![]() |
| Di lingkar majelis sederhana ini, nasihat mengalir pelan, menguatkan hati yang ingin pulang pada kebaikan. - Kenangan 7 hari wafat istrinya sahabat majelis - Mas Joko di Citeureup. (Dokpri/Disisi). |
Malam Ahad itu, aspal jalanan menuju Kampung Nameng, Desa Bantar Kuning, Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor, terasa seperti bentangan sajadah yang panjang. Namun ada yang berbeda kali ini. Aku tidak duduk di depan, melainkan di jok belakang motor milik Abah.
Ya, tetap beliau yang memegang kendali. Meski kesehatannya belum sepenuhnya pulih setelah sempat dirawat di rumah sakit, semangat dakwahnya terasa lebih kuat daripada sisa lelah yang ada.
Abah ingin ke Nameng karena rindu, sudah lama tak bersua dengan jamaah, pun demikian para jamaahnya. Biasanya beliau hadir dua atau tiga kali dalam sepekan, namun sejak sakit, majelis sempat terjeda. Selain itu, Abah juga ingin menyambut ramadan bersama dan saling bermaaf-maafan sebelum memasuki bulan yang suci.
Kami membelah malam yang tenang. Angin yang menyusup lewat sela helm membawa aroma petrichor (tanah basah) - sisa hujan yang baru saja reda. Sungguh sebuah keajaiban kecil; meski jalanan masih mengkilap karena air, langit seolah menahan diri untuk tidak menumpahkan bebannya pada kami. Kami melaju tanpa terjebak macet, ditemani hawa dingin yang ramah.
Dari belakang, aku memandangi punggung beliau. Punggung yang tetap tegak meski raga sedang diuji. Di situ aku belajar diam: bahwa dakwah Baginda Nabi Muhammad SAW bukan tentang seberapa kuat fisik kita, tapi tentang seberapa besar cinta yang menggerakkannya.
Getaran Maulid di Kampung Nameng
Sesampainya di majelis, suasana hangat menyambut. Malam ini adalah Tawaqufan, penutupan sementara kegiatan rutin menjelang bulan suci. Sebuah tradisi yang selalu membawa getaran rindu sekaligus haru.
Aku duduk agak dekat dengan Abah, menjaga jarak yang cukup untuk tetap bisa memperhatikan setiap helaan napas beliau.
Acara dimulai dengan pembacaan Ratib. Di tengah zikir yang mengalun berjamaah, aku merasa dunia di luar sana perlahan menghilang. Suara Abah yang masih terdengar sisa lemasnya, namun tetap berwibawa, memimpin kami masuk ke kedalaman batin.
Kemudian, saat selawat dan maulid dilantunkan, suasana pecah. Ada frekuensi yang tidak bisa dijelaskan dengan teori musik manapun; seolah setiap nadanya adalah obat bagi luka yang bahkan tidak aku sadari keberadaannya.
Di saat itulah, air mataku luruh. Aku melihat Abah, sang guru yang tetap hadir bagi kami meski tubuhnya sedang berjuang dengan rasa sakit. Melihat beliau masih mampu memimpin pujian bagi Rasulullah adalah pemandangan paling romantis yang pernah kusaksikan.
Bahagiaku meluap, bukan karena hal-hal duniawi, tapi karena Allah masih memberiku kesempatan untuk duduk di majelis ini, mendengarkan wejangan singkat beliau yang seperti embun di tanah gersang. Nasehatnya tidak pernah menghakimi, melainkan memeluk jiwa-jiwa yang haus akan arah pulang.
Setelah doa penutup diaminkan, kami berkumpul untuk santap malam. Di sinilah dadaku kembali sesak oleh jenis haru yang berbeda. Di depan piring masing-masing, aku sering kali "mencuri pandang". Aku berpura-pura sibuk dengan makananku, padahal mataku terus terjaga pada tangan Abah. Aku ingin memastikan beliau makan, memastikan ada tenaga yang masuk ke tubuhnya.
Karena sakit yang belum pulih, beliau hanya mampu menelan tiga sampai lima suap saja. Rasanya pedih. Setiap kali beliau meletakkan sendok, ada bagian dari hatiku yang ikut terasa berat. Suasana itu berlanjut hingga sarapan pagi keesokannya. Aku merasa kikuk, bahkan ada rasa bersalah yang menyelip jika aku makan terlalu lahap sementara guruku sedang berjuang dengan selera makannya.
Abah membagi setengah porsi nasinya ke piringku. Sebab porsi yang tersaji tidak akan mampu dihabiskan. Aku makan dengan perasaan campur aduk. Mataku terus mencuri pandang, memastikan setiap suap yang beliau masukkan tidak tertolak oleh tubuhnya.
Batin ini terus merapal doa di setiap kunyahanku: "Habiskan, Bah... tolong tandaskan kudapannya." Dan Alhamdulillah, pagi itu hatiku terasa sangat lega. Beliau berhasil menyantap lebih dari lima suap dengan perlahan, dan sisa porsi di piringnya pun habis tanpa ada yang keluar lagi.
Bagi seorang murid, melihat gurunya mampu menerima asupan tenaga adalah sebuah kemenangan besar yang lebih indah dari apa pun.
Tawaquf: Jeda yang Menyadarkan
Perjalanan pulang di pagi hari itu memberiku ruang untuk tawaquf. Bagiku, tawaquf bukan sekadar berhenti sementara dari aktivitas majelis, tapi berhenti sejenak untuk sadar. Sadar bahwa waktu tidak pernah benar-benar menunggu. Sadar bahwa kesempatan itu tidak selalu datang dua kali.
Mengenal beliau sejak 2021 hingga kembali dipertemukan di penghujung 2025 - setelah perpisahan selama dua tahun tujuh bulan - adalah sebuah skenario Allah yang luar biasa. Perpisahan lama itu mengajarkanku betapa rapuhnya diri ini tanpa bimbingan. Kini, duduk di belakang beliau, melihat kegigihannya tetap berdakwah di tengah sisa-sisa sakit, membuatku malu pada diri sendiri.
Aku teringat ramadan-ramadan sebelumnya. Waktu yang Allah beri, tapi sering kusia-siakan. Ada malam yang berlalu tanpa tilawah, ada sahur yang hanya diisi kantuk.
Pertanyaan itu tiba-tiba mengetuk pintu batin: "Bagaimana jika Ramadan ini adalah yang terakhir? Apakah aku sudah cukup menghargai setiap detik yang Allah pinjamkan?" Kesadaran ini datang bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk membangunkan jiwa yang selama ini tertidur dalam kenyamanan yang semu.
Bagiku, ramadaan kali ini bukan sekadar pertemuan ulang. Ini adalah mudik ruhani. Jika orang lain sibuk mengepak barang untuk pulang ke kampung halaman, aku justru merasa sedang pulang ke tempat di mana hatiku merasa paling aman: di dekat lingkaran kebaikan guru.
Aku tidak lagi meminta dunia yang muluk-muluk. Di sela-sela deru mesin motor, aku memohon dalam hati: "Ya Allah, panjangkan usia kami dalam ketaatan. Jaga Abah dalam kesehatan dan kekuatan. Dan jangan biarkan Ramadhan ini berlalu tanpa ada sesuatu yang berubah di dalam dada kami."
Karena ternyata, yang paling berat bukan memulai kebaikan, tapi menjaga istiqomah ketika jarak dan waktu kadang mencoba memisahkan.
Saat motor melaju meninggalkan Kampung Nameng, aku menyadari bahwa perjalanan tawaqufan kali ini telah memberiku hadiah terbesar: air mata syukur yang jatuh tanpa perlu disaksikan siapa pun. Sebuah tanda bahwa hati akhirnya tahu ke mana ia harus pulang.
Kembali kepada Allah melalui bimbingan guru. Semoga ramadan ini tidak hanya lewat sebagai kalender, tapi menetap sebagai perubahan yang abadi di dalam jiwa.
NB: Dipublikasikan pertama kali di Kompasiana pada 16 Februari 2026.

Comments
Post a Comment