"Malam ini begitu indah dan istemewa. Majelis pekan ini memang berbeda, mungkin sebab kehadiran santri baru yang membuat berbeda."
"Eh Abang. Sehat bang," jawabnya sembari mengulurkan tangan dan mencium tanganku.
"Aku perhatikan kau bengong saja sedari tadi dik,"
"Tidak apa-apa bang, aku hanya sedang menunggu kedatangan seseorang," jawabnya dengan polos.
"Kalau boleh abang tahu, adik sedang menanti kedatangan siapakah?"
"Sudahlah lupakan," ujar anak itu mengalihkan pembicaraan.
"Dengan siapa abang kemari?"
"Keluarga dik," jawabku. "Ohya namamu siapa, abang lupa," tuturku balik bertanya.
"Nama lengkapmu siapa dik?" tanyaku semakin serius.
"Radja aja. Tak ada yang lain!"
"Ha?" timpalku dengan nada sedikit tinggi yang mungundang tatapan seluruh mata tertuju kepadaku. "Namamu panjang sekali. Aneh lagi," bisikku kepadanya.
"Radja Aja Tak Ada Yang Lain. Jadi abang panggil apa ini?"
"Aduh bang. Maksudnya nama lengkapku ya Radja. Hanya itu,"
"Astaghfirullah, maafkan aku dik yang gagal fokus denganmu."
Mati aku menahan malu. Bisa-bisanya pertanyaan macam itu terucap oleh bibirku. Kemanakah pikiran-pikiran ini tuhan.
Aku terdiam beberapa saat, tak ada kata terucap lagi dari bibirku. Aku tersipu malu dengan Radja. Pertanyaan konyol itu membuatku tergelitik lucu. Jika aku pikirkan dan ulangi kata-kata itu, aku jadi malu sendiri dengan diri. Aku terdiam sembari memainkan kamera DSLR. Kuambil gambar empat sampai lima kali jepretan, sesekali aku lihat hasil jepretan sembari memandang Radja.
Aku pikir Radja akan tertawa terbahak-bahak oleh pertanyaan oleh pertanyaanku tadi, ternyata ia hanya diam sembari memperhatikan ku yang sedang mengambil gambar. Mungkin sebab aku gurunya, jadi ia tidak ingin menertawakanku atau mungkin ia memang bukan tipe orang yang senang menertawakan kesalahan orang lain.
Sembari menikmati hidangan dan tampilan yang disajikan anak-anak Madrasah Deen Salaam, aku kembali berbincang dengan Radja. Sesekali mendokumentasikannya dalam bentuk foto maupun video. Sebelumnya aku memang diminta Abah Yusuf, Kiai pimpinan Yayasan Deen Salaam untuk selalu mendokumentasikan setiap acara dan kegiatan di yayasan.
"Radja berasal dari Kota Bandar Lampung ya?"
"Iya bang. Benar"
"Dari pasar tradisional masuk lagi sekitar tiga kilo bang," ujar Radja sambil memainkan jari-jari tangannya.
"Oh di daerah situ ya," sambungku sambil mengangguk, pura-pura paham namun sebenarnya tidak. "Abang dulu tinggal di Bandar Lampung juga selama empat tahun."
"Abang sendiri tinggal dimana?"
"Abang aslinya orang Lampung Tengah, disini tinggal dengan Bapak Angkat. Tak jauh dari sini, sekitar sepuluh menit sampai jika naik kendaraan,"
Suasaba semakin larut malam. Angin malam yang semakin mengundang kantukku, apalagi banyak aktivitas hari ini semakin membuatku lelah. Namun aku berusaha untuk menguatkan diri sampai di penghujung majelis ini. Bagiku majelis ini adalah ajang silaturahmi antara aku dan para wali santri serta ajang untuk mengasuh kemampuan bagi santriwan-santriwati.
Tak terasa tiba sudah di detik-detik penghujung acara. Aku menoleh ke arah samping kananku, Radja sedang tertidur lelap diatas pundakku. Sengaja tadi aku biarkan ia tertidur sebab aku tak tega melihat ia terlalu lelah menahan kantuk.
"Radja. Dik. Ayo bangun, acara sudah selasai," tuturku perlahan sembari membangunkan Radja.
"Aku tertidur ya bang," jawabnya kaget.
"Iya. Tadi sengaja abang tidak bangunkan kamu. Sebab abang tak tega melihat adik terlalu lelah menahan kantuk,"
"Sudah. Sekarang Radja pulang ke asrama ya. Istiharat dulu, besokkan ada kegiatan dari pagi,"
"Abang tidak menginap disini?"
"Abang tidur dirumah dik. Bapak dan Ibu mengajak pulang,"
"Mengapa tidak tidur bareng disini saja bang?" pintanya padaku.
"Lain kali ya, kalau abang tidak sibuk," jawabku sembari melepas senyum kepada Radja. "Ohya, Radja kita selfie bareng dulu ya. Buat kenang-kenangan," pintaku sebelum ia berlalu.
Usai foto bareng, Radja pamitan kepadaku untuk kembali ke asrama. Begitu juga sebaliknya denganku, aku pamitan untuk pulang kerumah pada Radja dan kawan-kawannya.
Sebenarnya aku ingin menghabiskan malam ini di pesantren, namun besok pagi aku harus standby disini sedari pagi. Jadi aku putuskan untuk pulang kerumah saja, agar bisa membagi waktu dirumah.
Malam ini begitu indah sekali. Berkesan dan istimewa. Majelis pekan ini juga sangat berbeda dari majelis sebelumnya. Mungkin sebab kehadiran santriwan-santriwati baru yang membuat suasana berbeda.
Sampai jumpa kembali esok pagi, Radja dan Deen Salaam.











