Skip to main content

Tentang Mereka yang Menjadi Alasan untuk Pulang

Perjalanan mudik 2026. Dokpri/Disisi@26.


Oleh: Disisi Saidi Fatah (Cendekia Al Azzam)


 Ada sebuah getar yang tak pernah bisa dijelaskan oleh kata-kata saat roda kendaraan mulai menyentuh aspal tanah kelahiran. Bagi kita yang menghabiskan ratusan hari di tanah rantau, mudik bukan sekadar perkara berpindah tempat atau ritual tahunan menghabiskan jatah cuti.


Mudik adalah perjalanan "ziarah jiwa" - sebuah upaya untuk membasuh lelah yang mengerak di pundak dengan air doa dan tatap mata orang-orang tercinta.


Tahun ini, langkah kaki saya terasa lebih ringan. Sejak H-6 idul fitri, saya sudah menanggalkan seragam kerja dan segala hiruk-pikuk target yang seringkali mencekik leher di perantauan.


Namun, ada yang berbeda dari perjalanan kali ini. Fokus saya bukan lagi pada kemeriahan hidangan di meja makan, melainkan pada sebuah daftar nama. Sosok-sosok yang selama ini hanya hadir lewat barisan teks WhatsApp atau suara digital di balik gawai, kini menjadi alasan utama mengapa saya harus bertahan di tengah kerasnya perjuangan hidup.


Sejuk Tatapan Mama: Di Mana Surga Menemukan Alamatnya


Pertemuan pertama, tentu saja, adalah dengan Mama. Begitu ambang pintu terlewati, aroma rumah yang khas seolah memeluk saya dengan erat. Melihat senyumnya yang merekah di sela garis-garis halus di wajahnya adalah sebuah kemewahan yang tidak bisa dibeli dengan gaji bulanan manapun.


Di hadapan Mama, saya bukan lagi seorang pekerja yang harus terlihat tangguh, melainkan seorang anak yang diizinkan untuk kembali "kecil".


Memandang wajah Mama di hari raya kemarin seperti membaca kembali bait-bait puitis dalam novel Ayat-Ayat Cinta. Ada ketenangan yang merembes ke dalam dada, sebuah kedamaian yang hanya bisa lahir dari ketulusan doa seorang ibu. 


Beliau adalah oase di tengah padang pasir kehidupan saya yang gersang. Suaranya yang lembut, meski hanya menanyakan apakah saya sudah makan atau bagaimana kabar di perantauan, memiliki daya magis yang luar biasa.


Baginya, keberhasilan terbesar saya bukanlah jabatan atau materi, melainkan kepulangan saya dalam keadaan sehat dan iman yang tetap terjaga. Di sela obrolan santai kami, saya menyadari bahwa rida Allah memang benar-benar tertitip pada rida yang mengalir dari bibirnya. Pertemuan ini adalah cas energi paling ampuh sebelum saya kembali bertarung dengan realitas.


Kepemimpinan Hati dan Tawa Kecil yang Menenangkan


Selain Mama, ada sosok "Abang" yang sangat saya kagumi. Beliau bukan kakak kandung, melainkan saudara Mama yang menjabat sebagai kepala kampung. Namun bagi saya, beliau adalah potret pemimpin yang sesungguhnya.


Di tengah gempuran dunia yang serba transaksional, beliau tetap istiqomah dalam ibadah dan tulus dalam memimpin. Ketulusan itu tidak perlu dipidatokan; ia terpancar dari bagaimana warga menyapanya dan bagaimana beliau merespons setiap keluh kesah dengan hati.


Selama di rantau, pesan-pesan singkatnya lewat WhatsApp seringkali menjadi pengingat yang manis. Beliau jarang memberi nasihat yang menggurui, namun setiap kata-katanya membuat saya kembali percaya bahwa hidup ini patut diperjuangkan dengan cara yang baik.


Bertemu dengannya secara langsung, melihat bagaimana ia menyeimbangkan tanggung jawab duniawi dengan keteguhan spiritual, adalah sebuah pelajaran kepemimpinan yang jauh lebih berharga daripada seminar manapun. Beliau adalah bukti hidup bahwa menjadi orang besar tidak perlu kehilangan kerendahan hati.


Lalu, ada adik sepupu kecil saya. Mungkin terdengar sederhana, tapi melihat senyumnya adalah penawar letih yang luar biasa. Saya memang selalu memiliki tempat spesial di hati untuk anak-anak, namun dengannya, ada ikatan yang berbeda. 


Kemarin, ketika silaturahmi ke rumahnya, ia dengan riang menyambut dan memeluk saya. Kegembiraan yang ia pancarkan saat menyambut saya seolah mengingatkan bahwa kebahagiaan itu tidak perlu rumit. Cukup dengan kehadiran, perhatian kecil, dan ketulusan, dunia sudah terasa cukup. Di tengah ambisi-ambisi besar yang seringkali membuat kita stres, tawa polosnya adalah pengingat agar kita tetap memiliki hati yang bening.


Jembatan Cahaya: Ketika Doa Menjadi Cara Terbaik untuk Bertemu


Namun, perjalanan mudik kali ini juga menyisakan ruang rindu yang belum tuntas sepenuhnya. Ada beberapa nama dalam daftar saya yang hingga hari ini belum sempat saya ziarahi.


Bagi mereka yang telah berpulang ke haribaan-Nya, ziarah saya adalah doa khusyuk di pusara yang mungkin belum sempat terwujud secara fisik. Sementara bagi mereka yang masih ada, namun jarak dan kesibukan belum mengizinkan kami bertatap muka, ziarah saya adalah ziarah jiwa - sebuah upaya menyapa batin tanpa harus bersua raga.


Meski waktu liburan kini tersisa satu hari lagi, dan secara logika pertemuan fisik tampak sulit untuk dipaksakan, saya tetap memelihara secercah harapan akan keajaiban Allah. Bukankah Dia Sang Pemilik Waktu?


Namun, jika memang takdir belum menuliskan jadwal temu di sisa hari ini, saya belajar untuk berdamai. Saya percaya ada "jembatan cahaya" yang menghubungkan setiap hati yang tulus. 


Melalui hadiah Al-Fatihah dan sebait doa di penghujung sujud, saya berusaha menyambung kembali tali kasih yang melampaui sekat dunia maupun jarak perantauan. Jika tidak dipertemukan saat ini, semoga ada kesehatan dan umur yang berkah untuk berjumpa di lain kesempatan yang lebih indah.


Mudik adalah cara kita menghargai waktu yang terus melaju. Kita tidak pernah benar-benar tahu apakah tahun depan kesempatan yang sama masih menyapa, atau apakah wajah-wajah yang kita rindukan itu masih setia menanti di ambang pintu yang sama.


Liburan mungkin usai, dan besok langkah kaki harus kembali menapaki aspal perantauan. Namun, saya tidak pulang dengan tangan kosong. Ada "bekal" tak kasat mata yang saya bawa: dari keteduhan sorot mata dan senyum Mama, prinsip hidup yang saya serap dari ketulusan Abang, serta energi murni dari senyumnya adik sepupu. Ketiganya adalah jangkar yang menjaga saya agar tetap tegak, meski badai di tanah rantau seringkali datang tanpa permisi.


Selamat kembali ke rutinitas bagi rekan-rekan perantau. Rawatlah kehangatan rumah itu di dalam dada, agar di mana pun kaki berpijak, jiwa kita selalu menemukan jalan untuk "pulang".

Comments

Popular posts from this blog

Pelukan yang Tak Selesai [Cerbung]

Ilustrasi oleh AI Halo sahabat pembaca, terima kasih ya telah setia mampir dan membaca setiap karya kami. Salam hangat dari aku Cendekia Alazzam dan beberapa nama pena yang pernah aku kenakan 😁🙏. 

Cinta, Pengabdian, dan Jejak yang Abadi

  Gambar dibuat oleh AI. Halo, sahabat pembaca. Salam kenal, aku Cendekia Alazzam. Aku hendak menulis cerita bersambung, kurang lebih ada 10 bab. Dengan judul besar "Cinta, Pengabdian, dan Jejak yang Abadi". Bergenre Fiksi Realis, Drama Keluarga, dan Romance.

[4] Dalam Pelukan yang Kupilih

Ilustrasi Dalam Pelukan yang Kupilih 'Cinta, Pengabdian, dan Jejak yang Abadi'. (Sumber: AI) "Hallo, selamat datang di bab 4 perjalanan (Cinta, Pengabdian, dan Jejak yang Abadi). Terima kasih telah menjelajah sejauh ini. Buat yang ketinggalan bisa di cek pada halaman awal ya!  Klik disini!!!  Untuk yang ketinggalan bab sebelumnya (Bab 3) >>> klik di sini <<< untuk menuju ke sana!"

Filosofi Sepeda Untuk Hidup yang Lebih Bermakna

Filosofi sepeda untuk hidup yang lebih bermakna. (Foto oleh: Pixabay/wal_172619) Oleh: Cendekia Alazzam          Seiring berkembangnya zaman, sepeda tidak hanya sekadar menjadi alat transportasi bagi banyak orang, kini ia pun hadir menjadi media olahraga bagi sebagian orang yang gemar berolahraga.  Selain jogging dan berlari, bersepeda menjadi  olahraga favorit yang praktis dan mudah belakangan ini. Dengan turut berkembangnya desain sepeda yang semakin keren dan fungsional, terlebih lagi saat ini pemerintah di beberapa kota sudah menyediakan beberapa titik jalur khusus sepeda sehingga menciptakan rasa yamg semakin aman dan nyaman ketika bersepeda. Berbicara tentang sepeda, ada banyak filosofi tentangnya yang sangat relevan bagi kehidupan. Beberapa poinnya akan kita bahas melalui tulisan singkat ini, semoga sahabat pembaca dapat mengambil hikmahnya dan diterapkan dalam kehidupan. Dari sepeda kita seakan diajarkan untuk bergerak dan terus bergerak. Keti...

Pertemuan yang Tak Biasa

Ilustrasi - pertemuan dua insan di suatu mushola. (Sumber: AI) Di suatu mushola kecil di sudut hari, Langkahku berat, hati terasa enggan menepi. Tempat asing, dinding-dinding sunyi, Tapi tanggung jawab menarikku berdiri. Kupikir hanya akan sholat lalu pergi, Namun takdir menyusun pertemuan sunyi. Seorang anak kecil - Dengan mata teduh dan senyum yang tak biasa mengalir.