Cerita Cendekia adalah ruang ekspresi dan refleksi dari Cendekia Alazzam (Pecandu Sastra) — berisi rangkaian puisi, cerpen, cerbung, esai, opini, serta ulasan buku dan film. Melalui tulisan, aku bercerita tentang kehidupan, gagasan, dan imajinasi, dengan harapan bisa mengajak pembaca berpikir, merasa, dan merdeka.

Showing posts with label Resensi Buku. Show all posts
Showing posts with label Resensi Buku. Show all posts

Tuesday, July 29, 2025

Menyelami Makna Hujan Bulan Juni Dalam Novel Eyang Sapardi

Foto buku Hujan Bulan Juni dengan desain sampul estetik seolah basah kehujanan, menyiratkan makna cinta diam-diam. (Sumber foto: dokpri/Fatma.)


Setelah lebih dari dua pekan akhirnya saya bisa menuntaskan buku yang saya beli karena iri saat melihat teman terlebih dulu meminangnya. Buku yang membuat saya jatuh cinta taat kali pertama mendengar serta membaca syair-syair indah Hujan Bulan Juni dalam sajak yang ditulis Eyang Sapardi Djoko Damono. 


Hujan Bulan Juni karya Eyang Sapardi ini bukan sekadar novel cinta. Ia adalah surat cinta yang dibungkus hujan, diselipkan dalam saku jaket kebudayaan, dan ditulis dengan bahasa yang bikin kamu merasa sedikit lebih pintar setiap kali membacanya.


Buku yang mengangkat cerita romansa dua dosen muda; Sarwono dan Pingkan - pasangan yang menjalin hubungan tanpa status resmi dan tanpa perlu mengungkapkan isi hatinya melalui insta story ataupun bio WhatsApp.


Sarwono adalah dosen antropologi - seorang Jawa tulen, guyub, halus tapi suka nyeletuk absurd. Sedangkan, Pingkan, asisten dosen Sastra Jepang, keturunan Jawa-Manado, dewasa, rasional, dan sayang juga sama Sarwono, walau tak pernah mengungkapkannya secara langsung.


Mereka membangun hubungan cinta tanpa status alias HTS. Namun, bukan berarti kisah cinta yang mereka jalin diam-diam ini penuh dramatis dan air mata, hal ini salah besar.


Justru di sinilah keistimewaannya. Sapardi menulis dua tokoh ini bukan untuk membuat pembaca jadi baper atau jungkir balik emosional. Ia menulis mereka apa adanya: dua orang dewasa yang paham bahwa cinta tak selalu harus diumbar, tak harus ribut-ribut, dan sayangnya... kadang tak bisa dipertahankan dengan mudah pula.


Bukan Sekadar Romansa, tapi Juga Ruang Belajar Toleransi


Di balik kelakar dan candaan mereka yang receh tapi ngena, kita diajak menyelami realitas sosial dan budaya yang begitu khas Indonesia. Perbedaan agama menjadi tembok besar antara Sarwono dan Pingkan, terutama karena keluarga Pingkan masih memegang teguh batas-batas keyakinan.


Tapi bukan cuma agama. Novel ini juga menyinggung keberagaman budaya, dari Jawa yang penuh petuah sampai Minahasa yang punya kisah nenek moyang berapi-api. Jadi kalau kamu kira ini sekadar kisah cinta tipikal mahasiswa akhir semester yang galau, siap-siap belajar juga soal kebudayaan.


Makna "Hujan Bulan Juni" yang Lebih Dalam


Kalau biasanya hujan identik dengan sendu, "hujan di bulan Juni" malah jadi simbol kesetiaan yang tak biasa. Ia turun di musim yang seharusnya kering. Ia hadir di saat tak diharapkan.


Begitu pula cinta Sarwono: hadir, setia, meski tahu tak akan bisa tumbuh seperti cinta-cinta lain yang bebas.


Dalam puisi Sapardi (yang lebih dulu terkenal sebelum novelnya terbit), hujan di bulan Juni adalah bentuk pengorbanan paling lirih. Dan dalam novel ini, makna itu menjelma dalam tindakan kecil Sarwono - menulis surel untuk Pingkan, mengingatkan untuk makan, diam-diam mengkhawatirkan kesehatannya sendiri sambil terus berharap perempuan itu bahagia... walau bukan di sisinya.


Salah satu kejutan menyenangkan dari novel ini adalah humornya! Sungguh, siapa sangka Eyang Sapardi, penyair legendaris, bisa bikin pembaca ngakak? Dialog antara Sarwono dan Pingkan kadang absurd, kadang satir, tapi selalu cerdas dan menghibur. Enggak lebay, enggak nangis-nangis di bawah hujan sambil teriak "kenapa kamu ninggalin aku?" - tapi justru lucu karena relatable.


Meski hanya 135 halaman (yang mungkin lebih cocok disebut novela), "Hujan Bulan Juni" bukan kisah yang berliku dengan banyak plot twist. Tapi, justru karena kesederhanaan itulah, kita di bawa jadi lebih fokus pada percakapan, suasana, dan makna tersembunyi dalam tiap bab.


Saya yakin, teman-teman yang gemar membaca, terutama karya-karya Eyang Sapardi, buku ini akan dilahap dalam sekali duduk. Meski begitu, bagi saya cukup mengajak saya berpikir dan menjeda beberapa kali, karena harus mencari tahu makna beberapa kata yang disisipkan Eyang dalam karyanya. 


"Hujan Bulan Juni" bukan kisah cinta ala sinetron. Ia adalah kisah tentang mencintai dalam diam, tentang ikhlas, dan tentang bagaimana perbedaan bisa menyatukan - atau memisahkan - dengan cara yang elegan.


Ia adalah pengingat bahwa tak semua cinta harus memiliki untuk jadi berarti. Terkadang, cukup menjadi hujan di bulan yang kering. Turun diam-diam, menyuburkan diam-diam.


Buat kamu yang suka romansa puitis tapi tetap pengin ketawa-tawa, atau buat kamu yang sedang belajar mencintai dengan tenang dan tulus, novel ini bisa jadi teman yang manis di hari mendung.


Dan oh, covernya cantik banget. Judulnya seperti huruf yang kehujanan beneran. Filosofis Banget. Estetik, dan Bikin mupeng.


Awalnya saya sempat ngomel saat dikirim gambar foto buku ini oleh teman saya yang sudah lebih dulu membelinya. Di bagian sampul (cover) ada bercak bekas hujan, dalam hati saya membatin; "katanya buku baru, masa baru berapa hari udah lecek kena ujan begitu." Rupanya memang begitulah konsep seninya.

Share:

Wednesday, June 11, 2025

Dari Semangkuk Mie Ayam, Hidup Dimulai Kembali

Foto Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna. (Sumber: arumshelf/ig)

 

 "Saat pertama kali membaca judul buku di atas, hal apa yang terlintas di benak kalian? Semangkuk Mie Ayam dan kisah cinta, atau semacam kisah petualangan dalam dunia kuliner? Ya, itulah yang ada di pikiranku saat pertama kali membaca judul buku ini. Unik, menarik, dan membuat penasaran. Kalau kalian bagaimana?"
Share:

Monday, May 26, 2025

Tanpamu Aku Baik-Baik Saja: Sebuah Renungan Cinta, Hijrah, dan Harga Diri

 

Buku Tanpamu Aku Baik-Baik Saja, dalam potret Cendekia Alazzam yang dipadukan dengan AI


       Menjalani masa muda tak lepas dari perasaan jatuh cinta. Ia hadir tiba-tiba, tanpa bisa dicegah. Namun, tidak semua kisah cinta layak dipertahankan. Sebab, cinta sejati tak hanya soal memiliki, tapi juga soal kesiapan, tanggung jawab, dan nilai-nilai kebaikan yang dibawa dalam hubungan tersebut.

Share:

Saturday, May 24, 2025

Aku Lelakimu Setia Menunggumu: Puisi-Puisi yang Menyembuhkan Luka dan Menemani Cinta

 

Buku Aku Lelakimu Setia Menunggumu karya Maman Suherman (Foto Cendekia Alazzam)

       Halo pembaca, kembali lagi dalam segment ulas buku. Sudah lama sekali rasanya nggak mengulas buku, karena kesibukan yang membuatku terlalu jauh memberi jarak dengan aktivitas membaca. Akhirnya, hari ini aku bisa kembali mengulas buku yang beberapa waktu lalu menemani hariku.

Share:

Monday, March 24, 2025

Apa Iya, Dalam Bercanda Kita Harus 'Merdeka'?

 

Merdeka Dalam Bercanda. Foto Cendekia/istimewa 

Kelakar atau senda gurau menjadi bagian penting dalam kehidupan, rasanya hidup akan hambar apabila terlalu dijalani dengan keseriusan secara terus-menerus tanpa disisipi oleh gurauan. Gurauan dapat menjadi obat, penawar atas luka sosial yang disebabkan oleh ketidakadilan, pun bisa pula digunakan sebagai kendaraan untuk memasuki area-area yang selama ini kita 'takuti', hingga akhirnya bisa tertawa di situ.

Share:

Sunday, February 23, 2025

Hidup Positif ala Good Vibes Good Life

Ilustrasi dari CNBC. Ist


           Gaya hidup positif merupakan dambaan banyak orang. Menjalani kehidupan dengan energi yang luar biasa, tanpa beban dan pikiran yang berlebihan. 

Share:

Saturday, February 22, 2025

Lima Pusaka Kehidupan dari Novel Janji karya Tere Liye

Novel Janji. Foto oleh rsmajreha_mursaha (ig). Ist



"Kau akan lebih menyesal bukan karena kau melakukan sesuatu dan ternyata itu gagal atau keliru. Kau akan lebih menyesal saat kau tidak pernah melakukan sesuatu, mengingat betapa tidak beraninya kau mengambil keputusan," Tere Liye dalam Novel Janji, halaman 337.
Share:

Keajaiban Waktu Subuh dan Keistimewaannya Dalam Perspektif Islam

 

Keajaiban Shalat Subuh (Buku Republika). Gambar Oleh Pecandu Sastra@2023.ist


           Manusia ibaratnya seperti pohon atau bangunan. Akar dan fondasinya adalah iman, cabang dan dindingnya adalah ibadah. Dalam perumpamaan lain, kita tidak dapat menyelamatkan pohon yang akarnya sakit dengan menyemprotkan obat pada cabang-cabangnya, kita pun tidak dapat memperbaiki sebuah bangunan yang fondasinya telah goyah dengan hanya mengecat dindingnya. Seperti contoh di atas, seorang mukmin yang melalaikan shalat, harus terlebih dahulu menguatkan iman agar dapat merangkul shalat dengan segenap tangannya. (Keajaiban Shalat Subuh, Cemil Tokpinar, Halaman 4).

Share:

Ajari Anak Berani Melalui 'Anak Penangkap Hantu'

 

Buku Anak Penangkap Hantu, Adam Putra Firdaus. Foto oleh Pecandu Sastra. Ist

           Seringkali kita ketika mendengar kisah-kisah horor atau cerita hantu yang seketika membuat bulu kuduk berdiri! Terlepas itu benar atau hanya sebagai bahan untuk menakut-nakuti kita, tapi memang cukup ampuh juga ya buat senjata ibu-bapak kita supaya kita nggak keluyuran. 

Share:

Jika Seks itu Tabu, Lantas Bagaimana Orang Mendapatkan Edukasi Tentangnya?

 

Buku Sebab Kita Semua Gila Seks. Foto diambil oleh pribadi. 2022. Ist


Oleh: Cendekia Al Azzam 


Pengetahuan seks yang benar membuat seseorang lebih bertanggung jawab dan tahu risiko hubungan seks itu sendiri


 Membahas tentang seks, mungkin bagi kebanyakan orang hal itu adalah sesuatu yang nggak nyaman, bahkan menjadi aib yang tidak pantas untuk dibicarakan. Apalagi jika orang yang membicarakan hal itu, sehari-harinya terlihat sebagai sosok yang ramah, religius, dan kalem. Orang-orang pasti akan menilai dirinya dengan berbagai macam perspektif.


Hal ini menurut saya dikarenakan seks itu sangat tabu di lingkungan kita. Sehingga untuk membicarakannya menjadi bagian yang 'nggak nyaman'. Padahal, seks itu sangat penting untuk dibicarakan sebagai edukasi. Terlebih pada era saat ini begitu banyak kasus-kasus yang akhir ini berseliweran melalui media.


Pengetahuan seks yang benar membuat seseorang lebih bertanggung jawab dan tahu risiko hubungan seks itu sendiri. Dalam hal ini, orang tua menjadi sosok yang paling tepat untuk memperkenalkan dan memberikan informasi mengenai seks kepada anak-anak.


Sebaik-baiknya edukasi seks memang harus dilakukan oleh orang tua, tentu dengan cara yang benar. Orang tua harus membangun percakapan terbuka dan jujur dengan anak-anak tentang seks, terutama memandang perkembangan seksual sebagai bagian normal dari tumbuh-kembang anak sebagai manusia seutuhnya. Diskusi tentang seks juga harus menjadi proses berkelanjutan, bukan pembicaraan satu kali, ditutup-tutupi, atau malah disembunyikan dalam ayat-ayat suci agama.


Kita saat ini hidup di masa (generasi) yang penuh dengan keingintahuan yang tinggi, ditambah teknologi yang kian canggih, mengiringi pertumbuhan generasi-generasi kita. Nah, hal ini (seks), jika seseorang tidak mendapatkan pengetahuan (edukasi) dari sedini mungkin, cepat atau lambat dia akan mencari tahu dengan sendirinya. Mengingat teknologi yang kian canggih, apapun yang ingin kita ketahui sudah pasti ada di sana. Sehingga, hal inilah yang menyebabkan seseorang salah kaprah dalam memahami seks itu sendiri. Akhirnya dia pun terjerumus dalam pembelajaran yang salah (bisa menjadi korban/pelaku seks).


Dalam buku "Sebab Kita Semua Gila Seks" yang diterbitkan melalui EA Books tahun 2021, Ester Pandiangan berbagi pengetahuan dan pengalamannya melalui tulisan-tulisan yang ringan dan mungin juga nyentrik bagi sebagian kita.


Setebal x + 216 halaman, buku ini ditulis dari sudut pandang seks yang baik dan buruk oleh penulis. Terbagi empat bagian utama; akibat menabukan seks, menikmati seks setara, penyakit kelamin mengintaimu, dan bagaimana laki-laki memburu seks.


Buku ini memberikan pelajaran bagi kita, betapa penting pengetahuan seks itu bagi kita, terutama anak-anak, agar kita tidak salah kaprah. Setiap bab dalam bukunya, menyajikan pemahaman-pemahaman yang sangat berguna, terutama tentang mengapa seks itu perlu diedukasikan dan sebab-akibat dari pembelajaran seks yang salah.


Meski demikian, buku ini diperuntukkan bagi pembaca yang usianya sudah memasuki tujuh belas tahun hingga ke atasnya ya. Sebab, dalam buku ini mengandung kata-kata yang hanya dapat dipahami oleh orang dewasa, pun disertai beberapa gambar yang vulgar.


Akan tetapi, melalui buku ini juga penulis ingin menyampaikan kepada para pembaca, bahwa edukasi seks itu sangat penting, bahkan harus dilakukan sejak usia dini, agar para generasi (terutama anak-anak) memahami batas-batas pergaulan dan mendapatkan pemahaman yang baik, sehingga tidak salah kaprah dan bergaul di lingkungannya. 


Informasi Buku:


Judul: Sebab Kita Semua Gila Seks

Penulis: Ester Pandiangan

Penerbit: EA Books

Tahun Terbit: 2021

Jumlah Halaman: x+216



Share:

Thursday, July 4, 2024

Refleksi Diri Dalam Buku Surat Cinta Untuk Ramadhan

 

Buku Surat Cinta Untuk Ramadhan. Dokpri.


Ramadhan adalah bulan suci penuh kemenangan. Di mana terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan; yaitu malam lailatul qodar. Bulan yang kehadirannya selalu dinantikan dan dirindukan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia.


Ada banyak kisah dan cerita yang terukir pada bulan ramadhan. Tidak hanya suka-suka, ada tangis, tawa, bahagia, dan yang lainnya. Dan, tentunya kebahagiaan yang terukir indah. Kemarin contohnya, kita melihat bagaimana euforia ramadhan turut dirasakan tidak hanya umat Islam, bahkan umat beragama lain turut mendapatkan keberkahan. Mereka berlomba-lomba menyerbu takjil menjelang buka puasa, sungguh indah!


Berbicara perihal bulan Ramadhan, awal syawal kemarin aku mendapat hadiah istimewa dari salah satu penerbit indie; Santri Nulis Publishing. Berupa sebuah buku dengan nuansa biru langit, berlatar sebuah masjid klasik berwarna cokelat yang magis akan makna.



Buku antologi yang ditulis oleh Ustad Saiful Falah, founder Santri Nulis bersama beberapa calon penulis muda yang merupakan santri maupun alumni pondok pesantren, serta masyarakat umum lainnya. Bertutur mengenai kegiatan hingga kenangan di bulan ramadhan sebagai bahan refleksi diri.


Berbagai cerita terlukiskan dengan beragam sudut pandang, dari ramadhan bersama keluarga dan orang terdekat yang dicinta, hingga pengalaman di tanah rantau, bahkan sampai ke negeri seberang nun jauh di sana. Setiap paragraf tertuang memiliki nilai dan hikmah yang dapat dipetik dan dijadikan pelajaran bagi setiap pembaca. Membacanya seakan berkaca diri, merefleksi sejauh perjalanan apakah waktu maksimal digunakan untuk kebaikan atau sebaliknya, terlebih pada bulan suci ramadhan.



Jika ramadhan ini menjadi yang terakhir kalinya, lantas persiapan apa yang sudah dilakukan dan dipersiapkan menuju kembali kepada-Nya? Masih adakah waktu untuk sampai pada ramadhan berikutnya! Wallahu alam.


Sebagaimana manusia, tak ada yang sempurna. Begitu pun dengan buah karyanya. Buku dengan ketebalan 194 halaman ini tentunya masih butuh proses yang panjang menuju kebaikan yang lebih. Meski demikian, nilai-nilai dan pesan yang hendak disampaikan oleh para penulis sejauh ini cukup bisa dipahami oleh diriku sebagai pembaca, semoga sama dengan yang lainnya.


Kritik dan saran tentu dinantikan agar ke depan dapat menyuguhkan karya dengan lebih baik dan lebih baik lagi. Tertarik membaca bukunya? Kamu bisa meminangnya melalui jejaring sosial media - akun instagram Santri Nulis (@santrinulis).

Share:

Tuesday, June 18, 2024

Menguak Sisi Kehidupan dari Novel Pergi Tere Liye

 

Sumber: ilovebuku. ist


Novel 'Pergi' merupakan seri kelanjutan dari buku sebelumnya yang berjudul 'Pulang', adalah buku keempat dari sekuel aksi karya salah satu penulis hebat tanah air; Tere Liye. Sebuah kisah tentang menemukan tujuan, kemana hendak pergi, melalui kenangan demi kenangan masa lalu, pertarungan hidup dan mati untuk memutuskan kemana langkah kaki akan dibawa.

Share:

Memaknai Pulang dalam Novel 'Pulang' Tere Liye

  

Foto Bookstagram/rurureadsbooks . Ist


Novel Pulang adalah buku ketiga dari serial aksi yang digarap penulis kondang Tere Liye. Buku ini terbit pertama kali pada tahun 2015 di bawah naungan penerbit Republika dengan jumlah halaman iv + 455.


Novel Pulang menceritakan kisah hidup seorang bernama Bujang, anak desa yang sederhana, namun memiliki sesuatu yang istimewa -- tersembunyi dalam dirinya. Hal itu yang membuat seorang Teuku Muda dan keluarga Tong terpikat, dan akhirnya meminang dirinya untuk menjadi bagian dari keluarga Tong.


Kisah ini bermula ketika Bujang, si tokoh utama - dalam usia 15 tahun. Pada saat itu datanglah satu rombongan pemburu dari kota (Keluarga Tong dan Teuku Muda) yang juga merupakan teman bapaknya Bujang. Kedatangan mereka guna menumpas kawanan babi hutan yang meresahkan penduduk setempat, hasil pertanian dan perkebunan mereka selalu di rusak dan gagal panen. 


Dalam pemburuan tersebut ada suatu peristiwa yang melibatkan Teuku Muda dan Bujang, di mana hal tersebut akhirnya membuat sang Teuku muda makin terpikat setelah melihat kehebatan Bujang pada malam itu. 


Ternyata, kedatangan kawanan pemburu tersebut tidak sekadar untuk berburu, melainkan untuk menjemput Bujang guna dibawa ke kota untuk disekolahkan. Sebab, selama bersama orangtuanya, Bujang sama sekali tidak pernah mencicipi bangku sekolah, bahkan untuk sekadar mengaji (menimba ilmu agama) dari ibunya saja tidak diperbolehkan oleh bapaknya.


Baca: Menyingkap Dunia Malam dari Novel Re dan peRempuan 


Nah, dari sinilah alur kisah sesungguhnya dimulai. Di dalam novel ini penulis mengambil latar penguasa shadow ekonomi yang dibungkus dengan bumbu kekeluargaan, kekerabatan, persahabatan, hingga pada penghianatan yang berakhir dengan perselisihan dan perpecahan.


Kerennya, penulis selalu berhasil memberikan kejutan demi kejutan dalam setiap konflik pada tiap babak yang diciptakan. Meski penulis menggunakan alur maju-mundur, namun keseimbangan cerita tertata rapi, sehingga para pembaca tidak dibuat bingung. Plot yang digunakan juga sangat menarik. Kendati novel ini mengusung genre aksi, namun memiliki tambahan untuk sisi komedinya.


Tapi bukan itu yang akan kita bahas dalam artikel ini, melainkan makna pulang yang diusung oleh penulis. Kira-kira apa yang terlintas dalam pikiran para pembaca sekalian saat mendengar kata 'pulang'? Mungkin, kebanyakan dari kita akan memaknainya sebagai perjalanan; misalnya dalam perantauan, lalu pulang kampung. 


Namun, berbeda dalam novel ini, kita akan diajak menyelami samudera luas pemikiran si penulis melalui kisah seorang Bujang dalam memaknai 'pulang' yang sesungguhnya.


Sejauh ini yang aku petik usai membaca novel Pulang; seberapa akrab, kompak, dan eratnya suatu hubungan kekeluargaan yang kita jalani. Akan tetap ada penghianatan dan sesuatu hal yang membuatnya renggang dan akhirnya terpisah. 


Baca: Novel 'Sesuk' Tekankan Peran Penting Orang Tua 


Dalam buku ini penulis menjelaskan bahwasanya makna pulang tidak melulu tertuju pada rumah atau kampung halaman, melainkan cakupan yang luas. Sebagaimana yang dipaparkan penulis,  pulang yang dimaksud adalah kembali ke arah yang benar dan jalan menuju pendekatan diri kepada Tuhan. 


Perjalanan hidup Bujang sebagai bagian dari keluarga Tong diceritakan penuh dengan perjuangan, intrik, dan luka. Puncaknya adalah ketika terjadinya penghianatan yang berasal dari dendam masa lalu keluarga Tong. Sampai akhirnya Bujang menemukan arti pulang demi orang tua yang dicintainya. 


Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari fiksi ini, salah satunya terkait dengan masa lalu. Bahwasanya kita harus berdamai dengan masa lalu, meski kita harus memeluk luka, kebencian, dan rasa sakit. Kesetiaan tokoh Bujang terhadap keluarga Tong juga dapat dijadikan contoh, bagaimana membalas budi terhadap orang yang berjasa dalam hidup kita. Tere Liye dalam novelnya juga ingin mengajarkan, bahwa ilmu terbaik akan mampu mengubah jalan hidup seseorang.


Beberapa kutipan yang aku suka dari buku ini, diantaranya; "Semua orang punya masa lalu, dan itu bukan urusan siapa pun. Urus saja masa lalu masing-masing," halaman 101. - "Saat itu terjadi, kau telah pulang, Bujang. Pulang pada hakikat kehidupan. Pulang, memeluk erat semua kesedihan dan kegembiraan," halaman 388. Dan, "Sungguh, sejauh apa pun kehidupan menyesatkan. Segelap apa pun hitamnya jalan yang ku tempuh. Tuhan selalu memanggil kami untuk pulang," halaman 400.


Baca: Menerapkan Dikotomi Kendali Dalam Bermedia Sosial 


Indentitas Buku:


Judul: Pulang

Penulis: Tere Liye

Penerbit: Republika

Tahun Terbit: 2015

Jumlah Halaman: iv + 400 halaman

ISBN: 9786020822129

Share:

Wednesday, February 7, 2024

Menyingkap Dunia Malam dari Novel Re dan peRempuan

Novel Re dan peRempuan karya Kang Maman Suherman. Dokpri. 2023


       Dunia malam banyak dianggap sebagai dunia yang gemerlap dan menyesatkan bagi kehidupan. Namun, keindahan yang fana dan kenikmatan duniawi yang sesaat ini kian marak dan banyak diminati, padahal sudah jelas ia menjadi celah penghancur kehidupan.

Share:

Saturday, July 29, 2023

Ganjaran Bagi Wanita yang Memasak untuk Suami dan Anaknya

Ilustrasi memasak. Sumber, Tribun Lombok. ist



      Ada banyak hal yang dapat menjadikan seorang wanita itu mulia di sisi Allah swt., salah satunya ialah dengan peran yang dilakukan melalui aktivitas dapur; memasak.

Memasak merupakan salah satu perbuatan mulia, karena buah dari apa yang dimasak akan dirasakan oleh banyak orang. Apalagi jika aktivitas memasak itu dilakukan dengan keikhlasan dan ketulusan, maka akan bertambah keberkahan. Pun demikian jika diringi dengan berdzikir - mengingat Allah dan bershalawat kepada Baginda Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam.

Pernah suatu ketika, Baginda Nabi Muhammad saw., berkunjung ke rumah putrinya; Fatimah Az-Zahra. Kala itu beliau melihat Fatimah sedang menggiling gandum di atas penggilingan dari batu sembari menangis. Rasulullah yang melihat hal itu heran dan bertanya, "Kenapa engkau menangis, wahai putriku?"

Fatimah pun menjawab, "Duhai ayahku, aku menangis karena batu penggilingan ini, juga karena pekerjaan rumah yang berat." -"Bagaimana jika ayah meminta Ali untuk membelikanku seorang budak perempuan yang bisa membantu pekerjaan rumah!"

Rasulullah yang sedari tadi duduk di dekat Fatimah lalu mendekati penggilingan gandum. Beliau mengambil gandum dengan tangannya yang penuh berkah dan meletakkannya di atas penggilingan seraya membaca bismillahirrahmanirrahim. Kemudian atas izin Allah penggilingan itu berputar dengan sendirinya menggiling gandum.  Bahkan, si batu itu bertasbih kepada Allah dengan bahasa yang berbeda-beda. 


Mungkin, anda menyukai ini;

     • Dua Poin Penting Pada Novel Merindu Baginda Nabi karya Kang Abik

     • Terima Kasih Untuk Waktu yang Lupa Aku Syukuri

     • Si Kecil yang Membuatku Cemburu


Ketika dirasa sudah beres menggiling, Baginda Rasul berkata kepada penggilingan itu, "Diamlah engkau dengan izin Allah!" Seketika itu juga batu penggilingan itu diam. Namun, tidak lama dari itu batu penggilingan berkata dengan bahasa Arab yang fasih, "Wahai Rasulullah, demi Allah yang telah mengutusmu dengan benar sebagai nabi dan rasul, sekiranya engkau memerintahkanku untuk menggiling gandum sebanyak yang ada di Timur dan Barat, niscaya akan aku lakukan semuanya."

Aku telah mendengar dalam kitab Allah firman-nya, "'Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya dari manusia dan batu, yang dijaga oleh malaikat yang kuat lagi keras. Dan tidak pernah menyalahi semua perintah Allah yang diberikan kepadanya. Mereka senantiasa melaksanakan perintah-Nya.'  Tentu aku takut akan menjadi batu yang masuk neraka."

Rasulullah saw., menjawab, "Bergembiralah engkau, karen sesungguhnya engkau termasuk batu yang akan menjadi bagian istana Fatimah di surga kelak." Batu itu pun merasa gembira mendengarnya, akhirnya ia pun diam.

Baginda Nabi berkata kepada putrinya, "Wahai Fatimah, sekiranya Allah berkehendak, niscaya batu ini akan berputar sendiri untukmu. Namun, Allah ingin menuliskan kebaikan bagimu, menghapus kejelekan darimu, dan mengangkat derajatmu karena engkau menggiling gandum dengan tanganmu sendiri. Wahai anakku, siapapun wanita yang memasak untuk suami dan anak-anaknya, Allah akan menulis satu kebaikan, menghapus satu keburukan, dan mengangkat satu derajat dari setiap biji yang dimasaknya." 


Buku Tiga Malam Bersama Penghuni Surga. Gambar oleh Pecandu Sastra©2023.ist


Kisah ini diambil dari buku Tiga Malam Bersama Penghuni Surga (3MBPS) karya Fuad Abdurahman yang diterbitkan melalui Rene Islam. Berisi kisah-kisah romantik para sahabat dan sahabiyat dalam kehidupan Baginda Nabi saw.

Masya Allah, begitu mulianya wanita di sisi Allah dengan peran yang ia lakukan. Itu baru dari aktivitas memasak, belum yang lainnya. Subhanallah, indahnya Islam.

Bagi pembaca budiman yang ingin meminang buku 3MPBS, bisa dibeli di toko buku terdekat ya. Beli yang original, jangan yang bajakan. Atau bisa melalui instagram maupun marketplace resmi milik Rene Islam. Masih ada banyak kisah-kisah menarik menggugah jiwa dan menghidupkan cahaya-cahaya keimanan di hati kita.


Baca artikel menarik lainnya;

     • Bagian 1 - Tiga Puluh Jam Bersama Habibana 

     • Puisi-Puisi Disisi, Kekasih, Purnama

     • Dari Niat yang Terealisasi Berkah Wasilah Tawasul Kepada Baginda Nabi SAW dan Para Wali Allah

Share:

Friday, October 21, 2022

Novel Sesuk Tekankan Peran Penting Orang Tua

Novel Sesuk Tere Liye. Dokpri©2022


 Apa yang anda pikirkan taat kala mendengar kata 'Sesuk'? Kata ini berasal dari bahasa Jawa yang memiliki arti; esok atau besok. Ya, buku ini berhubungan dengan hari esok atau masa depan. 

Share:

Tuesday, March 22, 2022

Belajar Manajemen Keuangan Morgan Housel Lewat Psichology of Money

  

Buku The Psichology of Money karya Morgan Housel. Foto Claudi Natashia. Ist


"Mengelola uang dengan baik tidak ada hubungannya dengan kecerdasan anda, dan lebih banyak berhubungan dengan perilaku anda. Dan perilaku sukar diajarkan, bahkan kepada orang-orang yang sangat cerdas." ~ Morgan Housel.


Perihal uang, kita semua membutuhkannya. Hidup tanpa uang begitu sangat menyakitkan, begitupun hidup dengan kebanyakan uang, juga sangat-sangat menyakitkan, bahkan bisa menjerumuskan kita ke lubang penyesalan terdalam nantinya.

Share:

Saturday, January 1, 2022

Seks itu Tabu, Lantas Bagaimana Jika Seseorang Tidak Mendapatkan Edukasi Tentangnya?

Buku Sebab Kita Semua Gila Seks. Dokpri


 

"Pengetahuan seks yang benar membuat seseorang lebih bertanggung jawab dan tahu risiko hubungan seks itu sendiri."


       Membahas tentang seks, mungkin bagi kebanyakan orang hal itu adalah sesuatu yang nggak nyaman, bahkan menjadi aib yang tidak pantas untuk dibicarakan. Apalagi jika orang yang membicarakan hal itu, sehari-harinya terlihat sebagai sosok yang ramah, religius, dan kalem. Orang-orang pasti akan menilai dirinya dengan berbagai macam perspektif.

Share:

Wednesday, October 27, 2021

Menyelami Kasih Sayang Rasulullah SAW




Oleh: Disisi Saidi Fatah


    Rasulullah SAW sang pemilik gelar ‘potret kebanggaan umat manusia,’ merupakan manusia paling agung sekaligus kekasih Allah SWT. Di dalam Al-Qur’an Allah memuji keagungan akhlak beliau dalam QS. al-Qalam ayat 4; “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur,” serta memberitahu kita bahwa Ia mengirimkannya (Rasulullah SAW) kepada alam semesta sebagai rahmat dengan prinsip dan asas-asas yang akan mengeluarkan umat manusia dari kegelapan kufur dan syirik.

    Sebagaimana dijelaskan dalam QS. al-Baqarah ayat 151, “Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu kitab (Al-Qur’an) dan hikmah (sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui." Serta menunjuki mereka menuju jalan kebahagiaan; baik di dunia maupun di akhirat. “Sungguh, Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Dan engkau tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni neraka." (QS. al-Baqarah ayat 119).

Share:

Meneladani Sosok Rahmah ‘Perempuan yang Mendahului Zaman’

Buku 'Perempuan yang Mendahului Zaman' karya Jasmi Khairul. Foto Disisi Saidi Fatah. Istimewa



Oleh: Disisi Saidi Fatah


    Rahmah El Yunusiyyah merupakan wanita berdarah Minangkabau yang lahir dari rahim uminya; bernama Rafiah dan Buyanya seorang Syekh Muhammad Yunus al-Qadi, seorang ulama di Padang Panjang. Ia lahir pada Sabtu, 29 Desember 1900. Ia tumbuh menjadi anak yang sehat dan lincah. Dibesarkan dengan penuh kasih sayang dan dididik dengan suasana Islami serta adat istiadat Minangkabau. Pada usia enam tahun, buyanya berpulang menghadap sang ilahi. Ulama hebat itu pergi untuk selama-lamanya.

Share:

Latest in Tech

Cendekia Al Azzam | Pecandu Sastra©2025. Powered by Blogger.

Pelayan Setia di Majelis Cahaya | Puisi

Ilustrasi dibuat oleh kecerdasan buatan (AI)/Gemini.    Sering kali, di sepertiga malam terakhir saat alam semesta tenggelam dalam kehening...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Blog Archive

Home - Recent Posts (show/hide)

Home - PageNavi (show/hide)

Random Posts

Recent Posts

Labels

Blog Archive