![]() |
| Ilustrasi oleh AI. |
Oleh: Cendekia Alazzam
"Terima kasih ya sudah bersedia sabar menunggu kami update dan setia bersama cerbung kami. Alhamdulillah, memasuki bab lima, semoga makin asyik ya. Untuk yang ketinggalan cerita di episode sebelumnya, silakan baca di sini ya!"
Malam itu hujan mengguyur pekarangan dengan tenang, seperti denting kenangan yang pelan-pelan meresap ke dalam tubuh. Rumah kecil itu sunyi. Anak-anak sudah terlelap di kamar masing-masing. Suwantra tak pulang - lembur, katanya. Hanya Tinara dan Faiz yang masih terjaga.
Di ruang tengah, televisi menyala dengan volume rendah. Film keluarga yang diputar nyaris tak menarik perhatian. Tinara duduk di ujung sofa, selimut menutupi kakinya. Faiz duduk di karpet, menyender ke sisi sofa, sambil menyesap teh hangat buatan Tinara.
"Kamu nggak tidur, Faiz?" suara Tinara lembut, nyaris tenggelam oleh suara hujan di luar sana.
"Belum, Bu. Lagi nggak ngantuk. Lagian, enak juga begini, tenang," jawabnya sambil tersenyum kecil.
Tinara menarik napas dalam. Ada jeda panjang sebelum ia bicara lagi. "Boleh Ibu curhat sedikit malam ini?"
Faiz menoleh. "Tentu, Bu. Saya dengerin."
Mata Tinara terlihat basah meski ia berusaha tetap tersenyum. "Kadang... aku ngerasa aneh ya, Faiz. Hidup ini. Rumah ini. Aku punya suami, punya anak-anak yang sehat. Tapi tetap aja kadang terasa... kosong."
Faiz tak langsung menjawab. Ia hanya mendekat, duduk lebih dekat ke sofa, menatap Tinara tanpa menghakimi.
"Aku dan Suwantra udah lama nggak bicara dari hati ke hati. Nggak ada sentuhan. Nggak ada pelukan. Bahkan saat tidur pun, kami seperti dua pulau terpisah."
Tinara mengusap air mata yang mulai jatuh. "Kadang aku pikir, mungkin aku yang salah. Mungkin aku yang udah nggak menarik lagi. Tapi aku juga manusia, Faiz. Aku butuh diperhatikan... didengar."
Faiz merasa dadanya sesak. Ia tak menyangka curhat Tinara akan sejujur ini. Tangannya kaku, tapi hatinya tergerak.
"Buu... Ibu bukan nggak menarik. Ibu itu kuat. Aku bisa lihat itu. Tapi kadang orang yang kuat juga butuh sandaran, kan?"
Tinara menatap Faiz dengan mata merah. "Faiz... boleh aku minta pelukan? Bukan karena aku lemah. Tapi karena aku butuh tahu... aku masih berharga."
Faiz terpaku. Tapi lalu ia mengangguk pelan dan membuka kedua lengannya. Tanpa banyak kata, Tinara berpindah duduk ke lantai, tepat di depan Faiz, dan menyandarkan tubuhnya ke pelukan pemuda itu. Mereka hanya diam. Hujan di luar seolah ikut menangis bersama Tinara.
Detik-detik itu terasa panjang. Pelukan itu hangat, bukan karena birahi atau niat terselubung, tapi karena luka yang terlalu lama disimpan akhirnya menemukan tempat untuk diredam.
"Kamu anak baik, Faiz. Terima kasih udah mau dengerin Aku. Terima kasih udah ada di rumah ini," bisik Tinara, hampir tak terdengar.
Faiz hanya mengangguk, merasa kaku, tapi juga nyaman. Pelukan itu bukan sesuatu yang ia pahami sepenuhnya, tapi ia tahu satu hal: malam ini, seseorang akhirnya merasa sedikit lebih hidup.
Setelah beberapa menit, Tinara melepas pelukannya. Ia duduk bersandar ke sofa, tersenyum samar.
"Maaf ya. Aku terlalu jujur. Mungkin kamu bingung."
Faiz menggeleng. "Nggak, Bu. Aku nggak bingung. Aku... senang bisa jadi tempat Ibu cerita. Kadang, aku juga merasa sendiri. Tapi malam ini aku nggak merasa sendiri lagi."
Tinara menatap Faiz lebih lama. Lalu, mereka kembali diam, hanya ditemani suara hujan dan napas yang menghangatkan ruang.
Dari luar, rumah itu tampak seperti biasa. Tapi di dalamnya, dua hati yang berbeda usia dan dunia telah saling menyentuh, meski hanya sebatas pelukan. Dan kadang, dari pelukan itulah sebuah arah baru mulai ditemukan.
Tak ada yang tahu ke mana perasaan-perasaan ini akan berlabuh. Tapi malam itu, rumah yang dingin jadi lebih hangat. Dan sunyi yang selama ini menggema, perlahan digantikan dengan bisik-bisik yang tak diucapkan.
Dan begitulah, curhat tengah malam itu menjadi awal dari sesuatu yang tak pernah direncanakan. Atau mungkin... tak bisa dihentikan.
[Bersambung...]
Baca juga: Cinta, Pengabdian, dan Jejak yang Abadi [Cerbung]

Comments
Post a Comment