Cerita Cendekia adalah ruang ekspresi dan refleksi dari Cendekia Alazzam (Pecandu Sastra) — berisi rangkaian puisi, cerpen, cerbung, esai, opini, serta ulasan buku dan film. Melalui tulisan, aku bercerita tentang kehidupan, gagasan, dan imajinasi, dengan harapan bisa mengajak pembaca berpikir, merasa, dan merdeka.

Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Monday, May 26, 2025

Tanpamu Aku Baik-Baik Saja: Sebuah Renungan Cinta, Hijrah, dan Harga Diri

 

Buku Tanpamu Aku Baik-Baik Saja, dalam potret Cendekia Alazzam yang dipadukan dengan AI


       Menjalani masa muda tak lepas dari perasaan jatuh cinta. Ia hadir tiba-tiba, tanpa bisa dicegah. Namun, tidak semua kisah cinta layak dipertahankan. Sebab, cinta sejati tak hanya soal memiliki, tapi juga soal kesiapan, tanggung jawab, dan nilai-nilai kebaikan yang dibawa dalam hubungan tersebut.

Share:

Filosofi Sepeda Untuk Hidup yang Lebih Bermakna

Filosofi sepeda untuk hidup yang lebih bermakna. (Foto oleh: Pixabay/wal_172619)


Oleh: Cendekia Alazzam 


       Seiring berkembangnya zaman, sepeda tidak hanya sekadar menjadi alat transportasi bagi banyak orang, kini ia pun hadir menjadi media olahraga bagi sebagian orang yang gemar berolahraga.  Selain jogging dan berlari, bersepeda menjadi  olahraga favorit yang praktis dan mudah belakangan ini. Dengan turut berkembangnya desain sepeda yang semakin keren dan fungsional, terlebih lagi saat ini pemerintah di beberapa kota sudah menyediakan beberapa titik jalur khusus sepeda sehingga menciptakan rasa yamg semakin aman dan nyaman ketika bersepeda.


Berbicara tentang sepeda, ada banyak filosofi tentangnya yang sangat relevan bagi kehidupan. Beberapa poinnya akan kita bahas melalui tulisan singkat ini, semoga sahabat pembaca dapat mengambil hikmahnya dan diterapkan dalam kehidupan.


Dari sepeda kita seakan diajarkan untuk bergerak dan terus bergerak. Ketika sepeda diam tanpa ada senderan atau penyangga, maka ia akan terjatuh. Sama halnya dengan kita yang harus terus bergerak untuk menopang laju kehidupan. Adapun senderan atau penyangga kita ialah keimanan dan ketaqwaan, jika kedua hal tersebut tidak kita miliki, maka hidup kita akan hancur dan berantakan. Saat itulah kita akan terjatuh - terjerumus ke lubang permasalahan dan kubang dosa. Dari sepeda kita diingatkan untuk terus bergerak menuju kebaikan.


Baca juga: "Qasidah Burdah: Bukan Sekadar Puisi, Tapi Penyembuh Hati"


Kedua, sepeda selalu bergerak maju, bukan mundur. Pembaca mungkin pernah mengayuh sepeda ke belakang, kira-kira apa yang sahabat pembaca rasakan? Sudah barang tentu tidak ada perubahan gaya atau perpindahan gerak pada sepeda? Ya, demikian lah yang terjadi, karena sepeda tidak pernah berjalan mundur, kecuali dibantu dengan dorongan kita. Begitu pun sejatinya kehidupan, ia terus bergerak ke depan mengikuti perkembangan - tidak peduli seberapa banyak waktu kau habiskan, ia tidak akan pernah bisa kembali ke belakang. Jadi, seburuk apapun masa lalu yang kita lalui, ia ada di bagian belakang kisah, sebab masa depan masih bisa dirangkai dengan perbaikan demi perbaikan.


Yang kita butuhkan adalah introspeksi diri dan belajar dari masa lalu, bukan kembali ke masa lalu untuk memperbaiki diri. Sebab, sudah bukan lagi masanya, karena waktu tidak akan pernah bisa diputar ulang. Karena itulah jika kita mengayuh sepeda ke belakang, rantainya hanya akan bergerak di tempat, sedangkan bannya tidak. Itu menandakan bahwa masa lalu hanya bisa dilirik dan ambil hikmah, namun bukan berarti untuk ditangisi dan disesali.


Ketiga, untuk dapat menggunakan sepeda dengan baik, maka beban pada sepeda harus seimbang. Begitu pun dengan hidup kita, agar berjalan baik, maka harus seimbang pula antara kebutuhan jasmani dan rohaninya. Persiapan duniawi dan akhirat harus seimbang, tidak boleh berat sebelah, karena kita butuh keduanya. Dunia kita butuh, karena kita tinggal di dunia, sedangkan akhirat kita juga butuhkan sebagai bekal kita di kehidupan selanjutnya. Ini juga mengingatkan kita bahwa antara karir, percintaan, persahabatan, dan keluarga juga harus seimbang - terbagi waktunya dengan baik, sebab kita membutuhkan dukungan dari semuanya pula. 


Baca juga: "Aku Lelakimu Setia Menunggumu: Puisi-Puisi Yang Menyembuhkan Luka dan Menemani Cinta"


Lalu, dari sepeda kita belajar, meski terus di tempa perubahan zaman, sepeda tetap konsisten memberi kemaslahatan (manfaat) bagi penggunanya. Semakin beragamnya transportasi di dunia, sepeda tetap pilihan terbaik. Tidak menimbulkan polusi, ramah lingkungan, bahkan memberi kebugaran pada penggunanya. Oleh karenanya, kita harus menjadi manusia yang terus membawa kebaikan, yang kehadirannya selalu di rindukan di tengah keramaian. Tidak menjadi hama yang menimbulkan kekacauan dan perpecahan.


Demikian filosofi sepeda yang bisa menjadi pelajaran bagi kita, di mana pun kita menemukan hikmah, maka pungut lah. Sebab hikmah adalah barang yang hilang. 


Note: Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Kompasiana dengan judul sama.


Share:

Qasidah Burdah: Bukan Sekadar Puisi, Tapi Penyembuh Hati

Qasidah Burdah karya Imam Al Busiri (Foto oleh Cendekia)


       Sahabat pembaca pernah dengar qasidah burdah? Kalau kamu pernah denger Qasidah Burdah, mungkin kesannya cuma seperti puisi klasik Arab yang dinyanyikan di pengajian. Tapi sebenarnya, qasidah ini punya makna yang lebih dalam - bisa jadi semacam “obat” untuk hati yang lelah dan kotor karena dosa. Dalam ceramah Dr. KH. Muhammad Faiz Syukron Makmun - yang akrab disapa Gus Faiz - beliau menjelaskan bahwa Al-Burdah itu bukan sekadar karya sastra, tapi alat spiritual buat menyegarkan iman dan membersihkan batin.
Share:

Sunday, February 23, 2025

Kisah: Berkah Ratib, Mata Sembuh Usai Terkena Lem Rekat

Foto oleh Kompas. Ist



           Pada suatu kesempatan beberapa waktu yang lalu saat mendampingi Abah menghadiri majelis yang rutin kita ikuti di salah satu desa di bagian Bogor Timur, Jawa Barat. Kala itu, saat kita sedang duduk bersama sembari menghilangkan penat usai perjalanan - ditemani suguhan kopi hitam tanpa gula dan beberapa kudapan yang dijamu oleh tuan rumah, kita saling berbagi cerita. 


Ada hal yang menarik perhatian saya untuk menyimak dengan tertib. Sebuah kisah yang menggetarkan jiwa. Sebenarnya, pada sebelumnya kisah ini sudah pernah diceritakan oleh Abah kepada saya beberapa waktu sebelumnya, dan kini saya mendengarkannya secara langsung dari yang bersangkutan. Dengan ini hati saya jadi semakin yakin, betapa luar biasa akan kuasa-Nya. 


Sebut saja hamba Allah (sebab saya lupa nama beliau yang dalam hal ini sebagai tokoh utama, karena kita baru pertama kali jumpa). Suatu ketika si hamba Allah ini sedang berkegiatan, di mana dia pada saat itu menggunakan  lem cair (sejenis lem yang memiliki rekat kuat).  Lem ini dalam beberapa detik saja mampu merekat pada apa saja, dan sangat kokoh. Singkatnya,  ini lem secara tidak sengaja mengenai salah satu matanya. Bayangkan lem yang rekatnya kuat, tiba-tiba terkena mata, perihnya luar biasa.


Baca juga: Lebih Dekat Dengan Sang Pencetus 'Resolusi Jihad' Melalui Komik Edukasi 


Seketika hamba Allah ini langsung membersihkan area matanya yang terkena cipratan lem, dengan berbagai upaya dilakukan. Karena rekatnya sangat cepat, mata si hamba Allah ini kulitnya menutup (saling merekat). Perih, panas, begitulah yang ia rasakan. Karena berbagai usaha dilakukan belum juga berhasil, akhirnya hamba Allah memutuskan untuk membawanya ke ahli kesehatan. Pihak sana menyarankan agar si hamba Allah segera melalukan tindakan operasi, sebab lem yang mengenai matanya sulit untuk dilepaskan, jika dipaksakan khawatir akan menimbulkan sesuatu yang buruk.


Hamba Allah ini pun pulang ke rumah dengan rasa yang bercampur aduk di hatinya. Pada senja hari menjelang maghrib, hamba Allah yang punya kebiasaan berdzikir ini tetap melakukan aktivitas dzikir sebagaimana biasanya. Dzikir yang biasa ia dawamkan (istiqomah dibaca) ialah Ratib Al-Haddad karangan Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Pada salah satu bacaan dzikir di dalam ratib tersebut ketika ia baca secara tiba-tiba hatinya bergejolak, ia menangis, air matanya membasahi pipi. Masha Allah, mata yang tadi tertutup karena rekat lem cair, atas kuasa Allah terbuka tanpa operasi.


Mendengar kisah itu secara langsung dari orang yang mengalaminya, dada saya seketika sesak, berkecamuk, hati saya bergetar menyebut asma Allah. Masha Allah, begitu luar biasa pertolongan Allah. Padahal ketika beliau periksa ke ahli kesehatan, beliau disarankan untuk operasi karena pihak sana tidak bisa membantu untuk membuka matanya. Jika dipaksakan takut malah justru menimbulkan sesuatu yang buruk.


Baca juga: Kapan Waktu Mustajab di Hari Jum'at?


Pembaca bisa bayangkan, operasi itu selain biayanya mahal, banyak risiko yang harus ditanggung. Belum lagi itu bagian mata yang akan dioperasi. Kita juga belum tahu apakah itu akan berhasil atau tidak. Betapa indahnya pertolongan Allah, sesuatu yang tidak mungkin di mata kita (makhluk-Nya) di saat Ia bertindak, maka tidak ada yang tidak mungkin.


Sahabat pembaca, inilah, betapa pentingnya kita melibatkan Allah dalam setiap urusan. Jika usaha telah kita lakukan, maka, pada akhirnya berserah kepada-Nya adalah final. Dalam kondisi sesulit apapun, teruslah berprasangka baik kepada-Nya, sebab pertolongan-Nya pasti dan tidak pernah telat. Tidak ada sesuatu yang dapat merubah takdir melainkan doa.


Semoga melalui kisah ini dapat menjadi inspirasi bagi kita semua untuk menjadikan cahaya keimanan kita semakin bertambah, rasa syukur kita semakin meningkat, dan sifat optimis kita semakin meluas. Salam.


Baca juga: Keajaiban Waktu Subuh dan Keistimewaannya Dalam Perspektif Islam 

Share:

Tuesday, July 2, 2024

Enam Sifat Manusia Terburuk Menurut Rasulullah

Foto Muslim or id. Ist


Enam sifat buruk manusia menurut Baginda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam. Sebagaimana di rangkum dari hadits shoheh yang dibagikan oleh saudara kita dalam majelis online melalui WhatsApp grup. Sifat-sifat tersebut di antaranya ialah;

Share:

Thursday, February 23, 2023

Pentingnya Menata Niat

Dokpri


Ada sebuah kisah yang sangat menyentuh, perihal pentingnya menata niat dalam hal apapun itu. Kisah ini diceritakan oleh guru kami, Habibana Sayyid Mustofa bin Usman bin Yahya, Pimpinan Majelis Ta'lim Al-Musthofawiyah Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat - saat mengawal beliau ziarah ke waliyullah di Gunung Gambir, Cianjur, beberapa hari lalu.


Sembari jagongan, menikmati kudapan buah rambutan dan mineral yang disajikan Kang  Karim di gubuk beliau yang rindang, ditemani sejuknya sepoi angin khas pegunungan. Beliau, Habib Mustofa berkisah.


Ada seorang santri yang bersilaturahmi ke rumah salah satu ajengan, ia membawa buah pisang. Sedari rumah ia sudah berniat untuk menyambung silaturahmi, sama sekali tidak ada niat lain.


Ajengan ini terkenal darmawan, ramah, dan baik. Baginya siapapun tamu harus dijamu dan diperlakukan dengan baik. Setiap tamu tidak boleh pulang dengan tangan kosong. Ajengan itu bingung hendak membalas buah tangan santri tersebut, sebab di rumahnya tidak tersedia apa-apa. Setelah ia mencari dan memperhatikan sekitar, ia terpana dengan anak kambing miliknya, hanya itu satu-satunya yang bisa ia berikan. Akhirnya diberikan lah anak kambing tersebut sebagai pengganti buah tangan si santri.


Baca: Santri Ganteng yang Disangka Teroris


Melihat hal tersebut, tetangga ajengan itu pun tertarik. Ia langsung berpikir, jika ia turut silaturahmi dan membawa buah tangan, maka ia akan mendapatkan balasan juga. Dirinya berspekulasi, jika santri datang membawa buah pisang dan diberi kambing, lantas bagaimana jika ia datang membawa kambing, pasti akan dibalas dengan sapi.


Singkat cerita, datanglah tetangga ajengan tersebut dengan membawa seekor kambing. Mereka berbincang-bincang dan menikmati kudapan. Tiba saatnya waktu berpisah, si ajengan bingung mau ngasih tetangganya apa. Dan, ia ingat bahwa kemarin dikasih pisang, masih utuh. Akhirnya tetangganya tersebut dikasih pisang sebagai ganti kambing yang dibawa tadi. Orang tersebut kecewa sebab tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan.


Dari kisah di atas kita bisa menyimpulkan, bahwasanya penting untuk menata niat dalam hal apapun. Jangan karena menginginkan sesuatu yang berlandaskan nafsu, niat menjadi rusak, sebagaimana tetangga ajengan berniat silaturahmi karena melihat seorang santri yang datang membawa pisang dan pulang dengan seekor kambing. Berharap jika ia datang membawa kambing, maka akan dibalas dengan seekor sapi. Sapi tidak didapat, justru kekecewaan. Semoga para pembaca budiman lebih bijak dan lebih baik lagi dalam menata niat, Aamiin.


Baca juga:

       • Masihkah Cinta di Wayka?

       • Hikmah | Bersedekah Dengan Cara Bersedekah 

       • Dengan Tekad dan Basmallah 

Share:

Latest in Tech

Cendekia Al Azzam | Pecandu Sastra©2025. Powered by Blogger.

Pelayan Setia di Majelis Cahaya | Puisi

Ilustrasi dibuat oleh kecerdasan buatan (AI)/Gemini.    Sering kali, di sepertiga malam terakhir saat alam semesta tenggelam dalam kehening...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Blog Archive

Home - Recent Posts (show/hide)

Home - PageNavi (show/hide)

Random Posts

Recent Posts

Labels

Blog Archive