![]() |
| Dermaga saksi bisu langkah kaki yang kembali mengembara, membawa rindu yang belum tuntas di balik birunya laut. (Sumber: Dokumentasi Pribadi/Disisi) |
Duduklah sejenak, kawan. Ambil napas dalam-dalam sebelum jemarimu kembali menari di atas papan ketik atau menggenggam kemudi di tengah riuh rendah klakson kota. Apakah hari ini punggungmu sudah mulai terasa penat oleh tumpukan berkas? Ataukah kakimu sudah kembali akrab dengan aspal panas dan sesaknya gerbong kereta yang seolah tak pernah tidur?
Lebaran baru saja melambai pamit, meninggalkan sisa wangi masakan ibu dan gema takbir yang perlahan memudar. Namun, di balik keriuhan arus balik, ada sebuah tanya yang acapkali tertinggal di sudut hati: "Apa sebenarnya yang kita bawa pulang ke tanah rantau kali ini?"
Bagi saya, perjalanan mudik kemarin bukanlah sekadar perpindahan raga dari satu titik ke titik lain. Ia adalah perjalanan rasa yang rumit, di mana rindu dan cemas beradu dalam satu tarikan napas.
Di Antara Deru Kereta dan Pintu yang Belum Terbuka
Perjalanan dimulai saat fajar masih malu-malu menyapa Bumi Tegar Beriman. Pukul enam pagi, stasiun Nambo sudah berubah menjadi lautan manusia. Saya berdiri di antara ratusan pasang mata yang menyimpan binar serupa: keinginan untuk segera sampai.
Tidak ada tempat duduk yang tersisa, hanya ruang sempit untuk berpijak. Dalam sesaknya gerbong KRL yang nyaris overload itu, saya tersadar bahwa setiap bahu yang bersentuhan dengan saya sedang memikul kerinduan yang sama beratnya.
Awalnya, rencana saya adalah turun di Manggarai. Namun, melihat arus manusia yang kian menderu, saya memilih turun di Lenteng Agung. Sebuah keputusan kecil untuk memangkas waktu agar tak tertinggal jadwal bus di Pulogebang.
Alhamdulillah, meski sempat tersendat setengah jam dari jadwal semula, langkah kaki ini tetap sampai pada tujuannya. Sebelas jam perjalanan itu terbayar lunas ketika aroma masakan rumah dan senyum hangat Mama menyambut di ambang pintu.
Namun, di sela tawa keluarga, ada daftar nama yang masih tersimpan rapi di saku hati. Saudara, kerabat, hingga teman dekat yang tadinya ingin saya peluk erat dalam silaturahmi, nyatanya belum diizinkan oleh Sang Pemilik Waktu untuk ditemui.
Kita boleh saja menyusun daftar panjang rencana pertemuan, namun bukankah Allah yang memegang pena takdir? Ada rahasia indah di balik pintu-pintu yang belum terbuka itu, yang mungkin baru akan kita pahami di waktu yang tepat nanti.
Hati yang Terbelah di Tanah Kelahiran
Ada yang berbeda dengan mudik kali ini. Jika tahun-tahun sebelumnya rasa antusias itu meluap-luap, tahun ini hati saya seolah terbelah menjadi dua bagian yang sama besarnya.
Satu sisi merasa bahagia luar biasa karena bisa kembali bersimpuh di kaki Mama dan melepas rindu dengan keluarga. Namun, di sisi lain, ada separuh hati yang tertinggal di tanah rantau, pada sosok panutan - lentera, sang Murobbi yang tengah diuji dengan rasa sakit.
Beliau adalah penunjuk jalan, sosok yang membuat saya tak lagi merasa sendiri atau sedih di tengah kerasnya pengembaraan. Saat hendak pamit mudik kemarin, kami tak banyak bicara. Saya hanya bisa memandang wajah Abah (panggilan untuk beliau) yang teduh dalam diam, menghormati waktu istirahatnya yang berharga.
Luka batin karena harus meninggalkan Abah dalam kondisi menurun sungguh menyesakkan. Maka, sepanjang perjalanan, doa-doa tak pernah absen mengetuk pintu langit untuk kesembuhan beliau.
Di sinilah saya belajar tentang makna kepasrahan. Menikmati apa yang ada di depan mata, sembari tetap menjaga tautan batin dengan mereka yang ditinggalkan.
Rindu memang belum tuntas, bahkan beberapa nama yang sangat ingin saya jumpai pun urung bertemu muka. Namun, bukankah hidup adalah tentang belajar merelakan yang belum sampai, demi menjaga yang sudah digenggam?
Membawa Cahaya Ramadan ke Samudera Bulan-Bulan Berikutnya
Kini, saatnya saya kembali mengemasi barang-barang ke dalam ransel. Kembali menjadi pengembara di tanah orang. Jujur saja, ada rasa berat untuk melepas dekapan keluarga, namun api semangat untuk berjuang tetap menyala di dada. Saya teringat pesan indah dari Imam Syafii tentang merantau:
Pergilah dengan penuh keyakinan, niscaya akan kau temukan pengganti orang-orang yang kau tinggalkan. Berlelah-lelah lah, karena manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. Aku melihat air yang diam akan menjadi rusak, jika ia mengalir maka ia akan jernih, jika tidak mengalir ia akan keruh.
Nasihat itu menjadi penawar duka. Bahwa segala sesuatu yang kita tinggalkan demi ketaatan dan perjuangan - baik itu sahabat, kerabat, maupun keluarga - akan Allah ganti dengan sesuatu yang lebih indah. Merantau bukan hanya soal mencari materi, tapi soal menjernihkan jiwa agar tidak statis seperti air yang tergenang.
Lebaran mungkin telah usai secara seremonial, tapi esensi Ramadan jangan sampai ikut menguap bersama asap kendaraan di jalur mudik. Jangan sampai kita hanya menjadi "Hamba Allah di bulan Ramadan" saja. Segala kebaikan, kesabaran saat berdesakan di kereta, dan kedekatan habluminallah yang telah kita rakit sebulan penuh harus tetap kita bawa di atas kapal kehidupan.
Dunia ini hanyalah samudera luas, dan ramadan kemarin adalah bekal yang kita kumpulkan untuk mengarunginya hingga sebelas bulan ke depan. Maka, melangkahlah dengan gagah. Bawa pulang rasa syukur, bawa pulang doa untuk guru dan orang tua, dan bawa pulang tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Tanah rantau sudah menanti, dan Allah selalu menyertai setiap langkah pengembara yang menjaga cahaya di hatinya.
Selamat kembali beraktivitas, para pejuang keluarga. Semoga rindu yang belum tuntas hari ini, menjadi energi untuk pertemuan yang lebih indah di masa depan.
NB: Tulisan ini dimuat pertama kali di Kompasiana, pada 30 Maret 2026 dan berhasil tembus sebagai Headline.

Comments
Post a Comment