

Poster film "Tunggu Aku Sukses Nanti" di Bioskop XXI Mall Ciputra Cibubur, memancarkan atmosfer komedi keluarga. (Dokpri/Disisi) Pernahkah kita bertanya-tanya, untuk siapa sebenarnya kita mengejar kesuksesan? Pertanyaan filosofis ini mendadak muncul setelah saya menyaksikan film terbaru karya sutradara Naya Anindita yang berjudul Tunggu Aku Sukses Nanti . Menontonnya di tengah kesunyian bioskop XXI Mall Ciputra, Cibubur, pada Sabtu malam lalu, memberikan ruang bagi saya untuk mencerna setiap emosi yang disuguhkan.

Di Bawah Naungan Cahaya Murabbi [Kado Milad Abah 2026]

Lentera kecil pengusir kelam, laksana nasihat guru yang menetap di dalam diam. Jawaban doa dalam binar cahaya. (Sumber: Unsplash) Di antara riuh rendah dunia yang fana, Engkau hadir sebagai jawaban dari sujud-sujud panjangku, Seperti rintik hujan yang jatuh di tanah yang dahaga, Nasihatmu mengalir lembut, menetap dalam sanubari tanpa sengketa.