Cerita Cendekia adalah ruang ekspresi dan refleksi dari Cendekia Alazzam (Pecandu Sastra) — berisi rangkaian puisi, cerpen, cerbung, esai, opini, serta ulasan buku dan film. Melalui tulisan, aku bercerita tentang kehidupan, gagasan, dan imajinasi, dengan harapan bisa mengajak pembaca berpikir, merasa, dan merdeka.

Showing posts with label Essai. Show all posts
Showing posts with label Essai. Show all posts

Wednesday, September 22, 2021

Menjadi Konsumen Cerdas di Era Industri 4.0

 

Maskot Konsumen Cerdas. Foto Dunia Bisa. Istimewa

Oleh: Disisi Saidi Fatah



Aktivitas perdagangan atau perniagaan sudah dimulai sejak masa awal sebelum uang ditemukan. Pada masa itu, kegiatan transaksi ini dilakukan dengan cara barter atau saling bertukar barang sesuai kebutuhan. Namun, seiring berjalannya waktu, pada masa modern saat ini perdagangan maupun perniagaan dilakukan dengan cara bertransaksi menggunakan mata uang sebagai alat pembayaran yang sah.

Pada masa awal lalu, perdagangan hanya dilakukan dengan cara tatap muka/langsung antara penjual dan pembeli, serta melalui perantara. Seiring perkembangan zaman dan teknologi digital, aktivitas perdagangan mengalami perubahan yang signifikan. Kini transaksi jual-beli sudah merambah ke ranah digital.

Share:

Digitalisasi UMKM sebagai Sumber Daya Ekonomi Unggul di Tengah Pandemi

 

Ilustrasi 'Teknologi'. Foto linkumkm.id | istimewa

Oleh: Disisi Saidi Fatah


Pandemi Covid-19 yang mulai memasuki kawasan Indonesia sejak awal Maret 2020, memberikan dampak ke segala sektor, salah satunya sektor ekonomi. Hal ini dirasakan secara signifikan oleh pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang mengalami krisis ekonomi. Pasalnya, menurunnya daya beli masyarakat akibat pandemi juga sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan usaha UMKM. 

Krisis ekonomi yang dialami UMKM tanpa disadari dapat menjadi ancaman bagi perekonomian nasional. Oleh karena itu pembinaan dan bantuan pendidikan untuk pelaku UMKM di masa pandemi ini perlu menjadi perhatian banyak sektor, terutama lembaga pemerintah.


Share:

Saturday, April 11, 2020

Essai : Kartini Dimata Pemuda


Oleh : Disisi Saidi Fatah



            Raden Adjeng Kartini atau sebenarnya lebih tepat Raden Ayu Kartini (R.A Kartini) merupakan sosok wanita pribumi dari keturunan bangsawan, anak ke lima dari sebelas bersaudara yang lahir di Jepara, pada 21 April 1879. Seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia, yang dikenal sebagai pelopor kebangkitan pribumi. Wanita yang sangat antusias dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan.
            Namun sayang, sebab keharusan orang tua, Kartini hanya boleh menimba ilmu hanya sampai sekolah dasar saja, sebab ia harus di pingit. Kartini merupakan wanita yang sangat gemar membaca dan menulis, oleh sebab itu dan tekad bulad untuk mencapai cita-citanya. Ia mulai mengambangkan bakat dan ilmunya dengan belajar menulis dan membaca bersama teman sesama perempuan nya. Saat itu juga ia belajar bahasa Belanda, berkat itu ia mulai belajar sendiri dirumah dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Dari situlah timbul keinginnannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.

            Oleh orang tuanya, Kartini dijodohkan dengan Bupati Rembang yakni; K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Perjuangan Kartini tidak berhenti disitu saja, beruntung Kartini memiliki suami yang selalu mendukung akan cita-citanya untuk memperjuangkan pendidikan dan martabat kaum perempuan. Sebab mengerti akan keinginan Kartini, K.R.M Adipati (suaminya) memberikan kebebasan dan dukungan untuk mendirikan sekolah wanita disebelah timur pintu gerbang kompleks kantor Kabupaten Rembang, atau sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.
            R.A Kartini adalah pahlawan yang mengambil tempat tersendiri dihati kita dengan segala cita-cita, tekad, dan perbuatannya. Ide-ide besarnya telah mampu menggerakkan dan mengilhami perjuangan kaumnya dari kebodohan yang tidak disadari pada masa lalu. Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus, ia mampu menggugah kaumnya dari terbelunggu diskriminasi.



Kartini Dimata Pemuda

            Kartini adalah seorang wanita biasa yang memiliki karier luar biasa pada masanya, bahkan sampai saat ini masih tertinggal jerih payah dan perjuangannya. Ia adalah wanita yang pemberani dalam memperjuangkan kesetaraan dan derajat wanita atau yang lebih sering kita kenal dengan perjuangan emansipasi wanita.
            Dengan pena ia menuliskan surat-surat yang bertujuan untuk membuka pikiran bangsa Indonesia, bahwa seorang perempuan layak menyandang pendidikan tinggi, seorang wanita seharusnya tidak wajib dinikahkan pada usia belia, yang pada dasarnya mengecap bangku pendidikan yang sepadan dengan usianya. Wanita berhak berkarir tinggi, wanita juga berhak mendapatkan kebebasan dan kesamaan baik dalam kehidupan maupun dimata hukum.
            Alhamduillah, dari perjuangan beliau yang hanya dengan sebuah pena dan kertas, ia mampu membuat wanita Indonesia mendapatkan kebebasan untuk berpendidikan dan berkarir tinggi. Ia juga sosok yang menginspirasi banyak wanita untuk lebih peduli terhadap pendidikan, membangkitkan semangat dalam menuntut ilmu, dan memberikan pandangan yang luas pada dunia bahwa perempuan mampu menjadi promotor.



Teruntuk Wanita-Wanita Nusantara

            Seorang wanita harus berpikiran luas sebagaimana R.A Kartini, beliau memberikan peluang untuk wanita Indonesia guna mempertahankan martabatnya sendiri. Sebagai wanita yang menghargai perjuangan, kita harus cerdas apalagi wanita-wanita dalam generasi milenial.  Sebab generasi milenial memiliki pandangan dan pola pikir yang luas.
            Pada dasarnya wanita itu istimewa, ia membawa kehormatan dan martabat bagi keluarga. Sudah seharusnya generasi sekarang bisa untuk lebih serius lagi dalam hal belajar. Sebab masih sangat sulit bagi beberapa orang untuk mengenyam pendidikan dibangku sekolah.  Jika kita diberikan kebebasan dalam hal belajar, maka belajarlah dengan sungguh-sungguh dan jika kita diberikan kebebasan dalam hal bekerja, maka bekerjalah dengan sebaik mungkin. Yang paling penting adalah hal dalam bergaul, kita boleh mencari teman sebanyak-banyaknya selagi ia memberikan hal yang positif. Jagalah apa yang ada pada diri kita tanpa harus merusaknya.

            Teruntuk wanita-wanita diseluruh penjuru dunia, terkhususnya Indonesiaku. Aku tahu setinggi apapun pendidikan seorang wanita. Tetap ia akan berakhir dalam ranah keluarga dan menjadi seorang ibu rumah tangga, namun jangan jadikan hal tersebut sebuah alasan untuk berhenti mencari ilmu, ketahuilah generasi cerdas itu terlahir dari orangtua yang cerdas.
Berpendidikanlah setinggi yang bisa kita gapai, jadilah wanita yang cerdas sekalipun berpofesi sebagai seorang ibu rumah tangga. Sebab wanita harus memiliki pengetahuan yang tinggi setidaknya ia bisa mendidik dan memberi pengetahuan pada anak-anaknya. Namun jika kita berhenti mencari ilmu, lantas apa yang akan kita berikan untuk anak kita nanti?
            Teruntuk wanita-wanita penyandang disabilitas ataupun wanita-wanita yang sedang berjuang diluar sana dalam melawan penyakit yang tak kunjung sembuh. Kuatlah, sebab engkau adalah wanita yang kuat, teruslah berjuang untuk masa depan. Penyakit bukanlah sebuah alasan untuk menunda kesuksesan dan penghalang untuk  terus mengenyam ilmu pendidikan. Teruslah tersenyum menebar kebaikan, raihlah ilmu dimana dan kapanpu itu, sebagaimana pesan ibu kita Kartini dalam filosofinya “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Percayalah setelah sakit akan ada kesenangan, badai pasti akan berlalu dan setalah badai berlalu akan muncul pelangi yang indah dilangit jingga. Dan setelah kegelapan akan ada cahaya yang bersinar dengan terang benderang.

Share:

Wednesday, June 13, 2018

Kartini Dimata Pemuda



Oleh : Disisi Saidi Fatah


Raden Adjeng Kartini atau sebenarnya lebih tepat Raden Ayu Kartini (R.A Kartini) merupakan sosok wanita pribumi dari keturunan bangsawan, anak ke lima dari sebelas bersaudara yang lahir di Jepara, pada 21 April 1879. Seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia, yang dikenal sebagai pelopor kebangkitan pribumi. Wanita yang sangat antusias dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan.
Namun sayang, sebab keharusan orang tua, Kartini hanya boleh menimba ilmu hanya sampai sekolah dasar saja, sebab ia harus di pingit. Kartini merupakan wanita yang sangat gemar membaca dan menulis, oleh sebab itu dan tekad bulat untuk mencapai cita-citanya.

 
Share:

Thursday, April 19, 2018

Merawat Kebhinekaan Menjaga Keutuhan NKRI



Oleh : Disisi Saidi Fatah
Univ. Terbuka UPBJJ Bandar Lampung

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan suatu wilayah negara kepulauan besar yang terdiri dari ribuan pulau dan diapit oleh dua benua dan dua samudera serta didiami oleh ratusan juta penduduk. Disamping itu Indonesia memiliki keanekaragaman adat istiadat  dan budaya yang saling terjalin antara satu dan yang lainnya yang tercermin dalam satu ikatan kesatuan yang terkenal dengan sebutan “Bhineka Tunggal Ika”. Disisi lain, Indonesia juga memiliki landasan, yakni pancasila yang merupakan dasar negara dan dijadikan sebagai pandangan hidup serta filsafat bangsa.

Apabila kita melihat dari sudut kebudayaannya, masyarakat Indonesia adalah plural (jamak) sekaligus heterogen (beraneka ragam). Kondisi kemajemukan budaya masyarakat Indonesia inilah yang seharusnya kita banggakan, namun dibalik kebanggaan tersebut juga mengandung musibah yakni kerawanan akan konflik.

Pada akhir ini banyak sekali kita jumpai dan dengarkan baik melalui media massa, elektronik, ataupun yang secara langsung kita temui dilapangan, kita mendapati begitu banyak konflik yang terjadi di sekitar kita dan hampir 90% terjadi karena perbedaan, baik suku, agama, ras, dan golongan bahkan perbedaan pandangan ataupun pendapat juga bisa memicu konflik. Begitu juga di media sosial atau medsos, belakangan ini banyak sekali yang salah dalam menggunakan medsos. Banyak sekali para pengguna medsos yang tidak paham etika, namun tak banyak pula yang bisa memanfaatkannya dengan baik dan positif.

Sering kali ketika saya membuka medsos, hampir 80% setiap hari isi medsos dipenuhi dengan sindiran, provokasi, dan saling mencibir antara satu dengan yang lainnya. Padahal, negara kita ini memiliki pluralisme (kemajemukan) budaya yang menunjukkan betapa kayanya negara kita, beragam suku bangsa, bahasa daerah, makanan, dan hasil kesenian indah lainnya.

Mengapa kita tidak bangga dengan semua yang kita miliki? Seharusnya perbedaan tidak menjadi hambatan untuk berinteraksi antar sesama. Alasannya, karena pada hakikatnya ada sebuah kesamaan yang paling mendasar, yaitu sama-sama merupakan manusia yang memiliki hati nurani. Inilah konsep ideal yang ditawarkan untuk menyikapi keberagaman budaya di Indonesia.

Didalam Al-Qur’an juga Allah sudah tegaskan, seperti pada surah Ar-Ruum ayat 22 yang berbunyi

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّلْعَالِمِينَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.

Serta dalam Qur’an surah Al-Hujuraat ayat 13,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“ Hai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa dintara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal.

Kita sebagai rakyat Indonesia harusnya saling menghormati dan menghargai antara satu dengan yang lainnya, tanpa sedikitpun merendahkan suku, budaya, adat, dan juga agama yang dimiliki orang lain.
Bukankah berbeda itu Indah? Keberagaman kita itu ibaratkan pelangi, pelangi itu terdiri dari berbagai warna, karena beraneka ragam inilah yang menyebabkan pelangi itu indah untuk kita pandang! Begitu juga dengan keberagaman di Indonesia harus bisa kita terima agar sejalan lurus dengan Bhineka Tunggal Ika yang memiliki arti berbeda-beda namun tetap satu jua.

Pluralisme budaya juga sangat dipentingkan untuk menumbuhkan sikap kecintaan akan budaya masing-masing, menciptakan rasa tenggang rasa antar pemilik kebudayaan yang satu dengan yang lainnya, dan adanya pluralisme akan menghilangkan kebosanan. Seharusnya kita menyadari plurarisme budaya bukanlah sebuah alasan untuk memecah belah persatuan.

Share:

Latest in Tech

Cendekia Al Azzam | Pecandu Sastra©2025. Powered by Blogger.

Pelayan Setia di Majelis Cahaya | Puisi

Ilustrasi dibuat oleh kecerdasan buatan (AI)/Gemini.    Sering kali, di sepertiga malam terakhir saat alam semesta tenggelam dalam kehening...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Blog Archive

Home - Recent Posts (show/hide)

Home - PageNavi (show/hide)

Random Posts

Recent Posts

Labels

Blog Archive