![]() |
| Tiap ayat Al-Waqiah & Ikhlas kuniatkan untukmu. Biarlah ia turun bak hujan, membasahi jiwamu hingga kembali segar. (Picbest). |
Di ambang fajar yang masih menyimpan dingin, aku bersimpuh, membuka lembar-lembar kalam-Mu.
Al-Fatihah kupanjatkan sebagai pembuka pintu langit,
Al-Waqiah dan Al-Ikhlas kurapal dengan debar yang paling dalam,
lalu kututup dengan untaian Ratib yang memenuhi ruang kalbu.
Semua itu, Abah... semuanya kuniatkan khusus untukmu.
Kukirimkan setiap huruf dan ayatnya ke haribaan Tuhan,
berharap berkahnya turun bagai air hujan yang jatuh ke bumi,
meresap ke dalam pori-pori tanah yang sedang kering kerontang.
Kukirimkan setiap huruf dan ayatnya ke haribaan Tuhan,
berharap berkahnya turun bagai air hujan yang jatuh ke bumi,
meresap ke dalam pori-pori tanah yang sedang kering kerontang.
Aku ingin bacaan-bacaan ini menjadi tetesan sejuk,
yang membasahi jiwamu yang sedang lelah,
yang membasuh letih di sekujur ragamu yang terbaring.
yang membasahi jiwamu yang sedang lelah,
yang membasuh letih di sekujur ragamu yang terbaring.
Semoga Allah menurunkan rahmat-Nya, menyegarkan kembali semangatmu yang sempat layu, seperti bumi yang kembali bernapas setelah dicium hujan.
Meski pagi ini aku sempat terbangun dalam sesal, tak akan kubiarkan doa ini berhenti mengalir.
Sebab bagiku yang merantau di sini, engkau adalah pohon tempatku bernaung.
Jika engkau layu, di mana lagi aku akan mencari teduh?
Sebab bagiku yang merantau di sini, engkau adalah pohon tempatku bernaung.
Jika engkau layu, di mana lagi aku akan mencari teduh?
Cepatlah pulih, Abah...
Bumi rindu akan hadirmu, sebagaimana aku rindu akan ketenangan di dalam naunganmu.
Bumi rindu akan hadirmu, sebagaimana aku rindu akan ketenangan di dalam naunganmu.
Gunung Putri, 140126

Comments
Post a Comment