![]() |
| Tampak depan rumah di kompleks perumahan - terlihat rapi, tapi di baliknya tersimpan cerita tentang krisis air bersih yang melelahkan (Sumber: Pexels) |
Ketika pertama kali memutuskan untuk tinggal di perumahan, saya membayangkan suasana yang rapi, nyaman, damai, dan menenangkan. Gambarannya terasa ideal. Dua hingga tiga bulan pertama memang terasa seperti itu. Namun seiring waktu, kenyataan mulai menunjukkan sisi lain yang tidak pernah saya duga sebelumnya - terutama soal kebutuhan paling mendasar: air.
Di kompleks perumahan kami, sistem airnya tidak seperti yang saya bayangkan. Bisa dibilang unik, bahkan cenderung rumit. Tidak semua rumah memiliki sumber air pribadi. Ada dua sumber air utama yang digunakan bersama oleh penghuni, dan beberapa rumah lainnya memilih membuat sumur bor sendiri - meskipun biayanya cukup besar.
Awalnya, kami mengandalkan salah satu sumber air utama. Kualitas airnya sangat baik, bahkan bisa langsung diminum. Kami ikut sokongan bulanan, termasuk iuran jika ada kerusakan mesin. Namun, kondisi mulai berubah. Beberapa bulan setelah kami menetap, air dari sumber ini sering tidak mengalir. Alasannya selalu sama: “mesin rusak.”
Hingga akhirnya, air benar-benar berhenti mengalir total. Kami pun terpaksa beralih ke sumber kedua yang berada di bagian depan perumahan. Kualitas airnya sangat berbeda - keruh dan berkarat, hanya layak untuk mencuci dan mandi. Tapi karena itulah satu-satunya pilihan yang tersisa, kami kembali ikut sokongan dan bahkan memasang pipa sendiri agar air bisa sampai ke rumah, tentu dengan izin pengelola.
Baca juga: Kepergian yang Membelah
Sayangnya, masalah belum selesai. Lama-kelamaan, mendapatkan air dari sumber kedua juga semakin sulit. Bukan karena mati total, tapi karena harus berebut. Air menjadi barang yang diperebutkan, seakan tidak cukup untuk semua. Meskipun bersifat umum, ada saja pihak yang bersikap seolah-olah mereka lebih berhak. Ketegangan pun muncul, bahkan sampai terjadi perselisihan.
Pilihan untuk membuat sumur bor sendiri kembali muncul. Namun, dengan kondisi yang tidak menentu dan biaya yang besar, langkah itu terasa berat dan tidak efisien. Maka, kami menjalani rutinitas yang penuh kesabaran: menunggu air mengalir - biasanya pagi dan sore - dan saat giliran datang, kami harus bergotong royong membawa air masuk ke rumah. Pipa yang dulu dipasang kini tidak bisa digunakan lagi karena keran utama mati.
Baca juga: "Mengelola Dompet di Jalanan: Tips Hemat ala Pekerja Lapangan"
Semua ini membuat kami teringat bahwa sebelumnya kami sudah mengeluarkan dana untuk instalasi paralon, agar air langsung masuk ke dalam rumah. Tapi, seperti mengulang cerita lama, sumber air kembali mati dan seluruh usaha itu menjadi sia-sia. Untuk renovasi ulang? Rasanya sudah kehilangan semangat, setelah berkali-kali dikecewakan.
Tak jarang, meski semua usaha sudah dilakukan - bangun pagi, angkut air, menata penampungan - kebutuhan air sehari-hari tetap belum cukup. Hanya bisa pasrah dan menarik napas panjang.
Dari pengalaman ini, saya belajar satu hal penting: saya tidak akan lagi tinggal di kompleks perumahan yang tidak memiliki sumber air pribadi. Karena ternyata, tanpa akses air bersih yang stabil, kenyamanan dan ketenangan hanyalah ilusi.
Baca juga: "Review Film Home Sweet Loan: Asa Anak Muda Menuju Rumah Impian"
Tinggal di tempat yang terlihat rapi dan indah tidak menjamin kehidupan yang nyaman. Air adalah kebutuhan paling dasar yang tidak boleh diabaikan. Rumah boleh sederhana, lingkungannya bisa saja sempit, tapi jika kebutuhan utama seperti air terpenuhi, maka hidup pun lebih tenang.
Bagi siapa pun yang sedang mempertimbangkan untuk tinggal di perumahan, satu hal yang harus dipastikan terlebih dahulu adalah **ketersediaan air bersih yang stabil**. Karena pada akhirnya, kenyamanan bukan terletak pada bentuk rumah atau keindahan pagar, melainkan pada terpenuhinya kebutuhan dasar setiap hari.

Comments
Post a Comment