Ilustrasi diperkaya oleh AI/Gemini. Hujan bulan Juni kali ini datang lebih awal ke tanah pusaramu, Abah, Membasahi batu nisan yang menyimpan segala nasihat yang pernah kau arah. Jika Eyang Sapardi menyebut hujan itu bijak karena merahasiakan rindu, Maka izinkan aku menjadi hujan yang jujur, yang tak lagi mampu menyembunyikan cintaku padamu.
Di ufuk Bogor yang menyimpan jejak kaki kita, Dulu, debu jalanan adalah saksi bisu pengabdian, Antara desa-desa yang hening dan suara dakwah yang membelah sunyi. Aku adalah debu yang menempel di jubahmu, Menyertaimu dalam lelah yang berkah, Dalam dakwah yang kita rajut di antara sela waktu.