Skip to main content

Di Bawah Naungan Cahaya Murabbi [Kado Milad Abah 2026]

Lentera kecil pengusir kelam, laksana nasihat guru yang menetap di dalam diam. Jawaban doa dalam binar cahaya. (Sumber: Unsplash)


Di antara riuh rendah dunia yang fana,
Engkau hadir sebagai jawaban dari sujud-sujud panjangku,
Seperti rintik hujan yang jatuh di tanah yang dahaga,
Nasihatmu mengalir lembut, menetap dalam sanubari tanpa sengketa.

Kita pernah dipertautkan oleh waktu di tahun dua satu,
Lalu dipisahkan oleh tabir takdir yang membentang rindu,
Namun, di penghujung dua lima, semesta kembali menyatukan langkah,
Membuktikan bahwa ikatan ruh takkan pernah punah.

Wahai sosok yang gigih dalam risalah dakwah,
Wajahmu adalah cermin dari ketawaduan yang megah,
Dalam nadimu mengalir mahabbah pada guru-guru mulia,
Dan cintamu pada Baginda Nabi, sang rembulan alam semesta.

Di hari miladmu ini, biarlah doa-doa menjadi sayap,
Terbang mengetuk pintu Arsy dengan harap yang menetap:
Semoga raga yang lelah kian pulih dalam afiat yang sempurna,
Sehatmu adalah lentera bagi kami yang masih buta.

Semoga usiamu memanjang dalam dekapan ketaatan,
Seperti pohon yang akarnya menghujam, dahan menjulang penuh keberkahan,
Teruslah menjadi telaga bagi jiwa-jiwa yang sedang mencari,
Menjadi jawaban atas doa, sang guru yang kami cintai.


Gunung Putri, 9 April 2026


---


Puisi ini terlahir dari kedalaman sujud dan rintihan rindu yang membuncah, dirajut khusus sebagai kado takzim di hari milad Guru mulia yang telah menjadi wasilah cahaya bagi gelapnya jiwaku. 

Setiap diksinya adalah detak jantung yang mengagumi kegigihan dakwah beliau, dan setiap baitnya adalah gema doa yang melangit, memohon agar Sang Pemilik Kehidupan senantiasa menjaga raga beliau dalam afiat yang sempurna, sebagaimana beliau menjaga hati kami dengan nasihat yang menyejukkan.

Ia bukan sekadar deretan kata, melainkan sebuah prasasti mahabbah yang ditulis dengan tinta ketulusan, sebuah pengakuan syahdu bahwa perjumpaan kembali di penghujung tahun dua lima adalah skenario terindah dari Allah Azza wa Jalla. 

Dalam setiap metaforanya, tersimpan harapan agar beliau tetap menjadi lentera yang tak kunjung padam, membimbing langkah-langkah kami yang tertatih untuk semakin mencintai Baginda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam, hingga kelak cinta itu membawa kami berkumpul bersama dalam naungan rida-Nya.

Selamat milad Abah, Guru kami Ustadz Mahpudin bin H Alif Yunus. 

Comments

Popular posts from this blog

Tiga Puluh Jam Bersama Habibana

Kenangan Habibana dan Abah serta rombongan. Foto Pecandu Sastra. Dokpri   Jum'at itu menjadi pembuka perjalanan yang mengesankan. Nabastala biru menghampar semesta sore, perlahan mulai memudar. Segera usai berdzikir aku telah bersiap menemani Abah dan jamaah memenuhi undangan majelis peringatan Isra' Mi'raj di salah satu desa di bagian Bogor Timur. Abah, demikian aku memanggil laki-laki yang tengah berusia 50 tahun itu. Seorang pendakwah yang begitu istiqomah, gigih, penyabar, dan sangat mencintai ilmu. Beberapa bulan belakang, aku kerap menemani beliau berdakwah di desa tersebut, sepekan sekali. Tak peduli gerimis, hujan, dingin, ataupun panasnya cuaca, lelah setelah beraktivitas sekalipun, beliau terus istiqomah tanpa absen. Kecuali uzur yang mendesak. Hal tersebut yang menjadi salah satu yang aku kagumi dari sosok Abah. Sore itu, rombongan dijadwalkan berangkat sebelum maghrib. Dikarenakan perjalanan yang cukup memakan waktu, apalagi hari kerja, jam-jam segitu adalah pu...

Jumbo: Animasi Lokal yang Memberi Banyak Pelajaran

  Poster Film Jumbo di Bioskop Bes Cinema Kota Metro (Foto oleh Cendekian/dokpri.2025) Akhirnya dua hari lalu bisa menyaksikan film animasi lokal buatan anak negeri. Film yang sudah sejak pertama official trailernya tayang di platform digital ini menjadi salah satu yang aku nantikan untuk ditonton, karena memang menarik perhatianku. Aku menyaksikan film ini bukan karena ikut-ikutan fomo ya, tapi memang penasaran banget sama filmnya.

Review Film Home Sweet Loan: Asa Anak Muda Menuju Rumah Impian

Refleksi hangat dari film Home Sweet Loan yang menggambarkan perjuangan generasi muda mencari arti rumah dan stabilitas hidup. (Dokpri) Kita sering mengira bahwa perjalanan menuju “rumah” adalah soal membeli properti, mencicil KPR, atau urusan angka dan bank. Tapi film Home Sweet Loan memberi tafsir yang lebih dalam dan emosional: rumah bukan hanya tentang tempat tinggal, tapi tentang tempat berteduh secara batin.

Mengabadikan Moment Bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf

Momen foto bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf. (Dokpri/Fadillah). Setiap orang pasti memiliki momen “one in a million” dalam hidupnya. Sebuah peristiwa langka yang membuat kita tertegun dan merasa seluruh keberuntungan dalam setahun habis dalam satu hari.

Memetik Cahaya di Cicadas: Tentang Khidmah, Rindu, dan Wajah Guru

Moment foto bersama guru kami Habib Musthofa bin Yahya (Koko Marun) dan Abah Ust. Mahfudin bin H Alif Yunus (Gamis Sage). (Dokpri/Farid). Ada sebuah kebahagiaan yang sulit didefinisikan dengan kata-kata; sebuah rasa yang hanya muncul ketika bibir menyentuh tangan seorang guru, atau saat aroma nasi liwet yang kita tanak sendiri di dapur mereka mengepul hangat untuk menyambut tamu-tamu shalih.