![]() |
| Ilustrasi (Sumber: Pexels/Lil Artsy) |
Kadang, satu pujian bisa menjadi pemantik perubahan besar dalam hidup seseorang. Itulah yang saya alami ketika tanpa sengaja menemukan kecintaan mendalam pada dunia menulis - berawal dari satu komentar membangun dari seorang jurnalis senior.
Kala itu, saya mengikuti sebuah kegiatan pengembangan diri. Di salah satu sesi, diadakan kelas menulis yang dipandu oleh Papa - begitu saya memanggil beliau - seorang jurnalis di media besar yang dulunya saya panggil Pak dan telah banyak meliput kisah-kisah kemanusiaan. Kami diberi tugas menulis. Tak disangka, tulisan saya mendapat pujian langsung darinya. Ia bilang, "Kamu punya bakat, tulisannya hidup. Ini harus dikembangkan." Kalimat itu mungkin sederhana, tapi bagi saya, itulah titik awal perjalanan panjang menuju dunia tulis-menulis.
Sejak saat itu, saya makin dekat dengan beliau, dan mulai ikut turun ke lapangan dalam kegiatan sosial dan misi kemanusiaan. Sembari terjun ke masyarakat, saya belajar menulis liputan, membingkai cerita, dan lebih memahami makna di balik sebuah peristiwa. Menulis pun tidak lagi terasa seperti tugas - melainkan jadi terapi jiwa. Aktivitas ini bukan cuma soal menyusun kata, tapi juga menyembuhkan. Menulis membuat saya lebih tenang, lebih fokus, dan lebih jujur pada diri sendiri.
Menulis Sebagai Terapi Bagi Otak dan Hati
Secara ilmiah, menulis punya banyak manfaat. Ia membantu kita memproses emosi, mengurai pikiran kusut, dan memperjelas arah tujuan hidup. Menulis jurnal atau refleksi harian, misalnya, terbukti mampu menurunkan tingkat stres dan meningkatkan kualitas tidur. Bagi otak, aktivitas ini merangsang daya ingat, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis. Sementara bagi hati, menulis bisa menjadi tempat pelarian yang sehat, wadah untuk meluapkan keresahan, dan cara untuk berdamai dengan masa lalu.
Bagi saya pribadi, menulis adalah ruang paling jujur tempat saya berbicara dengan diri sendiri. Di sana saya bisa menjadi siapa saja, menceritakan apa pun, tanpa takut dihakimi. Dan saat orang lain membaca tulisan saya dan merasa terhubung, di situlah kebahagiaan itu berlipat ganda.
Dari Hobi Jadi Pengalaman dan Cuan
Baca juga: Peluk yang Tak Terencana - Cerbung
Seiring waktu, saya mulai mengenal lebih banyak media, dari yang lokal sampai nasional. Saya mengikuti berbagai lomba menulis, beberapa di antaranya membuahkan kemenangan. Saya juga berkesempatan mengikuti kelas-kelas menulis secara gratis - semuanya menjadi wadah belajar dan tempat bertumbuh bersama orang-orang yang punya semangat serupa.
Dari sekadar hobi, menulis mulai memberi manfaat finansial juga. Saya sempat direkrut menjadi calon kontributor di salah satu media online milik salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia. Meski hanya bertahan beberapa bulan saja karena harus membagi waktu dengan pekerjaan sebagai buruh pabrik - saya tetap bangga sebab karya saya pernah dimuat di sana. Itu adalah salah satu impian yang diam-diam pernah saya tulis dalam catatan pribadi.
Dan yang lebih membahagiakan lagi, tulisan-tulisan tersebut tidak hanya menghiasi medianya saja, saya pun mendapatkan award bulanan. Meskipun secara nominal tidak seberapa dibandingkan gaji tetap di pabrik, penghasilan kecil dari menulis itu cukup untuk mencoret biaya kuota internet atau sekadar menambah uang jajan. Namun bagi saya, nilai utamanya bukan pada uang, tapi pada kebahagiaan. Bahwa saya bisa menyalurkan hobi, mengasah potensi, dan ikut membantu orang lain lewat tulisan - itu sudah sangat berarti.
Lebih dari itu, dari kegemaran menulis yang saya lakoni, saya mendapatkan beasiswa secara full di kampus tempat saya mengenyam pendidikan. Kala itu saya berada di semester tiga, pada suatu kesempatan saya diminta salah satu penerbit indie untuk berbagi pengalaman menulis melalui seminar online (webinar) di grub WhatsApp, karena niatnya berbagi, jadi saya terima tawaran tersebut.
Baca juga: Gaji Pertama dan Pelajaran yang Tak Tertulis
Salah satu peserta webinar malam itu adalah staff kampus yang cukup dekat kenal dengan saya. Rupanya beliau ikut mendaftar usai melihat pamflet yang saya bagikan di status WhatsApp. Dua hari setelahnya saya dipanggil ke ruang ketua yayasan, dan ternyata beliau sudah bercerita mengenai diri saya dan kelebihan yang saya miliki.
Singkat cerita saya diminta untuk membantu kampus, menghidupkan kembali website kampus. Benefitnya saya diberikan beasiswa full dari yayasan. Tidak hanya itu, setiap kali saya liputan ketika kampus mengadakan acara, saya diberi uang transport yang lumayan dan juga dapat makan gratis.
Sekian dulu ya berbagi kisahnya. Semoga bermanfaat dan menginspirasi. Untuk kamu yang sedang mencari arah, mungkin kamu sedang mencari passion, atau merasa hobi yang kamu sukai tidak menghasilkan apa-apa. Tapi percayalah, segala hal besar selalu bermula dari sesuatu yang sederhana. Terkadang, hanya perlu satu orang yang percaya padamu, atau satu pujian yang menguatkan untuk memulai.
Hobi bisa jadi pintu masuk untuk mengenal diri sendiri, membangun relasi, dan - ya, bahkan mendatangkan cuan. Tapi lebih dari itu, menjalani hobi yang bermakna akan memberikan rasa puas yang tidak bisa diukur dengan angka. Dan siapa tahu, dari hal kecil yang kamu cintai itu, jalan hidupmu akan terbuka lebar.
Baca juga: Warisan Cahaya dan Janji Setia
Untuk diriku, teruslah menulis. Teruslah mencipta. Teruslah berbagi. Karena bisa jadi, tulisanmu adalah jendela terang bagi orang lain - dan cahaya penyembuh bagi dirimu sendiri.
Nb: Tulisan ini pertama kali ditayangkan di Kompasiana, ditulis untuk keperluan lomba (maraton challenge pada bulan Juni lalu), dan telah dibaca lebih dari 600 kali.

Comments
Post a Comment