Tuesday, August 18, 2026
Wednesday, July 15, 2026
Pelayan Setia di Majelis Cahaya | Puisi
![]() |
| Ilustrasi dibuat oleh kecerdasan buatan (AI)/Gemini. |
Sering kali, di sepertiga malam terakhir saat alam semesta tenggelam dalam keheningan yang paling sunyi, Tuhan membisikkan pesan-pesan indah melalui mimpi yang teduh. Mimpi bagi seorang penuntut ilmu bukanlah sekadar bunga tidur, melainkan jembatan ruhani yang menghubungkan jiwa dengan sumber-sumber keberkahan.
Thursday, April 9, 2026
Di Bawah Naungan Cahaya Murabbi [Kado Milad Abah 2026]
![]() |
| Lentera kecil pengusir kelam, laksana nasihat guru yang menetap di dalam diam. Jawaban doa dalam binar cahaya. (Sumber: Unsplash) |
Engkau hadir sebagai jawaban dari sujud-sujud panjangku,
Seperti rintik hujan yang jatuh di tanah yang dahaga,
Nasihatmu mengalir lembut, menetap dalam sanubari tanpa sengketa.
Saturday, December 20, 2025
Monday, July 28, 2025
Puisi: Detik yang Menyimpan Wajahmu
![]() |
| Aku dan sepupuku, di suatu hari di sudut rumah sakit. (Dokpri). |
Di bawah kanopi langit seng yang berkarat senja,
kau datang - serupa angin kecil yang menyingkap sunyi,
ringan seperti daun gugur yang tak tahu ia indah,
dan senyummu... ah, senyummu menusuk pelan seperti cahaya pagi
yang menelusup celah dada,
menggetarkan sesuatu yang tak sempat kupanggil dengan nama.
Wednesday, June 11, 2025
Pertemuan yang Tak Biasa
![]() |
| Ilustrasi - pertemuan dua insan di suatu mushola. (Sumber: AI) |
Tempat asing, dinding-dinding sunyi,
Tapi tanggung jawab menarikku berdiri.
Kupikir hanya akan sholat lalu pergi,
Namun takdir menyusun pertemuan sunyi.
Seorang anak kecil -
Dengan mata teduh dan senyum yang tak biasa mengalir.
Saturday, February 22, 2025
Yang Sakit Adalah Kenangan
Monday, February 10, 2025
Friday, January 31, 2025
Thursday, January 23, 2025
Sebuah Persembahan Untuk Vinza
Tuesday, August 13, 2024
Titip Rindu
![]() |
| Foto Senja. Ist |
Kenang
Jika mengingat perjumpaan kita
rasanya lucu, apalagi setelah tahu jalur kita yang berbeda
Aku yang merasa salah ucap pada temu pertama, - sedikit menjaga, khawatir jika semakin berlebihan
Tapi, seiring berjalannya waktu
ditambah jeda waktu kerja yang tak lagi ada, membuat kita semakin dekat dan akrab
Dan, di sana aku menemukan frekuensi yang sama antara kita
Rasa itu tumbuh seiring kita sering berjalan bersama
Hingga jeda menyapa dan memisahkan kita dengan jarak dan waktu yang entah kapan kembali menyatukan
Lampung, 31072024
Baca: Anak itu Arfan Namanya!
Titip Rindu
Angin
Ku titipkan rindu ini padanya
Bisikkan kepadanya bahwa aku masih menyimpan kenangan
Sampaikan, jika harapan dan doa masih senantiasa aku lantunkan dalam tiap saat tangan menengadah pada-Nya
Lampung, 31072024
Baca: Di Penghujung Mei
Monday, July 29, 2024
Anak itu Arfan Namanya!
Menjelang maghrib ia sudah berada di masjid
Berpakaian lengkap dengan peci hitam di kepalanya
Senyumnya merekah, manis dipandang
Arfan, itulah namanya saat kutanya
Sekolah di taman kanak-kanak
Usianya lima tahun
Wajahnya periang, kalau ngomong lancar dan jelas
Baca: Kisah Burung Pipit yang Bertasbih Setiap Hari, Lalu Terdiam
Waktu kutanya ia, mengapa rajin pergi ke masjid
Arfan bilang, supaya Allah sayang
Agar apa yang kita minta sama Allah, lekas diberikan
"Begitu kata Bunda," ujar Arfan
Allah yang sudah memberikan kedua tangan, mata, telinga, dan anggota badan semua
Allah juga yang sudah kasih Ayah dan Bunda rezeki
Jadi, kita harus rajin ibadah
Demikian tutur anak kecil itu
Bogor, 2023
Baca: Di Penghujung Mei
Thursday, July 4, 2024
Di Penghujung Mei
![]() |
| Foto Wallpaper Better |
Di penghujung Mei merupakan rangkaian puisi-puisi Pecandu Sastra atau Disisi Saidi Fatah. Masih sama pada puisi sebelumnya, membahas perihal duka, luka, dan air mata
Bait-Bait Puisi
Menjadikanmu aktor utama dalam setiap bait puisi
Adalah kebiasaan yang sedang ku alami
Berlama-lama bermain dengan kata, rima, dan nada, mengajakku menari dengan bayang semu
Melukiskan indah senyum pada bibir mungil mu
Senyum yang kerap menjadi kobar semangat bagiku
Binar bening tatap matamu
Menjadikanku untuk selalu menetap dan berpaling dari yang lain
Teduh wajahmu adalah bagian bahagia yang ku punya
Luka dalam setiap baitku
Adalah luka yang tak mampu ku bagi denganmu
Luka sebab rindu untuk bersua, yang terpisahkan oleh waktunya kita
Luka untuk saling bertatap, yang terpisahkan oleh jarak
Setiap bait tertulis
Aku berusaha untuk tidak menghakimi mu
Sebab aku tahu, setiap kata terucap adalah doa
Yang akan menjadi nyata pada masanya
Bumi Ramik Ragom, 2019
Di Penghujung Mei
Di penghujung Mei, di kala senja sore itu
Bergegas menepis genangan air, yang mengguyur setiap langkah
Dingin cuaca senja itu tak aku hiraukan,
Demi berjumpa kau seorang
Aku tak ingin menyiakan kesempatan
Menebus rindu, menembus waktu bersamamu
Tak sabar menikmati panorama indah pada bibirmu
Tak pedulikan apa yang terjadi pada diriku
Berjumpa denganmu. Hal itu yang slalu di benakku
Rinduku harus segera berakhir di penghujung Mei ini
Aku ingin kembali tersenyum, bahagia menyambut Juni nanti
Aku ingin kisah yang terukir pada Juni tak lagi ada duka maupun luka
Jikalau pun nanti ada,
aku harap tak sedikit pun namamu tercatat
Aku rindu senyum merekah pada bibirmu
Yang kau lontarkan dengan tulus padaku, sebagaimana tempo lalu
Blambangan Umpu, 2019
Dua Pasang Bingkai Kaca
dua pasang bingkai berkaca, terhiasi dua pasang poto terpajang pada diding sisi pintu kamar
satu hitam bergaris putih. satu putih berpola kuning emas
keduanya sama berharga. sama-sama dicintai
masih banyak harapan dan impian yang belum terlaksana
keduanya memiliki karakter berbeda. keduanya ialah permata
sampai di sini, keduanya menjelma dalam mimpi
memahat kenangan yang sulit terlupakan
Lampung, 2020
Sampai Batas Ini
Sampai batas ini aku memahami
Jika impian untuk menggapai bahagia bersamamu hanyalah ilusi, cerita fiktif penuh imaji
Akhir kata ini, aku pamit permisi
Semoga tuhan memberi yang lebih baik lagi
Monday, April 20, 2020
Aktivis Jalanan
![]() |
| Foto diambil ketika PMII Kab.Way Kanan - Lampung mengadakan aksi sosial penggalangan dana bagi korban gempa di Palu dan Donggala. 2018. Ist |
"Maha karya, sebagai wujud cinta kepada kaum pergerakan. Puisi ini ditulis sebagai hadiah di Hari Lahir (Harlah) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ke-60 Tahun 2020. Syair indah ini pula diikutsertakan dalam lomba cipta puisi tingkat Kab.Way Kanan dalam rangka peringatan harlah PMII ke 60 yang diselenggarakan oleh PC PMII setempat"
Monday, April 6, 2020
Masihkah Cinta di Wayka | Sajak-Sajak di Awal April
Saturday, March 28, 2020
Mahluk itu Bernama Corona
![]() |
| Senja Jingga Purnama.Ist.Dokumen Pribadi.2017 |
Teruslah Bergerak | Puisi di Bulan Maret
Monday, June 10, 2019
Kemenangan Haqiqi
![]() |
| Sumber ; Liputan6.com | Ist |
Ramadhan pun usai kita lalui, ia telah pergi dengan segenap keluarga besarnya
Kemenangan tak hanya sebatas hari raya
Juga bukan sandang pangan belaka, yang serba mewah dan megah
Kemenangan haqiqi adalah bagaimana kita mempertahankan apa yang sudah kita bangun
Mari rebut kembali kemenangan yang fitry
Jangan biarkan ia berlalu dan pergi tanpa perubahan pada diri
Ramadhan boleh usai
Namun puasa tak boleh hilang begitu saja
Masih ada syawwal juga sunnah lainnya
Tadarus al Qur'an harus tetap berkumandang
Kita rebut kemenangan
Bagi yang sudah tuntas tadarusan
Mari mulai kembali dari laman awal
Bagi yang belum mari tuntaskan
Bagi yang belum sama sekali
Ayo beranikan diri, unjuk gigi pada sang ilahi
Sholat malam tetap berjalan
Bergitu pula dengan shodaqoh dan amal kebaikan





















.jpeg)

.jpeg)





