Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Puisi

Sorban Biru Langit

  Sebuah Puisi dari Disisi Saidi Fatah

Dari Sajadah Lusuh ke Riuh Tasyakuran: Doa di Hari Bahagiamu

Ilustrasi kado. Foto oleh Pexels. Ada perjalanan yang tak diukur dengan jarak, melainkan dengan kehangatan yang ditujunya. Kemarin, adalah salah satu perjalanan itu. Bersama Mama, aku menyusuri jalan menuju rumah seorang anak laki-laki yang namanya telah terukir sebagai adik dan saudara di hatiku: Kevin. Udara siang di Lampung terasa berbeda, lebih ringan, seolah ikut merayakan hari bahagia yang menanti di depan.

Puisi: Detik yang Menyimpan Wajahmu

  Aku dan sepupuku, di suatu hari di sudut rumah sakit. (Dokpri). Di bawah kanopi langit seng yang berkarat senja, kau datang - serupa angin kecil yang menyingkap sunyi, ringan seperti daun gugur yang tak tahu ia indah, dan senyummu... ah, senyummu menusuk pelan seperti cahaya pagi yang menelusup celah dada, menggetarkan sesuatu yang tak sempat kupanggil dengan nama.

Di Bawah Bulan yang Tak Berdaya

Bulan menggantung di langit malam, memantulkan cahaya sendu di antara rumah dan pepohonan-seperti rindu yang diam-diam menunggu pulang. (Foto: Dokpri) Di bawah bulan yang tak bertanya, adalah kalimat-kalimat yang kurangkai dalam larut malam yang tak kunjung padam. Sendiri, menyepi di bawah cahaya rembulan yang seakan redup. Seperti hatiku tanpa hadirmu.

Puisi: Hari Pertama

  Anak-anak SD berseragam rapi di hari pertama sekolah, wajah polos penuh harap. (Foto oleh HeraWati.) Oleh: Cendekia Al Azzam 

Kepakan Sayap Garuda

Supporter Timnas Indonesia kompak kenakan baju Merah dan Putih saat dukung Garuda berlaga menuju Piala Dunia. Foto oleh Timnas Indonesia media.  - untuk Garuda di Kualifikasi Piala Dunia 2026 Langit malam di Nusantara tak pernah gelap sepenuhnya, karena sorak dan doa rakyat terbang tinggi bersama elang merah yang sedang mengepak sayap di kancah dunia.

Rindu di Antara Mawar

Nyekar makam. Foto Dokpri. Semerbak mawar di atas pusaramu Masih harum, meski musim telah berganti Kukirimkan rindu lewat angin yang pelan berbisik Menemani diam tempat peristirahatanmu kini

Lentera dari Laut Mimpi

Lentera (ilustrasi) - Foto: Burak The Weekender/Pexels Tahun itu - dua ribu dua puluh dua, mimpi kembali menjemputku, membawaku menyusuri batas antara sadar dan rindu.

Pertemuan yang Tak Biasa

Ilustrasi - pertemuan dua insan di suatu mushola. (Sumber: AI) Di suatu mushola kecil di sudut hari, Langkahku berat, hati terasa enggan menepi. Tempat asing, dinding-dinding sunyi, Tapi tanggung jawab menarikku berdiri. Kupikir hanya akan sholat lalu pergi, Namun takdir menyusun pertemuan sunyi. Seorang anak kecil - Dengan mata teduh dan senyum yang tak biasa mengalir.

Aku Lelakimu Setia Menunggumu: Puisi-Puisi yang Menyembuhkan Luka dan Menemani Cinta

  Buku Aku Lelakimu Setia Menunggumu karya Maman Suherman (Foto Cendekia Alazzam)         H alo pembaca, kembali lagi dalam segment ulas buku. Sudah lama sekali rasanya nggak mengulas buku, karena kesibukan yang membuatku terlalu jauh memberi jarak dengan aktivitas membaca. Akhirnya, hari ini aku bisa kembali mengulas buku yang beberapa waktu lalu menemani hariku.

Sajak Demokrasi Untuk Sahabatku

Ilustrasi Pemilu. Freepik. Ist Oleh: Disisi Saidi Fatah Ada yang Datang Tanpa Diundang

Yang Sakit Adalah Kenangan

  Senja. Dokpri. 2022 Yang sakit adalah kenangan, merupakan rangkaian puisi-puisi Pecandu Sastra atau Disisi Saidi Fatah. Puisi-puisi ini ditulis di Lampung usai perjalanan panjang di Jawa Barat. 

Syair Rindu di Tengah Musim Hujan

Hujan malam hari. Foto oleh Pecandu Sastra©2025. Ist Rindu Sendu

Sebuah Persembahan Untuk Vinza

Gambar hanya pemanis, lagi nggak mood nyari gambar lain. | Diambil lewat smartphone pribadi di suatu malam di bulan Januari. Vinza

Layang-Layang dan Terima Kasih Waktu

  Sumber foto: pxhere Layang-Layang Minggu pagi aku ikut Ayah pergi ke pasar Di sana aku dibelikan sebuah layang-layang Sore harinya kami pergi ke tanah lapangan Menerbangkan layang-layang Ayah bilang, Untuk terbang, layang-layang butuh tali yang panjang Butuh angin menemaninya melayang di udara Butuh orang untuk memegangnya agar bisa diterbangkan Dan harus dikendalikan agar terbangnya teratur Baca juga: Titip Rindu Seperti kita, Untuk mencapai sesuatu, butuh waktu dan proses yang panjang Butuh doa, dorongan, dan ridho dari orang tua Harus berpegang teguh kepada Tuhan Yang Maha Esa Dan harus bisa mengendalikan diri agar tidak jatuh ke jalan yang salah Lampung 2024 Terima Kasih Waktu Terima kasih waktu Telah hadir dalam hidupku dan menjadi bagian cerita dalam keluargaku Baca juga: Anak Itu Arfan Namanya! Aku senang, Besar dan tumbuh bersama ayah dan bunda Di kelilingi cinta juga kasih sayang dan tak pernah merasa kurang Saban hari Pelukan kehangatan selalu diberikan Selalu terjaga o...

Titip Rindu

  Foto Senja. Ist Kenang Jika mengingat perjumpaan kita rasanya lucu, apalagi setelah tahu jalur kita yang berbeda Aku yang merasa salah ucap pada temu pertama, - sedikit menjaga, khawatir jika semakin berlebihan Tapi, seiring berjalannya waktu ditambah jeda waktu kerja yang tak lagi ada, membuat kita semakin dekat dan akrab Dan, di sana aku menemukan frekuensi yang sama antara kita Rasa itu tumbuh seiring kita sering berjalan bersama Hingga jeda menyapa dan memisahkan kita dengan jarak dan waktu yang entah kapan kembali menyatukan Lampung, 31072024 Baca: Anak itu Arfan Namanya! Titip Rindu Angin Ku titipkan rindu ini padanya Bisikkan kepadanya bahwa aku masih menyimpan kenangan Sampaikan, jika harapan dan doa masih senantiasa aku lantunkan dalam tiap saat tangan menengadah pada-Nya Lampung, 31072024 Baca: Di Penghujung Mei 

Anak itu Arfan Namanya!

  Menjelang maghrib ia sudah berada di masjid Berpakaian lengkap dengan peci hitam di kepalanya Senyumnya merekah, manis dipandang  Arfan, itulah namanya saat kutanya Sekolah di taman kanak-kanak Usianya lima tahun Wajahnya periang, kalau ngomong lancar dan jelas Baca: Kisah Burung Pipit yang Bertasbih Setiap Hari, Lalu Terdiam Waktu kutanya ia, mengapa rajin pergi ke masjid Arfan bilang, supaya Allah sayang Agar apa yang kita minta sama Allah, lekas diberikan "Begitu kata Bunda," ujar Arfan Allah yang sudah memberikan kedua tangan, mata, telinga, dan anggota badan semua Allah juga yang sudah kasih Ayah dan Bunda rezeki Jadi, kita harus rajin ibadah Demikian tutur anak kecil itu Bogor, 2023 Baca: Di Penghujung Mei  

Di Penghujung Mei

Foto Wallpaper Better Di penghujung Mei merupakan rangkaian puisi-puisi Pecandu Sastra atau Disisi Saidi Fatah. Masih sama pada puisi sebelumnya, membahas perihal duka, luka, dan air mata  Bait-Bait Puisi Menjadikanmu aktor utama dalam setiap bait puisi Adalah kebiasaan yang sedang ku alami Berlama-lama bermain dengan kata, rima, dan nada, mengajakku menari dengan bayang semu Melukiskan indah senyum pada bibir mungil mu Senyum yang kerap menjadi kobar semangat bagiku Binar bening tatap matamu Menjadikanku untuk selalu menetap dan berpaling dari yang lain Teduh wajahmu adalah bagian bahagia yang ku punya  Luka dalam setiap baitku Adalah luka yang tak mampu ku bagi denganmu  Luka sebab rindu untuk bersua, yang terpisahkan oleh waktunya kita Luka untuk saling bertatap, yang terpisahkan oleh  jarak Setiap bait tertulis Aku berusaha untuk tidak menghakimi mu Sebab aku tahu, setiap kata terucap adalah doa Yang akan menjadi nyata pada masanya  Bumi Ramik Ragom, 2...

Menjelang Akhir September

  Puisi by Pecandu Sastra (IG >>> K L I K ! <<< )  Waktu-waktu menjelang akhir September Rintik rindu mulai mulai membasahi kalbu Ada kau di sana, melambaikan tangan sembari tersenyum memandang dengan amat dalam Ada rindu, ada candu, dan ada kenangan kita Setahun sudah waktu berputar Sejak kepergian mu hari itu Berbagai macam kerinduan mendominasi diksi demi diksi Setiap kata yang terukir dari hati

Puisi : Sajak 'Demokrasi' untuk Sahabatku

  Sajak 'Demokrasi' untuk Sahabatku