![]() |
| Ilustrasi oleh AI (Gemini) |
"Selamat siang, kemarin aku janji ya mau update cerita "Pelukan yang Tak Selesai" langsung 5 bab, tapi malah cuma 1 bab saja. Maaf ya. Oke, aku lanjutkan hari ini 4 bab setelahnya. Pantau terus blogku ya, karena aku up per-satu jam sekali.
Dan, selamat datang di Bab 12, cerita "Pelukan yang Tak Selesai". Bagi yang ketinggalan bab sebelumnya, silahkan baca di sini!!!"
Cerita oleh: Cendekia Al Azzam
Retak yang Menganga
Pagi datang tanpa suara. Matahari menelusup perlahan di celah tirai kamar, menyinari wajah Faiz yang masih terlelap. Tinara menatapnya dengan perasaan campur aduk. Ada cinta, ada ragu, ada getir yang tak kunjung luruh. Ia menarik selimut perlahan, mencoba tak membangunkan pemuda itu. Langkahnya menuju kamar mandi pelan, namun pikirannya gaduh.
Di tempat lain, Suwantra menyetir mobilnya di jalan tol. Radio menyala namun tak benar-benar didengarkannya. Pikirannya dihantui banyak hal: laporan pekerjaan yang tertunda, telepon dari atasannya, dan — yang paling kuat — tatapan Nira semalam. Wanita itu memintanya untuk membuat pilihan. "Aku bisa bersabar, Suwan. Tapi nggak selamanya."
Suwantra menghela napas panjang. Ia tahu hidupnya sedang berdiri di dua sisi tebing. Tapi memilih salah satunya berarti kehilangan yang lain. Dan ia terlalu takut untuk jatuh ke dalam kekosongan yang telah ia ciptakan sendiri.
Di rumah, suasana kembali seperti biasanya. Anak-anak sarapan, Faiz membantu menyiapkan bekal, dan Tinara tersenyum seolah tak ada yang berubah. Tapi bagi mereka yang peka, kehangatan yang dulu alami kini terasa dibuat-buat. Faiz menatap Tinara diam-diam. Ada kerinduan dalam sorot matanya, tapi juga kekhawatiran.
"Mau aku antar sekolah hari ini?" tanyanya pada anak sulung Suwantra.
"Boleh, Kak Faiz!" sahut anak itu ceria.
Tinara hanya tersenyum kecil. Ada kenyamanan yang tumbuh antara Faiz dan anak-anaknya. Mungkin itulah yang membuat semua ini jadi lebih rumit. Karena bukan hanya tubuh dan hati yang terlibat, tapi juga kehidupan. Sebuah keluarga yang semestinya utuh, kini berdiri di atas keping-keping retakan.
Sore itu, Suwantra pulang lebih awal. Kejadian langka yang membuat semua di rumah terkejut. Ia duduk di ruang tengah, menyalakan televisi tapi tak menontonnya. Pandangannya diam-diam mengamati Faiz dan Tinara yang berbincang di dapur. Tidak ada gestur mencurigakan, namun tatapan Faiz pada istrinya... ada sesuatu di sana yang tak bisa ia jelaskan.
Malamnya, ia bertanya.
"Kamu nyaman ya, ada Faiz di rumah?"
Tinara sempat terdiam. "Anak-anak cocok sama dia. Kamu juga sering ngajak dia jalan, bahkan tidur bareng kalau capek. Kenapa tanya gitu?"
Suwantra mengangguk pelan. Tapi benaknya terus memutar ulang semua detail kecil yang selama ini ia abaikan. Pelukan sekilas, tawa lirih, atau suara langkah yang kadang terdengar terlalu malam dari arah dapur.
Dan malam itu, ia memutuskan untuk pura-pura tidur lebih awal. Di dalam gelap, ia mengatur napas, menunggu, mendengar. Suara pintu kamar terbuka pelan. Lalu langkah pelan-pelan menjauh. Kemudian suara berbisik dari ruang tengah, terlalu jauh untuk dipahami, tapi cukup dekat untuk menusuk hatinya.
Air matanya jatuh. Bukan karena kehilangan, tapi karena selama ini ia menutup mata. Ia pikir dirinya pelarian satu-satunya. Tapi rupanya, luka itu sudah menyebar jauh lebih dalam dari yang ia kira.
Di ruang tengah, Faiz memeluk Tinara dari belakang. Mereka berdiri dalam diam, saling menguatkan, saling membakar. Di luar, angin malam membawa hawa dingin. Tapi di dalam rumah itu, dua nyala api membesar, saling memangsa cinta yang tak sempat diperbaiki.
Dan retak itu kini tak lagi samar. Ia menganga, siap menelan apa pun yang tersisa dari rumah yang pernah disebut tempat pulang.
Bersambung...
Full Cerbung Pelukan yang Tak Selesai [Baca di sini!!!]
Baca juga: Cinta, Pengabdian, dan Jejak yang Abadi [Cerbung]

Comments
Post a Comment