Cerita Cendekia adalah ruang ekspresi dan refleksi dari Cendekia Alazzam (Pecandu Sastra) — berisi rangkaian puisi, cerpen, cerbung, esai, opini, serta ulasan buku dan film. Melalui tulisan, aku bercerita tentang kehidupan, gagasan, dan imajinasi, dengan harapan bisa mengajak pembaca berpikir, merasa, dan merdeka.

Wednesday, June 11, 2025

Dari Semangkuk Mie Ayam, Hidup Dimulai Kembali

Foto Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna. (Sumber: arumshelf/ig)

 

 "Saat pertama kali membaca judul buku di atas, hal apa yang terlintas di benak kalian? Semangkuk Mie Ayam dan kisah cinta, atau semacam kisah petualangan dalam dunia kuliner? Ya, itulah yang ada di pikiranku saat pertama kali membaca judul buku ini. Unik, menarik, dan membuat penasaran. Kalau kalian bagaimana?"


Apa yang tersisa dalam hidup ketika kita merasa tak berarti? Tidak ada pencapaian. Tidak ada teman. Tidak ada yang benar-benar peduli. Bahkan orang tua pun hanya menunggu transfer, bukan kabar. Di titik itulah, Ale - tokoh utama dalam novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna - memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.


Tapi, sebelum benar-benar pergi, ia hanya punya satu permintaan sederhana: makan mie ayam langganannya. Satu hal kecil yang ingin ia nikmati sebagai perpisahan. Namun takdir berkata lain. Warung mie ayam itu tutup. Terdengar remeh? Justru di situlah awal mula kehidupan Ale berubah.


Ternyata, mie ayam yang tak sempat dimakan itu menjadi titik balik. Gara-gara gagal mati dengan "tenang", Ale justru dipaksa hidup. Dipaksa melihat dunia dari kacamata yang selama ini tak pernah ia sentuh: dunia para terbuang, dunia yang sering dipandang hina - penjahat, pemulung, kupu-kupu malam, tukang layangan, bahkan office boy dan tuna netra.


Baca juga: Lebaran Tanpa Sekubal, Tetap Penuh Syukur


Dalam dua minggu yang penuh kejutan, Ale belajar satu hal yang begitu menampar: yang membuat kita bertahan bukan harapan, tapi penerimaan. Karena harapan bisa pupus, tapi penerimaan adalah tempat hati bersandar.


Brian Khrisna menulis cerita ini bukan hanya untuk menghibur, tapi menyadarkan. Tentang bagaimana banyak dari kita hidup dengan luka yang tak pernah sembuh, lalu kita pikir: hidup ini tak layak. Padahal, mungkin kita hanya belum bertemu dengan orang yang mau melihat kita apa adanya. Yang mau memanusiakan kita tanpa syarat. Sama seperti Ale yang akhirnya merasa paling "dimanusiakan" di tempat paling tidak manusiawi: penjara.


Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati bukan hanya cerita tentang kematian yang tertunda, tapi tentang hidup yang akhirnya dimulai. Tentang manusia yang hanya ingin dianggap ada, dimengerti, dan dihargai. Tentang kita semua.


Baca juga: Pertemuan yang Tak Biasa 


Tak perlu merasa relate untuk bisa belajar dari cerita ini. Karena nilai-nilainya universal. Tentang luka masa kecil. Tentang beban yang tak terlihat. Tentang sudut pandang yang sempit, yang hanya bisa dilebarkan jika kita mau melangkah lebih jauh - dan membuka mata lebih lebar.


Buku ini bukan hanya sekadar bacaan. Ia seperti teman yang duduk di samping kita saat hari paling gelap. Menepuk pelan bahu kita sambil berkata, "Kamu nggak sendirian. Hidup ini masih bisa diubah. Bahkan oleh hal kecil seperti seporsi mie ayam."


Jadi kalau kamu merasa lelah, ingin menyerah, atau sekadar butuh teman yang mengerti, bacalah ini.


Baca juga: Ebit G Ade dan Rasa yang Tak Lagi Sama 


Karena mungkin, kamu tidak butuh motivasi muluk-muluk. Mungkin kamu hanya butuh merasa... diterima.


Identitas Buku 

Judul: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati 

Penulis: Brian Khrisna 

Penerbit: Baca

Genre: 

Jumlah Halaman: 

Tahun Terbit: 

Share:

Latest in Tech

Cendekia Al Azzam | Pecandu Sastra©2025. Powered by Blogger.

Pelayan Setia di Majelis Cahaya | Puisi

Ilustrasi dibuat oleh kecerdasan buatan (AI)/Gemini.    Sering kali, di sepertiga malam terakhir saat alam semesta tenggelam dalam kehening...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Blog Archive

Home - Recent Posts (show/hide)

Home - PageNavi (show/hide)

Random Posts

Recent Posts

Labels

Blog Archive