Skip to main content

Sepotong Rindu di Jalur Cariu: Perjalanan Perdana Tanpa Sang Murobbi

Hamparan persawahan yang al faqir abadikan saat melintasi jalanan di Cariu bersama Murobbi pada pagi terakhir saat mengawal beliau berdakwah. (15 Feb 2026/Dokpri/Disisi).


Malam Ahad lalu, aspal jalanan menuju Cariu sebenarnya terasa sama seperti biasanya. Masih dengan kelokan yang sama, dingin yang sama, dan jalur yang sudah teramat akrab di ingatan. Namun, malam itu ada sesuatu yang mengganjal di dada. Ada ruang kosong di hati yang membuat perjalanan kali ini terasa benar-benar berbeda.


Ini adalah perjalanan pertama aku ke Bantar Kuning, Nameng, Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor, tanpa kehadiran sosok guru di sampingku. Tanpa Murobbi tercinta, Abah Ustadz Mahfudzin bin H Alif Yunus.

Biasanya, rute ini adalah rute perjuangan kami. Rute di mana aku bertugas mengawal beliau, menemani beliau menembus malam demi menyebarkan dakwah Baginda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam melalui lantunan Ratib wal Maulid. Tapi malam itu, takdir membawa cerita baru. Aku harus melangkah, membawa semua didikan yang pernah beliau titipkan.


Langkah Berempat, Membawa Satu Kerinduan

Kami berangkat sekitar jam pulang kerja. Kamu tahu sendiri bagaimana padatnya malam Ahad yang berbenturan dengan arus pekerja yang ingin kembali ke rumah. Jalanan dari titik awal kami di Cicadas, Gunung Putri, agak tersendat dan macet. Tapi di atas motor, antusiasme kami berempat sama sekali tidak surut. Kami malam itu berkendara menggunakan dua motor: aku, dua putra Abah (A Rifky, dan Bang Farid), serta keponakan beliau; Bang Nauval. Tujuan kami satu: menyambung silaturahmi yang telah lama dirajut oleh guru kami ke Keluarga Besar Majelis Ta'lim Baitul Hidayah di Bantar Kuning.

Persiapan kami masih sama seperti ritual majelisan biasanya. Jaket tebal untuk menghalau angin malam, pakaian yang sopan, sarungan, peci, serta tak lupa membawa kitab, siwak, dan wewangian parfum. Semua tampak sama secara fisik. Namun, secara batin, pikiranku langsung melayang ke masa lalu.

Biasanya, kalau jalan bersama Abah, aku adalah orang yang paling sibuk memperhatikan hal-hal kecil. Memastikan sandal beliau tertata rapi saat hendak melangkah, dan selalu memasang telinga lebar-lebar jikalau beliau mengajak mengobrol di atas kendaraan. Di masa lalu, awal perjalanan kami selalu dibuka dengan kekhusyukan. Abah akan mendawamkan ratib dan selawat sembari mengendarai motor dengan tenang, sementara aku mengikutinya dengan khidmat di dalam hati, duduk tepat di belakang punggung beliau.

Jujur saja, selama ikut Abah berdakwah, ada sebuah keajaiban rasa yang sulit kujelaskan dengan logika. Selelah-lelahnya badan setelah beraktivitas padat, rasa capek itu mendadak menguap begitu saja. Cuaca juga seolah bukan penghalang bagi kami. Mau dingin yang menusuk tulang, panas yang menyengat, gerimis, atau bahkan hujan lebat sekalian, kami menganggapnya biasa saja.

Kenapa? Karena Abah adalah teladan keistiqomahan yang nyata. Beliau tidak pernah peduli pada rasa lelahnya sendiri. Jalanan becek atau cuaca ekstrem, kalau hati beliau sudah berniat jalan untuk dakwah, maka kaki akan melangkah. Terabas saja. Spiritualitas setinggi itulah yang selalu menular kepadaku.

Tapi malam Ahad kemarin, hawanya terasa berbeda. Dinginnya malam itu seperti menembus hingga ke sela-sela tulang. Meski secara lahiriah diri ini tetap bersemangat dan excited karena akan menyambung silaturahmi, tetap saja ada sesuatu yang kurang. Ibarat menyantap makanan favorit, tapi ada bumbu utama yang hilang. Kenikmatannya terasa tidak utuh. Ada kekosongan yang tidak bisa disembunyikan.


Memori di Balik Selimut Hujan Desember 2022

Sepanjang jalan, memori-memori lama justru berputar dengan sangat jelas di kepalaku, seperti sebuah film pendek yang diputar ulang. Aku ingat betul bagaimana awal mula Abah mengajakku ke Cariu untuk pertama kalinya. Waktu itu kami hanya berdua. Saat pertama kali menginjakkan kaki di tanah Nameng, hatiku langsung merasa nyaman. Ada ketenangan luar biasa yang tidak pernah aku temukan di belahan tempat lain.

Mengawal Abah bukan sekadar menemani perjalanan fisik, tapi di sana aku belajar tentang bagaimana memuliakan manusia. Di perjalanan, Abah selalu memperlakukanku dengan sangat istimewa. Beliau tidak pernah membiarkan khadimnya ini kelaparan atau kehausan.

Pernah di awal-awal masa aku ikut mengawal beliau, kebetulan aku sedang merutinkan puasa sunnah. Begitu memasuki waktu maghrib di tengah jalan, Abah dengan sigap langsung menepikan motornya di warung pinggir jalan hanya untuk membelikanku camilan dan takjil berbuka. Setelah itu, sering kali kami makan bersama dengan penuh rasa kekeluargaan.

Perlakuan hangat itu berlanjut hingga ke dalam majelis. Abah tidak pernah membiarkan aku duduk jauh-dari jangkauannya. Setiap kali ada tempat kosong di barisan depan atau di dekat beliau duduk, Abah akan langsung memberikan isyarat mata atau menyuruhku pindah ke dekatnya. "Sini, duduk dekat ana," begitu kurang lebih isyaratnya. Kalau beliau sudah menyuruh sampai dua kali, aku tidak berani menolak dan langsung bergeser ke samping beliau.

Lamunanku kemudian mendarat pada sebuah momen di bulan Desember tahun 2022 lalu. Saat itu musim hujan sedang mencapai puncaknya. Kami sedang berada di tengah perjalanan menuju lokasi dakwah tepat saat adzan maghrib berkumandang, dan langit mendadak menumpahkan hujan yang sangat lebat. Kami akhirnya menepi di pinggir jalan yang gelap untuk memakai mantel atau jas hujan. Di bawah guyuran air dan gemuruh langit, Abah menatapku lalu bertutur dengan kalimat yang sampai hari ini bergaung indah di dadaku:

"Termasuk orang-orang beriman — yang keluar rumah menghadiri majelis-majelis ilmu, apalagi dalam kondisi dan suasana musim hujan. Kita harus bersyukur, menjadi orang-orang pilihan yang Allah gerakkan dan mudahkan langkahnya menghadiri majelis-majelis. Ini adalah jihad terbesar, karena kalau di rumah kita enak tidur, nonton TV, apalagi sedang dalam hujan begini. Kalau kita bukan orang pilihan, kita tidak akan bisa melangkah ke majelis."

 


Kalimat itu bukan cuma penghibur di kala kehujanan, tapi menjadi bahan bakar spiritual yang membakar semangatku hingga detik ini.


Menembus Gelapnya Hutan Cariu yang Emosional

Jalur menuju Cariu memang memiliki karakteristik yang unik. Jika sedang ramai, jalanan terasa hidup. Namun jika malam sudah larut dan sepi, kanan-kiri jalan berubah menjadi bentangan hutan yang sunyi. Jalanannya berliku-liku, beberapa titik memiliki turunan dan tanjakan yang cukup curam, ditambah lagi dengan fasilitas lampu penerangan jalan yang sangat minim di area hutan.

Malam Ahad kemarin, saat motor yang kami kendarai membelah kegelapan hutan Cariu, perasaanku benar-benar campur aduk. Ini adalah kali pertama aku melewati rute ekstrem ini tanpa Abah di depanku. Alhasil, sepanjang jalan yang kurasakan adalah nostalgia yang mendalam. Kenangan-kenangan bersamanya terus mengetuk pintu ingatan. Jujur, air mata ini beberapa kali sudah menggenang di sudut mata, hampir jatuh.

Aku membatin dalam hati, jika seandainya perjalanan malam itu aku lalui seorang diri - tanpa ditemani putra-putra dan keponakan Abah - aku yakin aku tidak akan kuat menahan bendungan air mata ini. Aku pasti akan menangis sejadi-jadinya di sepanjang jalur Cariu.

Ada sisi rapuh dalam diriku yang merasa tidak kuat menerima kenyataan ini. Namun di sisi lain, ada api semangat yang kembali berkobar. Aku teringat bagaimana gigihnya perjuangan Abah dulu. Kami bahkan pernah mengalami masa-masa indah selama enam bulan berturut-turut tanpa putus, di mana dalam satu pekan kami bisa bolak-balik ke Cariu sebanyak dua hingga tiga kali. Mengingat lelahnya beliau yang tidak pernah dikeluhkan, rasa rapuhku malam itu langsung runtuh berganti menjadi tekad untuk menuntaskan perjalanan ini.


Getaran di Baitul Hidayah: Merasakan "Kehadiran" yang Nyata

Begitu roda motor kami berhenti di pelataran Majelis Ta'lim Baitul Hidayah, Bantar Kuning, kehangatan langsung menyambut kami. Suasananya masih sama ramahnya seperti dulu. Mang Obay, selaku tuan rumah yang berhati mulia, menyambut kami dengan penuh perhatian. Beliau langsung menanyakan kabarku hari itu. Dari sorot matanya, aku tahu beliau sangat mengerti bagaimana hancurnya kondisiku pasca-ditinggal oleh sosok Murobbi yang biasanya selalu melekat bersamaku ke mana pun beliau pergi.

Ketika majelis rutinan dimulai, di sinilah letak ujian emosional terbesarku malam itu. Harus diakui secara jujur dan ini juga dirasakan oleh banyak jamaah lain, baik di Majelis beliau (MT Al Maujud) maupun majelis dari pada jamaah-jamaah neliau lainnya — bahwa ada perbedaan yang sangat mencolok ketika majelis dipimpin langsung oleh Abah dibandingkan dengan yang lain.

Sirr atau rahasia kedalaman spiritualnya terasa berbeda. Ini bukan semata-mata karena rasa cintaku yang subyektif kepada Abah, melainkan karena pancaran karomah dan keikhlasan dakwah beliau yang memang diakui oleh hati para jamaah Abah.

Meskipun fisik beliau sudah tidak ada di tengah-tengah kami, malam itu aku merasakan sebuah fenomena batin yang luar biasa. Aku merasa "kehadiran" Abah justru mengelilingi kami semua di dalam ruangan majelis tersebut. Semangatnya, sisa-sisa suaranya, dan energinya seolah tertinggal di setiap sudut ruangan.

Apalagi malam itu, takdir mengaturku untuk duduk tepat di posisi di mana Abah duduk memimpin majelis terakhir kami di Baitul Hidayah, sebelum masa tawaqufan (penutupan sementara) menjelang bulan Ramadan lalu. Duduk di bekas tempat beliau membuat hatiku bergetar hebat. Rasa rindu, haru, dan sedih campur aduk menjadi satu, mendesak air mata untuk keluar. Namun dengan sekuat tenaga, demi menjaga kekhusyukan majelis dan ketegaran di depan putra-putra beliau, aku menahannya dalam-dalam. Aku tersenyum, menyerap setiap bait selawat yang dilantunkan, dan meyakinkan diriku bahwa ilmu yang beliau ajarkan sedang hidup di dalam ruangan ini.


Jalan Pulang dan Nadzom Aqidatul Awam yang Abadi

Perjalanan malam Ahad itu akhirnya berhasil aku lalui dengan selamat dan tuntas. Tugas silaturahmi tersampaikan, rutinan majelis terlaksana. Namun, cerita tidak berakhir di situ. Kenangan bersama Abah tampaknya enggan berpisah dariku di sepanjang jalur pulang.

Pagi Ahad itu kami memutuskan untuk bertolak kembali ke rumah. Di tengah jalan, A Rifky yang memboncengku memutuskan untuk mengambil jalan pintas (Cariu-Jonggol). Begitu motor berbelok memasuki rute jalan pintas tersebut, pikiranku seketika melayang, melompati waktu kembali ke akhir tahun 2022 silam.

Malam itu, di akhir tahun 2022, aku dan Abah menembus dinginnya angin malam melewati rute pintas yang persis sama dengan yang kulewati pagi itu. Karena melihat Abah sudah sangat padat jadwalnya, aku sempat menawarkan diri dengan santun, "Abah, mau gantian nggak bawa motornya," tawarku kala itu. 

Namun, dengan kelembutan suaranya yang khas, beliau menolak halus sembari bertutur, "Biar ana saja yang bawa, kalau ana dibonceng nanti malah ngantuk."

Dan tahukah apa yang terjadi di sepanjang jalan pintas yang sepi dan gelap itu? Sepanjang jalan, Abah bersenandung. Beliau melantunkan bait-demi bait Nadzom Aqidatul Awam karya Syekh Ahmad Marzuki. Suara beliau yang indah, renyah, dan teduh membelah kesunyian malam Cariu, menjadi benteng sekaligus penghibur perjalanan kami. Dan aku, dari balik punggungnya yang kokoh, mengikuti lantunan nadzom itu dengan hati-hati, merekam setiap lekuk nadanya ke dalam memori terdalamku.


Epilog: Terima Kasih, Murobbi

Abah... jika boleh jujur, waktu kebersamaan kita di dunia ini memang terasa sangatlah singkat. Kadang hati kecil ini protes mengapa waktu berjalan begitu cepat berjalan. Namun, meski sesingkat itu, aku menyadari bahwa Allah memiliki cara yang amat indah untuk menjadikannya luar biasa berkesan.

Ya, demikianlah yang al-faqir alami sendiri. Tidak ada satu pun detik, tidak ada satu pun jengkal perjalanan yang aku lalui bersama Abah yang tidak indah. Semuanya berlapis kebaikan, semuanya berkesan, dan semuanya teramat layak untuk abadi dalam kenangan.

Perjalanan ke Bantar Kuning, Nameng, pada malam Ahad kemarin akhirnya menyadarkanku akan satu hal: tugas mengawal dakwah tidak pernah usai hanya karena perpisahan fisik. Terima kasih, Abah, karena telah menanamkan rasa cinta yang begitu mendalam di dalam dada ini kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Dan terima kasih yang tak terhingga, karena melalui bimbinganmu, Abah telah membukakan dan menunjukkan jalan yang terang menuju Rabbi, Allah Jalla Jalaluhu.

Kenanganmu akan selalu hidup di sepanjang jalur Cariu, dan estafet perjuangan ini akan selalu coba kami jaga. Al-Fatihah untuk Murobbi tercinta...

Comments

Popular posts from this blog

Tiga Puluh Jam Bersama Habibana

Kenangan Habibana dan Abah serta rombongan. Foto Pecandu Sastra. Dokpri   Jum'at itu menjadi pembuka perjalanan yang mengesankan. Nabastala biru menghampar semesta sore, perlahan mulai memudar. Segera usai berdzikir aku telah bersiap menemani Abah dan jamaah memenuhi undangan majelis peringatan Isra' Mi'raj di salah satu desa di bagian Bogor Timur. Abah, demikian aku memanggil laki-laki yang tengah berusia 50 tahun itu. Seorang pendakwah yang begitu istiqomah, gigih, penyabar, dan sangat mencintai ilmu. Beberapa bulan belakang, aku kerap menemani beliau berdakwah di desa tersebut, sepekan sekali. Tak peduli gerimis, hujan, dingin, ataupun panasnya cuaca, lelah setelah beraktivitas sekalipun, beliau terus istiqomah tanpa absen. Kecuali uzur yang mendesak. Hal tersebut yang menjadi salah satu yang aku kagumi dari sosok Abah. Sore itu, rombongan dijadwalkan berangkat sebelum maghrib. Dikarenakan perjalanan yang cukup memakan waktu, apalagi hari kerja, jam-jam segitu adalah pu...

Review Film Home Sweet Loan: Asa Anak Muda Menuju Rumah Impian

Refleksi hangat dari film Home Sweet Loan yang menggambarkan perjuangan generasi muda mencari arti rumah dan stabilitas hidup. (Dokpri) Kita sering mengira bahwa perjalanan menuju “rumah” adalah soal membeli properti, mencicil KPR, atau urusan angka dan bank. Tapi film Home Sweet Loan memberi tafsir yang lebih dalam dan emosional: rumah bukan hanya tentang tempat tinggal, tapi tentang tempat berteduh secara batin.

Filosofi Sepeda Untuk Hidup yang Lebih Bermakna

Filosofi sepeda untuk hidup yang lebih bermakna. (Foto oleh: Pixabay/wal_172619) Oleh: Cendekia Alazzam          Seiring berkembangnya zaman, sepeda tidak hanya sekadar menjadi alat transportasi bagi banyak orang, kini ia pun hadir menjadi media olahraga bagi sebagian orang yang gemar berolahraga.  Selain jogging dan berlari, bersepeda menjadi  olahraga favorit yang praktis dan mudah belakangan ini. Dengan turut berkembangnya desain sepeda yang semakin keren dan fungsional, terlebih lagi saat ini pemerintah di beberapa kota sudah menyediakan beberapa titik jalur khusus sepeda sehingga menciptakan rasa yamg semakin aman dan nyaman ketika bersepeda. Berbicara tentang sepeda, ada banyak filosofi tentangnya yang sangat relevan bagi kehidupan. Beberapa poinnya akan kita bahas melalui tulisan singkat ini, semoga sahabat pembaca dapat mengambil hikmahnya dan diterapkan dalam kehidupan. Dari sepeda kita seakan diajarkan untuk bergerak dan terus bergerak. Keti...

Jumbo: Animasi Lokal yang Memberi Banyak Pelajaran

  Poster Film Jumbo di Bioskop Bes Cinema Kota Metro (Foto oleh Cendekian/dokpri.2025) Akhirnya dua hari lalu bisa menyaksikan film animasi lokal buatan anak negeri. Film yang sudah sejak pertama official trailernya tayang di platform digital ini menjadi salah satu yang aku nantikan untuk ditonton, karena memang menarik perhatianku. Aku menyaksikan film ini bukan karena ikut-ikutan fomo ya, tapi memang penasaran banget sama filmnya.

Air, Kenyamanan, dan Realita Tinggal di Perumahan

Tampak depan rumah di kompleks perumahan - terlihat rapi, tapi di baliknya tersimpan cerita tentang krisis air bersih yang melelahkan (Sumber: Pexels) Ketika pertama kali memutuskan untuk tinggal di perumahan, saya membayangkan suasana yang rapi, nyaman, damai, dan menenangkan. Gambarannya terasa ideal. Dua hingga tiga bulan pertama memang terasa seperti itu. Namun seiring waktu, kenyataan mulai menunjukkan sisi lain yang tidak pernah saya duga sebelumnya - terutama soal kebutuhan paling mendasar: air.