Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2025

Yang Harus Diperhatikan oleh Donatur Jumat Berkah

Ilustrasi. (Foto: Baznas) Setiap hari Jumat, saya sering menjumpai aneka makanan dan minuman yang dibagikan di masjid dekat rumah. Ada yang datang membawa nasi bungkus, bubur kacang hijau, air mineral, bahkan jajanan tradisional yang mengundang nostalgia masa kecil. Semuanya dikemas dalam semangat sedekah: Jumat Berkah.

Solusi Ekonomi Krisis ala Ustadz Segaf Baharun

  Potret Ustadz Segaf Baharun saat ceramah menyentuh hati tentang iman dan krisis ekonomi. (Sumber foto: Dalwa Gallery.) Dalam masa ketika harga kebutuhan naik, utang menumpuk, dan pikiran mudah diliputi cemas soal hari esok, hadirnya nasihat dari Ustadz Segaf Baharun terasa seperti segelas air di tengah dahaga. Lewat tausiyahnya yang hangat dan menyejukkan, beliau menyampaikan sebuah solusi krusial namun sering kita abaikan: perkuat iman.

Sekolah Bukan Medan Perang, Tapi Kenapa Selalu Ada Korban?

Tangan kecil terangkat bertuliskan “Stop Bullying” — isyarat sunyi dari anak-anak yang lelah jadi sasaran tanpa pelindung. (Foto: RSAS Kalsel) Ada yang terasa mengganjal di dada saat membaca berita pagi ini dari Toboali, Bangka Selatan. Seorang anak SD, inisial Z, usia 10 tahun, meninggal dunia. Bukan karena kecelakaan, bukan pula karena penyakit bawaan. Tapi karena dugaan perundungan — bullying yang dilakukan oleh teman-teman sebayanya di sekolah.

Di Balik Kurma, Zam-Zam, dan 28 Kilometer Cinta dari Tanah Suci

          Suatu ketika, aku ikut menemani kakakku menjenguk teman sejawatnya — sesama guru — yang baru saja kembali dari Tanah Suci setelah menunaikan ibadah haji. Kami memanggilnya Mami Yus, dan suaminya Bapak Arif. Sejak mendengar kabar bahwa kami akan berkunjung, rasanya aku sudah tak sabar. Ada rasa senang yang sulit dijelaskan, karena diam-diam aku punya mimpi besar: suatu hari nanti, aku juga ingin berada di sana. Di tanah para nabi. Di tempat yang sejak kecil aku sebut-sebut dalam doa.

Menyelami Makna Hujan Bulan Juni Dalam Novel Eyang Sapardi

Foto buku Hujan Bulan Juni dengan desain sampul estetik seolah basah kehujanan, menyiratkan makna cinta diam-diam. (Sumber foto: dokpri/Fatma.) Setelah lebih dari dua pekan akhirnya saya bisa menuntaskan buku yang saya beli karena iri saat melihat teman terlebih dulu meminangnya. Buku yang membuat saya jatuh cinta taat kali pertama mendengar serta membaca syair-syair indah Hujan Bulan Juni dalam sajak yang ditulis Eyang Sapardi Djoko Damono.  Hujan Bulan Juni karya Eyang Sapardi ini bukan sekadar novel cinta. Ia adalah surat cinta yang dibungkus hujan, diselipkan dalam saku jaket kebudayaan, dan ditulis dengan bahasa yang bikin kamu merasa sedikit lebih pintar setiap kali membacanya. Buku yang mengangkat cerita romansa dua dosen muda; Sarwono dan Pingkan - pasangan yang menjalin hubungan tanpa status resmi dan tanpa perlu mengungkapkan isi hatinya melalui insta story ataupun bio WhatsApp. Sarwono adalah dosen antropologi - seorang Jawa tulen, guyub, halus tapi suka nyeletuk absurd....

Puisi: Detik yang Menyimpan Wajahmu

  Aku dan sepupuku, di suatu hari di sudut rumah sakit. (Dokpri). Di bawah kanopi langit seng yang berkarat senja, kau datang - serupa angin kecil yang menyingkap sunyi, ringan seperti daun gugur yang tak tahu ia indah, dan senyummu... ah, senyummu menusuk pelan seperti cahaya pagi yang menelusup celah dada, menggetarkan sesuatu yang tak sempat kupanggil dengan nama.

Di Bawah Bulan yang Tak Berdaya

Bulan menggantung di langit malam, memantulkan cahaya sendu di antara rumah dan pepohonan-seperti rindu yang diam-diam menunggu pulang. (Foto: Dokpri) Di bawah bulan yang tak bertanya, adalah kalimat-kalimat yang kurangkai dalam larut malam yang tak kunjung padam. Sendiri, menyepi di bawah cahaya rembulan yang seakan redup. Seperti hatiku tanpa hadirmu.

Sepasang Sepatu, Selembar Cinta yang Abadi

Sepasang sepatu sederhana, saksi bisu kasih sayang yang tak terucap namun nyata terasa. (Sumber: Pexels) Ada masa dalam hidup saya ketika sebuah sepatu mengajarkan lebih banyak tentang cinta dari pada semua buku pengembangan diri yang pernah saya baca.

Puisi: Hari Pertama

  Anak-anak SD berseragam rapi di hari pertama sekolah, wajah polos penuh harap. (Foto oleh HeraWati.) Oleh: Cendekia Al Azzam 

Berawal dari Pujian, Jadi Hobi yang Menguntungkan

Ilustrasi (Sumber: Pexels/Lil Artsy) Kadang, satu pujian bisa menjadi pemantik perubahan besar dalam hidup seseorang. Itulah yang saya alami ketika tanpa sengaja menemukan kecintaan mendalam pada dunia menulis - berawal dari satu komentar membangun dari seorang jurnalis senior.

Gaji Pertama dan Pelajaran yang Tak Tertulis

  Gaji pertama dan pelajaran darinya. (Sumber foto: freepik). "Gaji pertama bukan sekadar angka, tapi titik awal perjalanan belajar dewasa." — Anonim   Ngomongin soal gaji pertama, sebagian orang mungkin langsung teringat momen haru: transferan pertama masuk, deg-degan, lalu buru-buru buka aplikasi mobile banking . Tapi buat aku, cerita soal penghasilan sebenarnya sudah dimulai sejak masih duduk di bangku SMA. Bukan gaji resmi, sih - lebih ke cara-cara kreatif cari cuan dari keahlian yang kupunya.