![]() |
| Moment foto bersama guru kami Habib Musthofa bin Yahya (Koko Marun) dan Abah Ust. Mahfudin bin H Alif Yunus (Gamis Sage). (Dokpri/Farid). |
Ada sebuah kebahagiaan yang sulit didefinisikan dengan kata-kata; sebuah rasa yang hanya muncul ketika bibir menyentuh tangan seorang guru, atau saat aroma nasi liwet yang kita tanak sendiri di dapur mereka mengepul hangat untuk menyambut tamu-tamu shalih.
Jumat sore itu, di sebuah sudut di Cicadas, Gunung Putri, Kabupaten Bogor - waktu seolah melambat. Rumah Abah - guru kami, Ustadz Mahfudin bin H. Alif Yunus - menjadi saksi bagaimana adab bekerja melampaui sekadar tata krama. Ia adalah bahasa cinta yang paling sunyi antara murid dan guru.
Pertemuan yang Dijemput Niat
Bagi seorang murid, harapan guru adalah titah batin. Masih terngiang saat aku menjenguk Abah di rumah beliau dua malam sebelumnya, sesaat setelah beliau pulang dari rumah sakit. Di sela sapaan sepulang kerja itu, Abah berpesan lirih: "Jumat nanti Habib dan jamaah Al-Musthofawiyah mau datang menjenguk Abah. Semoga rezekinya antum bisa ketemu beliau (Habib Musthofa)."
Kalimat itu bukan sekadar informasi, melainkan doa. Dan benar saja, semesta bekerja dengan presisi yang menakjubkan. Jumat itu, tepat saat aku tiba dari tempat kerja, rombongan Guru kami, Habib Musthofa bin Utsman bin Yahya, juga baru saja sampai di depan kediaman Abah. Karena searah, kami pun berpapasan. Beliau mengulurkan salam kepadaku - sebuah perjumpaan yang dijodohkan oleh Allah tepat di depan pintu sang guru.
Adab: Bahasa Tanpa Kata
Adab seringkali tidak butuh instruksi. Ia muncul secara spontan dari rasa hormat yang mendalam. Seperti refleks melepas topi saat Habib mengucap salam, lalu aku menjawabnya dengan takdzim. Aku meraih tangan beliau, menciumnya dengan sungguh-sungguh - sebagaimana adab mencium tangan guru yang bukan sekadar menempelkan tangan di dahi, melainkan mengecupnya dengan penuh rasa hormat.
Setelah itu, aku bergegas membersihkan diri dan mengenakan wewangian terbaik sebelum kembali duduk bersimpuh di hadapan mereka. Namun, pelajaran adab yang paling tinggi sore itu justru ditemukan di dapur. Ketika Umi - istri Abah - meminta bantuan menyiapkan jamuan, ada rasa haru yang membuncah.
Menanak nasi, menggoreng ayam, dan menyeduh kopi untuk para guru adalah sebuah bentuk Khidmah. Di sana, kita belajar bahwa menjadi murid bukan hanya soal duduk mendengarkan ceramah, tapi tentang bagaimana meringankan beban dan memuliakan rumah sang guru.
"Memandang wajah guru adalah obat bagi luka batin, namun melayani mereka adalah penawar bagi kesombongan jiwa."
Abah: Orang Tua Ruhani yang Teduh
Abah Ustadz Mahfudin bagiku adalah oase. Beliau adalah sosok yang menyeimbangkan antara kerasnya perjuangan dakwah - yang jarak tempuhnya bisa mencapai empat jam perjalanan di tengah malam - dengan kelembutan seorang ayah.
Masih lekat di ingatan bagaimana beliau, di tengah dinginnya udara gunung Gambir, menyelimutiku dengan sorbanku sendiri saat aku tertidur karena kelelahan mengawal para habib. Atau bagaimana beliau, bahkan dalam kondisi terbaring sakit di rumah sakit, masih sempat bertanya, apakah aku kehujanan di perjalanan?
Kasih sayang seorang guru memang seringkali hadir dalam diam, dalam doa-doa yang terselip antara sujud dan ketika kedua tangan menengadah kepada Allah.
![]() |
| Doa bersama untuk kesembuhan dan kepulihan Abah Ust Mahfudin bin H Alif Yunus, yang dipimpin oleh Habib Musthofa. (Dokpri/Disisi) |
Sebuah Doa untuk Sang Peneduh
Kami duduk melingkar, melantunkan doa dan Ratib, memohon kesembuhan untuk ruhani dan jasmani sang guru.
Pertemuan itu mengingatkan kita semua: Di dunia yang semakin bising ini, kita butuh jangkar. Dan jangkar itu adalah para guru. Mereka bukan hanya pengajar ilmu, tapi penjaga arah agar kita tidak tersesat dalam keriuhan zaman.
Semoga Allah menyembuhkan Abah dengan kesembuhan yang sempurna, menjaga setiap langkah dakwahnya, dan mengumpulkan kita kembali dalam ikatan adab yang takkan pernah putus, hingga ke jannah-Nya kelak.
Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.


Comments
Post a Comment