Skip to main content

Menyelami Makna Hujan Bulan Juni Dalam Novel Eyang Sapardi

Foto buku Hujan Bulan Juni dengan desain sampul estetik seolah basah kehujanan, menyiratkan makna cinta diam-diam. (Sumber foto: dokpri/Fatma.)


Setelah lebih dari dua pekan akhirnya saya bisa menuntaskan buku yang saya beli karena iri saat melihat teman terlebih dulu meminangnya. Buku yang membuat saya jatuh cinta taat kali pertama mendengar serta membaca syair-syair indah Hujan Bulan Juni dalam sajak yang ditulis Eyang Sapardi Djoko Damono. 


Hujan Bulan Juni karya Eyang Sapardi ini bukan sekadar novel cinta. Ia adalah surat cinta yang dibungkus hujan, diselipkan dalam saku jaket kebudayaan, dan ditulis dengan bahasa yang bikin kamu merasa sedikit lebih pintar setiap kali membacanya.


Buku yang mengangkat cerita romansa dua dosen muda; Sarwono dan Pingkan - pasangan yang menjalin hubungan tanpa status resmi dan tanpa perlu mengungkapkan isi hatinya melalui insta story ataupun bio WhatsApp.


Sarwono adalah dosen antropologi - seorang Jawa tulen, guyub, halus tapi suka nyeletuk absurd. Sedangkan, Pingkan, asisten dosen Sastra Jepang, keturunan Jawa-Manado, dewasa, rasional, dan sayang juga sama Sarwono, walau tak pernah mengungkapkannya secara langsung.


Mereka membangun hubungan cinta tanpa status alias HTS. Namun, bukan berarti kisah cinta yang mereka jalin diam-diam ini penuh dramatis dan air mata, hal ini salah besar.


Justru di sinilah keistimewaannya. Sapardi menulis dua tokoh ini bukan untuk membuat pembaca jadi baper atau jungkir balik emosional. Ia menulis mereka apa adanya: dua orang dewasa yang paham bahwa cinta tak selalu harus diumbar, tak harus ribut-ribut, dan sayangnya... kadang tak bisa dipertahankan dengan mudah pula.


Bukan Sekadar Romansa, tapi Juga Ruang Belajar Toleransi


Di balik kelakar dan candaan mereka yang receh tapi ngena, kita diajak menyelami realitas sosial dan budaya yang begitu khas Indonesia. Perbedaan agama menjadi tembok besar antara Sarwono dan Pingkan, terutama karena keluarga Pingkan masih memegang teguh batas-batas keyakinan.


Tapi bukan cuma agama. Novel ini juga menyinggung keberagaman budaya, dari Jawa yang penuh petuah sampai Minahasa yang punya kisah nenek moyang berapi-api. Jadi kalau kamu kira ini sekadar kisah cinta tipikal mahasiswa akhir semester yang galau, siap-siap belajar juga soal kebudayaan.


Makna "Hujan Bulan Juni" yang Lebih Dalam


Kalau biasanya hujan identik dengan sendu, "hujan di bulan Juni" malah jadi simbol kesetiaan yang tak biasa. Ia turun di musim yang seharusnya kering. Ia hadir di saat tak diharapkan.


Begitu pula cinta Sarwono: hadir, setia, meski tahu tak akan bisa tumbuh seperti cinta-cinta lain yang bebas.


Dalam puisi Sapardi (yang lebih dulu terkenal sebelum novelnya terbit), hujan di bulan Juni adalah bentuk pengorbanan paling lirih. Dan dalam novel ini, makna itu menjelma dalam tindakan kecil Sarwono - menulis surel untuk Pingkan, mengingatkan untuk makan, diam-diam mengkhawatirkan kesehatannya sendiri sambil terus berharap perempuan itu bahagia... walau bukan di sisinya.


Salah satu kejutan menyenangkan dari novel ini adalah humornya! Sungguh, siapa sangka Eyang Sapardi, penyair legendaris, bisa bikin pembaca ngakak? Dialog antara Sarwono dan Pingkan kadang absurd, kadang satir, tapi selalu cerdas dan menghibur. Enggak lebay, enggak nangis-nangis di bawah hujan sambil teriak "kenapa kamu ninggalin aku?" - tapi justru lucu karena relatable.


Meski hanya 135 halaman (yang mungkin lebih cocok disebut novela), "Hujan Bulan Juni" bukan kisah yang berliku dengan banyak plot twist. Tapi, justru karena kesederhanaan itulah, kita di bawa jadi lebih fokus pada percakapan, suasana, dan makna tersembunyi dalam tiap bab.


Saya yakin, teman-teman yang gemar membaca, terutama karya-karya Eyang Sapardi, buku ini akan dilahap dalam sekali duduk. Meski begitu, bagi saya cukup mengajak saya berpikir dan menjeda beberapa kali, karena harus mencari tahu makna beberapa kata yang disisipkan Eyang dalam karyanya. 


"Hujan Bulan Juni" bukan kisah cinta ala sinetron. Ia adalah kisah tentang mencintai dalam diam, tentang ikhlas, dan tentang bagaimana perbedaan bisa menyatukan - atau memisahkan - dengan cara yang elegan.


Ia adalah pengingat bahwa tak semua cinta harus memiliki untuk jadi berarti. Terkadang, cukup menjadi hujan di bulan yang kering. Turun diam-diam, menyuburkan diam-diam.


Buat kamu yang suka romansa puitis tapi tetap pengin ketawa-tawa, atau buat kamu yang sedang belajar mencintai dengan tenang dan tulus, novel ini bisa jadi teman yang manis di hari mendung.


Dan oh, covernya cantik banget. Judulnya seperti huruf yang kehujanan beneran. Filosofis Banget. Estetik, dan Bikin mupeng.


Awalnya saya sempat ngomel saat dikirim gambar foto buku ini oleh teman saya yang sudah lebih dulu membelinya. Di bagian sampul (cover) ada bercak bekas hujan, dalam hati saya membatin; "katanya buku baru, masa baru berapa hari udah lecek kena ujan begitu." Rupanya memang begitulah konsep seninya.

Comments

Popular posts from this blog

Pelukan yang Tak Selesai [Cerbung]

Ilustrasi oleh AI Halo sahabat pembaca, terima kasih ya telah setia mampir dan membaca setiap karya kami. Salam hangat dari aku Cendekia Alazzam dan beberapa nama pena yang pernah aku kenakan 😁🙏. 

Cinta, Pengabdian, dan Jejak yang Abadi

  Gambar dibuat oleh AI. Halo, sahabat pembaca. Salam kenal, aku Cendekia Alazzam. Aku hendak menulis cerita bersambung, kurang lebih ada 10 bab. Dengan judul besar "Cinta, Pengabdian, dan Jejak yang Abadi". Bergenre Fiksi Realis, Drama Keluarga, dan Romance.

Tiga Puluh Jam Bersama Habibana

Kenangan Habibana dan Abah serta rombongan. Foto Pecandu Sastra. Dokpri   Jum'at itu menjadi pembuka perjalanan yang mengesankan. Nabastala biru menghampar semesta sore, perlahan mulai memudar. Segera usai berdzikir aku telah bersiap menemani Abah dan jamaah memenuhi undangan majelis peringatan Isra' Mi'raj di salah satu desa di bagian Bogor Timur. Abah, demikian aku memanggil laki-laki yang tengah berusia 50 tahun itu. Seorang pendakwah yang begitu istiqomah, gigih, penyabar, dan sangat mencintai ilmu. Beberapa bulan belakang, aku kerap menemani beliau berdakwah di desa tersebut, sepekan sekali. Tak peduli gerimis, hujan, dingin, ataupun panasnya cuaca, lelah setelah beraktivitas sekalipun, beliau terus istiqomah tanpa absen. Kecuali uzur yang mendesak. Hal tersebut yang menjadi salah satu yang aku kagumi dari sosok Abah. Sore itu, rombongan dijadwalkan berangkat sebelum maghrib. Dikarenakan perjalanan yang cukup memakan waktu, apalagi hari kerja, jam-jam segitu adalah pu...

Jumbo: Animasi Lokal yang Memberi Banyak Pelajaran

  Poster Film Jumbo di Bioskop Bes Cinema Kota Metro (Foto oleh Cendekian/dokpri.2025) Akhirnya dua hari lalu bisa menyaksikan film animasi lokal buatan anak negeri. Film yang sudah sejak pertama official trailernya tayang di platform digital ini menjadi salah satu yang aku nantikan untuk ditonton, karena memang menarik perhatianku. Aku menyaksikan film ini bukan karena ikut-ikutan fomo ya, tapi memang penasaran banget sama filmnya.

Filosofi Sepeda Untuk Hidup yang Lebih Bermakna

Filosofi sepeda untuk hidup yang lebih bermakna. (Foto oleh: Pixabay/wal_172619) Oleh: Cendekia Alazzam          Seiring berkembangnya zaman, sepeda tidak hanya sekadar menjadi alat transportasi bagi banyak orang, kini ia pun hadir menjadi media olahraga bagi sebagian orang yang gemar berolahraga.  Selain jogging dan berlari, bersepeda menjadi  olahraga favorit yang praktis dan mudah belakangan ini. Dengan turut berkembangnya desain sepeda yang semakin keren dan fungsional, terlebih lagi saat ini pemerintah di beberapa kota sudah menyediakan beberapa titik jalur khusus sepeda sehingga menciptakan rasa yamg semakin aman dan nyaman ketika bersepeda. Berbicara tentang sepeda, ada banyak filosofi tentangnya yang sangat relevan bagi kehidupan. Beberapa poinnya akan kita bahas melalui tulisan singkat ini, semoga sahabat pembaca dapat mengambil hikmahnya dan diterapkan dalam kehidupan. Dari sepeda kita seakan diajarkan untuk bergerak dan terus bergerak. Keti...