Cerita Cendekia adalah ruang ekspresi dan refleksi dari Cendekia Alazzam (Pecandu Sastra) — berisi rangkaian puisi, cerpen, cerbung, esai, opini, serta ulasan buku dan film. Melalui tulisan, aku bercerita tentang kehidupan, gagasan, dan imajinasi, dengan harapan bisa mengajak pembaca berpikir, merasa, dan merdeka.

Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Thursday, August 7, 2025

PDKT: Antara Baper, Gede Rasa, dan Ending yang Gak Jelas

Ilustrasi oleh Pixabay


Pernah gak sih kamu ngerasa kayak lagi jalan di lorong gelap, cuma dikasih senter kecil yang baterainya setengah mati? Nah, kurang lebih itulah rasanya PDKT menurut aku. Kayak… kita lagi nyoba deketin seseorang, tapi nggak tahu ujungnya ke mana. Bisa jadi bahagia karena jadian, bisa juga malah jadi asing kayak dua orang yang gak pernah kenal.

Share:

Friday, August 1, 2025

Menjadi Guru di Era yang Berubah: Antara Akal, Adab, dan Tekanan

Guru di balik papan tulis, menanamkan adab dan akal kepada muridnya - sebuah pengabdian tulus di era yang menantang.  (sumber: edoo.id)



       Guru bukan hanya pengajar, tetapi pendidik yang mengemban amanah besar: mencerdaskan dan membentuk karakter anak bangsa. Ia tidak hanya bertugas membuat siswa cerdas secara kognitif, tetapi juga mengantarkan mereka menjadi pribadi yang beradab, tangguh, dan punya arah hidup yang baik.

Share:

Thursday, July 31, 2025

Yang Harus Diperhatikan oleh Donatur Jumat Berkah

Ilustrasi. (Foto: Baznas)


Setiap hari Jumat, saya sering menjumpai aneka makanan dan minuman yang dibagikan di masjid dekat rumah. Ada yang datang membawa nasi bungkus, bubur kacang hijau, air mineral, bahkan jajanan tradisional yang mengundang nostalgia masa kecil. Semuanya dikemas dalam semangat sedekah: Jumat Berkah.

Share:

Tuesday, July 29, 2025

Sekolah Bukan Medan Perang, Tapi Kenapa Selalu Ada Korban?

Tangan kecil terangkat bertuliskan “Stop Bullying” — isyarat sunyi dari anak-anak yang lelah jadi sasaran tanpa pelindung. (Foto: RSAS Kalsel)


Ada yang terasa mengganjal di dada saat membaca berita pagi ini dari Toboali, Bangka Selatan. Seorang anak SD, inisial Z, usia 10 tahun, meninggal dunia. Bukan karena kecelakaan, bukan pula karena penyakit bawaan. Tapi karena dugaan perundungan — bullying yang dilakukan oleh teman-teman sebayanya di sekolah.

Share:

Sunday, July 13, 2025

Berawal dari Pujian, Jadi Hobi yang Menguntungkan

Ilustrasi (Sumber: Pexels/Lil Artsy)


Kadang, satu pujian bisa menjadi pemantik perubahan besar dalam hidup seseorang. Itulah yang saya alami ketika tanpa sengaja menemukan kecintaan mendalam pada dunia menulis - berawal dari satu komentar membangun dari seorang jurnalis senior.

Share:

Friday, July 4, 2025

Gaji Pertama dan Pelajaran yang Tak Tertulis

 

Gaji pertama dan pelajaran darinya. (Sumber foto: freepik).


"Gaji pertama bukan sekadar angka, tapi titik awal perjalanan belajar dewasa."

— Anonim

 

Ngomongin soal gaji pertama, sebagian orang mungkin langsung teringat momen haru: transferan pertama masuk, deg-degan, lalu buru-buru buka aplikasi mobile banking. Tapi buat aku, cerita soal penghasilan sebenarnya sudah dimulai sejak masih duduk di bangku SMA. Bukan gaji resmi, sih - lebih ke cara-cara kreatif cari cuan dari keahlian yang kupunya.

Share:

Monday, June 30, 2025

Air, Kenyamanan, dan Realita Tinggal di Perumahan

Tampak depan rumah di kompleks perumahan - terlihat rapi, tapi di baliknya tersimpan cerita tentang krisis air bersih yang melelahkan (Sumber: Pexels)


Ketika pertama kali memutuskan untuk tinggal di perumahan, saya membayangkan suasana yang rapi, nyaman, damai, dan menenangkan. Gambarannya terasa ideal. Dua hingga tiga bulan pertama memang terasa seperti itu. Namun seiring waktu, kenyataan mulai menunjukkan sisi lain yang tidak pernah saya duga sebelumnya - terutama soal kebutuhan paling mendasar: air.

Share:

Wednesday, May 7, 2025

Efektifkah Mengirim Pelajar "Bandel" ke Barak Militer?

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi berbincang dengan siswa saat program pendidikan karakter dan kedisiplinan di Bandung. (Sumber: Tim Media KDM)


       Akhir-akhir ini kita banyak digemparkan oleh kebijakan-kebijakan yang diterapkan oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Seperti yang kita ketahui, bahwa Kang Dedi secara resmi telah menjalankan beberapa kebijakan yang menjurus pada dunia pendidikan. Seperti larangan study tour, wisuda untuk semua jenjang pendidikan sekolah, hingga anjuran membawa bekal ke sekolah, dan pendidikan khusus 'anak nakal' di barak militer.

Share:

Thursday, February 20, 2025

Menanam Cabai Untuk Ramadhan, Efektifkah Saat Ini?

 

Budidaya Cabai Merah. Foto Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kab. Ngawi. Ist


           Baru-baru ini kita semua dikagetkan dengan statement dari salah satu Menteri di Kabinet Merah Putih di bawah kepemimpinan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia saat ini, Bapak Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka - perihal ajakannya kepada masyarakat untuk menanam cabai guna mengantisipasi kelonjakan harga yang diperkirakan akan naik pada bulan suci ramadhan mendatang.

Share:

Thursday, July 4, 2024

Rayakan Saja Dengan Gembira, Jangan Berlebihan Nanti Kembali Sakit!

Kampanye Pemilu (Ilustrasi). Freepic.  Ist


Perhelatan akbar pesta demokrasi lima tahunan akan segera tiba, tak terasa kurang dari dua pekan kita akan rayakan bersama puncak pemilihan umum (pemilu) tahun 2024 - secara serentak di seluruh Indonesia. Sudah siapkah kita menyalurkan suara? Jangan sampai kita termasuk kaum putih di pemilu, karena putihnya tidaklah suci.

Share:

Tuesday, July 2, 2024

Sampai Kapan Kejahatan di Balik Topeng Agama Dibiarkan?

 

Topeng. Foto Pngtree. Ist


Lagi dan lagi, kembali kita dibuat geger oleh pelaku kejahatan dari balik topeng agama. Dua hari lalu, muncul sebuah berita yang menyebutkan ‘oknum’ Pengasuh Pondok Pesantren menikahi secara siri salah satu santriwatinya tanpa sepengetahuan orang tua santri tersebut.

Share:

Friday, December 31, 2021

Mengapa Harus Malu Membaca Buku?

 

Ilustrasi membaca. Ist. 

Oleh: Disisi Saidi Fatah


Membaca adalah salah satu aktivitas literasi yang paling utama dan harus diutamakan dari yang lain. Dengannya dapat memberikan dampak yang baik sekaligus positif bagi diri maupun lingkungan sekitar kita. Sebab, selain menambah wawasan, ilmu, pengetahuan, dan membuka cakrawala pikiran; membaca bisa menjadi obat atau terapi bagi diri.

Share:

Saturday, April 11, 2020

Kemenangan Tak Sekedar Hari Raya



Oleh : Disisi Saidi Fatah
Share:

Islam Nusantara Bukanlah Sebuah Kepercayaan Baru



Oleh : Senja Jingga Purnama 
Instagram : @pecandusastra96


"Pernahkan kita beristighfar dalam hati? Jika pernah, selamat saya ucapkan, sebab disaat kita membaca istighfar dalam hati maka disaat itu pula Allah telah melihat hati kita. Mari bersihkan hati kita dari segala keburukan, terutama berburuk sangka. Yang kita anggap benar, belum pasti benar kebenarannya dihadapan Allah. Begitupun sebaliknya, apa yang kita anggap salah, belum tentu salah dihadapan Allah. Sebab kebenaran hanya milik Allah semata"

Share:

Thursday, April 9, 2020

Klaim Kuota Gratis Cuma-Cuma, Benarkah?

Contoh tampilan hoax kuota gratis 


Menyikapi anjuran pemerintah, sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 atau yang lebih dikenal dengan sebutan virus corona, untuk mengisolasi diri dirumah alias dirumah aja.  Pemerintah saat ini tengah menggalakan agar masyarakat indonesia tidak melalukan aktivitas diluar ruangan jika tidak dalam keadaan mendesak. Kecuali bagi mereka yang memang benar harus berkegiatan diluar rumah untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Namun bagi mereka yang dapat bekerja di dalam ruangan, untuk sementara waktu agar tetap dirumah melakukan aktivitas seperti biasanya.

Tidak hanya itu, kegiatan belajar mengajar-pun dihentikan sementara waktu. Ada beberapa sekolah maupun instansi juga perguruan tinggi yang masih melalukan proses KBM itu, yakni melalui sistem daring alias online dengan jaringan internet. Hal ini menjadi dua berita; baik dan buruk. Kabar baiknya, para pedagang pulsa/kuota internet alias yang punya konter bakalan di banjir pelanggan, percaya atau tidak hal itu pasti akan terjadi. Dan kabar buruknya, baik orang tua, siswa/pelajar, maupun mahasiswa mau enggak mau harus merogoh kocek alias mengeluarkan uang pastinya untuk beli kuota agar kegiatan belajar mengajar sistem daring berjalan dengan baik dan lancar. 
Hal demikian banyak di manfaatkan oleh oknum. Banyak sekali situs-situs yang menyatakan akan memberikan kuota internet secara gratis, dari skala kecil bahkan hingga yang wah (skala sangat besar), bisa mencapai ratusan Gigabyte (GB). Dengan cara login ke situs yang diberikan, lalu mengikuti instruksi yang muncul pada layar telepon. Setelah itu, pengunjung akan di arahkan ke sebuah plat prom untuk share atau membagikan konten ke teman-temannya. Yang paling banyak ialah melalui pesan singkat; WhatsApp. Gampang kan? 

Siapa sih yang mau menolak kuota gratis, apalagi sebanyak itu? Apalagi di tengah wabah virus Corona seperti ini. Bagi orang yang sudah paham, dan memiliki pengetahuan serta pengalaman yang baik, mereka akan teliti terlebih dahulu. Yang menjadi masalahnya ialah anak-anak muda serta mereka yang masih awam dan baru-baru mengenal teknologi.
Tahukah kamu, jika hal-hal semacam itu termasuk dalam berita bohong alias hoax? Mengapa demikian? Sebab dari cara mengklaim kuota saja diwajibkan untuk merepost alias ikut serta menyebarluaskan konten tersebut. Setelah kita membagikan konten, kuota internet tidak kita dapatkan bukan! 

Berbahaya enggak sih?

Bagi saya pribadi, cukup berbahaya. Sebab dengan kita ikut akses ke website tersebut,  maka secara otomatis data kita masuk kedalam database mereka. Bisa saja data-data itu mereka guna secara tidak bertanggung jawab. Dan yang lebih berbahaya lagi, jika website tersebut memiliki virus. Hal ini sangat berbahaya bagi telepon milik kita, virus ini bisa merusak segala elemen telepon, juga bisa mengakses segala bentuk informasi yang masuk dalam telepon kita.

Sangat berbahaya kan? 
Nah maka dari itu, mulai sekarang stop membagikan konten-konten hoax alias berita bohong. Selain tidak ada manfaat, juga sangat berbahaya. Jaman sekarang tidak ada yang gartisan secara cuma-cuma, apalagi kuota internet yang mencapai ratusan gigabyte. Mimpi kali. 
Kalau mau kuota ya beli, minta orang tua, kerja cari duit atau numpang Wi-Fi tetangga atau teman yang baik. Jangan lagi ya ikut menyebarkan hoax.
Share:

Tuesday, April 7, 2020

Zakat, Covid-19, dan Teriakan Kaum Papa

LazisNU Jateng. Ist



Oleh : Miftahus Surur, M.Si
Wakil Ketua PW LazizNU Provinsi Lampung

Sumber : WhatsApp Grub



Kurang lebih empat bulan Covid-19 melanda negeri ini. Dampaknya pun kian terasa; perekonomian mulai surut, pelayanan publik tampak carut-marut, dan berbagai kegiatan sosial pun terlihat kalang-kabut. 

Masyarakat kota yang mulai kehilangan asupan penghasilan pun mulai terlihat pulang ke desa. Sementara masyarakat desa pun mulai limbung karena tidak mudah menjual hasil panen mereka. Kini, bukan hanya Indonesia, dunia pun ramai-ramai berkeluh kesah.

Dari sekian banyak pihak yang berteriak, terdapat satu golongan yang sangat merasakan dampak dari deraan Covid-19 ini, yaitu mereka yang berada pada garis kemiskinan atau dibawah itu. Jika biasanya mereka harus bekerja untuk mencari penghidupan, kini untuk sekedar bekerja pun sulit dikarenakan lapangan kerjanya semakin menyusut. 

Di kota-kota besar, para buruh atau pekerja serabutan lain yang berpenghasilan pas-pasan mulai merasakan kecemasan akibat potensi hilangnya _income_. Lalu di pedesaan, tidak sedikit para petani gurem yang bingung menyiasati penjualan hasil panen ketika para pembelinyapun tidak dapat diprediksi. 

Belum lagi ditambah dengan adanya kenyataan bahwa para tengkulak yang enggan mengambil barang dagangan karena khawatir dan takut terserang Covid-19 jika harus keluar rumah.

Di tengah-tengah situasi serba galau seperti ini mulai muncul seruan-seruan di berbagai media agar kita dapat saling bantu membantu meringankan beban saudara se tanah air. Dimana-mana berhembus optimisme, semangat, dan harmoni. Bencana atau wabah yang melanda ini tak perlu pula digugat, juga tak perlu ada kemarahan. Tokh kita semua sadar bahwa keadaan seperti ini tak dapat ditolak. 

Yang paling penting untuk saat ini adalah membangun kebersamaan – sampai titik darah penghabisan – untuk saling peluk dan memberikan apa yang kita miliki untuk meringankan beban sesama.

Dalam konteks ini, Islam memiliki perangkat yang sangat ampuh, yaitu zakat. Salah satu pilar Islam ini tampaknya harus diposisikan pada ranah itu, yaitu ranah pembantuan dan kebersamaan. 

Petuah bahwa “didalam harta kita terdapat hak orang lain” tak tepat lagi di pajang di buku-buku khutbah, melainkan harus dimunculkan dalam laku keseharian. Zakat dan juga infaq serta shadaqah sudah pada gilirannya mengambil peran membebaskan yang lemah dan mengangkat yang sedang lunglai. 

Ragam kajian dan hasil penelitian tentang zakat di Indonesia selalu memaparkan sisi yang menggembirakan bahwa potensi zakat kita mampu menembus angka 200 trilyun per tahun. Ah, tampaknya terlalu indah gambaran itu. Tak usahlah terlalu jauh. Cukup kita galang keyakinan bahwa harta yang kita miliki tidak akan membawa berkah jika ditumpuk, dimakan dan dinikmati sendiri. 

Seperti orang yang sedang bersantap, kebersamaan di meja makan akan selalu lebih indah dan memuaskan tinimbang menyuapkan nasi ke mulut sendiri tanpa ada yang menemani.

Itulah hakikat zakat. Rukun Islam yang satu ini tampak dengan sengaja diluncurkan oleh Allah swt untuk menjadi katup penyelamat bagi masyarakat sekaligus mengikis sikap “pleonoxia”, yaitu suatu penyakit kejiwaan yang membuat seseorang selalu ingin lebih dan lebih lagi. 

Kita harus menjatuhkan diri pada posisi sebagai ‘kaum papa, kaum tak berpunya’, sehingga dengan itu kita tidak lagi memantik rasa sayang yang berlebihan terhadap benda-benda duniawi yang kita miliki.

Ayo tunaikan zakatmu kawan! Jangan biarkan harta yang kita tumpuk akan menggerogoti dan melenyapkan rahmat Allah swt. Bukankah kita semua mengerti bahwa yang terpenting dari adanya harta bukan pada banyaknya, melainkan pada keberkahannya? 

Dan ingatkah kita bahwa ibadah pribadi (individual) seberapapun hebatnya tidak akan membuat Allah swt tercengang? Justru sebaliknya, Allah swt akan melimpahkan kasih-sayang-Nya sejauh kita juga menghamparkan kasih sayang kita untuk sesama. 

Sesaat lagi memasuki bulan Ramadhan, kawan. Jangan biarkan saudara kita, kawan kita, atau tetangga kita larut dalam kesedihan, ratap, dan hanya mampu menatap jajanan serta lauk-pauk yang dipajang di pinggir pasar, sementara kita begitu asyik menumpuk ragam menu makanan di atas meja sebagai santapan sahur dan berbuka. Jadikan zakatmu sebagai kebahagiaan dan senyum saudaramu!!


Share:

Thursday, September 12, 2019

Kiat-Kiat Menjadi Penulis Muda

 
     Berbicara menulis, tentu saja kita semua sudah tidak lagi asing akan hal ini, sebab dari kita menduduki sekolah dasar bahkan jauh sebelum itu kita sudah diajarkan untuk menulis. Bukankah seperti itu? Tidak dipungkiri bahwasanya setiap insan didunia adalah penulis sejati, sejatinya ia akan menulis kisah hidupnya sebagai catatan di akhirat kelak. Pada kesempatan kali ini saya tidak akan membahas tentang kepenulisan untuk catatan kita di akhirat, sebab hal itu bukanlah kewajiban saya. Disini saya akan berbagi sedikit pengalaman yang saya alami dalam dunia kepenulisan.

       Saya mengenal dunia tulis menulis sejak tahun 2015 lalu, ketika saya mengikuti sebuah program edukasi yang dimana saat itu tujuan kita adalah untuk bisa masuk perguruan tinggi negeri. Uniknya program ini, kita tidak hanya belajar tentang akademik saja, banyak sekali pelajaran-pelajaran yang diberikan salah satunya adalah soft skill. Salah satu dari soft skill ini adalah kegiatan jurnalistik. Dalam dunia jurnalistik saya diajarkan dengan metode ATM, apa itu ATM? ATM ini merupakan akronim dari Amati, Tiru, dan Modifikasi. Ketiga hal ini yang selalu saya gunakan. 
       Yang pertama adalah amati; sebaik-baiknya penulis ialah orang yang rajin mengamati, mengamati bukan hanya sekedar melihat, akan tetapi membaca dan memahami suatu keadaan. Lalu yang kedua adalah tiru, dalam hal ini kita diminta untuk meniru. Meniru bukan berarti kita harus mencontek ataupun plagiat, jangan sekali-kali kita biasakan memplagiat ataupun kalau dalam bahasa kerennya sekarang itu adalah kopi paste. Akan tetapi meniru yang saya maksud adalah melihat dari sudut pandang, gaya bahasa, gaya kepenulisan. Dan yang ketiga adalah modifikasi, dalam hal ini kita mengunakan imajinasi kita, saya yakin semua kita memiliki sudut pandang, iide maupun imajinasi tersendiri. Gunanya agar tulisan kita enak untuk dibaca dan ada nilai seninya tersendiri.

          Saya memulai kegiatan tulis menulis dari membaca, hal ini merupakan kewajiban bagi seorang penulis sebab dengan membaca kita akan mendapatkan ilmu, ide, dan juga inspirasi. Selain itu juga dengan membaca akan menambah wawasan juga pengetahuan kita. 
             Awal saya terjun dalam dunia kepenulisan, saya diberi tugas untuk menulis berita. Bagi orang yang sudah lihai dalam menulis berita tentu saja hal ini sangatlah mudah dan hal yang biasa, akan tetapi untuk orang yang awam seperti saya, apalagi saat itu budaya baca saya sangatlah kurang, bagi saya hal ini adalah tantangan terbesar. Dalam satu pekan saya diminta untuk menulis minimal lima berita dari kegiatan-kegiatan yang saya ikuti, baik diskusi, seminar, pelatihan, maupun pertemuan-pertemuan lainnya. Memulai awal yang baru memang sulit, namun dengan belajar yang sungguh-sungguh dan komitmen inshaAllah semua akan indah pada waktunya. Percayalah usaha dan proses kita tidak akan menghianati hasil.
        Dari sini saya banyak membaca berita, melihat berbagai macam gaya dan sudut pandang para jurnalis dalam menyampaikan informasi. Setelah hampir delapan bulan saya komitmen menulis berita, saya mencoba hijrah dan menulis artikel perdana saya yang waktu itu alhamdulillah bisa tembus dalam media online NU Lampung, artikel dengan judul “Media Sosial Revolusi Teknologi Informasi” dimuat pada 23 November 2016 lalu (http://www.nulampung.or.id/blog/media-sosial-revolusi-teknologi-informasi.html). Tidak hanya itu, masih banyak lagi artikel-artikel lain yang memuat tentang lingkungan hidup, kebudayaan, dan juga religius yang tembus di NU Lampung.

        Selain menulis artikel saya juga rajin menulis puisi, awal saya hijrah menulis puisi ketika saya mengikuti lomba online yang diadakan oleh beberapa penerbit online. Alhamdulillah sampai sudah ada beberapa buku hasil dari karya bersama dengan para penulis muda, diantaranya; antologi puisi, cepen, dan essay.
Menulis itu hobi saya, sarana dan media untuk berkarya, bahkan tidak hanya itu menulis bagi saya adalah ruang untuk saya mencurahkan segala keluh kesah, kata hati yang tak mampu saya utarakan, dan menulis adalah sebuah pengabdian untuk saya bagi anak dan cucu kelak.

        Untuk menjadi penulis itu tidaklah sulit, yang sulit adalah memulai dan komitmen untuk terus mencoba dan berproses. Tidak ada orang yang sukses dengan mudah, semua berproses mengikuti alur, jatuh bangun dan bangkit kembali. Kalau kata Tan Malaka “Terbentur, Terbentur, Terbentuk”, hal ini yang menjadi landasan saya untuk terus berkarya meskipun karya saya masih kurang layak untuk dibaca, ya setidaknya saya sudah berusaha untuk tidak menjiblak ataupun plagiat karya orang lain. Tidak ada karya yang jelek, yang jelek itu adalah plagiat karya orang lain. Bukankah begitu?

          Jadi intinya, menjadi penulis itu harus banyak membaca, tidak hanya membaca buku saja, baca berita, informasi-informasi, apalagi kita sekarang hidup pada zaman teknologi, medsos pun bisa kita jadikan media untuk membaca. Dengan membaca pengetahuan, wawasan kita kan bertambah dan tentunya akan menambah ide dan inspirasi bagi kita juga. Selain membaca kita juga harus banyak mendengar, diskusi, dan shering dengan teman, sahabat, kerabat, maupun keluarga baik yang berhubungan dengan pribadi maupun hal-hal yang sedang tren dalam kehidupan kita. 

       Perbanyak berlatih menulis meski hanya catatan harian dan mintalah kritik juga saran dari teman, sahabat, maupun keluarga. Dan sering-seringlah terluka, maka akan banyak muncul kata-kata.
Share:

Tuesday, June 11, 2019

Antara Mahram dan Muhrim

Antara Mahram & Muhrim | GMNU.Ist

Oleh : Tiyar Firdaus 
(Mahasiswa fak. Syariah & Rubath Al-Imam As-Syafi'i, Hadhramaut)

Dalam bahasa arab perbedaan harakat dapat mempengaruhi suatu makna kalimat seperti Al-birru (kebaikan), Al-barru(daratan) dan Al-burru(gandum). 

Seiring berjalanya waktu saya sering menemukan orang berkata "Muhrim" namun pada hakekatnya ia bermaksud "mahram", ataupun sebaliknya. Maka dari itu sedikit saya mengupas siapakah Muhrim itu dan siapakah mahram dalam pandangan islam.???

1. Muhrim 
Istilah Muhrim terpraktek dalam melaksanakan ibadah haji/ umrah, kegiatanya disebut Ihram. Dan orang yang sedang melaksanakan Ihram di sebut MUHRIM (orang yang ihram)

2. Mahram
 Terpraktek dalam hal Nikah, Mahram ialah wanita yang tidak boleh dinikahi (dalam permasalah nikah) atau wanita yang tidak dapat membatalkan wudhu  ketika bersentuhan dengan lawan jenisnya (dalam permasalah Thaharah/bersesuci), serta diperbolehkan menyentuhnya baik dengan alasan mushofahah (Bersalaman) dsb.

Lalu Siapakah orang yang tergolong Mahram dalam kacamata Syariat.?

Mahram terbagi menjadi 3 Aspek :
1. Mahram Sebab nasab
 ( تحرم نساء القرابة الا من دخلت تحت ولد العمومة او الخوولة) 
Seluruh Perempuan kerabat/saudara itu mahram terkecuali perempuan yang masuk dibawah mulai dari anaknya bibi/sepupu(dari ayah) dan anak bibi/sepupu (dari ibu) sampe kebawah.

Dalam garis besar ada 7 golongan :

  1. Ibu, nenek sampe keatas
  2. Anak perempuan, cucu sampe kebawah
  3. Saudara perempuan
  4. Anaknya saudara laki-laki sampe kebawah.
  5. Anaknya saudara perempuan sampai kebawah.
  6. Bibi (dari ayah) 
  7. Mulai dari anaknya bibi yaitu sepupu sampe kebawah tidaklah mahram jadi diperbolehkan untuk dinikahi
  8. Bibi (dari ibu)

Mulai dari anaknya bibi yaitu Sepupu sampe kebawah tidaklah mahram jadi diperbolehkan untuk dinikahi

2. Mahram sebab susuan (saudara susuan)
 ÙŠØ­Ø±Ù… من الرضاع ما يحرم من النسب
(Perempuan mahram sebab susuan itu adalah perempuan yang mahram sebab nasab)
Mahram sebab susuan itu sama dengan apa yang terdapat dalam mahram sebab nasab Sebagaimana yang telah di jelaskan diatas.

3. Mahram Sebab nikah
  1. Mertua
  2. Anak tiri jika sudah menggauli istrinya
  3. Ibu tiri
  4. Menantu
  5. Saudara perempuanya istri

Semuanya ini (mahram sebab nasab, nikah, susuan) dihukumi mahram yang bersifat selamanya. Terkecualisaudara perempuanya istri, maka jika istri meninggal atau di talak maka saudara perempuan istri menjadi halal untuk di nikahi.

Adapun pengecualian dari sekian perempuan Mahram (mahram sebab nasab, nikah, susuan) yang berarti sama sekali tidak di hukumi mahram, diperbolehkan untuk dinikahi ada 7 macam :
  1. Anak angkat
  2. Anak perempuanya bapak tiri/ibunya bapak tiri
  3. Anak perempuanya ibu tiri/ibunya ibu tiri
  4. Anak perempuanya menantu perempuan /ibunya menantu perempuan
  5. Anak perempuanya menantu laki-laki/ibunya menantu laki-laki
  6. Istrinya anak tiri
  7. Istrinya ayah tiri

WaAllahua'lam.
Semoga bermanfaat..

@Disari dari kitab Hasyiah Al-Bujairami (Fiqh Imam As-syafi'i)

#GenerasiMudaNU

Sumber : Grups WhatsApp Generasi Muda Nahdlatul Ulama (GMNU) Lampung
Share:

Wednesday, May 23, 2018

Peran Ibu Dalam Pendidikan Keluarga


Oleh : Disisi Saidi Fatah

    Pendidikan adalah sebuah proses pembentukan kwalitas dan karakter seseorang agar memiliki pandangan atau pengetahuan yang luas kedepan, agar mampu menggapai suatu cita-cita yang diharapkan mampu beradaptasi secara cepat dan tepat diberbagai lingkungan. Menurut UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003, pendidikan pada dasarnya ialah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan sudah berawal sejak kita masih dalam kandungan, sebagaimana dilakukan oleh kebanyakan orang dengan cara memainkan musik, membaca al-Qur'an, dan hal-hal positif lainnya, berbicara kepada sang calon bayi dengan harapan ia bisa mengajari si calon bayi sebelum bayi lahir.

Bagi sebagian orang, kehidupan sehari-hari lebih berarti dibandingkan pendidikan formal. Sebagaimana ungkapan Mark Twain, "Saya tidak pernah membiarkan sekolah mengganggu pendidikan saya". Hal itu sejalan dengan pengalam yang kita dapatkan dalam kehidupan sehari-hari. Bukankah kita jauh memiliki pengetahuan dan pandangan yang luas ketika kita merasakan langsung asam garam nya kehidupan? Hal inilah yang mampu membuat kita lebih cerdas, dan terdidik.

Berbicara pendidikan, tak lepas dari peran kedua orang tua. Pendidikan dan orang tua adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Sebab, di mana ada keluarga disitu ada pendidikan. Dan dimana ada orang tua disitu pula ada anak yang merupakan suatu kemestian dalam keluarga. Ketika ada orang tua yang ingin mendidik anaknya, maka pada waktu yang sama ada anak yang menghajatkan pendidikan dari orang tua. Dari sinilah muncullah istilah “pendidikan keluarga”, yang berarti, pendidikan yang berlangsung dalam keluarga yang dilaksanakan oleh orang tua sebagai tugas dan tanggung jawabnya dalam mendidik anak dalam keluarga.


Peran Ibu Dalam Pendidikan Keluarga

Seorang ibu adalah guru paling utama yang berperan dalam pembentukan karakter dan kwalitas seorang anak, sebab dari sejak lahir anak sudah banyak diajarkan olehnya. Mulai dari ia merangkak sampai ia bisa berjalan sebagaimana mestinya, belajar mengeja kata demi kata,  berbicara, menulis, membaca, sampai ia mengenali lingkungan sekitar.
Layaknya seorang guru, ibu memiliki peran penting dalam mendidik anak-anaknya mengenai pendidikan iman, moral, fisik dan jasmani, intelektual, psikologis, dan juga sosial. Melalui didikan seorang ibu, kepribadian seorang anak bisa terbentuk dengan baik karena ibu terus membimbingnya tanpa lelah sejak anak masih kecil. Ibu harus bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya karena anak akan mencontoh sikap dan perilaku orangtuanya.

Pemberdayaan peranan ibu dalam proses pendidikan anak akan mengantarkan anak bangsa yang berbudi luhur. Jayanya suatu bangsa tidak semata karena penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Lebih dari itu adalah karena karakter dan ciri khas bangsa yang berbudi pekerti mulia. Peranan ibu juga sangat penting dalam mendorong anak belajar di rumah. Mendampingi anak dalam menghadapi persoalan belajar dengan memberikan motivasi bagi mereka. Persoalan belajar yang dialami anak. Keluhan anak dalam menghadapi pekerjaan rumah (PR) dapat diatasi oleh ibu melalui motivasi yang diberikan kepada anak. Anak menjadi bergairah untuk belajar, tidak mudah pustus asa dalam menghadapi masalah belajar.

Begitu pula dalam rumah tangga, ibu paling mengerti karakter anak sehingga dapat memotivasi bagaimana anak dapat belajar dengan baik. Peran ibu tersebut akan memacu dan memicu agar anak berprestasi belajar di sekolah, tidak hanya prestasi bidang akdemik melainkan juga prestasi dalam kegiatan pengembangan diri. Seorang ibu juga telah memiliki kesabaran luar biasa dalam menghadapi anak. Itu telah terbukti sejak anak masih dalam kandungan. Ketika anak lahir kesabaran seorang ibu masih dituntut ketika anak masih bayi sampai menduduki bangku sekolah. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa,ibu  yang paling dekat dengan anak, paling mengerti dan paham persoalan anak secara mendalam. Posisi seorang ibu memang sangat berpengaruh terhadap proses pendidikan anak di lingkungan keluarga.

Share:

Thursday, April 19, 2018

Menebar Damai di Dunia Maya


Gambar oleh Kompasiana.com | Ist



Seperti yang sudah kita ketahui bahwa arus informasi saat ini sangat cepat dan mudah sekali, apalagi kita berada pada era digital dan internet dimana semua dapat kita raih hanya dengan sentuhan dan dalam genggaman tangan. Dalam hitungan jam bahkan hitungan menit saja kita bisa mendapatkan apa yang kita butuhkan, begitu banyak informasi yang bisa akses melalui smartphone dan gadget kita.
Namun seiring berkembangnya teknologi tentu saja makin banyak problema yang kita hadapi, salah satunya ialah informasi tidak benar atau berita bohong yang dalam bahasa keren nya ialah hoax.

Virus-virus hoax ini dapat menyerang siapa saja yang kurang paham akan teknologi atau yang sering disebut gaptek, individu yang kurang minat baca, dan masyarakat awam. Berita hoax tidak hanya terjadi dan dikomsumsi oleh masyarakat atau individu pengguna internet saja, namun pada zaman ketika dunia masih sangat sederhana dalam mengolah informasi, berita-berita palsu telah dijadikan sebagai propaganda oleh satu kelompok untuk melemahkan kelompok lainnya.
Kita bisa melihat sejarah kembali ketika masa perang dingin (cold war) dua blok, Amerika dan Uni Soviet paling gencar dalam memproduksi berita palsu untuk meyakinkan kepada suatu pihak namun memukul pihak lawan. Saat perang dunia ke II juga, kekalahan Nazi dari pasukan sekutu tidak terlepas dari adanya berita hoax yang disebarkan oleh agen sekutu, bahkan meletusnya perang dunia saja dipicu oleh informasi yang tidak terpercaya dan tidak akurat, tidak semata disebabkan oleh perebutan kekuasaan saja.

Di era internet, berita hoax dan isu-isu kebencian dengan sangat mudah di produksi dan sangat cepat menyebar dan diserap oleh masyarakat, hal ini disebabkan karena minimnya minat baca pada masyarakat kita. Dalam sejarah perkembangan media massa, kita pernah mengenal yellow journalism yakni media-media yang melakukan propaganda terhadap masyarakat terkait berita bohong, hal ini bukan disebabkan oleh kebenaran konten berita melainkan seberapa besar judul dalam pemberitaan yang dapat menarik minat pembaca, tidak heran dengan judul yang panjang seolah mewakili konten berita, apalagi minat baca bangsa kita masih berkurang sehingga judul berita tersebut ditafsirkan sebagai sesuatu yang benar.

Menurut data www.internetworldstats.com pada Maret 2008, pengguna internet diseluruh dunia mencapai angka 1.355.110.631 orang. Indonesia merupakan negara kelima setelah South Korea dengan pengguna internet terbanyak.
Salah satu tujuan dari penyebaran virus hoax dan isu kebencian ini yakni ingin memecah belah bangsa dan target utamanya adalah para pemuda, sebab pengguna internet lebih banyak didominasi oleh para pemuda terutama para pelajar dan mahasiswa. Di era digital ini kita harus lebih bijak dan cerdas dalam memilih dan memilah informasi baik di internet atau melalui media sosial (medsos).


Begitu banyak sekali kita jumpai informasi hoax dan isu kebencian yang disebar luaskan oleh kelompok radikal dan kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab untuk memecah belah bangsa .
Dalam penanganan kasus ini, tentu kita harus angkat senjata, berperang dan berjihad di dunia maya. Berjihad, bukan semata-mata berperang dijalan Allah, namun dalam memerangi berita bohong, ujaran kebencian dan konten-konten negatif yang tersebar luas di dunia maya ialah jihad juga. Kita harus lebih cerdas dan kreatif dalam menerima berbagai macam informasi yang tersebar.

Hal ini harus kita lawan dengan cara yang sama yakni dengan menyebarkan konten-konten positif yang bisa mengedukasi para pengguna internet dan medsos agar lebih baik lagi. Serta menyebarkan virus-virus baik di medsos, seperti mempublikasikan hal-hal yang dapat mempersatukan dan mempererat bangsa. Kita juga harus menjadi masyarakat yang jeli dan lihai dalam menerima informasi, dibaca, dikaji, dan dicermati terlebih dahulu jangan hanya membaca judulnya saja terus langsung disebarkan. Kita juga harus banyak membaca, sebab dengan membaca kita akan tahu mana hal yang baik dan yang buruk serta menambah wawasan dan ilmu pengetahuan kita.



------------------------------------------------------------------------
Penulis adalah alumni Hypnotherapy Karya Tunas Bangsa, Baturaja, Sumatera Selatan.
Penulis dapat dihubungi via Instagram @DisisikuDisisimu
Share:

Latest in Tech

Cendekia Al Azzam | Pecandu Sastra©2025. Powered by Blogger.

Segelas Kopi dan Jejak Langkah Murobbi

Ilustrasi didesain oleh AI-GMN Tak ada satu hari pun melintas tanpa gerimis bening di pipi Menetes pelan membasahi sajadah rindu yang sunyi ...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Blog Archive

Home - Recent Posts (show/hide)

Home - PageNavi (show/hide)

Random Posts

Recent Posts

Labels

Blog Archive