Skip to main content

Posts

Puisi: Air Langit di Ujung Sajadah

Tiap ayat Al-Waqiah & Ikhlas kuniatkan untukmu. Biarlah ia turun bak hujan, membasahi jiwamu hingga kembali segar. (Picbest).
Recent posts

Memetik Cahaya di Cicadas: Tentang Khidmah, Rindu, dan Wajah Guru

Moment foto bersama guru kami Habib Musthofa bin Yahya (Koko Marun) dan Abah Ust. Mahfudin bin H Alif Yunus (Gamis Sage). (Dokpri/Farid). Ada sebuah kebahagiaan yang sulit didefinisikan dengan kata-kata; sebuah rasa yang hanya muncul ketika bibir menyentuh tangan seorang guru, atau saat aroma nasi liwet yang kita tanak sendiri di dapur mereka mengepul hangat untuk menyambut tamu-tamu shalih.

Sorban Biru Langit

  Sebuah Puisi dari Disisi Saidi Fatah

Mengabadikan Moment Bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf

Momen foto bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf. (Dokpri/Fadillah). Setiap orang pasti memiliki momen “one in a million” dalam hidupnya. Sebuah peristiwa langka yang membuat kita tertegun dan merasa seluruh keberuntungan dalam setahun habis dalam satu hari.

"Menangkap Makna di Tengah Arus Zaman" Catatan Kuliah Umum Bersama Gus Faiz

  KH. Muhammad Faiz Syukron Makmun MA (Gus Faiz) saat menyampaikan kuliah umum. (Tangkapan layar/Masjid Raya Bintara Jaya TV). Di tengah gempuran teknologi, kecepatan hidup, dan rutinitas yang makin padat, ada satu hal yang sering luput dari perhatian kita: waktu. Ia hadir diam-diam, berjalan tanpa kompromi, dan tak pernah bisa diulang.

Seni Menikmati Hidup Pas-Pasan ala Rofi Ali Majid

Sumber: Freepik. Kita hidup di zaman yang setiap harinya seperti dikomando untuk lebih. Lebih kaya, lebih cantik, lebih cepat, lebih sukses. Bahkan bahagia pun harus lebih bahagia dari orang lain, biar bisa dipamerkan di story 24 jam. Padahal, kenyataannya banyak dari kita yang hidupnya biasa-biasa saja. Pas-pasan. Gaji pas untuk makan. Waktu pas untuk istirahat. Dan cinta, ya… pasrah aja kalau belum jodoh.

Merdekakan Diri Dari Gadget dan Medsos dengan 6 Langkah Bijak Habib Abdullah bin Muhammad Baharun

Abuya Al Habib Abdullah bin Muhammad Baharun. (Sumber: petuah_abuya) Jemari itu bergerak nyaris tanpa perintah, menggulir layar demi layar dalam sebuah ritme yang begitu akrab. Mata terpaku pada cahaya biru, sementara dunia di sekitar perlahan memudar dalam keheningan. Ini adalah potret zaman kita: sebuah paradoks di mana teknologi yang dirancang untuk menghubungkan, justru sering kali menjadi sekat paling tebal antara kita dengan kehidupan itu sendiri.