![]() |
| Suasana shalat idul adha di Cicadas, Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Rabu, 27 Mei 2026. (Dokpri/Disisi) |
Bagi seorang anak rantau, hari raya selalu punya dua sisi. Di satu sisi ada rindu yang membuncah pada kampung halaman, di sisi lain ada ketangguhan yang dipaksa tegak di tanah orang. Sejak SMA, aku sudah terbiasa jauh dari orang tua. Angin malam perantauan bukan hal baru bagiku. Namun, tahun ini berbeda. Ini adalah tempat pertamaku beneran merantau jauh, menyeberangi pulau, mengadu nasib di tanah Jawa.
Jauh sebelum hari raya Idul Adha tiba, hatiku sebenarnya dipenuhi rasa syukur yang tak terhingga. Kenapa? Karena setelah 2,7 tahun terpisah jarak, setelah ratusan sujud yang kuisi dengan nama beliau, Tuhan akhirnya mengabulkan doaku. Aku diberi kesempatan untuk kembali bersua, mengabdi, dan mengawal dakwah sosok guru pembuka jiwaku - Murobbi-ku, Abah Ustadz Mahfudz.
Pikiranku saat itu begitu sederhana dan bahagia. “Tenang,” bisikku pada diri sendiri. Meskipun lebaran kali ini aku jauh dari Mama dan keluarga kandung, aku tidak akan kesepian. Aku punya Abah. Sosok yang sudah seperti orang tua sendiri, tempatku menumpahkan segala keluh kesah. Aku sudah membayangkan, hari raya nanti aku akan sowan ke rumah beliau, duduk mendengarkan nasihatnya, atau sekadar menatap wajah teduhnya. Seenggaknya, hatiku gak bakal merasa sendiri di pulau seberang ini.
Namun, manusia hanya bisa merajut rencana, sementara ketetapan-Nya melesat tak terbendung. Dua pekan sebelum Idul Adha, Abah berpulang ke Rahmatullah. Sosok yang kuperjuangkan dalam doa di setiap sujudku, kini benar-benar dipisahkan secara raga untuk selamanya. Dan duniaku, seketika runtuh.
Malam Takbiran dan Sunyi yang Horor
Ketika azan maghrib berlalu dan gema takbir pertama mulai berkumandang dari pengeras suara masjid, dadaku bergetar hebat. Rasa sesak itu datang seperti ombak besar yang langsung menenggelamkanku. Air mata jatuh tanpa bisa kucegah.
Kamar kostku malam itu mendadak terasa begitu asing, sunyi, dan jauh lebih horor dari biasanya. Horor bukan karena mistis, melainkan karena ruang kosong di hatiku yang tiba-tiba menganga sangat lebar. Impian untuk duduk bersimpuh di hadapan Abah saat lebaran, berganti dengan kenyataan bahwa beliau kini telah berbaring di dalam kubur. Malam itu, aku berada di titik terendah. Untuk makan atau sekadar menelan seteguk air saja, tenggorokanku menolak. Ragaku ringkih, jiwaku benar-benar rapuh.
Kesedihan itu kian memuncak setiap kali aku mengikuti salat berjamaah di masjid. Begitu imam memimpin pembacaan takbir selepas salat, pertahananku habis. Air mataku tumpah tak tertahan. Di tengah gema “Allahu Akbar, Allahu Akbar...”, memori tentang Abah berputar layaknya rol film di kepala. Wajah beliau yang teduh, senyum tulusnya, nasihat-nasihatnya — semuanya muncul berhamburan.
Di sela-sela tangis itu, rasa sesal yang teramat sangat mulai menggerogoti hatiku. Aku teringat beberapa waktu lalu, saat Abah pertama kali jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Karena rasa takzim dan takut mengganggu waktu istirahat beliau, aku sengaja mengubah jadwalku. Yang tadinya dua atau tiga hari sekali aku datang berkunjung, kuubah menjadi seminggu sekali.
“Tahu gitu mah, aku jalan aja dua-tiga hari sekali buat jumpa Abah,” batinku dengan penuh penyesalan. Andai aku tahu waktunya sesingkat ini, aku akan memilih untuk egois, datang setiap hari, hanya untuk duduk diam dan memandang wajahnya.
Rasa rindu ini begitu menyiksa. Bayangkan, aku berjuang selama 2,7 tahun dalam doa agar diberi kesempatan sekali lagi untuk berkhidmat dan mengabdi pada beliau. Tuhan mengabulkannya. Tapi ternyata, waktu yang diberikan-Nya hanya bertahan selama enam bulan. Singkat sekali.
Memori terakhirku bersama beliau terkunci di malam Senin, saat aku melihat senyum Abah untuk terakhir kalinya. Malam Rabu-nya beliau dilarikan kembali ke rumah sakit, dan pada subuh Jumat yang berkah, beliau menghembuskan napas terakhirnya. Menyerahkan seluruh jiwanya kembali kepada Sang Pencipta, meninggalkan aku yang masih tertatih mengeja arti kehilangan.
Usai melaksanakan salat Idul Adha, kaki ini tidak melangkah ke tempat pemotongan hewan kurban atau ke tempat keramaian. Langkahku langsung tertuju ke makam Abah. Sebenarnya, subuh-subuh sekali aku sudah berziarah ke sana. Namun, kaki ini seperti ditarik kembali untuk mampir usai salat Ied.
Ternyata, ziarah yang kedua ini justru membuat dadaku jauh lebih remuk. Menatap gundukan tanah segar di hari raya, di saat orang lain sedang bersalam-salaman dengan orang tua mereka, membuat hatiku pilu tak keruan. Di atas tanah makamnya, aku tumpahkan segala rasa sepi yang tak berujung ini.
Sepulang dari makam, aku memaksakan diri mampir ke rumah Abah dengan niat untuk bersilaturahmi dan memohon maaf lahir batin kepada Umi serta keluarga beliau. Namun, sebuah kejadian tak terduga terjadi.
Saat aku berjalan mendekat, dari jarak beberapa meter, Umi keluar dan langsung tertegun menatapku. Beliau kaget, lalu air matanya tumpah seketika. "Kamu mirip banget sama Abah..." ucap Umi di sela tangisnya.
Melihat Umi menangis karena kehadiranku, seketika badanku kaku. Aku ketakutan. Hatiku menciut dan aku pun ikut menangis sejadi-jadinya di sana. Aku takut. Takut jika air mata Umi jatuh karena penampilanku, dan ketakutan terbesar sebagai seorang murid adalah: apakah aku sudah membuat Abah kecewa di alam sana karena membuat air mata istrinya jatuh?
Bagaimanapun juga, Abah adalah guru futuh-ku, Murobbi - pembuka jiwaku. Selama beliau hidup, tidak pernah sekalipun aku menolak ajakannya. Prinsipku selalu Sami'na wa Atha'na — kami mendengar dan kami taat. Maka melihat Umi menangis sore itu terasa seperti sebuah ujian berat yang membuat hatiku semakin koyak.
Menarik Diri untuk Kembali Tegak
Tak ingin larut dalam rasa bersalah dan membuat suasana semakin melow, tak lama setelah momen menguras air mata itu, aku memutuskan untuk menarik diri. Aku berjalan kembali ke dalam sunyinya kamar kost. Di balik pintu yang tertutup, aku tumpahkan sisa-sisa air mata yang masih menyumbat dada. Aku biarkan diriku menangis sejadi-jadinya, sendirian, membiarkan rasa sesak itu mengalir keluar bersama air mata sampai perasaanku terasa sedikit lebih lega.
Setelah badai di dalam dada agak mereda, aku mencuci muka, merapikan pakaian, dan menatap cermin. Aku tahu, Abah tidak akan suka melihat muridnya berlama-lama terpuruk.
Beberapa menit kemudian, aku melangkah keluar kamar dengan jiwa yang lebih tenang. Aku datangi kembali keluarga Abah dan para tetangga sekitar. Kali ini bukan untuk menangis, melainkan untuk berjabat tangan, mengukir senyum tipis, dan saling memaafkan di hari yang suci ini. Bagaimanapun, menyambung silaturahmi adalah bagian dari ajaran yang selalu Abah tekankan.
Selesai dari sana, aku meraih ponselku. Aku menekan sebuah nomor yang sangat kuhujani rindu sejak pagi: Mamah. Saat suara Mamah terdengar di seberang sana, rasanya sebagian beban di pundakku terangkat. Kami berbincang, saling memohon maaf atas segala khilaf, dan saling mendoakan bersama keluarga di kampung halaman. Mendengar suara Mamah adalah pelipur lara terbaik yang mengembalikan sedikit kekuatan yang sempat hilang.
Sebuah Penerimaan di Ujung Hari
Idul Adha di Jawa tahun ini akhirnya kulewati tanpa tawa lepas, tanpa hidangan lezat yang meriah, dan tanpa kehangatan fisik yang kubayangkan. Hari raya ini diisi oleh air mata, ziarah kubur yang berkali-kali, dan ruang kost yang sempat mencekam oleh rasa rindu.
Namun, di balik semua keremukan ini, aku mencoba memeluk takdirku. Enam bulan waktu yang diberikan Allah untukku kembali mengabdi pada Abah mungkin terasa sangat singkat bagi ego manusiaku. Tapi, aku harus bersyukur karena Allah setidaknya sempat mengabulkan doa 2,7 tahunku. Aku sempat melihat senyumnya lagi. Aku sempat mengawal dakwahnya lagi, dan mengabdi pada sosok yang amat aku cintai, kendati dalam waktu sebentar.
Kini, tugas terbaikku sebagai seorang murid bukanlah meratap dalam penyesalan, melainkan mengamalkan setiap jengkal nasihat yang pernah keluar dari lisan suci beliau. Idul Adhaku kemarin memang yang paling sepi, tapi ia juga menjadi Idul Adha yang paling mendewasakan jiwaku.
Abah, raga kita mungkin terpisah pulau dan alam yang berbeda. Namun, di setiap detak takbir dan helai napas ini, doa untukmu tidak akan pernah putus. Tenanglah di sana, Bah. Muridmu akan mencoba tetap tegak, menjalankan segala ilmu yang telah Abah bukakan di dalam jiwaku. Salam rindu dari tanah Jawa.
Baca juga:

Comments
Post a Comment