Cerita Cendekia adalah ruang ekspresi dan refleksi dari Cendekia Alazzam (Pecandu Sastra) — berisi rangkaian puisi, cerpen, cerbung, esai, opini, serta ulasan buku dan film. Melalui tulisan, aku bercerita tentang kehidupan, gagasan, dan imajinasi, dengan harapan bisa mengajak pembaca berpikir, merasa, dan merdeka.

Saturday, December 20, 2025

Sorban Biru Langit

 Sebuah Puisi dari Disisi Saidi Fatah

Sorban biru langit dari guru tercinta, saksi subuh yang khusyuk. Dipakai dalam doa, diniatkan agar pahala mengalir pada pemberinya. (Dokpri/Disisi)


Usai subuh yang bening,

langit masih menyimpan sisa doa malaikat,

aku dipanggil dengan langkah gemetar,

oleh Umi, perempuan mulia

yang teduhnya adalah pantulan cinta Abah.


“Ini dari Abah,” tuturnya lirih.

Dan jantungku pun belajar berdegup

seperti santri yang pertama kali

menerima restu gurunya.


Abah —

engkau yang kupanggil guru,

kupeluk sebagai orang tua,

dan kuletakkan di relung paling hormat

dalam sujud-sujud panjangku.


Engkau tak lelah menapak jalan dakwah,

hujan bagimu hanya sajadah langit,

lelah tak pernah kau sebut ujian,

kurang tidur hanyalah cara Allah

mengajarkan ikhlas yang lebih dalam.


Aku belajar istiqamah

dari langkah kakimu yang tak pernah surut,

aku belajar takdzim

dari caramu tunduk pada guru —

sami’na wa atha’na,

kalimat yang hidup dalam laku,

bukan sekadar di bibir.


Dan pagi itu,

sehelai sorban biru langit

kau titipkan padaku —

sewarna harap,

sewarna doa,

sewarna tenang yang sering kucari

dalam munajat paling sunyi.


Tahukah Abah?

Saat sorban itu menyentuh kepalaku,

hatiku mekar seperti taman

yang disirami restu.

Aku tak hanya memakainya,

aku menggendong amanah di dalamnya.


Setiap sholatku,

sorban itu kupeluk dengan niat,

agar tiap sujudku

menjadi aliran pahala

yang kembali padamu.

Agar setiap takbirku

menjadi saksi cinta murid

kepada guru yang ikhlas.


Jika kelak aku lemah,

ingatkan aku pada biru langit itu —

bahwa ada guru

yang mengajariku mencinta Allah

dengan kesetiaan dan adab.


Dan jika doaku sampai ke Arsy,

biarlah namamu ikut terucap di sana,

sebagai cahaya

yang pernah menghangatkan hatiku

di pagi subuh yang tak akan pernah kulupa.


Gunung Putri, Bogor, 181225

Share:

Latest in Tech

Cendekia Al Azzam | Pecandu Sastra©2025. Powered by Blogger.

Pelayan Setia di Majelis Cahaya | Puisi

Ilustrasi dibuat oleh kecerdasan buatan (AI)/Gemini.    Sering kali, di sepertiga malam terakhir saat alam semesta tenggelam dalam kehening...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Blog Archive

Home - Recent Posts (show/hide)

Home - PageNavi (show/hide)

Random Posts

Recent Posts

Labels