
Catatan Majelis bareng Abah Allahyarham Adda'i Illallah Ustadz Mahfudzin bin H Alif Yunus, Desember 2022 lalu. (Didesain oleh AI)
*Memoar Ta'lim Malam Kamis: Menjemput Berkah Kitab Siyarus Salikin Tanpa Kehadiran Abah
Semalam adalah malam Kamis awal bulan. Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya pergantian hari biasa. Namun bagiku dan almarhum Abah, malam itu adalah waktu yang sakral - saatnya kami membelah jalanan untuk menjemput tetesan embun ruhani. Saya melangkah keluar dari kamar kost, menatap lurus ke arah rumah Abah yang jaraknya hanya pelemparan batu, sekitar sepuluh meter di depan mata.
Sunyi langsung menyergap. Biasanya, dari jarak ini saya sudah bisa melihat bayangan beliau, atau setidaknya mendengar helaan napas hangatnya yang bersiap mengajak saya berangkat mengaji bersama. Namun semalam, rumah itu hening, meninggalkan selasar kosong yang biasanya dipenuhi aura ketenteraman.
Sebelum berangkat, putra Abah meminta saya menunggangi motor keluarga yang biasa kami gunakan untuk majelisan. Sebenarnya, tempo hari Umi sempat menyuruh saya memakai motor pribadi milik Abah saja. Namun semalam, demi keamanan agar tidak mogok di tengah jalan, saya memutar kunci kontak motor yang sarat akan memori ini. Menstarter mesinnya saja sudah membuat dada saya sesak.
Di atas jok besi ini, jejak-jejak tawa, bisikan zikir, dan kebersamaan kami selama bertahun-tahun seolah masih menempel lekat. Motor ini adalah saksi bisu bagaimana seorang Murobbi merendahkan hatinya, duduk berboncengan dengan seorang murid yang fakir, tanpa pernah mengeluhkan apa pun.
Kami menyusuri jalanan malam menuju Majelis Al Musthofawiyah di Sanja, Citeureup, Kabupaten Bogor, untuk menimba ilmu dari guru kami, Habibana Al-Habib Musthofa bin Yahya. Perjalanan menggunakan motor itu memakan waktu sekitar 20 hingga 25 menit. Untung saja, cuaca semalam begitu bersahabat. Langit tidak menyemburkan hawa panas, tidak juga menurunkan rintik hujan yang merepotkan.
Udara lumayan terang, diselimuti bentangan sinar rembulan yang malam itu jatuh dengan begitu anggunnya di atas aspal. Anehnya, keindahan alam itu justru terasa menyakitkan bagi saya. Pikiran saya langsung melompat ke masa lalu, tepatnya sejak akhir tahun 2022 saat awal mula saya diajak Abah merapatkan barisan di majelis ini.
Dulu, mau cuaca seburuk apa pun, mau badai atau kering kerontang, perjalanan ini selalu terasa ringan karena ada Abah yang membersamai langkah saya.
Setibanya di kediaman Habib Musthofa, suasana majelis mengalir dengan khusyuk seperti biasa. Di sana, kami kembali mengkaji Kitab Siyarus Salikin. sebuah karya agung di bidang tasawuf berbahasa Arab-Melayu peninggalan ulama besar Nusantara, Syekh Abdus Shamad Al-Palimbani.
Namun semalam, lembar demi lembar kitab yang saya buka terasa begitu basah oleh rasa sepi. Saat bait-bait penuntun jalan para salik itu dibacakan, pandangan saya berulang kali terlempar pada lantai di sebelah sisi saya. Tempat itu kosong. Tidak ada lagi Abah yang duduk tegap bersebelahan dengan saya, menyerap barokah kalam habib, dan menularkan energi kesalehannya ke dalam jiwa saya yang masih tertatih-tatih merangkak menata hati.
Pertahanan batin saya benar-benar runtuh total justru ketika ta'lim telah purna dan roda motor mulai berputar pulang ke arah Cicadas, Gunung Putri. Di bawah kawalan sinar rembulan yang sunyi, air mata saya tumpah tak terbendung sepanjang jalan. Angin malam yang menerpa wajah terasa seperti belaian perpisahan.
Memori saya mendadak terkunci pada satu fragmen malam yang paling sakral, tepat sebelum Ramadhan lalu tiba - momen ta'lim terakhir kami.
Malam itu, di tempat yang sama, sebelum saya pamit untuk kembali menyeberang ke kamar kost, saya meraih tangan Abah. Saya menundukkan kepala, mengecup punggung tangan mulianya dengan takzim sebagai tanda khidmah seorang santri.
Namun, getaran malam itu berbeda dan abadi di dalam dada. Setelah al-faqir mencium tangan Abah, beliau tidak langsung melepaskannya. Dengan gerakan yang penuh kelembutan, Abah menarik kembali tangan mulia itu, lalu mengecup dengan kecupan yang begitu dalam pada punggung tangannya sendiri yang baru saja terkena bekas bibir muridnya.
Ketika al-faqir mengangkat wajah dengan rasa haru yang tertahan, Abah sedang menatap saya. Beliau tersenyum dengan sangat manis, sebuah tatapan yang begitu pekat dengan rasa cinta yang mengayomi, namun sama sekali tidak mengikis kewibawaan dan keagungan agung beliau sebagai pengasuh Majelis Ta'lim Al Maujud.
Detik itu juga, hati saya berguncang hebat oleh rasa bahagia yang tak terukur. Rupanya, tatapan berwibawa dan kecupan hikmah malam itu adalah cara halus Abah untuk berpamitan dan menitipkan tongkat istiqomah agar saya tidak berhenti mengaji, meski kini ruang di sebelah saya telah digantikan oleh sepi.
“Termasuk orang-orang beriman - yang keluar rumah menghadiri majelis-majelis ilmu, apalagi dalam kondisi dan suasana musim hujan. Kita harus bersyukur, menjadi orang-orang pilihan yang Allah gerakkan dan mudahkan langkahnya menghadiri majelis-majelis. Ini adalah jihad terbesar...”
— Allahyarham Adda'i Illallah (Abah) Ustadz Mahfudzin bin H Alif Yunus
Murobbi-ku, Abah... raga kita kini terhalang tabir barzakh, namun cinta yang engkau semai di majelis Sanja dan Cicadas takkan pernah padam. Terima kasih telah mendidik hati yang fakir ini dengan cara yang begitu romantis. Selamat beristirahat di keabadian surga, Abah. Al-Fatihah.
Didedikasikan untuk Murobbi Ruhina:
Allahyarham Adda'i Illallah Abah Ustadz Mahfudzin bin H Alif Yunus
Khadimul Majelis Ta'lim Al-Maujud, Cicadas, Gunung Putri, Bogor
Ila hadroti Murobbi Adda'i Illallah Ustadz Mahfudzin bin H Alif Yunus (Khadimul Majelis Ta'lim Al-Maujud, Cicadas, Gunung Putri, Bogor)... Al-Fatihah.
Comments
Post a Comment