Cerita Cendekia adalah ruang ekspresi dan refleksi dari Cendekia Alazzam (Pecandu Sastra) — berisi rangkaian puisi, cerpen, cerbung, esai, opini, serta ulasan buku dan film. Melalui tulisan, aku bercerita tentang kehidupan, gagasan, dan imajinasi, dengan harapan bisa mengajak pembaca berpikir, merasa, dan merdeka.

Wednesday, June 11, 2025

Pertemuan yang Tak Biasa

Ilustrasi - pertemuan dua insan di suatu mushola. (Sumber: AI)



Di suatu mushola kecil di sudut hari,
Langkahku berat, hati terasa enggan menepi.
Tempat asing, dinding-dinding sunyi,
Tapi tanggung jawab menarikku berdiri.
Kupikir hanya akan sholat lalu pergi,
Namun takdir menyusun pertemuan sunyi.
Seorang anak kecil -
Dengan mata teduh dan senyum yang tak biasa mengalir.


Tak ada salam, tak sempat bicara,
Hanya tatapan yang menyentuh jiwa.
Seolah Allah berkata lirih di dada:
"Lihatlah, ini bukan kebetulan semata."


Hari berikutnya, ia kembali hadir.
Tak ada kata, hanya hadir yang menyejukkan batin.
Tiga kali datang, tiga kali bertemu,
Hingga akhirnya kita menyapa, malu tapi rindu.


Baca juga: Ketika Tukang Sol Sepatu Jadi Haji yang Mabrur Tanpa Berhaji 


Namanya tak seagung bintang,
Tapi ada kedalaman dalam caranya memandang.
Bukan cinta yang kuharapkan,
Hanya ketenangan yang tak kutemukan dari mana pun selain dari senyumnya yang perlahan.


Aku takut
Bukan pada rasa, tapi pada arah rasa ini dibawa.
Tak ingin ia jadi ujian bagi hatiku,
Namun tak juga bisa kuingkari betapa ia menggetarkan waktu.


Mungkin ini bukan tentang memiliki,
Tapi tentang memahami bahwa takdir bisa sehalus ini.
Tentang betapa Allah tahu:
Kadang yang kita butuh hanya seseorang yang datang diam-diam,
lalu mengajarkan makna hadir tanpa harus mendekap dalam genggam.


Baca juga: Hikmah Pagi Dalam Kesunyian Idul Adha 


Hari-hari berjalan, dan rasa tetap diam.
Tapi ia hidup -
seperti bisik di antara dua sujud,
seperti doa yang tak ingin jadi beban, tapi juga tak ingin dilupakan.


Jika nanti jarak memisah,
Semoga kenang ini cukup jadi arah.
Bahwa pernah, di sebuah mushola sederhana,
Aku dipertemukan bukan karena ingin, tapi karena Tuhan menyelipkan makna.



Lampung, 4 Juni 2025


Baca juga: Ebit G Ade dan Rasa yang Tak Lagi Sama


* Ditulis oleh Cendekia Alazzam dan dipublikasikan pertama kali di Kompasiana.

Share:

Latest in Tech

Cendekia Al Azzam | Pecandu Sastra©2025. Powered by Blogger.

Pelayan Setia di Majelis Cahaya | Puisi

Ilustrasi dibuat oleh kecerdasan buatan (AI)/Gemini.    Sering kali, di sepertiga malam terakhir saat alam semesta tenggelam dalam kehening...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Blog Archive

Home - Recent Posts (show/hide)

Home - PageNavi (show/hide)

Random Posts

Recent Posts

Labels

Blog Archive