Cerita Cendekia adalah ruang ekspresi dan refleksi dari Cendekia Alazzam (Pecandu Sastra) — berisi rangkaian puisi, cerpen, cerbung, esai, opini, serta ulasan buku dan film. Melalui tulisan, aku bercerita tentang kehidupan, gagasan, dan imajinasi, dengan harapan bisa mengajak pembaca berpikir, merasa, dan merdeka.

Wednesday, June 11, 2025

Lentera dari Laut Mimpi

Lentera (ilustrasi) - Foto: Burak The Weekender/Pexels


Tahun itu - dua ribu dua puluh dua,

mimpi kembali menjemputku,

membawaku menyusuri batas antara sadar dan rindu.


Di tengah lautan tanpa pantai,

aku berendam,

bersama sosok yang dulu begitu dekat,

penuntun dalam gelapku,

penyuluh di kala aku kehilangan arah.


Ia tak bicara,

namun sorot matanya menyalakan tanya:

“Mengapa kau ingin pergi sebelum waktunya?”

Wajahnya tenang, namun ada desakan yang lembut -

seolah memintaku tetap tinggal

di tempat yang pernah menjadi ladang cahaya.


Baca juga: Menyibak Tabir Cinta, Dendam, dan Budaya Jawa Dalam Film Gowok


Kaos hitam membalut tubuhnya,

bergambar “ruang” berwarna hijau -

tempat kami pernah bertumbuh,

belajar, dan berbagi dengan penuh cinta.


Ruang itu dulu rumah.

Bukan bangunan,

tapi perjumpaan antara hati-hati yang ingin belajar,

antara semangat dan keikhlasan yang disulam bersama.


Namun dalam mimpi,

ia perlahan tenggelam,

tak membawa suara,

hanya tubuh dan lentera hijau itu yang ikut larut,

menghilang dari pandanganku

dengan isyarat yang belum sempat kuartikan.


Baca juga: Dari Semangkuk Mie Ayam, Hidup Dimulai Kembali 


Aku terbangun, tak tahu maknanya.

Lalu waktu berjalan,

dan jarak pun mulai memisahkan.

Ruang itu tetap berdiri,

tapi aku tak lagi di sana.

Tak lagi aktif menyemai,

tak lagi hadir dengan segenap nyala.


Barulah kini aku pahami,

bahwa mimpi itu bukan sekadar bunga malam.

Itu pesan,

itu isyarat dari Tuhan melalui wajah yang pernah menuntunku.

Bahwa suatu hari, aku akan pergi dari sana -

namun bukan berarti cahaya itu padam.


Aku mengerti sekarang:

ia tidak ingin aku lelah,

tidak ingin aku berhenti,

meski ruang tak lagi memayungi,

meski langkah harus menjauh dari tanah yang dulu subur.


Baca juga: Lebaran Tanpa Sekubal, Tetap Penuh Syukur 


Dan karena itu,

selagi Tuhan masih memberiku waras dan waktu,

aku berjanji:

aku akan terus berbagi,

akan terus menulis dan mencipta,

akan terus menjadi suara dari ilmu yang ia wariskan.


Agar kelak,

setiap huruf yang terbit dari jemariku,

setiap hikmah yang mengalir dari lidahku,

menjadi jembatan menuju surganya - meski ia tak lagi hadir di sampingku,

meski ruang hijau itu kini hanya tinggal kenang.


Sebab cinta sejati bukan sekadar pertemuan,

ia adalah keberlanjutan dari cahaya yang pernah dinyalakan.

Dan aku,

adalah saksi dari lentera itu.


Lampung, 5 Juni 2025


* Cendekia Alazzam (Pecandu Sastra)

Share:

Latest in Tech

Cendekia Al Azzam | Pecandu Sastra©2025. Powered by Blogger.

Pelayan Setia di Majelis Cahaya | Puisi

Ilustrasi dibuat oleh kecerdasan buatan (AI)/Gemini.    Sering kali, di sepertiga malam terakhir saat alam semesta tenggelam dalam kehening...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Blog Archive

Home - Recent Posts (show/hide)

Home - PageNavi (show/hide)

Random Posts

Recent Posts

Labels

Blog Archive