Cerita Cendekia adalah ruang ekspresi dan refleksi dari Cendekia Alazzam (Pecandu Sastra) — berisi rangkaian puisi, cerpen, cerbung, esai, opini, serta ulasan buku dan film. Melalui tulisan, aku bercerita tentang kehidupan, gagasan, dan imajinasi, dengan harapan bisa mengajak pembaca berpikir, merasa, dan merdeka.

Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Tuesday, July 15, 2025

Sepasang Sepatu, Selembar Cinta yang Abadi

Sepasang sepatu sederhana, saksi bisu kasih sayang yang tak terucap namun nyata terasa. (Sumber: Pexels)



Ada masa dalam hidup saya ketika sebuah sepatu mengajarkan lebih banyak tentang cinta dari pada semua buku pengembangan diri yang pernah saya baca.

Share:

Friday, June 6, 2025

Dua Sarung: Cinta dalam Diam

Ilustrasi (dibuat oleh AI)


Cerpen oleh: [Cendekia Alazzam]


Ada momen dalam hidup yang begitu sederhana, tapi terus hidup dalam ingatan. Tidak berisik, tidak dramatis. Hanya hadir begitu saja — dan membuat hati diam-diam belajar.

Share:

Tuesday, April 15, 2025

Dalam Hangat Sentuhan Ajaib Mama dan Doa Mustajabnya

Ilustrasi berdoa (Sumber: nusantaranews/istimewa)
Share:

Monday, December 19, 2022

Terima Kasih Untuk Waktu yang Lupa Aku Syukuri

 

Panorama alam di sekitar Legok Jamboe, Kec. Cariu, Kab. Bogor, Jawa Barat | Pecandu Sastra Photo©2022.ist


"Sebenarnya, kita yang kurang peka. Setiap keadaan ada hikmah yang dapat dipetik dan menjadi pelajaran tak ternilai. Kita yang kurang bersyukur, hingga hati jadinya kufur."


  "Antum harus banyak bersyukur, karena antum sedang Allah selamatkan," demikian sepenggal kalimat meluncur bebas dari bibir salah satu jama'ah majelis ta'lim malam itu. 

Share:

Sunday, May 30, 2021

Ramadhan Rindu bersama Guru



Oleh : PECANDU SASTRA

 

        Ramadhan kali ini merupakan tahun kelima Azzam dan Gurunya Ilham tidak bersama. Menikmati momen bulan suci Ramadhan dalam satu forum dan satu atap. Terhitung kurang lebih lima puluh sembilan bulan, delapan belas hari keduanya tidak lagi bersatu. Sejak empat tahun lalu berpisah sebab kesibukan masing-masing.

Share:

Saturday, April 11, 2020

Usai Pada Kata Pisah

“Usai Pada Kata Pisah”



By : Senja Jingga Purnama (@pecandusastra96)
Share:

Monday, October 8, 2018

Mingguan di Majelis



"Malam ini begitu indah dan istemewa. Majelis pekan ini memang berbeda, mungkin sebab kehadiran santri baru yang membuat berbeda."

     Ahad ini adalah Ahad yang paling bersejarah dalam hidupku, dapat berbagi senyum, kasih dan sayang, serta kebahagiaan dengan mereka semua. Terutama dia. Radja, seorang murid baruku. Satu bulan sudah kita dipertemukan dalam forum pendidikan di Madrasah Yayasan Deen Salam. Namun baru sekarang, lebih tepatnya pada malam ini di Mejelis Dzikir dan Ta'lim Deen Salaam, kita akrab dan bersua bersama.
   Baru kusadari bahwasanya muridku yang satu ini berasal dari kota yang sama denganku. Kota dimana aku berproses selama empat tahun lamanya, pada masa putih abu-abu. Sejak Mei 2012 lalu semua bermula, lika-liku kehidupan yang masih membingungkan dan penuh tanda tanya dalam anganku. Sedari aku tak mengerti akan hiruk pikuknya kehidupan yang sebenarnya, yang aku tahu hanyalah kebahagiaan yang didapatkan dan tak pernah mementingkan seberapa banyak pengorbanan dan usaha untuk mendapatkan kebahagiaan itu sendiri. Sampai pada pertengahan April 2017, dimana aku harus kehilangan semua yang pernah aku dapatkan, yang membawaku pada secerca cahaya kehidupan di madrasah ini.


    "Hey bengong saja," tegurku pada seorang anak yang duduk paling depan pada majelis.

   "Eh Abang. Sehat bang," jawabnya sembari mengulurkan tangan dan mencium tanganku.

   "Aku perhatikan kau bengong saja sedari tadi dik,"

   "Tidak apa-apa bang, aku hanya sedang menunggu kedatangan seseorang," jawabnya dengan polos.

   "Kalau boleh abang tahu, adik sedang menanti kedatangan siapakah?"

   "Sudahlah lupakan," ujar anak itu mengalihkan pembicaraan.

   Anak-anak memang tak pernah memanggilku bapak atau pak guru. Sebab aku yang tidak ingin dipanggil dengan panggilan itu. Aku merasa risi saja jika ada yang memanggilku dengan sebutan itu. Sebab umurku masih muda. Aku lebih suka jika di panggil kakak, mas, ataupun abang.

  "Dengan siapa abang kemari?"

  "Keluarga dik," jawabku. "Ohya namamu siapa, abang lupa," tuturku balik bertanya.

   Maklum akhir ini aku banyak aktivitas yang mengharuskan diriku sibuk. Jadi belum bisa bertatap muka sepenuhnya dengan murid baru di madrasah. Butuh waktu yang ekstra untuk mengenali satu persatu wajah mereka agar aku ingat. Belakangan ini, aku banyak disibukkan dengan berbagai kegiatan. Apalagi kemarin aku diberi mandat sebagai penyelenggara pemilu di tingkat kecamatan di kotaku. Hiruk pikuk demokrasi membuat waktuku banyak tersita, ditambah persiapan masuk perguruan tinggi. Jadi harus pintar-pintar membagi waktu.

   "Aku Radja, dari Bandar Lampung," jawab anak itu yang semakin membuatku penasaran.

   "Nama lengkapmu siapa dik?" tanyaku semakin serius.

   "Radja aja. Tak ada yang lain!"

   "Ha?" timpalku dengan nada sedikit tinggi yang mungundang tatapan seluruh mata tertuju kepadaku. "Namamu panjang sekali. Aneh lagi," bisikku kepadanya.

   "Radja Aja Tak Ada Yang Lain. Jadi abang panggil apa ini?"

   "Aduh bang. Maksudnya nama lengkapku ya Radja. Hanya itu,"

   "Astaghfirullah, maafkan aku dik yang gagal fokus denganmu."

   Mati aku menahan malu. Bisa-bisanya pertanyaan macam itu terucap oleh bibirku. Kemanakah pikiran-pikiran ini tuhan.
   Aku terdiam beberapa saat, tak ada kata terucap lagi dari bibirku. Aku tersipu malu dengan Radja. Pertanyaan konyol itu membuatku tergelitik lucu. Jika aku pikirkan dan ulangi kata-kata itu, aku jadi malu sendiri dengan diri. Aku terdiam sembari memainkan kamera DSLR. Kuambil gambar empat sampai lima kali jepretan, sesekali aku lihat hasil jepretan sembari memandang Radja.
   Aku pikir Radja akan tertawa terbahak-bahak oleh pertanyaan oleh pertanyaanku tadi, ternyata ia hanya diam sembari memperhatikan ku yang sedang mengambil gambar. Mungkin sebab aku gurunya, jadi ia tidak ingin menertawakanku atau mungkin ia memang bukan tipe orang yang senang menertawakan kesalahan orang lain.

   Sembari menikmati hidangan dan tampilan yang disajikan anak-anak Madrasah Deen Salaam, aku kembali berbincang dengan Radja. Sesekali mendokumentasikannya dalam bentuk foto maupun video. Sebelumnya aku memang diminta Abah Yusuf, Kiai pimpinan Yayasan Deen Salaam untuk selalu mendokumentasikan setiap acara dan kegiatan di yayasan.

   "Radja berasal dari Kota Bandar Lampung ya?"

   "Iya bang. Benar"

   "Dari pasar tradisional masuk lagi sekitar tiga kilo bang," ujar Radja sambil memainkan jari-jari tangannya.

   "Oh di daerah situ ya," sambungku sambil mengangguk, pura-pura paham namun sebenarnya tidak. "Abang dulu tinggal di Bandar Lampung juga selama empat tahun."

  "Abang sendiri tinggal dimana?"

   "Abang aslinya orang Lampung Tengah, disini tinggal dengan Bapak Angkat. Tak jauh dari sini, sekitar sepuluh menit sampai jika naik kendaraan,"

   Suasaba semakin larut malam. Angin malam yang semakin mengundang kantukku, apalagi banyak aktivitas hari ini semakin membuatku lelah. Namun aku berusaha untuk menguatkan diri sampai di penghujung majelis ini. Bagiku majelis ini adalah ajang silaturahmi antara aku dan para wali santri serta ajang untuk mengasuh kemampuan bagi santriwan-santriwati.
   Tak terasa tiba sudah di detik-detik penghujung acara. Aku menoleh ke arah samping kananku, Radja sedang tertidur lelap diatas pundakku. Sengaja tadi aku biarkan ia tertidur sebab aku tak tega melihat ia terlalu lelah menahan kantuk.

   "Radja. Dik. Ayo bangun, acara sudah selasai," tuturku perlahan sembari membangunkan Radja.

   "Aku tertidur ya bang," jawabnya kaget.

   "Iya. Tadi sengaja abang tidak bangunkan kamu. Sebab abang tak tega melihat adik terlalu lelah menahan kantuk,"

   "Sudah. Sekarang Radja pulang ke asrama ya. Istiharat dulu, besokkan ada kegiatan dari pagi,"

   "Abang tidak menginap disini?"

   "Abang tidur dirumah dik. Bapak dan Ibu mengajak pulang,"

   "Mengapa tidak tidur bareng disini saja bang?" pintanya padaku.

   "Lain kali ya, kalau abang tidak sibuk," jawabku sembari melepas senyum kepada Radja. "Ohya, Radja kita selfie bareng dulu ya. Buat kenang-kenangan," pintaku sebelum ia berlalu.

   Usai foto bareng, Radja pamitan kepadaku untuk kembali ke asrama. Begitu juga sebaliknya denganku, aku pamitan untuk pulang kerumah pada Radja dan kawan-kawannya.
   Sebenarnya aku ingin menghabiskan malam ini di pesantren, namun besok pagi aku harus standby disini sedari pagi. Jadi aku putuskan untuk pulang kerumah saja, agar bisa membagi waktu dirumah.

   Malam ini begitu indah sekali. Berkesan dan istimewa. Majelis pekan ini juga sangat berbeda dari majelis sebelumnya. Mungkin sebab kehadiran santriwan-santriwati baru yang membuat suasana berbeda.

   Sampai jumpa kembali esok pagi, Radja dan Deen Salaam.
Share:

Tuesday, July 10, 2018

[Cerpen] Rindu Ramadhan Bersamamu

Freepic. Ist




Oleh : Alfa Arkana Eounoia (Pecandu Sastra)

Merupakan kedua kalinya tak bersamamu serta para penyemangatku di tahun ini. Tak berada didekatmu apalagi bersama dalam forum satu atap. Terhitung tiga belas bulan empat belas hari kita tak bersama lagi, melalui hari-hari dengan kesibukan masing-masing. Begitu cepat waktu berlalu, tanpa hitungan minggu sampai tahun-tahun berlalu. Memang ini bukanlah pertemuan terakhir kita, begitu besar harap agar ini perpisahan terakhir untuk kita. Sebab aku yakin akan ada waktu dimana kita akan dipertemukan kembali olehnya; sang khalik Allah azza wajalla dilain waktu. Meski berbeda tempat dan suasana, dan tentunya akan lebih indah dari masa lalau serta kenangan yang pernah kita lalui bersama dan telah menjadi kenangan bersama.

Jadi teringat waktu saat bersama Papa dahulu, kemana-mana selalu berdua dan selalu kompak. Papa yang menjadi penyemangat serta inspirasi hidupku, yang selalu memotivasi diri. Awal jumpa dulu, aku benar-benar dibuat jatuh hati oleh sikap, tutur kata, serta gaya beliau. Hal itulah yang membuat diri begitu penasaran, sampai ada rasa ingin mengenal lebih dekat dengan sosok beliau. Dan Alhamdulillah Allah mendengarkan hal itu sampai kita dipersatukan dalam forum satu atap. Sejak saat itu kita selalu melalui aktivitas bersama, menghabiskan waktu dengan hal—hal yan positif.

Yang paling indah adalah ketika ramadhan dua tahun lalu. Masih teringat begitu jelas nan indah nuansa ramadhan bersamamu kala itu.  Aku yang selalu mencuri waktu agar bisa berjama’ah bersama papa, bahkan sampai terlelap bermalaman diatas sajadah melalui malam dengan dzikir bersama. Sering kali papa memintaku untuk berlarut diatas sajadah membantunya melalui lantunan dzikir. Namun semua kini hanya tinggal kenangan, yang hanya mampu dikenang dan tak bisa terulang.

Aku benar-benar telah dibuat rindu oleh kenangan ramadhan itu, ramadhan yang sederhana namun begitu mengesankan bagiku. Terbukti sampai saat ini masih saja terlintas secara jelas moment itu. Berbeda dengan ramadhan dua tahun belakangan ini, aku banyak menyepi dan menyendiri tanpa keberadaan dan kehadiran sosok sang papa. Jangankan untuk duduk atau bahkan jalan berdua, untuk sekedar menanyakan kabar dari papa saja begitu susahnya. Papa begitu sibuk dengan berbagai aktivitas dan kegiatan, sampai papa lupa akan semua. Sering aku bertanya melalui sosial media baik facebook, instagram, maupun twitter, dan yang paling sering melalui massengger whatsapp, namun hal itu hanya sekedar dibaca, tak pernah terbalas sedikitpun. Ya mungin disaat itu papa sedang sibuk dengan urusan yang memang harus dipertangungjawabkan, aku memaklumi hal itu. Sering kali aku mencuri waktu luang untuk menyapa papa, bahkan banyak kuhabiskan hanya untuk menunggu dan melihat aktivitas papa di akun sosial media milik papa. Bahkan sering kali aku menyapa, namun jarang yang mendapat respon darinya. Diantara puluhan sampai ratusan sapaan itu, aku dapat menghitung berapa kali papa membalasanya, tak lebih dari sepuluh balasan dan jikapun dibalas juga dengan balasan singkat, yakni; ya dan atau Aamiin.

Suatu hari, aku ada pertemuan kerja di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), kebetulan satu kota, juga tak jauh dari rumah kediaman papa, sekitar seratus meter dari rumah. Petang itu, usai kegiatan aku kirim pesan singkat via whatsapp ke mama.

"Assalamu'alaikum. Apa kabar ma. Dimana posisi?”

" Wa'alaikum salam. Alhamdulillah baik kak. Dirumah.”

“Adik-adik gimana kabarnya. Sehat semuakan?”

“Alhamdulillah. Semua sehat.”

“Kakak, di SKB. Rencana mau mampir rumah ma. Adik Tsaqif belum tidurkan? Kakak kangen.”

Ya ada. Mampir kak.


Usai kegiatan kerja, aku mampir ke rumah mama. Berharap bisa bertemu dengan semua; dengan Papa dan adik-adik pasukan Netrahyahimsa-ku untuk melepas rindu dan penat dalam hati. Namun sayang, petang itu akau gagal berjumpa dengan papa, hanya saja bertemu dengan salah satu pasukan Netrahyahimsa; yakni Tsaqif, jagoan yang kesayanganku. Ya setidaknya tidak sia-sia kehadiranku petang itu, meski tidak bertemu dengan semua, semoga esok atau lusa kita segera berjumpa. Aamiin. Malam itu kuhabiskan dirumah mama, melepas rindu dengan jagoan kesayanganku. Sedikit kecewa sebab tak jumpa dengan papa, sebab niat awal agar bisa berjumpa. Sudah lama tak pernah jumpa, hanya saja dengan para jagoan saja yang sring kali. Sebab papa memang jarang ada dirumah, kebanyakan menghabiskan waktu dalam perjalanan dan di kota. Pagi, sebelum beranjak pergi. Sengaja Ku kembali membuka whatsapp, barangkali papa sedang online.


"Ping!!!" pesan singkat terkirim dan centang dua, bertanda papa sedang aktif.


"Assalamu'alaikum. Apa kabar Pa, semoga selalu baik dan sehat. Aamiin,"


Tak lama dari itu, muncul pemberitahuan di titel-bar menu whatsapp, berhologram online. Begitu senangnya hati membaca tulisan itu, bersemangat menanti balasan darinya. Dan benar, tak lama dari itu muncul tulisan berwarna hijau, yang bertuliskan sedang mengetik pesan. Hati ini mulai bergembira, menanti sebuah jawaban yang masih menjadi misteri itu.


"Wa'alaikum salam. Aamiin,"


Yes!!! Alhamdulillah, betapa senangnya hati, ketika melihat sebuah pesan masuk menghampiri. Langsung ku ketik kembali pesan balasan untuk Papa.


"Kemarin kakak ada kegiatan di SKB samping rumah, kebetulan acara sampai malam. Semalam kakak mampir di rumah, papa di mana?"


Lama menunggu, namun tak kunjung juga mendapat balasan dari papa, padahal beliau masih online. Dan beberapa menit kemudian berubah menjadi offline. Yah. Cuma dibaca saja. Meski pesanku tak terbalaskan lagi, aku sangat senang walau hanya sekali balasan. Ya setidaknya aku telah mengetahui kabar beliau hari ini, Alhamdulillah papa baik-baik saja.  Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca dan membalas pesan singkatku, semoga Papa selalu sehat, baik, dan selalu dalam lingdungan Allah.


Sebenarnya aku masih kangen dengan papa, namun bagaimana lagi aku tak dapat berbuat apa-apa. Rindu ini hanyalah sebagai hiasan hati yang entah kapan bisa terobati. Jujur aku sangat kangen sekali dengan papa, apalagi kita sudah lama tak berjumpa, terakhir ketika hari raya idul fitri tahun lalu, dan sekarang memasuki bulan ramadhan kedua tak bersama beliau. Aku rindu moment ramadhan bersama beliau, sahur dan buka bersama, sholat berjamaah sampai terlelap diatas sajadah.


Pa. Terhitung sudah tiga belas bulan empat belas hari kita tak bertatap muka. Komunikasi pun semakin rentan. Aku tahu ini adalah kesalahan kita yang selalu disibukkan dengan urusan yang membuat jarak dan waktu semakin rentan. Sebagai manusia yang memiliki hati, apalagi aku pernah jatuh hati sebab sifat dan cara papa serta gaya yang selalu aku favoritkan.


Apakah salah jika aku menaruh rindu untukmu, untuk seorang yang selalu membuat semangat dan memotivasi serta menginspirasi setiap langkah kakiku. Apalagi papa adalah sosok yang menjadi idola, papa bukan hanya sebagai orang tua bagiku, namun papa adalah sosok guru dan sahabat yang menjadi favorit  bagiku. Sejak kita bersama begitu banyak pelajaran, ilmu, dan wawasan yang aku dapatkan. Namun semua hanya kenang yang hanya dapat aku kenang, dan tak mungkin bisa terulang.



Tapi mengapa, rindu ini tak bisa terobati. Papa juga banyak berubah sekarang. Tak lagi akrab, dan sangat susah untuk dihubungi. Banyak cuek. Aku tahu papa bukanlah sosok yang smeacam itu, sebab papa perhatian dan penuh kasih sayang. Namun mengapa sekarang berubah. Untuk sekedar bertanya di sosial media saja susah, apalagi bertatap muka. Aku harap kita tetap kompak dan selalu bersama, meski tak lagi sama dan bersama dalam satu atap. Rindu kamu pa. Aku merindukan ramadhan yang penuh moment bersamamu.





“BIODATA PENULIS”

Disisi Saidi Fatah, pria berdarah Lampung yang menyukai tulis menulis, dan membaca. Pemilik nama pena Alfa Arkana Eounoia itu mengidolakan Habib Syech Abdul Rahmah Assegaf dan Ananda George (Sang Prabu), serta penyuka puisi. Terjun kedunia tulis menulis sejak kenal jurnalistik, pada saat mengikuti BPUN MataAir Way Kanan 2015.
Beberapa karya diantaranya;
- Antologi Puisi Terbelunggu Media – Kars Publisher ( Juli 2017),
- Antologi Puisi Aku Anak Santri – Kars Publisher (November 2017),
- Antologi Puisi Seuntai Kasih Bernama Sayang (Penerbit Satria) Sebagai Terbaik Delapan (Desember 2017),
- Antologi Puisi Aksara Buku Usang – Kars Publisher (Maret 2018),
- Antologi Puisi dan Essai Namaku Kartini – Kars Publisher ( Mei 2018),
- Novel Perjalanan, Mimpi, & Inspirasi – Kars Publisher (April 2018).
- Antologi Essai Peran Perempuan Dalam Pendidikan - Kars Publisher (Juli 2018)

Disisi dapat dihubungi di:
Instagram : @CatatanAlfa
Twitter : @Netrahyahimsa
Blogg : gemilangtotal.blogspot.com
Email : Disisisf.bpun@gmail.com

Share:

Monday, May 21, 2018

Masihkan Cinta di Pesantren Impian?


Dokumentasi Pribadi | Instagram @netrahyahimsa


Oleh : Disisi Saidi Fatah


Masih teringat jelas dalam benakku kisah awal setahun lalu, yang menjadi faktor utama diri ini berada di pesantren impian. Sebuah keistimewaan dibulan April yang menjadi penghubung dan perekat terjalinnya persahabatan dan persaudaraan kedua mahluk ciptaan tuhan, hingga sampai detik ini masih diberikan waktu untuk bersama.
Tak henti bersyukur kepada-Nya sang khalik yang maha segala-galanya atas nikmat dan beribu keajaiban yang beliau berikan. Dahulu hanya bisa bermimpi berada di pesantren impian untuk mendampingi dan menemani penyemangat diri.

Setahun lalu ketika diri karam akan arah dan tujuan, sedangkan hati galau dan gundah tak menentu akan arah mana yang dituju. Sehingga membuat tak percaya akan semangat untuk hidup, kesana kemari tak kunjung mendapatkan ketenangan diri.
Sampai suatu ketika Allah menghadirkan Bunga. Bunga adalah sahabat SMA yang sudah lama tak berjumpa, sejak lulus SMA Bunga tinggal di Pulau Jawa. Sangat beruntung sekali ia dapat melanjutkan pendidikan kejenjang perguruan tinggi ternama di Pulau Jawa dengan beasiswa penuh.
Awal berpisah dengan Bunga, hubungan kami masih baik-baik saja. Masih sering kasih kabar dan komunikasi masih berlanjut baik via telepon, medsos, maupun email. Namun seiring berjalannya waktu hubungan kami tenggelam bagaikan kapal yang karam ditengah lautan. Dua tahun tak bertemu, komunikasi putus dan benar-benar menghilang. Sampai pada malam itu, tiba-tiba saja ada orang yang tidak dikenal identitasnya menyapaku melalui massenger. Dan ternyata orang itu adalah Bunga. Betapa senangnya hati bisa berhubungan kembali setelah dua tahun saling menghilang.

Alhasil pada malam itu kami saling melepas rindu, maklum sudah lama tak berjumpa jadi rindu akan sahabat lama menumpuk bagaikan gunung yang berjulang tinggi. Banyak yang kami obrolkan pada malam itu, dari aktivitas hingga kisah dan perjalanan kami selama dua tahun ini.
Tidak sengaja aku menyinggung suatu masalah yang begitu menjanggal hati dan membuat galau sampai enggak doyan makan dan mood menurun. Melakukan aktivitas apa saja semua berasa tak ada daya dan upaya. Sudah hampir dua bulan, galau melanda kehidupanku. Ia selalu bermanja dan tak ingin pergi sedikitpun melangkahkan kakinya dariku. Kebingungan pada saat itu juga membuatku tak bergairah dan bersemangat, jangankan mau makan untuk beranjak dari tempat tidur saja enggan sekali.

                                                            ∆∆∆∆∆∆∆

Dulu ketika masih bersama beliau (orang yang aku panggil Papa), aku begitu bersemangat dan sangat bergairah dalam menjalani hidup, sangkin bersemangat apapun yang beliau perintah tak pernah sedikitpun aku menolak. Beliau menjadi penyemangat hidup, menjadi idola dan inspirasiku. Sering kali aku dan Papa kemana-mana selalu bersama, beliau selalu meminta agar aku menemaninya dan kami selalu terbuka untuk hal apa saja, namun tetap saja ada yang menjadi privasi diantara kami. Hingga pada suatu hari beliau terdiam membisu dan enggan bercerita mengenai masalah yang ia hadapi, bahkan sampai berhari-hari beliau terdiam, cuek, sama sekali tidak menegurku. Tidak biasanya beliau bersikap seperti itu.
Aku takut terjadi sesuatu kepada beliau, oleh sebab itu aku memberanikan diri untuk bertanya, bahkan aku meminta maaf jika ada yang salah terhadapku, namun beliau masih saja enggan bercerita dan selalu cuek terhadapku seolah-olah ada sesuatu kesalahan yang telah aku lakukan.

Beruntung punya sahabat seperti Bunga, selain pintar dan cerdas ia juga sangat religius. Malam itu Bunga menyarankan agar aku melaksanakan sholat istigkhoroh dan meminta petunjuk serta pertolongan kepada Allah, Tuhan yang maha memberi petunjuk dan memberi pertolongan. Mendapat saran dari Bunga, segera kulaksanakan sholat itu untuk memohon petunjuk agar diberikan yang terbaik untuk aku dan Papa.


                                                                 ∆∆∆∆∆∆∆∆

Biasanya, jika aku sedang dilanda galau yang enggak jelas. Pikiran kacau dan mood menurun, aku selalu ingin menyendiri dan menyepi. Namun berbeda kali ini, setelah mengikuti sarah Bunga, ada sesuatu yang menyelinap masuk dalam hatiku. Tiba-tiba saja terlintas dalam benakku untuk mengunjungi sebuah pesantren dimana aku pernah tinggal bersama dengan teman-teman seperjuangan selama satu bulan. Ya mungkin dengan berkunjung kesana aku akan mendapatkan jawaban dan sedikit tenang dari masalah yang aku hadapi.

Tiba di pesantren, aku terkejutkan oleh seorang anak. Ia tertunduk menyapaku dan meraih tangan kananku lalu dicium olehnya. Kutatap wajah beningnya, darisana terpanjang keanggunan dan ketentraman yang membat sejuk hati, matanya yang tenang serta senyum di bibirnya yang membuatku tersipu malu. Tak tahu siapa nama dan asalnya, setahuku dia santri baru disitu. Ada yang menarik pada anak itu, entah apa yang jelas aku seakan-akan menemukan semangat hidup dan bangkit dari keterpurukan yang melanda diri.
Sejak saat itu, aku sering berkunjung dan meluangkan waktu bahkan aku sering bolos kerja jika lagi tidak bersemangat hanya untuk bertemu dia. Sebab dia mampu membangkitkan semangat dalam diriku. Dengan melihat wajahnya, menatap mata, dan merasakan hadirnya senyuman pada bibirnya.

Sebab kehadiran yang selalu tak pernah absen tiap minggu nya, membuat pimpinan pesantren tersebut heran dan senang terhadapku hingga pada suatu hari beliau memanggil agar aku segera menghadap.

“Assalamu’alaikum. Apa gerangan abah, saya dipanggil keruangan abah?”

“Wa’alaikum salam. Begini Noia, abah lihat kamu begitu senang sekali berkunjung ke pesantren sepertinya kamu kerasan disini. Bagaimana jika nak Noia tinggal saja disini, ya bantu abah mengajar anak-anak,” demikian tutur abah kepadaku.

Mendengar kabar itu, aku sangat senang. Sebab ada jalan keluar dari permasalahan yang lalu, apalagi menjadi seorang guru itu adalah hal yang sangat luar biasa, bisa dekat dengan anak-anak dan juga memanfaatkan ilmu yang telah aku dapatkan selama dibangku pendidikan. Aku setuju dengan kabar ini, namun aku tidak bisa langsung mengiyakan. Harus kubicarakan kepada mama dan harus dipikirkan matang-matang.

Usai bertandang ke pesantren, aku segera mengabarkan hal itu kepada mama. Mama menyetujui akan hal itu selagi baik dan selagi masih ada orang yang bisa ia hubungi jika sewaktu-waktu aku tidak bisa di hubungi. Maklum mama orang nya sangat khawatir terhadap anak-anak nya, ya itu pertanda bahwa mama adalah sosok yang penuh kasih sayang.
Aku sangat bangga dan bahagia punya mama, mama penuh pengertian dan kasih sayang terhadap anak-anaknya. Apalagi ketika aku bilang bahwa ada seorang anak yang selalu membuat semangat hari-hariku dan dia tinggal di pesantren tersebut. Maka dari itu mama setuju akan niatku untuk menerima tawaran dari abah.
Sejak saat itu aku berhijrah ke pesanren, meninggalkan papa. Namun sebelumnya masalah diantara kami sudah selesai dan aku juga sudah mengerti mengapa saban hari lalu papa bersikap cuek kepadaku.

                                                                        ∆∆∆∆∆∆∆

Di pertengahan bulan April pada musim kemarau tiba, pada saat itu aku memulai perjalanan, kisah, dan kehidupan baru di pesantren. Aku berharap dengan hijrah ini akan lebih baik kedepan dan semakin bermanfaat lagi ilmu yang telah aku dapatkan di bangku pendidikan selama bertahun-tahun lamanya.
Awal di pesantren semua berjalan dengan baik, begitu pula dengan kegiatan mengajar di sekolah, hubungan antara aku dan anak-anak juga semula berjalan baik hingga sampai di bulan keempat. Sebelumnya aku menerima tawaran abah untuk membantu beliau di pesantren disebabkan karena ada Alfa, anak yang saban hari selalu membuat semangat hari-hariku dan karena sifatnya membantu pesantren aku rasa  itu adalah ladang amal bagiku ya seenggaknya sih begitu, selain itu juga karena pada saat itu memang aktivitas dan kegiatan memang masih libur begitu juga dengan kuliah masih off.

Semakin berjalannya waktu, aku semakin kerasan berada di pesantren namun seperti pepatah mengatakan semakin kuat iman seseorang maka semakin besar cobaan menerpanya dan semakin tinggi pohon semakin besar pula angin yang menjemputnya. Ya seperti itulah kehidupan di pesantren.

Sebagai pengajar yang juga ditunjuk sebagai pembina di asrama, sudah pasti harus siap menerima segala amanah dan tanggung jawab yang diberikan. Sebagai manusia insyan yang masih jauh dari kata sempurna, yang disibukkan dengan kerjaan disekolah sudah pasti tidak bisa untuk selalu bersama anak-anak nya. Apalagi anak-anak yang dibimbing sangat banyak, sudah pasti tidak bisa diperhatikan satu persatu setiap menitnya.
 Awalnya aku merasa biasa dengan masalah yang selalu diutarakan kepadaku, setiap masalah yang anak-anak lakukan selalu saja aku yang kena batunya. Ya namanya juga pengajar dan pembina, its oke tidak apa-apa mungkin memang harus aku yang mengalah. Aku selalu mencoba untuk bersabar dan terus bersabar, namun sebagai manusia kesabaran tetap saja ada batasnya. Pernah aku ingin pergi meninggalkan semua, meninggalkan tanggung jawab dan kerjaku sebagai pengajar dan meninggalkan kebahagiaan yang sedang bersamaku. Namun setiap kali aku ingin pergi, aku selalu teringat akan Alfa, sebab dialah yang selalu membuatku semangat. Apalagi Alfa pernah bilang kepadaku sejak saat ia bersamaku ia semakin rajin belajar dan bersemangat, aku jadi semakin enggak tega pergi

Semakin aku mencoba untuk terus bersabar, namun ada saja alasan dan masalah yang menghamiri. Pernah juga aku dimarah dan dimaki sama abah dihadapan anak-anak, padahal aku tidak melakukan kesalahan, aku hanya melakukan yang memang itu benar. Setiap anak-anak melakukan kesalahan aku juga yang dimarah. Abah bilang aku gak perhatianlah dan enggak pernah ada waktu untuk anak-anak. Padahal anak-anak kan banyak jadi enggak mungkin sebanyak itu anak-anak aku perhatikan satu persatu setiap menitnya.

Sebenarnya aku sudah enggak kuat lagi bertahan disini, aku juga lelah selalu dimarah dengan alasan kesalahan yang bukan aku pelakunya. Aku ingin meninggalkan semua dan pergi jauh agar lebih bebas. Namun aku kasihan dengan Alfa, dia masih membutuhkanku disini. Alfa bilang dengan adanya aku ia semakin bersemangat dan semakin rajin dan itu juga terbukti pada semester lalu ia berhasil masuk top enam dikelasnya, padahal semester-semester yang lalu dia tidak pernah masuk top enam. Jangankan top enam untuk masuk top sepuluh saja nilainya masi kurang.
Mama dan bapak nya Alfa juga kurang setuju apabila aku harus meninggalkan pesantren. Kedua orang tuanya Alfa sudah seperti orang tuaku sendiri, mereka menganggap aku sudah seperti kakak nya Alfa. Jadi kalau ada apa-apa dengan diriku, merekalah yang menjadi sasaran utamaku untuk meminta pendapat dan pertolongan. Oleh sebab itu aku masih bertahan di pesantren sampai pada saat ini. Sebab aku tak ingin Alfa sedih dan prestasinya menurun kembali. Aku ingin selalu menemani Alfa sampai ia menyelesaikan studinya pada tahun depan.

Akankah aku akan bertahan sampai batas waktunya?

Masihkah cinta ini bersemayam di pesantren impian?

Wallahu alam
Hanya Allah yang tahu. Sebab beliau yang maha mengetahui segala-galanya.


------------------------------------------------------------------------------------------------
Biodata Penulis : *


Disisi Saidi Fatah (Alfa Arkana Eounoia) nama pena. Pria berdarah Lampung kelahiran Gedung Harta, Lampung Tengah, 27 September. Hobi membaca, menulis,  sastra dan puisi.
Alumni SMAN 1 Blambangan Umpu, Lampung itu kini tengah disinukkan dengan kegiatan mengajar di SMP Manba’ul ‘Ulum Asshiddiqiyahn11 Way Kanan. Mengenal dunia jurnalistik sejak ikut BPUN MataAir Way Kanan, yang dibimbing langsung oleh Gatot Arifianto, CH, CNNLP.

Alumni Hpnotherapy Akademi Hypnotherapy Karya Tunas Bangsa; beberapa karyanya di publikasikan pada media cetak maupun online, diantaranya; NU Lampung Online, Media MataAir, Antologi Puisi Terbelunggu Media – Kars Publisher (2017), Antologi Puisi Aku Anak Santri – Kars Publisher (2017), Antologi Puisi Resah WA Publisher (2017), Antologi Puisi Aksara Buku Usang – Kars Publisher (2018), Antologi Puisi Seuntai Kasih Yang Terukir Sayang – Penerbit Satria (2018) .

Pengagum ulama sastra KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) dan Ust.Yusuf Mansyur, serta penyuka sholawat Habib Syech AA dan Ananda Takeshi George (Sang Prabu) ini dapat dihubungi melalui akun sosmed nya;
Faceboook : Facebook.com/Netrahyahimsa
Twitter, Instagram, Line : @Netrahyahimsa
E-mail : disisisf.bpun@gmail.com
CP : 0823-7750-5585
Blogs : netrahyahimsa.blogspot.com

                             



Share:

Wednesday, May 9, 2018

Miskomunikasi

Oleh : Alfa Arkana Eounoia


Ilustrasi.  Ist | Dokumentasi Pribadi
      


       Tiba-tiba saja  kamis pagi Bu Tahmid memanggilku.  Belum  sempat aku menginjakkan kaki diatas teras kantor,  bu Tahmid segera menghampiriku.  Ia bilang bahwa ada sesuatu yang harus ia katakan kepadaku segera.  Pagi itu aku ada jam mengajar disekolah,  sebagaimana biasanya sebelum masuk kelas aku menyempatkan untuk duduk dikantor beberapa menit guna membaca dan mengulang kembali materi yang akan aku ajarkan pada anak-anak dikelas.  Agar lebih matang dan menguasai materi.  Namun tidak untuk hari ini,  sebab sebelum memasuki kantor  tiba-tiba saja bu Tahmid mencegatku. 

"Mas Noia.  Bisakah kita berbicara sebentar. Ini penting mas! " ujar Bu Tahmid menyapaku didepan kantor. 

"Baik bu.  Ada masalah apa ya bu,  pagi-pagi begini?"   jawabku sembari memasuki ruang kantor. 

"Jadi begini mas,  maaf sebelumnya mungkin ini terlalu mendadak.  Sebentar lagi kita akan mengadakan acara besar,   yakni pengajian bulanan yang juga dibarengi dengan wisuda anak-anak yang akan lulus.  Mas bisakan mengajarkan anak-anak nari untuk menyambut para tamu nanti?

"Insha Allah saya siap bu.  Jika benar-benar dibutuhkan tarian ini dalam acara kita nanti".

"Sudah pasti dibutuhkan mas.  Sebab tamu kita adalah orang-orang besar dan terhormat".


"Siap bu.  Saya  siap mengajarkan tarian itu kepada anak-anak.  Nanti kita akan seleksi  terdahulu anak-anak nya".

Sebab rapat dadakan pagi itu,  kegiatan di sekolah diliburkan.  Seluruh siswa-siswi baik yang SMP dan SMK Yayasan ASHD diikut rapatkan.  Guna membahas pembentukan kepanitiaan dan juga pembahasan kegiatan.

Tahun ini adalah tahun awal Yayasan ASHD mengadakan acara besar,  yakni mewisudakan anak-anak yang lulus,  sebab baru tahun ini Yayasan ASHD siswa dan siswi nya lulus.  Sebenarnya untuk kegiatan besar lain sudah sering dilakukan setiap bulannya yakni pengajian rutinan setiap awal bulan.  Namun  tidak sebesar hajat kali ini,  yang diperkirakan Bapak Bupati dan juga pimpinan pusat akan turut hadir.

Aku ditunjuk sebagai koordinator bidang dokumentasi sekaligus merangkap sebagai penanggung jawab pada seni tari.  Untuk tari memang aku cukup paham dibandingkan yang lain di yayasan tersebut,  namun aku belum menguasai sepenuhnya.

Usai menggelar rapat perdana.  Aku langsung menyeleksi siswi-siswi yang mendaftarkan diri sebagai penari.  Ada enam nama yang tertera pada lembaran kertas yang diberikan kepadaku,  diantaranya ada tiga siswi SMP dan tiga siswi SMK.  Sebenarnya aku sudah mengantongi nama siswi-siswi yang  nantinya akan menjadi penari dalam acara itu,  namun sayang nama-nama tersebut sudah memiliki tugas masing-masing yang memang tidak bisa ditinggalkan.  Jadi harus tetap melakukan seleksi guna mencari yang benar-benar siap dan memiliki bakat nari meski hanya sedikit.  Diantara deretan nama-nama pendaftar ada satu nama yang memang sudah ditunjuk untuk menjadi talent paduan suara.  Jadi secara otomatis tinggal  lima nama lagi, yakni; Nisa,  Ana,  Reza,  Nia,  dan Patma.  Kebetulan tarian yang akan dibawakan jumlah penarinya ganjil yakni,  tiga,  lima,  tujuh,  dan atau sembilan.  Maka kita pilih yang lima sehingga tidak melakukan selekai kembali.

Sebab waktu yang diberikan untuk melatih nari hanya tujuh hari sampai hari H.  Maka pada hari itu juga kami langsung melakukan latihan perdana.  Tidak ada yang sulit bagiku untuk mengajarkan kepada mereka.  Sebab mereka bukan dipaksa namun benar-benar atas kemauan dari hati masing-masing.  Jadi sangat mudah untuk mengajarkan gerakan demi gerakan kepada mereka meski masih kaku badan nya sebab masih pemula.

Meski barmodal meniru gerakan yang ditampilkan pada layar komputer ukuran mini. Namun hal itu tidak menyudutkan semangat untuk terus berlatih dan terus berlatih.  Pagi,  siang,  sore,  bahkan malam hari tak henti berlatih agar di hari H bisa menampilkan  yang terbaik.

Hingga sampai pada hari kelima.  Ketika anak-anak didikku dipanggil oleh bu Tahmid menuju kantor.  Sebab ada sesuatu yang harus dibicarakan.  Kebetulan pada hari itu aku agak telat menuju kantor jadi aku tidak ikut dalam pembicaraan itu.

Aku mendapat kabar dari anak-anak bahwa tari nya di cancel alias tidak jadi ditampilkan.  Sontak aku kaget dan bertanya-tanya.  Mengapa harus di cancel dan mengapa secara mendadak seperti ini.  Mengapa tidak dari awal dan tidak ada komunikasi?  Padahal kita telah melakukan latihan  setiap hari bahkan setiap pagi,  siang,  sore,  maupun malam selalu saja latihan.  Tanpa mengenal lelah dan kantuk.

Akupun segera mencari tahu penyabab dibatalkan.  Saat itu Bu Tahmid sedang tidak di lingkungan sekolah sebab masih mendamping anak-anak olahraga meraton.  Jadi aku menghubungi bu Imsa untuk memlertanyakan hal itu.  Sebab bu Imsa juga merupakan salah satu ketua pelaksana kegiatan,  yang juga menginginkan aku untuk mengajarkan nari.

Ternyata masalahnya ada pada persepsi dan pandangan pimpinan yayasan terhadap tari yang akan dibawakan.  Maklum yayasan kami mengusung nuansa yang sangat religius jadi pimpinan yayasan mengira bahwa tari yang akan ditampilkan adalah tari yanv sembarang tari.  Padahal tarian yang dibawakan adalah tarian khas Lampung yang bertujuan untuk menyambut tamu agung dalam acara khusus. Serta pakaian yang dikenakan juga adalah lakaian yang menutup  aurat dan bisa menggunakan hijab.  Apalagi gerakan tarinya tidak aneh serta tidak mengumbar aurat,  hanya gerakan-gerakan yang biasa saja menurutku.  Tapi mengapa ini dipermasalahkan.  Dan yang aneh lagi kita disuruh menari menggunakan lakaian muslim dan tidak diperkenankan untuk berhias.

Sebab kejadian  itu terjadilah perdebatan diantara kami.  Yang sampai saat ini kmbelum menemukan titik terang.  Dan akulun mengambil keputusan untuk membatalkan pentas serta mengundurkan diri menjadi pelatih.  Sebab lelah dan cape dan juga anak-anak didik sudah tidak ingin berlatih lagi.  Sebab merasa lelah dan seolah tidak dihargai.



BERSAMBUNG... 


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Penulis adalah mahasiswa Universitas Terbuka,  juruan Ilmu Komunikasi. Penulis dapat dihubungi di Twitter @netrahyahimsa dan Instagram @DisisikuDisisimu


Share:

Saturday, April 14, 2018

Subuh Berlabuh

Oleh : Arfa Arkana Eounoia


Ilustrasi | IST


     Berbeda dengan hari kemarin yang sudah biasa terlewati olehku. Tak biasanya usai melakukan sholat berjamaah subuh ada panggilan begini. Entah apa gerangan tiba-tiba saja semua warga pesantren dipanggil untuk segera menuju pusat suara. Suara itu berasal dari masjid Baitul Makmur, yang merupakan pusat utama pesantren.

 Sengajaku lama-lama dan mengulur waktu, sebab yang dipanggil bukanlah aku. Namun tidak lama kemudian namaku terdengar juga oleh suara itu. Aku yang tak biasa di panggil seperti ini, seketika merasa kaget dan gugup. Kucoba mengingat-ingat kembali, siapa tahu ada suatu kesalahan yang dilakukan, namun nyatanya tidak.

 Semakin penasaran dan membuat bertanya-tanya.Awalnya aku menolak untuk memenuhi panggil itu, sebab lantaran malas untuk mengganti pakaian kembali. Akhirnya aku sengaja untuk mencari sebuah alasan dengan mondar-mandir di kamar mandi. Ya memang awalnya aku berniat untuk mandi agar badan bisa lebih segar.

Aku kira dengan cara itu aku tidak akan dipanggil lagi, namun ternyata salah.Teleponku berdering berkali-kali, namun tidak aku hiraukan sebab lagi malas untuk melayani penelpon dipagi hari. Paling juga orang nyasar yang menelpon atau mungkin penggemar rahasiaku. Jadi aku biarkan saja sampai si penelpon kapok. Dan masalah telrponpun usai, saat nya aku melanjutkan aktivitas yang tadinya tersendat alias tidak jadi dilakukan.

 Baru saja ku melangkahkan kaki menuju pintu kamar mandi. Secara seketika aku terkagetkan oleh suara yang tidak lagi asing bagiku. Suaru itu berasal dari lantai dasar asrama.

"Mas.Mas Disi," ujar suara itu.

Suara itu tetap saja bersikeras terus memanggil-manggil namaku, namun sedikitpun tidak aku hiraukan. Aku tahu itu suara siapa dan dengan alasan apa dia memanggilku. Namun aku juga merasa kasihan jika terus mengumpat seperti ini dan dengan alasan yang kurang baik. Its oke baiklah biarkan aku yang mengalah. Untuk memenuhi panggil itu akupun beranjak dari tempat persembunyian. Kuambil peci dan sebuah jaket berwarna biru, lalu kukenakan. Kakiku pun mulai melangkah perlahan menuju masjid.Dimasjid sudah ramai, terlihat semua warga memenuhi ruang masjid. 

Dengan rasa gugup aku mulai berani melangkahkan kaki memasuki beranda masjid, Bismillah.


"Ada apa gerangan ini," gumamku.


"Dari mana saja kau ini," ujar Abah.


"Tadi masih di kamar mandi bah," jawabku.


Aku yang tidak tahu menahu sebab apa semua dikumpulkan di masjid, perlahan menyimak kata demi kata yang di lontarkan sang pemimpin rapat itu. Dan ternyata ini meyangkut masalah santri beberapa hari yang lalu. Its oke aku rasa tidak ada masalahku disini dan aku yakin sebab dipanggil nya diriku yakni sebagai saksi sekaligus penasehat, sebab aku adalah pembina disalah satu kamar.

Memang beberapa hari lalu ada beberapa santri yang bermasalah, mereka kabur tanpa pamitan dengan pihak pesantren. Alhasil semuanya dikumpulkan dan disidang pagi ini.

Beberapa santri tersebut, yang memang sedang bermasalah merupakan santri binaan kamarku. Ohya aku mengerti sekarang sebab apa aku pagi ini diikutkan dalam persidangan. Aku kira masalah ini selesai kemarin dan ternyata tidak. Jadi puncak penyelesaian masalahnya pada hari ini. 

Menit demi menit berlalu, satu persatu santri mengakui kesalahan dan menuturkan sebab apa masalah terjadi. Dan ternyata itu semua sebab beberapa barang milik mereka yang hilang dan juga makanan yang diambil oleh beberapa oknum yang sampai sekarang belum ketahuan juga batang hidung nya. 

Dan itupun kesalahan mereka sebab tidak menitipkan barang-barang berharga kepada pembina asrama, sedangkan peraturan sudah menetapkan dan semua juga menyepakati agar segala apapun yang berharga milik santri untuk dititipkan kepada pembina asrama, terlecuali makanan, pakaian, dan buku.Jadi pagi ke khawatiranku pagi ini terjawab sudah. Bukan sebab sebuah masalah yang aku perbuat atapun ada masalah baru.Hanya saja semua diberi nasihat oleh pimpinan pesantren agar lebih hati-hati, disiplin waktu dan menaati peraturan yang telah disepakati.

"Hakikatnya semua kembali pada diri pribadi masing-masing. Agar tidak ada lagi kejadian terulang. Kedepan agar lebih hati-hati dan lebih ditingkatkan lagi komunikasi antar pembina dan yang dibina."Jadi semua selesai dan tak ada suatu masalah ataupun dusta diantara kita.
-------------------------------------------------------------------*Penulis merupakan penggiat literasi dan anggota Komunitas Penulis Sastra Indonesia (KOPSI).Penulis dapaf dihubungi via ;Instagram : @DisisikuDisisimuTwitter   : @Netrahyahimsa
Share:

Friday, April 6, 2018

April Bersamamu - A L F A

Oleh : Alfa Arkana EoFataha (DSF)




        Kutarik napas dalam-dalam dari hidung, lalu perlahan kuhembuskan melalui mulut. Hal itu selalu kuulangi berkali-kali pada saat diri sedang dalam ke khawatiran dan kecemasan. Begitu pula hal serupa itu kuulangi beberapa kali pada saat perjalanan siang ini. Hatiku berdegub kencang begitu juga darah mengalir deras. Kurasa memang belum cukup stamina untuk memulai lembaran baru apalagi belum terlalu move on untuk pergi jauh dari bayang Papa. Seharusnya untuk hari ini masih istiharat di rumah agar lebih baik dan nyaman kembali. Namun aku yakin, perlahan semua akan membaik pabila sudah waktunya.

Dalam perjalanan selama tiga jam itu aku selalu terbayang akan kejadian beberapa hari lalu yang menggetarkan hati, membuat pilu, hingga meneteskan air mata. Namun dibalik semua kisah itu ada suatu hal yang membuat bahagia. Ya lagi-lagi dia selalu hadir dalam setiap langkah dan lamunanku. Jadi teringat ketika senja sore bersamanya, keliling menghabiskan waktu bersama, bercerita, dan tertawa bersama. Apalagi setiap kupandang wajah ceria pada sebuah foto dalam dompetku, foto hitam putih dengan ukuran empat kali enam itu rasanya bahagia selalu menyertaiku setiap kali pandangan terfokuskan pada foto tersebut.

Yang aneh adalah ketika orang-orang yang melihat foto itu, ketika ku membuka dompet mereka selalu bertanya mengenai apa yang mereka lihat. Ya seperti foto ini yang selalu menjadi kontroversi bagi mereka. Kebanyakan dari mereka bertanya, mengapa harus foto itu yang dipasang? Kenapa tidak foto pacar atau istri! Wah Jangan-jangan secara diam-diam kamu sudah berkeluarga dan punya anak ya! Wah parah banget. Masak iya pemuda seusia aku sudah berkeluarga dan punya anak! Jangankan untuk menafkahi keluarga, untuk pribadi saja masih jauh dari pas. Dan yang paling parah lagi, ada kawanku yang bilang, eh kamu norak banget ya benar-benar gak up to date. Sekarang jaman moderen dan jaman canggih enggak perlu lagi nyimpan foto di dompet.  Yah terkadang kalau kita mengikuti apa yang mereka katakan pada kita, semua enggak akan cukup dan enggak pernah terpuaskan. Apalagi kita bukan alat pemuas hehe.

Ohya bay the way hari ini aku sangat bahagia sekali lho, meski tubuh masih kurang fit akibat selalu teringat kejadian pagi itu. Senang sekali rasanya, akhirnya doa-doa yang selalu terselipkan dalam setiap hembusan napas pada istigkhoroh beberapa waktu lalu diijabah sama yang kuasa, Allah azza wajalla. SubhanAllah, bersyukur kebaikan Allah selalu ada dan selalu menyertai setiap langkah.

ᴥᴥᴥᴥᴥ

Usai sholat jum’at, tepat pada pukul 13,35 Wib aku tiba di pesantren. Rumah baruku selama setahun kedepan, aku berharap ini adalah jalan terbaik yang Allah berikan untukku, selain bisa dekat dengan Alfa aku berharap ilmu yang aku dapatkan bisa lebih bermanfaat lagi disini.
Bismillah, dengan tekad kuat dan penuh semangat kubuka kaca jendela mobil lalu kuhirup perlahan demi perlahan udara segar pesantren dan kurasakan kenyamanan dan kenikmatan yang Allah berikan, yang selalu mengajakku untuk selalu mensyukuri atas nikmatnya. SubhanAllah benar-benar luar biasa sekali, ternyata aku benar-benar telah berada di pesantren. Kubuka pintu mobil dan melangkahkan kaki keluar, kupandangi sekitar pesantren.

 Setiap liku dan sudut tak sedikitpun terlewatkan.
Ada sesuatu yang membuat bingung diriku dan bertanya-tanya! Kucoba mengucek-ucek mata dan mencubit kedua pipiku dan itu terasa sakit. Berarti aku benar-benar dalam keadaan sadar bukan sedang berada didunia mimpi. Kedua bola mataku tak henti berkeliling, dengan sigap dan cepat menangkap informasi, namun tidak juga kutemukan jejak-jejak kehidupan.

“Ada apa ini. Sepi sekali suasana pesantren. Tidak seperti biasanya,” gumamku dalam hati.

Hal itu semakin membuat bingung diriku. Apalagi ketika seseorang dari arah belakang yang tiba-tiba hadir dan menyadarkanku. Sontak diriku terkaget olehnya.

“Mas,” tegur suara itu.

“Astaghfirullahhaladzim,” sontak ku terkaget dan tersadar olehnya. Dan segeraku menoleh kearah belakang dimana suara itu berasal.

“Mas. Apakah ini benar tujuan kita.”

“Iya benar pak. Maaf telah menunggu lama.”

Ya ampun suasana ini benar-benar membuatku lupa. Aku lupa bahwa telah sampai di pesantren dan lupa jika aku diantar oleh trevel. Untung saja si sopir trevel tidak marah dan bersabar menungguku sejak tadi. Usai membayar trevel dan mengeluarkan barang-barang dari mobil, aku perlahan melangkahkan kaki menuruni anak tangga menuju asrama, sebuah gedung tempat dimana biasa aku tempati dan disana aku berjumpa dengan seorang santri. Ternyata santriwan dan santriwati beserta ustadznya sedang mengikuti acara disebuah masjid didekat pesantren, hanya beberapa saja yang tinggal menjaga pesantren. Pantas saja sepi.

Ini akan menjadi sebuah kejutan untuk Alfa dan teman-teman yang sedang menantikan kehadiranku. Kemarin ketika aku chatting dengan Ustadzah Imsa, dia bilang anak-anak menanti kehadiranku segera. Tapi yang membuat senang hatiku bukanlah kejutan tersebut, akan tetapi keindahan bulan April. Ya April akan selalu terkenang sebagai langkah memulai lembaran baru dan awal kebersamaan dalam persahabatan.


---------------------------------------------------------------------------------------

Juli Bertemu April Bersatu



Juli Bertemu
Agustus dan September mulai akrab denganmu
Oktober, November, dan Desember
Berlalu dengan bayang semu
Januari, Februari , Maret
Aku mulai rindu
Lalu April. Allah berikan waktu untuk bersatu
Mei dan Juni. Suka cita kulalui bersama denganmu

Selamanya kita bersama, mengarungi samudera dan cakrawala
Meraih mimpi-mimpi pada dunia



----------------------------------------------------------------------
*Alfa Arkana Eounoia bernama asli Disisi Saidi Fatah merupakan Alumni Akademi Hypnoterapy Karya Tunas Bangsa, Sumatera Selatan. Pemilik akun instagram @DisisikuDisisimu pengagum sholawat Habib Syech AA Assegaf dan penyuka ulama sastra KH Ahmad Mustafa Bisri (Gus Mus) serta Ust.Yusuf Mansyur dan Aktor Ananda George. Suka Puisi, sastra, dan kamu ❤
Share:

Sunday, April 1, 2018

Hijrah - Alfa Arkana Eounoia

"Hijrah"

Oleh : Alfa Arkana Eounoia (DSF)


Ilustasi.Ist | Gambar oleh Google


"Sebenarnya aku tak ingin berpisah, namun cepat atau lambat tetap kita akan berjumpa dengan perpisahan yang memang terkadang membuat sakit dan terluka."


           Aku tahu ini mungkin sakit, sebab tak lama lagi bersama dengan mereka (orang yang aku sayang), aku akan pergi meninggalkan semua untuk memulai perjalanan dan kehidupan baru. Sebenarnya aku tak ingin berpisah, namun cepat atau lambat tetap kita akan berjumpa dengan perpisahan yang memang terkadang membuat sakit dan terluka. Bukan aku tidak mensyukuri segala nikmat yang Allah berikan. Aku sangat bersyukur dan bahagia bersama orang-orang disekitar yang Allah hadirkan dengan penuh warna dan cerita.

          Setelah mendapat kabar baik dari abah beberapa hari lalu. Aku benar-benar berpikir dengan matang dan membulatkan tekad serta mengambil keputusan yang ril.
Sebab aku tak ingin menyesal dan salah dalam mengambil keputusan. Kemarin aku sudah bicarakan hal ini baik-baik kepada ibu dan keluarga di kampung dan mereka menyetujui hal itu selagi itu baik untuk aku dan tidak merugikan semua pihak.
          Its oke jadi malam ini aku memberanikan diri untuk memulainya. Sebab masih ragu dan merasa gugup untuk mengajak papa ngobrol bareng, aku mengajak beliau melalui pesan singkat yang intinya adalah meminta sedikit waktu beliau untuk bersamaku malam ini. Sebab ada beberapa hal yang ingin kukatakan kepada beliau.

       Aku tergugup malu duduk disamping papa diruang tamu. Sengaja beliau buatkan dua cangkir kopi hangat untuk menemani  obrolan kami agar suasana bisa tenang dan santai. Aku masih terdiam, tertunduk diam. Namun aku merasa sedikit tenang berada disamping Papa.

        “Kak. Melamun saja, monggo diminum kopi nya,” ujar Papa memulai pembicaraan sembari merangkul pundakku.

        Aku merasa sangat nyaman berada dalam rangkulan Papa, meski beliau bukanlah orang tua kandungku namun bagiku beliau sudah lebih dari itu. Kebaikan dan kasih sayang nya aku bisa rasakan semua meski tak sebesar kasih sayang kedua orang tua kandung.

Aku merasa sakit sekaligus sedih untuk memulainya, kurangkul tubuh beliau dan kupeluk erat-erat. Masih tercium keharuman yang mampu mencairkan susana, sebagaimana yang membuatku selalu merindu untuk selalu bersama. Tak terasa air mata berjatuhan tak dapat terbendung olehku.

   “Pa. Maafin kakak ya. Kakak selalu membuat Papa marah dan selalu mengecewakan Papa,” tuturku sembari memeluk erat tubuh Papa.

    “Ada masalah apa kak. Kok terbata-bata seperti itu?”

   “Ceritakan pada Papa. Ada apa?”

Kutatap wajah Papa, dengan lamat-lamat kutatap tajam matanya yang tenang dan berwibawa. Dari pandangan matanya aku rasa beliau bersedia menerima semua keluh kesahku dan tak sabar untuk mendengarkan nya. Matanya berkedip menandakan bahwa beliau ingin segera mendengarkan keluh kesah itu.

“Pa. Maafin kakak ya. Papa enggak marah lagikan dengan kakak?”

“Lha marah kenapa. Kakak kan tidak melakukan kesalahan!”

“Papa masih maukan bersahabat dengan kakak?”

“Iya nak. Memangnya ada apa.”

“Kakak takut jika nanti Papa marah dan pergi. Pa, kakak ingin pulang dulu dan mencari susana baru. Tidak apa-apakan pa?”

“Papa enggak marah. Ya selagi itu baik buat kakak dan bisa bertanggung jawab. Mengapa tidak?”

“Bukankah begitu nak!” ujar Papa sembari merangkul tubuhku kembali dan mengusap keningku.

Papa benar-benar orang yang luar biasa dalam hidupku. Meski aku bukanlah anak kandung, namun bagi papa aku sudah seperti anaknya sendiri. Kasih sayangnya sama terhadap aku dan anak-anaknya, tak pernah beliau membeda-bedakan perlakukan dan sikap. Hanya saja usia yang membedakan diantara aku dan anak-anaknya.

Hari-hari akhir kuhabiskan untuk selalu bersama Papa. Aku tahu Papa pasti sedih dan merasa sangat kelihangan sebab begitu cepat aku akan pergi meninggalkannya. Wajahnya tak seindah dan sebahagia lalu yang selalu berseri ketika bersama. Ya mungkin saja beliau lelah sebab banyak aktivitas. Jadi pagi itu kupijat kaki dan pundak beliau untuk terakhir kalinya.

Hingga pada saat yang tiba. Waktu itu menunjukkan pukul 03.30 Wib. Papa mengetok pintu kamar, memberitahu agar aku bangun dan segera siap-siap sebab kendaraan yang akan aku tumpangi sudah menuju terminal. Segera kubergegas membereskan semua. Kulihat Papa sedang sibuk dibelakang mempersiapkan hidang untukku.

“Kakak makan dulu. Papa sudah siapkan semua untuk Kakak.”


Ya Allah, ternyata benar Papa tak sedikitpun marah kepadaku. Persahabatan yang sudah terjalin hampir setahun lebih ini menyisakan banyak kenangan dan keindahan. Papa sungguh luar biasa.
Subuh itu menjadi kenangan terakhir bersama Papa. Aku tak sanggup dengan keadaan ini tak kuat menahan air mata. Kupeluk papa erat-erat untuk terakhir kali sembari mengecup kedua pipinya.

“Pa. Maaf ya untuk semua kesalah dan khilaf kakak. Papa adalah yang terbaik, jangan pernah lupa dengan kakak. Sehat selalu pa,” kata-kata itu terucap dari bibirku untuk terakhir bersama beliau yang selama ini menjadi guru, sahabat, dan orang tua bagiku.
Semoga dengan ini semua menjadi lebih baik dan gemilang total.


-------------------------------------------------------------------
*Alfa Arkanan Eounoia (DSF) merupakan mahasiswa semester tiga jurusan Ilmu Komunikasi disalah satu perguruan tinggi di Lampung.
Memiliki hobi membaca, menulis, serta jalan-jalan dan mencoba hal baru. Aktif dikegiatan sosial budaya dan kemanusiaan. Memiliki motto "Bermanfaat untuk sesama. Berbagi dan berkarya dalam ranah kehidupan dan kemanusiaan yang setara dan seadil-adilnya."
Share:

Sunday, March 4, 2018

Ketika Sang Imam Keluarga Pergi


Ilustrasi | Ist

Sebuah cerpen, terinspirasi dari kisah nyata;

Oleh : Alfa Arkana Eounoia (DSF) @NoiaAlfa



Kamis pagi usai melaksanakan sholat subuh berjamaah, Alfa bergegas membenahi barang-barangnya yang sempat berantakan. Semalam baru saja Alfa sampai dari kota, sebuah kota di Pulau Jawa, sebab ada kegiatan disana. Baru semalam Alfa pergi meninggalkan kota yang memiliki sebutan Kota Pelajar, namun dibenaknya masih teringat begitu indah dan asri kota itu. Masyarakat nya yang ramah serta pemandangan yang indah dan dipenuhi oleh kaum pendatang dari berbagai kota.

Mentari nampak begitu bersemangat memancarkan sinarnya yang begitu indah sehingga membuat mata Alfa sedikit sakit ketika memandanginya.  Usai menyantap sarapan pagi, Alfa segera bergegas menuju stasiun kereta untuk melanjutkan perjalanannya menuju tempat dimana ia tinggal. Tibanya di stasiun, sembari menunggu kereta yanag akan ditumpanginya datang, Alfa membuka ponsel untuk mengecek beberapa pesan whatsapp dan email yang masuk, namun pagi itu ponsel nya terasa sangat sepi sekali. Setelah menunggu beberapa menit diberanda stasiun akhirnya kereta yang akan ditumpangi datang juga, segera ia bergegas naik dan mencari tempat duduk sesuai nomor tiket yang ia pegang.

Beberapa menit setelah kereta melaju dari stasiun, tiba-tiba ponselku berdering berkali-kali namun sama sekali tak ku hiraukan. Ku lihat ponsel itu ternyata yang menghubungiku adalah bapak.
“Ada apa ya, pagi-pagi Bapak menelponku!"
Kuletakkan kembali ponselku kedalam saku, tak lama kemudian ponselku kembali bergetar, kulihatn  sebuah pesan singkat menghampiri ponselku, ternyata itu pesan dari bapak. “Nak Alfa sudah pulang dari kotakah? Bisa mampir ketempat kerja Bapak?”
Alfa terdiam sembari berpikir, ada apa dengan bapak? Mengapa beliau pagi ini menghubunginya berkali-kali. Ia merasa sangat bersalah, sebab ketika hendak pulang tidak memberitahu kepada bapak.

***

Perjalanan hari itu cukup jauh dan melelahkan, sehingga membuat Alfa lupa memberitahu kepada keluarga bahwasanya ia sudah sampai tujuan. Hari demi hari dilalui dengan berbagai kesibukan. Lima hari telah berlalu namun hatiku tidak bisa tenang, selalu dikhawatirkan dengan keadaan bapak sebab ia tak lagi menelepon atau smsku lagi.

“Tumben bapak enggak pernah menghubungiku lagi, biasanya bapak yang paling cerewet dengan anak nya,”

“Apa aku tanya saja kabar beliau?”.


Hati Alfa sangat gelisah dan risau sehingga membuat ia tak bisa beristiharat. Berkali-kali ia keluar masuk pintu rumah sembari memainkan ponsel, berharap ada sesuatu yang bisa menenangkan hati. Menjelang maghrib ponsel Alfa kembali berdering, ternyata ibu yang menelpon memberi kabar dari sang bapak.  Belum sempatku berbicara, tiba-tiba terdengar suara yang tergesa-gea dari bilik ponsel.

“Assalamua’laikum, Fa, maaf ibu tidak bisa lama. Langsung saja, beberapa hari lalu usai bapak pulang kerja, bapak sakit perut dan mual-mual, jadi ibu bawa ke puskesmas terdekat, namun pihak puskesmas menyarankan agar segera dirujuk ke rumah sakit. Siang itu bapak langsung dirujuk kerumah sakit, pihak rumah sakit juga tidak dapat menangani, sehingga bapak dioper kerumah sakit diluar kota.”

Sejak saat itu hatiku tak bisa tenang, selalu diselimuti rasa bersalah. Seandainya kemarin aku menyempatkan waktu untuk menjenguk bapak ditempat kerja, pasti semua tak akan seperti ini. Apalagi kemarin bapak sangat sibuk sekali menghubungiku. Aku jadi khawatir akan terjadi apa-apa dengan bapak, apalagi akhir ini aku dan beliau kurang akrab.

Hari semakin malam, namun pikiranku tak bisa tenang sebab aku belum juga menerima kabar mengenai kondisi bapak selanjutnya, ingin rasanya aku segera menyusul kerumah sakit. Namun itu sangat tidak mungkin, jarak antara tempat tinggalku dan rumah sakit sangat terlalu jauh apalagi sudah larut malam begini mana ada kendaraan yang melintas, sedangkan cuaca malam ini sangat gelap sekali dan suara gemuruh sedari tadi tak henti-hentinya menandakan akan turun hujan yang sangat lebat. Hatiku semakin resah terpikirkan kondisi bapak, apalagi beberapa pekan ini aku sedang dilanda banyak musibah.

***

Teringatku akan suatu masalah dengan pak Rehan, orang yang selama ini aku panggil papa. Sampai hari ini papa masih cuek tidak menegorku, senyum dibibir beliau seakan-akan hilang bagaikan ditelan masa, tidak seperti biasanya beliau bersikap seperti itu kepadaku. Biasanya beliau selalu tersenyum manis dan seakan terbebas ketika didekatku.
Setiap malam beliau memintaku untuk membuatkan secangkir kopi hangat untuk menemani kerjanya bahkan terkadang beliau bercerita mengenai masa muda beliau, beliau juga sering memintaku untuk menemani beliau ketika beliau hendak bepergian. Namun tidak untuk beberapa pekan ini, sepertinya beliau sangat marah atas segelintir kesalahan yang aku perbuat. Aku masih merasa malu dan enggan untuk menegor beliau, ingin rasanya aku menangis dipelukan beliau dan mengutarakan apa yang sedang hatiku rasakan serta meminta maaf kepada beliau atas perbuatanku kemarin.
Aku juga bosan dengan kondisiku sejak saat itu yang selalu mengurung diri didalam kamar, namun aku masih malu dan enggan untuk meminta maaf kepada beliau. Akan tetapi apabilaku tidak segera meminta maaf maka akan bertambah besar masalahnya dan akan membuat pikiranku sangat terbebani.
Kring!!! ponselku berdering, ibu kembali menelponku. Kali ini ibu benar-benar membuatku kaget,  saat ibu menelponku ibu terlihat sangat khawatir, nafasnya seakan tidak teratur.  
“Halo nak, barusan dokter memberitahu ibu mengenai penyakit yang diderita oleh bapak, dokter bilang bapak harus segara ronsen besok siang. Sebab keadaan bapak makin melemah,” tutur ibu memberitahuku. “Baik bu, Alfa besok pagi segera menuju rumah sakit,” jawabku sembari menutup telepon.  
Kejadian itu membuatku sangat terpukul,  aku
benar-benar terpuruk dan terjatuh lemas ketika mendengar informasi dari ibu, aku sangat mengkhawatirkan bapak. Aku bingung tidak bisa berfikir, bagaimana caraku memecahkan masalah ini, kepada siapa aku  harus mencari solusi dan mencurahkan perasaan hati yang sejak dalu aku sembunyikan.

Aku bergegas keluar rumah, mencari udara segar sembari menenangkan hati. Untung saja ketika aku jalan-jalan diluar aku bertemu sahabatku Alwi yang kebetulan juga sedang mencari udara diluar. Wajahku terlihat sangat murung sekali sehingga membuat Alwi bertanya.

“Fa, kamu sakit ya? Kelihatannya wajahmu sangat pucat sekali,”

“Enggak kok, aku sehat saja, hanya saja ada beberapa masalah yang sedang menghampiriku akhir ini”

Alwi saat itu membujukku untuk menceritakan masalah yang sedang melandaku, dan memberiku solusi atas masalah tersebut. Alwi menyarankanku untuk segera meminta maaf kepada papa sebab sudah lama tak saling sapa, apalagi didalam Al-Quran tidak diperbolehkan untuk saling membuang muka dan bersikap cuek sesama saudara melebihi dari tiga hari.

Usai curhat dengan Alwi, aku bergegas menuju rumah dan menemui papa untuk meminta maaf, untungnya beliau masih belum tidur.

 “Assalamualaikum,” ujarku mengetok pintu ruang kerja papa, kulihat beliau sedang santai didepan layar monitor.

“Waa’laikumsalam, masuk kak. Ada apa?” ujar papa menyambutku dengan penuh senyuman.

Melihat senyum dibibir beliau, aku menjadi bersemangat untuk mengutarakan maksud dan tujuanku.

“Pa, sebelumnya Alfa minta maaf ya, atas perbuatan yang Alfa lakukan. Alfa  tidak bermaksud untuk berlebihan terhadap papa, itu semua karena Alfa sayang dengan papa."

"Tidak apa-apa, papa maklum. Sudah papa maafkan,”

“Beneran pa?” ucapku gembira.

 “Papa masih mau-kan bersahabat dan menjadi papa kakak seperti dulu,"

 Tentu. Asalkan Alfa janji tidak menulanginya kembali,” ujar papa sembari merangkul pundakku.  Hatiku sangat senang sekali,  sebab sejak saat itu papa tidak lagi cuek denganku.

***

Setiba dirumah sakit, langsung ku rangkul sosok gagah yang kini melemah terbaring diatas ranjang tidur. Kulihat disekeliling bapak begitu banyak selang yang terpasang pada badannya.
Rabu pagi usai sarapan pagi, aku dan ibu dipanggil dokter, aku dibuat penasaran oleh sang dokter akan penyakit yang diderita bapak.

“Selamat pagi nak Alfa, setelah pak Salman kita diagnosa dan dilakukan cek laboratorium, kami menyimpulkan bahwasanya pak Salman mengalami kebocoran pada bagian usus dan lambung.  Untuk kedepan harus segera dilakukan operasi, namun besar kemungkinan untuk keselamatan pak Salman, kami tidak bisa menjamin 100%."
 Aku enggak yakin kalau bapak tidak bisa disembuhkan, dokter pasti salah cek apalagi rumah sakit itu memiliki fasilitas yang sangat memadai.
Ibu terlihat sangat khawatir, apalagi ketika ibu menelpon seluruh anggota keluarga untuk segera berkumpul dirumah sakit. Pikiranku sangat kaucau sekali, ah tidak mungkin kalau bapak akan secepat ini meninggalkan kami, bapak pasti sembuh. Dokter itu pasti salah dalam memeriksa bapak."
Menjelang maghrib, tiba-tiba bapak terkejang kesakitan, nafasnya tersengal, perutnya semula buncit tiba-tiba membesar layaknya seorang wanita yang sedang mengandung berusia tiga bulan.  Aku sangat ketakutan,  terjerit dari ruang kamar memanggil dokter. Dokterpun tiba dengan membawa sebuah tabung gas untuk segera dipasang pada hidung bapak untuk mendapatkan oksigen bantuan. Maghrib itu berlalu dengan penuh kepanikan.
Malam itu, aku,  ibu, dik Rehan,  mbak Salma,  dan mbak Putri sedang istiharat disebuah lorong sebelah ruangan dimana bapak dirawat, aku sangat terkantuk sekali sebab sudah tiga malam aku begadang menjaga bapak. Kebetulan pada malam itu mbak Intan baru sampai dari Jakarta,  jadi bisa menggantikan posisiku untuk beristiharat sejenak.  Suasana malam itu sedikit tenang hingga membuatku tertidur pulas, membuatku susah untuk dibangunkan. 

Sekitar pukul 23.00 aku tiba-tiba terbangun ketika mendengar suara halus dan lembut namun terbata-bata untuk mengeja namaku. 

"Fa,  Al, Alfa," ujar suara itu memanggilku.  Segeraku bergegas menuju tempat dimana itu berasal,  suara itu ternyata berasal dari ruang kamar dan ternyata itu bapak.

"Iya pak,  Alfa disini, disamping bapak," ujarku menghibur bapak.

Aku sangat mengerti sekali bagaimana perasaan yang sedang bapak rasakan.
Wajah pucat itu menatap keatas langit kamar,  sembari melantunkan kalimah tasbih,  tahmid,  dan tahlil.  Kutatap wajah pucat itu dengan tenang,  tiba-tiba air mataku jatuh.  Aku merasa sosok yang gagah itu seakan pergi untuk selama-lamanya dari hidupku.
Bergegasku menuju kamar mandi,  kuambil wudhu lalu kembali duduk disamping tempat tidur bapak sembari membacakan surah yasin dan menuntun bapak untuk mengucapkan kalimah istighfar dan dua kalimah syahadat.  Suara bapak semakin lama semakin mengecil tak terdengarkan, hanya saja bibir nya masih tetap bergerak melafadzkan kalimah syahadat, tubuhnya dingin dan kaku.

"Dokteeeerrrr,"

"Pak,  bapak,  bangun pak,"

Tidak mungkin, secepat ini bapak pergi meninggalkan kami semua.

"Innalillahi wainna ilaihi rojiun, bapak sudah tiada," ujar dokter kepadaku.

Bapak pergi meninggalkan kami tepat pukul 23.30, isak tangis keluarga mengiringi kepergian bapak.

Aku masih tidak percaya akan kepergian bapak, serasa baru kemarin bapak menelponku.

***

Pagi itu sangat ramai sekali, warga setempat memenuhi rumah. Karangan bunga dan bendera kuning ikut menghiasi halaman rumah. Sanak family telah berkumpul.  Isak tangis tiada henti mengenang kepergian bapak.

"Bapak benar-benar pergi ya," gumamku.

Mbak Intan dan mbak Putri, masih belum rela melepas kepergian bapak, mata mereka bengkak dan tubuhnya lemas. Bahkan ketika bapak dibawa ketempat peristiharatan terakhir, mbak Putri jatuh pingsan sebab tidak kuat melihat kejadian tersebut.  Mbak Putri begitu terpukul atas kepergian bapak sebab sejak mbak Putri mendapatkan gelar sarjana pendidikan juruan agama islam ia belum bisa membahagiakan bapak. Apalagi mbak Intan dan mbak Putri belum pada nikah.

Sekarang tak ada tempatku bersandar, berbagi cerita dan mengeluh selain kepada ibu.

“Yatim sudah diri ini ya rabb,”

Sekarang aku, dan mbak-mbakku harus saling mensupport dan saling bahu-membahu menggantikan posisi bapak untuk menapkahi ibu dan adik yang sedang duduk di bngku SMK. Sekarang harus mandiri dan lebih rajin lagi.

Selamat jalan bapak, semoga tenang di surga.

“Kami merindukan bapak,”
Share:

Latest in Tech

Cendekia Al Azzam | Pecandu Sastra©2025. Powered by Blogger.

Segelas Kopi dan Jejak Langkah Murobbi

Ilustrasi didesain oleh AI-GMN Tak ada satu hari pun melintas tanpa gerimis bening di pipi Menetes pelan membasahi sajadah rindu yang sunyi ...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Blog Archive

Home - Recent Posts (show/hide)

Home - PageNavi (show/hide)

Random Posts

Recent Posts

Labels

Blog Archive