Cerita Cendekia adalah ruang ekspresi dan refleksi dari Cendekia Alazzam (Pecandu Sastra) — berisi rangkaian puisi, cerpen, cerbung, esai, opini, serta ulasan buku dan film. Melalui tulisan, aku bercerita tentang kehidupan, gagasan, dan imajinasi, dengan harapan bisa mengajak pembaca berpikir, merasa, dan merdeka.

Showing posts with label Traveling. Show all posts
Showing posts with label Traveling. Show all posts

Wednesday, May 21, 2025

Anak Kecil Bernama Kevin dan Sebuah Pelajaran tentang Keikhlasan

 

Ilustrasi. (Sumber: Albata/Istimewa)


       Ada kalanya kita memulai perjalanan dengan langkah ragu. Bukan karena takut, tapi karena terlalu banyak cerita yang melekat di telinga tentang tempat yang akan kita tuju. Begitulah yang kurasakan saat pertama kali dijadwalkan ke Dusun Karang Sari, sebuah wilayah di pelosok desa di Lampung.

Share:

Menelusuri Jejak Megalitikum di Bumi Tanggamus

Situs Prasasti Batu Bedil yang ada di Tanggamus. Foto oleh Cendekia/Dokpri©2025. 


       Beberapa waktu lalu, aku berkesempatan kembali menginjakkan kaki di Kabupaten Tanggamus, Lampung. Ini bukan kali pertama aku berada di wilayah ini, tapi kali pertama aku menjalankan tugas kerja lapangan di sini. Aku tengah mendata aset milik salah satu perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) - rutinitas yang kadang membawa kejutan kecil di tengah kesibukan.

Share:

Monday, June 24, 2024

Bukan Sebab Kita Hebat, Tapi Karena Allah Mampukan!


Sayyidi Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz Tarim saat mengisi kajian subuh di Masjid Istiqlal Jakarta Agustus 2023. Dokpri/Pecandu Sastra.


 Usai sudah perjalanan satu tahun di 2023. Meski banyak tangis-tawa, suka-duka, bahagia, dan cerita lainnya - kini semuanya mampu dilalui dengan akal sehat. Tiga ratus enam puluh lima hari bukanlah suatu yang pendek, juga bukan suatu yang panjang jika kita jalani dengan hati tulus dan ikhlas. Nyatanya, yang katanya tahun paling buruk, paling sakit, dan paling-paling lainnya, tidak juga demikian. Ada banyak hal yang harus disyukuri dan banyak keajaiban-keajaiban yang Allah datangkan tanpa terduga.

Share:

Monday, January 1, 2024

Menyusuri Indahnya Parangtritis Yogyakarta

 



Yogyakarta, mendengar namanya seakan hati merindukan momen pertama kali menginjakkan kaki di sana. Dulu, modal nekat berangkat dari Sumatera ke Yogyakarta seorang diri menaiki bus dengan cara 'ngeteng'. Karena, kata saudara yang kala itu menjadi tempat bertanya; "supaya lebih hemat mending ngeteng naik bus." Sebab pada saat itu memang minim informasi dan 'kebelet' pingin tahu Yogyakarta seperti apa - pas juga dengan momen pada saat itu, jadinya langsung gas aja.


Rupanya salah, karena saat itu perdana melakukan perjalanan jauh sampai luar pulau juga. Alhasil, sekali salah turun - kebawa sama bus sampai terminal yang jalurnya berbeda. Dan, itu cukup menguras dompet, karena harus keluar dana tak terduga yang lumayan besar. Seandainya, memilih naik bus langsung, mungkin tidak akan seperti ini.


Inilah mengapa aku enggan kalau bepergian jauh naik bus ngeteng, mending yang langsung saja. Lagi pula harganya nggak seberapa jauh berbeda, dan tentunya lebih aman dan nyaman kalau langsung. Belum lagi kalau bawaannya banyak, bakal makin repot.


Senang sekali rasanya bisa kembali ke Yogya, Kota Pelajar yang menjadi salah satu impian teman-teman ku, dan menjadi perbincangan banyak orang juga. Jika dulu ke sini sendirian, sekarang sama rombongan - langsung di bawa ke pantainya pula. Dulu, waktu sekolah SMA cuma bisa dengar cerita teman di kelas, jika sewaktu liburan dia dan keluarga menghabiskan waktu di Paris. Ku kira Paris itu Perancis, rupanya Parangtritis. Kami pun terbahak-bahak usai mendengar bualan temanku saat membuka cerita.


Sebenarnya, pantai Parangtritis ini tidak termasuk destinasi wisata yang akan di kunjungi, hanya saja pada hari pertama keberangkatan bus yang membawa rombongan sempat mandek beberapa jam di kawasan Jawa Barat, sehingga dua lokasi terlewati. Pihak biro wisata bilang, dua lokasi tersebut bisa disinggahi saat jalan pulang. Biar kita nggak ngambek, jadi dikasih lah tambahan wisata gratis dari mereka. Katanya sudah kadung di Yogya, ya sekalian nyoba pantainya.


Baca: Dari "Raden Kian Santang" Jadi Candu Sholawat
 

Sekitar jam 5 pagi kita sudah berada di Parangtritis, setelah bersih diri dan sarapan, kita ziarah dulu ke Makam Syekh Bela-Belu di atas bukit. Lumayan buat olahraga pagi sembari menikmati segarnya udara dari atas sana. Dan, ternyata dari atas pemandangannya tidak kalah menarik - selain asri dan hijau, di sana pula kita bisa melihat indahnya pantai Parangtritis. 


Usai bertawasul (kirim Fatihah), tahlil, dan baca yasin bareng, kita melanjutkan perjalanan menuju pantai. Sekitar jam 9 rombongan memasuki area pantai, masih cukup pagi, namun pengunjung sudah lumayan ramai berdatangan. Matahari pun mulai menunjukkan kehangatan untuk menemani siapa saja yang hendak berjemur. 


Untuk tiket masuknya perorang dikenakan biaya Rp.15.000 dan untuk yang rombongan itu kisaran Rp. 300.000 untuk 50 orang. Harga ini tidak termasuk tiket wahana bermain, gazebo, toilet, dan sebagainya.


Tarif parkir di sini juga tergolong murah, sama seperti pada umumnya. Motor dikenakan dua ribu rupiah dan untuk mobil itu lima ribu. Kalau sekarang mungkin ada penambahan atau naik dikit, teman-teman bisa searching untuk pengetahuan lebih lanjutnya. Di sini juga tersedia penginapan lho, jadi buat yang dari jauh bisa nih menginap supaya nggak kecapean. 


Selain pantainya yang indah dengan ombaknya yang luar biasa menggoda, di Parangtritis juga tersedia banyak wahana. Ada Andong (kereta kuda), kalau naik wahana ini kalian akan diajak keliling  menyusuri tepian pantai. Tenang, kalian nggak sendiri kok, karena akan ada pemandunya. 


Selain itu, ada juga ATV atau All Terrain Vehicle. Motor ATV ini disewakan dengan harga Rp.50.000 - Rp. 100.000 dalam kurun waktu 30 menit. Kalian bisa mengendarainya sendiri, atau barengan dengan teman. Selain ATV, juga ada motor cross. Harga sewa untuk motor cross ini nggak jauh beda dengan ATV. 


Baca: Alasan Habib Umar bin Salim bin Hafidz Tidak Memperbolehkan Menaruh HP di Saku Baju!


Pantai Parangtritis terletak di Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Dari Kota Yogyakarta, jaraknya sekitar 28 kilometer atau 50 menit berkendara


Sebagaimana dilansir Kompas, dari Titik Nol Kilometer Yogyakarta, wisatawan bisa mengarah ke Taman Pintar. Setelah menemukan Hotel Limaran, belok kanan menuju Jalan Brigjen Katamso. Tetap berada di Jalan Brigjen Katamso, hingga menemukan Pojok Benteng Wetan. Dari Pojok Benteng Wetan, ambil jalur ke Jalan Parangtritis. Kemudian, wisatawan hanya perlu tetap lurus berada di Jalan Parangtritis hingga sampai di lokasi Pantai Parangtritis.


Siur desiran angin laut yang menjelma dalam ombak - menyapu bibir pantai membuat diri tidak sabaran buat segera terjun mencebur ke laut. Sejak pertama kali melihat pantai dari atas bukit Makam Syekh Bela-Belu, aku sudah niatkan untuk mandi, rugi kalau audah di pantai nggak mandi. 


Pihak biro mengingat sebelum memasuki area pantai untuk tidak mengenakan pakaian berwarna hijau di sekitaran pantai, khawatirnya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, karena pantai ini dikait-kaitkan dengan mitos Nyi Roro Kidul. Ya, kita mah ikut-ikut saja selagi itu untuk keselamatan. Percaya atau tidak, yang penting pulang dengan selamat dah. 


Meski nggak bawa celana pendek, aku dan teman-teman tetap enjoy, semangat menyelam dan berlarian mengejar ombak. Karena tujuan utama kita ziarah dan memang destinasi wisata pantai ini tidak masuk dalam daftar tujuan, alhasil mandinya pakai celana panjang. 


Pantainya bersih dan nyaman untuk bermain anak-anak, kita juga menyempatkan untuk membangun istana pasir bersama teman-teman di tengah asiknya mengarungi ombak. Jika tubuh sudah mulai menggigil karena dingin dan terpaan angin kaut, maka bermain pasir sembari berjemur adalah solusi.


Air lautnya sangat asin, selain harus hati-hati saat berenang, juga harus siap sedia sun screen agar kulit tidak gosong terkena paparan sinar matahari. Dan, yang harus diwaspadai ialah ketika menjelang pertengahan hari, saat matahari mulai di atas kepala maka pasir sekitar juga turut menyengat, panas pool. Harus pakai alas kaki, kalau nyeker, auto kepanasan, aku saja lari-larian saking nggak kuatnya menahan panas. 


Nah, setelah larut bermain di laut, yang paling tidak kalah penting ialah bilas atau membersihkan diri dengan air tawar. Tenang, di sini banyak kamar mandi, sekali pakai cuma bayar lima ribu rupiah, sampai kamu puas. Kalau lapar, kagak usah panik. Di sini juga tersedia berbagai macam makanan dan minuman. Dari jajanan pantai hingga makanan khas daerah juga tersedia. Dan, buat oleh-oleh juga banyak kok, dimulai dari souvenir, baju, celana, maupun cemilannya.


Untuk spot foto, di sudut-sudut pantai ini sangat layak untuk dijadikan latar guna mengabadikan momen perjalanan yang luar biasa ini. Baik di pantainya langsung, gazebo, maupun di tempat wahana dan jajanannya. Untuk hasil yang aesthetic kalian bisa mengambil gambar di saat matahari terbit (sunrise) atau di saat matahari terbenam (sunset), karena senja sore di sana luar biasa indahnya. 


Perjalanan ini adalah perjalanan yang tidak terduga, memang sesuatu yang kadang tidak direncanakan atau diadakan secara dadakan itu asyik ya. Di tengah lelah petualangan kita dari Sumatera hingga Yogyakarta, akhirnya ada pula kesempatan untuk melepas penat. Terima kasih untuk semua, semoga bisa kembali ke Yogya dengan catatan yang lebih berkesan dan membahagiakan.

Share:

Saturday, July 29, 2023

Ganjaran Bagi Wanita yang Memasak untuk Suami dan Anaknya

Ilustrasi memasak. Sumber, Tribun Lombok. ist



      Ada banyak hal yang dapat menjadikan seorang wanita itu mulia di sisi Allah swt., salah satunya ialah dengan peran yang dilakukan melalui aktivitas dapur; memasak.

Memasak merupakan salah satu perbuatan mulia, karena buah dari apa yang dimasak akan dirasakan oleh banyak orang. Apalagi jika aktivitas memasak itu dilakukan dengan keikhlasan dan ketulusan, maka akan bertambah keberkahan. Pun demikian jika diringi dengan berdzikir - mengingat Allah dan bershalawat kepada Baginda Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam.

Pernah suatu ketika, Baginda Nabi Muhammad saw., berkunjung ke rumah putrinya; Fatimah Az-Zahra. Kala itu beliau melihat Fatimah sedang menggiling gandum di atas penggilingan dari batu sembari menangis. Rasulullah yang melihat hal itu heran dan bertanya, "Kenapa engkau menangis, wahai putriku?"

Fatimah pun menjawab, "Duhai ayahku, aku menangis karena batu penggilingan ini, juga karena pekerjaan rumah yang berat." -"Bagaimana jika ayah meminta Ali untuk membelikanku seorang budak perempuan yang bisa membantu pekerjaan rumah!"

Rasulullah yang sedari tadi duduk di dekat Fatimah lalu mendekati penggilingan gandum. Beliau mengambil gandum dengan tangannya yang penuh berkah dan meletakkannya di atas penggilingan seraya membaca bismillahirrahmanirrahim. Kemudian atas izin Allah penggilingan itu berputar dengan sendirinya menggiling gandum.  Bahkan, si batu itu bertasbih kepada Allah dengan bahasa yang berbeda-beda. 


Mungkin, anda menyukai ini;

     • Dua Poin Penting Pada Novel Merindu Baginda Nabi karya Kang Abik

     • Terima Kasih Untuk Waktu yang Lupa Aku Syukuri

     • Si Kecil yang Membuatku Cemburu


Ketika dirasa sudah beres menggiling, Baginda Rasul berkata kepada penggilingan itu, "Diamlah engkau dengan izin Allah!" Seketika itu juga batu penggilingan itu diam. Namun, tidak lama dari itu batu penggilingan berkata dengan bahasa Arab yang fasih, "Wahai Rasulullah, demi Allah yang telah mengutusmu dengan benar sebagai nabi dan rasul, sekiranya engkau memerintahkanku untuk menggiling gandum sebanyak yang ada di Timur dan Barat, niscaya akan aku lakukan semuanya."

Aku telah mendengar dalam kitab Allah firman-nya, "'Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya dari manusia dan batu, yang dijaga oleh malaikat yang kuat lagi keras. Dan tidak pernah menyalahi semua perintah Allah yang diberikan kepadanya. Mereka senantiasa melaksanakan perintah-Nya.'  Tentu aku takut akan menjadi batu yang masuk neraka."

Rasulullah saw., menjawab, "Bergembiralah engkau, karen sesungguhnya engkau termasuk batu yang akan menjadi bagian istana Fatimah di surga kelak." Batu itu pun merasa gembira mendengarnya, akhirnya ia pun diam.

Baginda Nabi berkata kepada putrinya, "Wahai Fatimah, sekiranya Allah berkehendak, niscaya batu ini akan berputar sendiri untukmu. Namun, Allah ingin menuliskan kebaikan bagimu, menghapus kejelekan darimu, dan mengangkat derajatmu karena engkau menggiling gandum dengan tanganmu sendiri. Wahai anakku, siapapun wanita yang memasak untuk suami dan anak-anaknya, Allah akan menulis satu kebaikan, menghapus satu keburukan, dan mengangkat satu derajat dari setiap biji yang dimasaknya." 


Buku Tiga Malam Bersama Penghuni Surga. Gambar oleh Pecandu Sastra©2023.ist


Kisah ini diambil dari buku Tiga Malam Bersama Penghuni Surga (3MBPS) karya Fuad Abdurahman yang diterbitkan melalui Rene Islam. Berisi kisah-kisah romantik para sahabat dan sahabiyat dalam kehidupan Baginda Nabi saw.

Masya Allah, begitu mulianya wanita di sisi Allah dengan peran yang ia lakukan. Itu baru dari aktivitas memasak, belum yang lainnya. Subhanallah, indahnya Islam.

Bagi pembaca budiman yang ingin meminang buku 3MPBS, bisa dibeli di toko buku terdekat ya. Beli yang original, jangan yang bajakan. Atau bisa melalui instagram maupun marketplace resmi milik Rene Islam. Masih ada banyak kisah-kisah menarik menggugah jiwa dan menghidupkan cahaya-cahaya keimanan di hati kita.


Baca artikel menarik lainnya;

     • Bagian 1 - Tiga Puluh Jam Bersama Habibana 

     • Puisi-Puisi Disisi, Kekasih, Purnama

     • Dari Niat yang Terealisasi Berkah Wasilah Tawasul Kepada Baginda Nabi SAW dan Para Wali Allah

Share:

Tuesday, June 11, 2019

Kebun Bunga Celosia Wisata Instagramble di Bantul Metro

Disisi Saidi Fatah | @Netrahyahimsa

Halo sahabat pencinta traveler, yang hobi jalan-jalan. Selamat datang di blog Disisi Traveler ya. Salam hangat dari admin untuk kalian semua yang sudah bersedia mampir dan meluangkan waktu sejenak disini.


Nah, sahabat traveler yang hobinya jalan mulu dan yang suka eksis di sosial media. Aku mau rekomendasikan untuk kalian semua yang lagi butuh tempat bermain atau wisata. Dijamin bagus, keren, dan bakalan puas dah. 

Jadi kemarin, sekitar empat hari lalu aku buka Instagram dan pas banget di time line aku muncul sebuah postingan dari akun Traveler Lampung, dia itu memposting sebuah foto yang pemandangan bagus sekali. Ya awalnya aku enggak percaya kalau itu beneran ada di Lampung. Sebab aku kepo dan pengen banget kesena, akhirnya aku minta petunjuk lokasi tempat wisata yang ia post.





Alhasil usai berkomentar dan mendapatkan alamat tempat wisata, keesokan harinya aku langsung cus menuju lokasi ditemani oleh adikku dengan menggunakan kendaraan roda dua, yakni sepeda motor jenis Honda Beat. Sebelumnya kita tidak ada yang tahu lokasinya dan kita juga sama sekali belum pernah kesana. Dengan modal nekad kita luncuran dan dibantu oleh si Cucunya Mbah Google, kalau yang ini kalian pasti tahulah siapa lagi kalau bukan Google Maps. 


Aku berangkat dari Gunung Sugih, Lampung Tengah melintasi jalan Punggur. Sekitar 45 menit kita pun sampai di lokasi.


Nama tempatnya "Kebun Bunga Celosia", tempat wisata yang bernuansa Instagramble. Mengapa Instagramble? Sebab wisata ini menyuguhkan spot-spot menarik bagi pengunjungnya. Nah siapa lagi kalau bukan para penikmat traveling yang hobi eksis di sosial media. 

Meski dengan ukuran yang kecil, yakni 20 x 30 meter, sahabat traveler jangan salah menilai ya. Kecil-kecil begini cabe rawit hehehe.




Selain memiliki spot foto yang bagus, lokasi kebun bunga celosia ini juga terhimpit oleh hamparan sawah yang luas. Jadi sebelum menuju kebun bunga sahabat traveler akan disuguhkan dengan indahnya hamparan hijau sawah terasering yang berbentuk meliuk-liuk.




Wisata ini mulai dibuka pada 30 Mei 2019 lalu lho, eits meski baru di buka, wisata ini sampai saat ini sudah mendatangkan lebih kurang 2.000 pengunjung lho dari berbagai daerah. Luar biasa bukan.

Sedikit informasi buat sahabat traveler, sebagaimana yang dituliskan oleh akun Instagram Lampung_Pedia saat mewawancarai pemilik kebun (Pak Kerut dan Istrinya Bu Suti) awalnya mereka membuat kebun ini hanya sebagai kebun biasa dan sama sekali tidak ada niat buat tempat wisata. Namun karena bunga ini sangat diminati oleh masyarakat sekitar dan sangat bagus untuk dijadikan tempat berfoto alhasil banyak masyarakat yang berdatangan dari berbagai daerah. Untuk pembuatan kebun ini pak Kerut mengungkapkan bahwasannya mereka menghabiskan dana sebanyak 20 juta lho traveler, luar biasakan. 






Oke buat sahabat semua yang mau wisata kesini ayo buruan mumpung masih baru dan bunganya masih pada segar. Biaya masuk murah banget kok, hanya 10.000 rupiah bagi orang dewasa dan remaja dan 5.000 untuk anak-anak. Tapi tenang sahabat semua dijamis puas dan otak juga pikiran bakalan kembali fresh lagi setelah dari sini, sebab banyak sekali tempat spot foto. Disini juga tersedia payung hias dan juga topi untuk foto, nyewanya hanya 5.000 saja. Untuk parkir sih gak jauh ya sekitar 10 Meter dari kebun dan masih kelihatan kok kendaraan kita, jadi aman. Uang parkir ya seperti biasalah 2.000 rupiah.




Untuk  lokasinya bisa ditanya sama cucunya mbah Google ya, Google Maps. Cari saja (Jl.FKIPP  Bantul, Kota Metro, Lampung) jalan menuju SMA Negeri 6 Kota Metro. Kebunnya kelihatan kok dari jalan lintas.

Semoga puas dan terhibur sahabat Traveler
Terima kasih...
Tabik Pun
Share:

Latest in Tech

Cendekia Al Azzam | Pecandu Sastra©2025. Powered by Blogger.

Segelas Kopi dan Jejak Langkah Murobbi

Ilustrasi didesain oleh AI-GMN Tak ada satu hari pun melintas tanpa gerimis bening di pipi Menetes pelan membasahi sajadah rindu yang sunyi ...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Blog Archive

Home - Recent Posts (show/hide)

Home - PageNavi (show/hide)

Random Posts

Recent Posts

Labels

Blog Archive