Cerita Cendekia adalah ruang ekspresi dan refleksi dari Cendekia Alazzam (Pecandu Sastra) — berisi rangkaian puisi, cerpen, cerbung, esai, opini, serta ulasan buku dan film. Melalui tulisan, aku bercerita tentang kehidupan, gagasan, dan imajinasi, dengan harapan bisa mengajak pembaca berpikir, merasa, dan merdeka.

Showing posts with label Sajak. Show all posts
Showing posts with label Sajak. Show all posts

Wednesday, July 15, 2026

Pelayan Setia di Majelis Cahaya | Puisi

Ilustrasi dibuat oleh kecerdasan buatan (AI)/Gemini. 


 Sering kali, di sepertiga malam terakhir saat alam semesta tenggelam dalam keheningan yang paling sunyi, Tuhan membisikkan pesan-pesan indah melalui mimpi yang teduh. Mimpi bagi seorang penuntut ilmu bukanlah sekadar bunga tidur, melainkan jembatan ruhani yang menghubungkan jiwa dengan sumber-sumber keberkahan.

Share:

Thursday, April 9, 2026

Di Bawah Naungan Cahaya Murabbi [Kado Milad Abah 2026]

Lentera kecil pengusir kelam, laksana nasihat guru yang menetap di dalam diam. Jawaban doa dalam binar cahaya. (Sumber: Unsplash)


Di antara riuh rendah dunia yang fana,
Engkau hadir sebagai jawaban dari sujud-sujud panjangku,
Seperti rintik hujan yang jatuh di tanah yang dahaga,
Nasihatmu mengalir lembut, menetap dalam sanubari tanpa sengketa.
Share:

Saturday, December 20, 2025

Sorban Biru Langit

 Sebuah Puisi dari Disisi Saidi Fatah

Share:

Monday, July 28, 2025

Puisi: Detik yang Menyimpan Wajahmu

 
Aku dan sepupuku, di suatu hari di sudut rumah sakit. (Dokpri).


Di bawah kanopi langit seng yang berkarat senja,
kau datang - serupa angin kecil yang menyingkap sunyi,
ringan seperti daun gugur yang tak tahu ia indah,
dan senyummu... ah, senyummu menusuk pelan seperti cahaya pagi
yang menelusup celah dada,
menggetarkan sesuatu yang tak sempat kupanggil dengan nama.
Share:

Wednesday, June 11, 2025

Pertemuan yang Tak Biasa

Ilustrasi - pertemuan dua insan di suatu mushola. (Sumber: AI)



Di suatu mushola kecil di sudut hari,
Langkahku berat, hati terasa enggan menepi.
Tempat asing, dinding-dinding sunyi,
Tapi tanggung jawab menarikku berdiri.
Kupikir hanya akan sholat lalu pergi,
Namun takdir menyusun pertemuan sunyi.
Seorang anak kecil -
Dengan mata teduh dan senyum yang tak biasa mengalir.
Share:

Saturday, February 22, 2025

Sajak Demokrasi Untuk Sahabatku

Ilustrasi Pemilu. Freepik. Ist


Oleh: Disisi Saidi Fatah


Ada yang Datang Tanpa Diundang

Share:

Yang Sakit Adalah Kenangan

 

Senja. Dokpri. 2022

Yang sakit adalah kenangan, merupakan rangkaian puisi-puisi Pecandu Sastra atau Disisi Saidi Fatah. Puisi-puisi ini ditulis di Lampung usai perjalanan panjang di Jawa Barat. 

Share:

Monday, February 10, 2025

Sajak-Sajak Patah di Pertengahan Februari

Gambar hanya pemanis. Milik pribadi dan diambil melalui Redmi Note 14©2025

Share:

Friday, January 31, 2025

Syair Rindu di Tengah Musim Hujan

Hujan malam hari. Foto oleh Pecandu Sastra©2025. Ist


Rindu Sendu

Share:

Thursday, January 23, 2025

Sebuah Persembahan Untuk Vinza

Gambar hanya pemanis, lagi nggak mood nyari gambar lain. | Diambil lewat smartphone pribadi di suatu malam di bulan Januari.



Vinza

Share:

Tuesday, August 13, 2024

Titip Rindu

 

Foto Senja. Ist


Kenang


Jika mengingat perjumpaan kita

rasanya lucu, apalagi setelah tahu jalur kita yang berbeda

Aku yang merasa salah ucap pada temu pertama, - sedikit menjaga, khawatir jika semakin berlebihan

Tapi, seiring berjalannya waktu

ditambah jeda waktu kerja yang tak lagi ada, membuat kita semakin dekat dan akrab

Dan, di sana aku menemukan frekuensi yang sama antara kita


Rasa itu tumbuh seiring kita sering berjalan bersama

Hingga jeda menyapa dan memisahkan kita dengan jarak dan waktu yang entah kapan kembali menyatukan


Lampung, 31072024



Baca: Anak itu Arfan Namanya!



Titip Rindu


Angin

Ku titipkan rindu ini padanya

Bisikkan kepadanya bahwa aku masih menyimpan kenangan

Sampaikan, jika harapan dan doa masih senantiasa aku lantunkan dalam tiap saat tangan menengadah pada-Nya


Lampung, 31072024



Baca: Di Penghujung Mei 

Share:

Monday, July 29, 2024

Anak itu Arfan Namanya!

 



Menjelang maghrib ia sudah berada di masjid

Berpakaian lengkap dengan peci hitam di kepalanya

Senyumnya merekah, manis dipandang 

Arfan, itulah namanya saat kutanya


Sekolah di taman kanak-kanak

Usianya lima tahun

Wajahnya periang, kalau ngomong lancar dan jelas


Baca: Kisah Burung Pipit yang Bertasbih Setiap Hari, Lalu Terdiam


Waktu kutanya ia, mengapa rajin pergi ke masjid

Arfan bilang, supaya Allah sayang

Agar apa yang kita minta sama Allah, lekas diberikan

"Begitu kata Bunda," ujar Arfan


Allah yang sudah memberikan kedua tangan, mata, telinga, dan anggota badan semua

Allah juga yang sudah kasih Ayah dan Bunda rezeki

Jadi, kita harus rajin ibadah

Demikian tutur anak kecil itu


Bogor, 2023


Baca: Di Penghujung Mei
 

Share:

Thursday, July 4, 2024

Di Penghujung Mei

Foto Wallpaper Better


Di penghujung Mei merupakan rangkaian puisi-puisi Pecandu Sastra atau Disisi Saidi Fatah. Masih sama pada puisi sebelumnya, membahas perihal duka, luka, dan air mata 


Bait-Bait Puisi


Menjadikanmu aktor utama dalam setiap bait puisi

Adalah kebiasaan yang sedang ku alami

Berlama-lama bermain dengan kata, rima, dan nada, mengajakku menari dengan bayang semu

Melukiskan indah senyum pada bibir mungil mu


Senyum yang kerap menjadi kobar semangat bagiku

Binar bening tatap matamu

Menjadikanku untuk selalu menetap dan berpaling dari yang lain

Teduh wajahmu adalah bagian bahagia yang ku punya 


Luka dalam setiap baitku

Adalah luka yang tak mampu ku bagi denganmu 

Luka sebab rindu untuk bersua, yang terpisahkan oleh waktunya kita

Luka untuk saling bertatap, yang terpisahkan oleh  jarak


Setiap bait tertulis

Aku berusaha untuk tidak menghakimi mu

Sebab aku tahu, setiap kata terucap adalah doa

Yang akan menjadi nyata pada masanya 


Bumi Ramik Ragom, 2019


Di Penghujung Mei 


Di penghujung Mei, di kala senja sore itu

Bergegas menepis genangan air, yang mengguyur setiap langkah

Dingin cuaca senja itu tak aku hiraukan,

Demi berjumpa kau seorang


Aku tak ingin menyiakan kesempatan

Menebus rindu, menembus waktu bersamamu

Tak sabar menikmati panorama indah pada bibirmu

Tak pedulikan apa yang terjadi pada diriku


Berjumpa denganmu. Hal itu yang slalu di benakku

Rinduku harus segera berakhir di penghujung Mei ini

Aku ingin kembali tersenyum, bahagia menyambut Juni nanti

Aku ingin kisah yang terukir pada Juni tak lagi ada duka maupun luka


Jikalau pun nanti ada,

aku harap tak sedikit pun namamu tercatat

Aku rindu senyum merekah pada bibirmu

Yang kau lontarkan dengan tulus padaku, sebagaimana tempo lalu


Blambangan Umpu, 2019


Dua Pasang Bingkai Kaca


dua pasang bingkai berkaca, terhiasi dua pasang poto terpajang pada diding sisi pintu kamar

satu hitam bergaris putih. satu putih berpola kuning emas 

keduanya sama berharga. sama-sama dicintai


masih banyak harapan dan impian yang belum terlaksana

keduanya memiliki karakter berbeda. keduanya ialah permata


sampai di sini, keduanya menjelma dalam mimpi

memahat kenangan yang sulit terlupakan


  Lampung, 2020


Sampai Batas Ini


Sampai batas ini aku memahami

Jika impian untuk menggapai bahagia bersamamu hanyalah ilusi, cerita fiktif penuh imaji

Akhir kata ini, aku pamit permisi

Semoga tuhan memberi yang lebih baik lagi







Share:

Monday, April 20, 2020

Aktivis Jalanan

Foto diambil ketika PMII Kab.Way Kanan - Lampung mengadakan aksi sosial penggalangan dana bagi korban gempa di Palu dan Donggala. 2018. Ist


Aktivis Jalanan
Oleh : Disisi Saidi Fatah (@pecandusastra96) Kader PMII Komisariat STAI AL MA'ARIF WAY KANAN, LAMPUNG

"Maha karya, sebagai wujud cinta kepada kaum pergerakan. Puisi ini ditulis sebagai hadiah di Hari Lahir (Harlah) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ke-60 Tahun 2020. Syair indah ini pula diikutsertakan dalam lomba cipta puisi tingkat Kab.Way Kanan dalam rangka peringatan harlah PMII ke 60 yang diselenggarakan oleh PC PMII setempat"


Balutan biru dan kuning
Menjadi catatan sejarah langkah dan perjuangan
Waktu merekam atas segala lelah dan keringat yang tertuang

Biarlah. Jangan kau risau atas persepsi buruk yang mereka lekatkan padamu
Teruslah berbuat, menebar kemaslahatan bagi umat
Lanjutkan langkah catatan perjuangan demi terciptanya kejujuran dan kemanusiaan

Apalah arti perjuangan
Jika hanya sebatas mencari pujian
Apalah arti pergerakan 
Jika hanya sebatas seremonial semata

Laksana biru nya lautan
Perdalamlah ilmu pengetahuan dan wawasan
Luas membentang dalam satu ikatan
Bersatu, bahu membahu, tanpa memandang bulu
Tinggi budi pekerti
Taqwa pada yang esa

Hadirlah
Sebagaimana kuningmu
Bergerak dengan semangat selalu berkobar
Menyala penuh harapan, menyongsong masa depan

Bandar Jaya, 1404202


#puisi #sajak #kemanusiaan #sahabatpergerakan #sahabat #PMII #HarlahPMII #harlahpmii2020 #PMIIWayKanan #pergerakan #mahasiswa #lampung cc @kopriwaykanan_official
Share:

Monday, April 6, 2020

Masihkah Cinta di Wayka | Sajak-Sajak di Awal April

Puisi-Puisi Senja Jingga Purnama/Disisi Saidi Fatah | Terbaru, April 2020
Disisi Saidi Fatah.Dokumen Pribadi.Ist
Dokumen Pribadi.2019.Ist


Sampai Batas Ini

Sampai batas ini aku memahami
Jika impian untuk menggapai bahagia bersamamu hanyalah ilusi
Cerita fiktif penuh dengan imaji
Akhir kata ini, aku pamit permisi
Semoga Tuhan memberi yang lebih baik lagi

Nusantara, 05042020
Share:

Saturday, March 28, 2020

Mahluk itu Bernama Corona

Senja Jingga Purnama.Ist.Dokumen Pribadi.2017

Mahluk itu Bernama Corona

Mahluk itu bernama Corona
Mahluk kecil tak kasat mata. Ciptaan Tuhan sebagai reminder ingatan
Meski kecil. Janganlah kau acuhkan
Kecil-kecil cabai rawit

Negeriku berduka. Negeri terluka
Tak hanya Negeriku Bumi Pertiwi
Seluruh penjuru dunia pun ikut berduka
Karena hadirnya semua porak-poranda
Semua takut. Semua panik.
Ulahnya semakin menjadi-jadi

Korban berjatuhan
Isolasi dan lockdown kian menjadi
Negeri bagai tak berpenghuni

Corona oh Corona
Karenamu aktivitas terhambat
Sebabmu ekonomi melemah, ketersediaan barang menjadi langka, pekerja tak tetap menjadi angan semata

Corona, nyata tak banyak yang takut padamu
Justru mereka memanfaatkan hadirmu
Berita bohong tentangmu banyak tersebar di media
Banyak pula para petopeng menyusup masuk sebagai kemanusiaan mencari iuran kecil-kecilan

Lampung, 28 Maret 2020


Negeriku Mendadak Sepi

Bumi mendadak sepi
Kota-kota mati bagai tak penghuni
Aktivitas lengang. Lockdown dimana-mana

Semua mendadak takut
Perdetik berita menyebar luas. Gempar menjadi halilintar
Bagai petir disiang bolong

Maafkan kami Tuhan
Kami lalai. Bahwa kuasamu begitu besar
Maafkan kami yang lupa
Bahwa semua kaulah sang pencipta


Lampung, 28 Maret 2020

Semua Panik

Diawal tahun unik
Dua angka sama saling berturutan
Datanglah kuasa tuhan
Menggetarkan alam semesta
Semua panik, semua takut
Akan mahkuk tuhan yang paling kecil tak kasat mata


Lampung, 28 Maret 2020


Selamat Datang

Rinai hujan terus mendera
Membasahi bumi bahtera
Selamat datang rintihan cinta yang dinantikan
Bawalah pulang segenap luka nestapa
Sya'ban berakhir Ramadhan hadir Bahagiapun turut mengalir

Bandar Jaya, 28 Maret 2020


>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Senja Jingga Purnama alias Disisi Saidi Fatah adalah penulis muda yang kini menjabat sebagai Bendahara Umum Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Pimpinan Cabang Kabupaten Way Kanan, Lampung. Pria berdarah Lampung itu merupakan kelahiran Gedung Harta, 23 tahun silam. Memiliki hobi menulis sejak tahun 2015, dan menekuni ketika ia patah hati. Baginya menulis adalah suatu kebebasan dalam menyampaikan aspirasi, unek-unek, dan pikiran yang tak mampu tertuang melalui perkataan. Selamat menikmati...

Penulis bisa dihubungi melalui
Instagram : @pecandusastra96
Email : disisisf.bpun@gmail.com


Share:

Teruslah Bergerak | Puisi di Bulan Maret

Terima kasih kami ucapkan teruntuk sahabat, teman, dan saudara-saudariku semua yang telah menyempatkan mampir di blog GemilangTotal. Berikut adalah beberapa puisi yang aku tulis dari inspirasi yang mengalir selintas dalam benak, mewakili segenap rasa, segenap kata yang tak mampu terucap. Mohon selalu kritikan, masukan, dan support dari handai taulan semua.
Semoga Allah (Tuhan) kita selalu memberkati kita semua. Barakallah Aamiin


Kecewa

Beberapa saat setelah mendapatkan kabar itu
Hatiku luluh. Sedikit retak
Berdiri. Tersenyum. Menarik garis lekuk bibir
Alisku mengerucut ke atas. Menyembunyikan tangis hati
Perlahan. Napas tertuang pelan
Sampai batas ini. Tak henti bersyukur pada Tuhan atas segala nikmat yang diberi
Terima kasih tuhan
Usaha tak pernah menghianati hasil

Bandar Jaya, 23032020


Bangkit

Masihkah tak percaya dengan apa yang terbaca
Bukankah semua jelas sudah
Lalu apa lagi yang kau tangisi?
Seberapa kuat kau berusaha, jika Tuhan tak berkehendak padamu
Lantas apa yang akan kau lakukan!
Sudahlah bangkit badan. Janganlah terpendam pada satu masalah
Masih banyak pintu yang menantimu

Bandar Jaya, 23032020


Teruslah Bergerak

Bukan tak ada usaha
Sebagai insan, aku hanya berharap padanya
Terlebih, jika berhasil itu sudah rejeki
Namun, jika gagal cobalah kembali
Kecewa boleh. Sedihpun sewajarnya
Semua ada batas dan waktunya

Bandar Jaya, 27032020
Share:

Monday, June 10, 2019

Kemenangan Haqiqi

Oleh ; Alfa Arkana Eounoia (Dsf)

Sumber ; Liputan6.com | Ist


Hari raya berlalu sudah
Ramadhan pun usai kita lalui, ia telah pergi dengan segenap keluarga besarnya
Kemenangan tak hanya sebatas hari raya
Juga bukan sandang pangan belaka, yang serba mewah dan megah
Kemenangan haqiqi adalah bagaimana kita mempertahankan apa yang sudah kita bangun

Mari rebut kembali kemenangan yang fitry
Jangan biarkan ia berlalu dan pergi tanpa perubahan pada diri

Ramadhan boleh usai
Namun puasa tak boleh hilang begitu saja
Masih ada syawwal juga sunnah lainnya
Tadarus al Qur'an harus tetap berkumandang
Kita rebut kemenangan

Bagi yang sudah tuntas tadarusan
Mari mulai kembali dari laman awal
Bagi yang belum mari tuntaskan
Bagi yang belum sama sekali
Ayo beranikan diri, unjuk gigi pada sang ilahi

Sholat malam tetap berjalan
Bergitu pula dengan shodaqoh dan amal kebaikan

Bandar Jaya, 10 Juni 2019
Share:

Saturday, June 8, 2019

Dipenghujung Mei | Puisi Rindu

Oleh : Alfa Arkana Eounoia (DSF)


Dipenghujung Mei, dikala senja sore itu
Bergegas menepis genangan air yang mengguyur setiap langkah
Dingin cuaca senja itu tak aku hiraukan, demi berjumpa kau seorang

Aku tak ingin menyiakan kesempatan
Menebus rindu menembus waktu bersamamu
Tak sabar menikmati panorama indah pada bibirmu
Senyum yang membuat aku ingin selalu menetap
Tak pedulikan apa yang terjadi pada diriku
Berjumpa denganmu. Hal itu yang s'lalu ada di benak ku

Rinduku harus segera berakhir di penghujung Mei ini
Aku ingin kembali tersenyum, bahagia menyambut Juni nanti
Aku ingin kisah yang terukir pada Juni tak lagi ada duka maupun luka
Jika nanti ada. Aku harap tak sedikit namamu tercatat

Aku rindu senyum merekah pada bibirmu
Yang kau lontarkan dengan tulus padaku, sebagaimana tempo lalu


Blambangan Umpu, 31 Mei 2019
Share:

Monday, May 20, 2019

Meski Sekedar Menatap

#MrRj


Untuk sekedar menatapmu aku takut, apalagi jika bertegur sapa
Aku tak ingin hal sama terulang kembali, kau pergi tanpa permisi menyisakan luka direlung hati
Taat kala kutanya mengapa, selalu saja dalil tak jelas yang kuterima

Kau bungkam tanpa bicara, membuat diriku bertanya-tanya
Sebab apa kau tiba berubah tak lagi cinta
Senyum saja kau sudah enggan untuk menyuguhkan
Belum sepekan kau menetap, lalu kau pergi tanpa permisi
Setiap saat aku meminta agar kau mengklarifikasi
Selalu saja hal itu membuatmu naik tensi

Setiap perhatian aku berikan, kau enggan menerima
Namun dibelakang kau bilang masih ingin bersama
Aku tak paham akan sandiwara yang kau mainkan
Benarkah kau cinta atau hanya pura-pura

Asshiddiqiyah Way Kanan, 19 Mei 2019
Share:

Latest in Tech

Cendekia Al Azzam | Pecandu Sastra©2025. Powered by Blogger.

Pelayan Setia di Majelis Cahaya | Puisi

Ilustrasi dibuat oleh kecerdasan buatan (AI)/Gemini.    Sering kali, di sepertiga malam terakhir saat alam semesta tenggelam dalam kehening...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Blog Archive

Home - Recent Posts (show/hide)

Home - PageNavi (show/hide)

Random Posts

Recent Posts

Labels

Blog Archive