Skip to main content

April Bersamamu - A L F A

Oleh : Alfa Arkana EoFataha (DSF)




        Kutarik napas dalam-dalam dari hidung, lalu perlahan kuhembuskan melalui mulut. Hal itu selalu kuulangi berkali-kali pada saat diri sedang dalam ke khawatiran dan kecemasan. Begitu pula hal serupa itu kuulangi beberapa kali pada saat perjalanan siang ini. Hatiku berdegub kencang begitu juga darah mengalir deras. Kurasa memang belum cukup stamina untuk memulai lembaran baru apalagi belum terlalu move on untuk pergi jauh dari bayang Papa. Seharusnya untuk hari ini masih istiharat di rumah agar lebih baik dan nyaman kembali. Namun aku yakin, perlahan semua akan membaik pabila sudah waktunya.

Dalam perjalanan selama tiga jam itu aku selalu terbayang akan kejadian beberapa hari lalu yang menggetarkan hati, membuat pilu, hingga meneteskan air mata. Namun dibalik semua kisah itu ada suatu hal yang membuat bahagia. Ya lagi-lagi dia selalu hadir dalam setiap langkah dan lamunanku. Jadi teringat ketika senja sore bersamanya, keliling menghabiskan waktu bersama, bercerita, dan tertawa bersama. Apalagi setiap kupandang wajah ceria pada sebuah foto dalam dompetku, foto hitam putih dengan ukuran empat kali enam itu rasanya bahagia selalu menyertaiku setiap kali pandangan terfokuskan pada foto tersebut.

Yang aneh adalah ketika orang-orang yang melihat foto itu, ketika ku membuka dompet mereka selalu bertanya mengenai apa yang mereka lihat. Ya seperti foto ini yang selalu menjadi kontroversi bagi mereka. Kebanyakan dari mereka bertanya, mengapa harus foto itu yang dipasang? Kenapa tidak foto pacar atau istri! Wah Jangan-jangan secara diam-diam kamu sudah berkeluarga dan punya anak ya! Wah parah banget. Masak iya pemuda seusia aku sudah berkeluarga dan punya anak! Jangankan untuk menafkahi keluarga, untuk pribadi saja masih jauh dari pas. Dan yang paling parah lagi, ada kawanku yang bilang, eh kamu norak banget ya benar-benar gak up to date. Sekarang jaman moderen dan jaman canggih enggak perlu lagi nyimpan foto di dompet.  Yah terkadang kalau kita mengikuti apa yang mereka katakan pada kita, semua enggak akan cukup dan enggak pernah terpuaskan. Apalagi kita bukan alat pemuas hehe.

Ohya bay the way hari ini aku sangat bahagia sekali lho, meski tubuh masih kurang fit akibat selalu teringat kejadian pagi itu. Senang sekali rasanya, akhirnya doa-doa yang selalu terselipkan dalam setiap hembusan napas pada istigkhoroh beberapa waktu lalu diijabah sama yang kuasa, Allah azza wajalla. SubhanAllah, bersyukur kebaikan Allah selalu ada dan selalu menyertai setiap langkah.

ᴥᴥᴥᴥᴥ

Usai sholat jum’at, tepat pada pukul 13,35 Wib aku tiba di pesantren. Rumah baruku selama setahun kedepan, aku berharap ini adalah jalan terbaik yang Allah berikan untukku, selain bisa dekat dengan Alfa aku berharap ilmu yang aku dapatkan bisa lebih bermanfaat lagi disini.
Bismillah, dengan tekad kuat dan penuh semangat kubuka kaca jendela mobil lalu kuhirup perlahan demi perlahan udara segar pesantren dan kurasakan kenyamanan dan kenikmatan yang Allah berikan, yang selalu mengajakku untuk selalu mensyukuri atas nikmatnya. SubhanAllah benar-benar luar biasa sekali, ternyata aku benar-benar telah berada di pesantren. Kubuka pintu mobil dan melangkahkan kaki keluar, kupandangi sekitar pesantren.

 Setiap liku dan sudut tak sedikitpun terlewatkan.
Ada sesuatu yang membuat bingung diriku dan bertanya-tanya! Kucoba mengucek-ucek mata dan mencubit kedua pipiku dan itu terasa sakit. Berarti aku benar-benar dalam keadaan sadar bukan sedang berada didunia mimpi. Kedua bola mataku tak henti berkeliling, dengan sigap dan cepat menangkap informasi, namun tidak juga kutemukan jejak-jejak kehidupan.

“Ada apa ini. Sepi sekali suasana pesantren. Tidak seperti biasanya,” gumamku dalam hati.

Hal itu semakin membuat bingung diriku. Apalagi ketika seseorang dari arah belakang yang tiba-tiba hadir dan menyadarkanku. Sontak diriku terkaget olehnya.

“Mas,” tegur suara itu.

“Astaghfirullahhaladzim,” sontak ku terkaget dan tersadar olehnya. Dan segeraku menoleh kearah belakang dimana suara itu berasal.

“Mas. Apakah ini benar tujuan kita.”

“Iya benar pak. Maaf telah menunggu lama.”

Ya ampun suasana ini benar-benar membuatku lupa. Aku lupa bahwa telah sampai di pesantren dan lupa jika aku diantar oleh trevel. Untung saja si sopir trevel tidak marah dan bersabar menungguku sejak tadi. Usai membayar trevel dan mengeluarkan barang-barang dari mobil, aku perlahan melangkahkan kaki menuruni anak tangga menuju asrama, sebuah gedung tempat dimana biasa aku tempati dan disana aku berjumpa dengan seorang santri. Ternyata santriwan dan santriwati beserta ustadznya sedang mengikuti acara disebuah masjid didekat pesantren, hanya beberapa saja yang tinggal menjaga pesantren. Pantas saja sepi.

Ini akan menjadi sebuah kejutan untuk Alfa dan teman-teman yang sedang menantikan kehadiranku. Kemarin ketika aku chatting dengan Ustadzah Imsa, dia bilang anak-anak menanti kehadiranku segera. Tapi yang membuat senang hatiku bukanlah kejutan tersebut, akan tetapi keindahan bulan April. Ya April akan selalu terkenang sebagai langkah memulai lembaran baru dan awal kebersamaan dalam persahabatan.


---------------------------------------------------------------------------------------

Juli Bertemu April Bersatu



Juli Bertemu
Agustus dan September mulai akrab denganmu
Oktober, November, dan Desember
Berlalu dengan bayang semu
Januari, Februari , Maret
Aku mulai rindu
Lalu April. Allah berikan waktu untuk bersatu
Mei dan Juni. Suka cita kulalui bersama denganmu

Selamanya kita bersama, mengarungi samudera dan cakrawala
Meraih mimpi-mimpi pada dunia



----------------------------------------------------------------------
*Alfa Arkana Eounoia bernama asli Disisi Saidi Fatah merupakan Alumni Akademi Hypnoterapy Karya Tunas Bangsa, Sumatera Selatan. Pemilik akun instagram @DisisikuDisisimu pengagum sholawat Habib Syech AA Assegaf dan penyuka ulama sastra KH Ahmad Mustafa Bisri (Gus Mus) serta Ust.Yusuf Mansyur dan Aktor Ananda George. Suka Puisi, sastra, dan kamu ❤

Comments

Popular posts from this blog

Pelukan yang Tak Selesai [Cerbung]

Ilustrasi oleh AI Halo sahabat pembaca, terima kasih ya telah setia mampir dan membaca setiap karya kami. Salam hangat dari aku Cendekia Alazzam dan beberapa nama pena yang pernah aku kenakan 😁🙏. 

Cinta, Pengabdian, dan Jejak yang Abadi

  Gambar dibuat oleh AI. Halo, sahabat pembaca. Salam kenal, aku Cendekia Alazzam. Aku hendak menulis cerita bersambung, kurang lebih ada 10 bab. Dengan judul besar "Cinta, Pengabdian, dan Jejak yang Abadi". Bergenre Fiksi Realis, Drama Keluarga, dan Romance.

Jumbo: Animasi Lokal yang Memberi Banyak Pelajaran

  Poster Film Jumbo di Bioskop Bes Cinema Kota Metro (Foto oleh Cendekian/dokpri.2025) Akhirnya dua hari lalu bisa menyaksikan film animasi lokal buatan anak negeri. Film yang sudah sejak pertama official trailernya tayang di platform digital ini menjadi salah satu yang aku nantikan untuk ditonton, karena memang menarik perhatianku. Aku menyaksikan film ini bukan karena ikut-ikutan fomo ya, tapi memang penasaran banget sama filmnya.

Filosofi Sepeda Untuk Hidup yang Lebih Bermakna

Filosofi sepeda untuk hidup yang lebih bermakna. (Foto oleh: Pixabay/wal_172619) Oleh: Cendekia Alazzam          Seiring berkembangnya zaman, sepeda tidak hanya sekadar menjadi alat transportasi bagi banyak orang, kini ia pun hadir menjadi media olahraga bagi sebagian orang yang gemar berolahraga.  Selain jogging dan berlari, bersepeda menjadi  olahraga favorit yang praktis dan mudah belakangan ini. Dengan turut berkembangnya desain sepeda yang semakin keren dan fungsional, terlebih lagi saat ini pemerintah di beberapa kota sudah menyediakan beberapa titik jalur khusus sepeda sehingga menciptakan rasa yamg semakin aman dan nyaman ketika bersepeda. Berbicara tentang sepeda, ada banyak filosofi tentangnya yang sangat relevan bagi kehidupan. Beberapa poinnya akan kita bahas melalui tulisan singkat ini, semoga sahabat pembaca dapat mengambil hikmahnya dan diterapkan dalam kehidupan. Dari sepeda kita seakan diajarkan untuk bergerak dan terus bergerak. Keti...

Tiga Puluh Jam Bersama Habibana

Kenangan Habibana dan Abah serta rombongan. Foto Pecandu Sastra. Dokpri   Jum'at itu menjadi pembuka perjalanan yang mengesankan. Nabastala biru menghampar semesta sore, perlahan mulai memudar. Segera usai berdzikir aku telah bersiap menemani Abah dan jamaah memenuhi undangan majelis peringatan Isra' Mi'raj di salah satu desa di bagian Bogor Timur. Abah, demikian aku memanggil laki-laki yang tengah berusia 50 tahun itu. Seorang pendakwah yang begitu istiqomah, gigih, penyabar, dan sangat mencintai ilmu. Beberapa bulan belakang, aku kerap menemani beliau berdakwah di desa tersebut, sepekan sekali. Tak peduli gerimis, hujan, dingin, ataupun panasnya cuaca, lelah setelah beraktivitas sekalipun, beliau terus istiqomah tanpa absen. Kecuali uzur yang mendesak. Hal tersebut yang menjadi salah satu yang aku kagumi dari sosok Abah. Sore itu, rombongan dijadwalkan berangkat sebelum maghrib. Dikarenakan perjalanan yang cukup memakan waktu, apalagi hari kerja, jam-jam segitu adalah pu...