![]() |
| Gaji pertama dan pelajaran darinya. (Sumber foto: freepik). |
"Gaji pertama bukan sekadar angka, tapi titik awal perjalanan belajar dewasa."
— Anonim
Ngomongin soal gaji pertama, sebagian orang mungkin langsung teringat momen haru: transferan pertama masuk, deg-degan, lalu buru-buru buka aplikasi mobile banking. Tapi buat aku, cerita soal penghasilan sebenarnya sudah dimulai sejak masih duduk di bangku SMA. Bukan gaji resmi, sih - lebih ke cara-cara kreatif cari cuan dari keahlian yang kupunya.
Waktu itu, punya akses ke komputer saja sudah jadi keunggulan tersendiri. HP Android baru mulai merambah, tapi belum semua orang punya. Blackberry masih eksis, meski popularitasnya mulai pudar. Aku tinggal bersama saudara dari pihak ibu yang punya fasilitas komputer di rumah. Di saat tugas sekolah mulai banyak yang harus diketik, teman-temanku banyak yang bingung, karena mereka nggak punya komputer atau waktu untuk ke warnet.
Melihat peluang itu, aku menawarkan jasa ngetik tugas. Mulai dari makalah sampai laporan praktikum. Lumayan, pendapatannya bisa lebih dari uang jajan yang biasanya dikasih. Rasanya bangga, bisa beli paket internet sendiri, jajan tanpa harus minta lagi. Tapi meski begitu, aku sadar, itu belum bisa disebut sebagai “gaji pertama”. Itu lebih ke usaha mandiri, hasil inisiatif, bukan pekerjaan tetap.
Gaji pertama dalam arti sebenarnya datang setelah aku lulus SMA. Saat itu, aku aktif di kegiatan sosial lewat komunitas pemuda, salah satunya ialah Gerakan Pemuda Ansor di lingkungan tempat tinggalku di Lampung. Nggak nyangka, dari aktivitas itu, aku direkomendasikan oleh ketua Ansor setempat untuk ikut semacam program duta atau brand ambassador salah satu lembaga negara di tingkat kabupaten. Jujur, aku nggak terlalu ngerti waktu itu. Yang aku tahu, ada kesempatan buat ikut kegiatan yang aku suka: turun ke lapangan, bersosialisasi, dan ngobrol sama masyarakat.
Baca juga: Air, Kenyamanan, dan Realita Tinggal di Perumahan
Ternyata, kami dijadikan semacam ikon lembaga tersebut. Tugasnya simpel: bantu sosialisasi program-program mereka, ikut acara, dan jadi perpanjangan tangan ke masyarakat. Aku pikir ini cuma semacam partisipasi sukarela, mungkin dikasih uang transport sesekali. Tapi ternyata, kami digaji. Rutin. Tiap bulan. Dan nominalnya? Wah, lebih dari cukup untuk ukuran anak muda yang baru lulus SMA dan belum kuliah.
Waktu transferan pertama masuk, aku sempat bengong. Ini beneran? Aku nggak merasa kerja capek-capek, tapi dapat bayaran sebesar ini? Senang banget, tentu. Rasanya kayak dapat jackpot. Dan seperti banyak anak muda lainnya, euforia itu bikin aku agak “lupa daratan”.
Gajian pertama langsung habis dalam seminggu. Beli ini, beli itu. Jajan makanan kekinian, minuman hits, barang-barang yang selama ini cuma ada di wish list. Nggak ada tabungan, nggak ada alokasi untuk hal penting, bahkan untuk pegangan perjalanan kerja selama satu bulan kedepan pun nggak terpikirkan lagi. Setelah uangnya habis, baru deh nyadar, “Oh iya, hidup nggak berhenti di gaji pertama.”
Baca juga: "Review Film Home Sweet Loan: Asa Anak Muda Menuju Rumah Impian"
Dari situ aku belajar satu hal penting: euforia boleh, tapi kendali tetap harus di tangan kita. Gaji pertama memang momen yang membahagiakan, tapi juga bisa jadi ujian kedewasaan. Kita diuji, apakah bisa bijak dengan uang yang kita hasilkan sendiri, atau justru terjebak dalam pola konsumtif yang nggak kita sadari.
Pengalaman itu jadi pijakan awal buatku untuk mulai lebih sadar soal keuangan. Mulai belajar atur pengeluaran, bedain mana kebutuhan dan mana keinginan, bahkan mikir buat nabung dan sedekah. Nggak langsung jadi ahli, tapi setidaknya aku tahu: gaji bukan cuma soal angka di rekening, tapi tanggung jawab yang ikut menyertainya.
Buat teman-teman yang sebentar lagi akan terima gaji pertama, nikmati momennya. Rayakan, nggak apa-apa. Tapi jangan lupa, sisihkan sedikit untuk masa depan. Karena di balik rasa senang itu, ada pelajaran hidup yang pelan-pelan akan membentuk kita jadi pribadi yang lebih matang.
"Do not save what is left after spending, but spend what is left after saving." - “Jangan menabung dari sisa belanja, tapi belanjakan sisa dari menabung."
— Warren Buffett
"Orang bijak tidak hidup dari penghasilannya saja, tapi dari cara ia mengelolanya."
— Anonim
Baca juga: Hujan di Mataku [Cerbung] PTS

Comments
Post a Comment