Skip to main content

Berdamai dengan Rindu: Menemukan Diri di Film "Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya?"

Poster Film "Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?" di XXI Plasa Cibubur. Dokpri/Disisi


Malam itu, saya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang agak "nekat": menonton film di jam penayangan terakhir, tepatnya pukul 21.00 WIB. Pilihan saya jatuh pada film yang sedang hangat dibicarakan, judulnya cukup menyentil batin: “Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya?”.

Film garapan sutradara Kuntz Agus ini merupakan adaptasi dari novel mega best-seller karya Khoirul Trian yang sudah terjual lebih dari 100 ribu eksemplar. Saya sendiri sebenarnya belum sempat tamat membaca novelnya, tapi rasa penasaran melihat bagaimana kisah Dira dan Darin divisualisasikan membuat saya melangkah ke bioskop malam itu.

Begitu masuk studio, saya sempat tertegun. Ternyata di dalam ruangan sebesar itu, hanya saya satu-satunya penontonnya. Rasanya campur aduk; antara merasa menjadi tamu VIP di ruang privat atau justru merasa semesta sedang sengaja menyediakan ruang sunyi khusus untuk saya.

Menonton sendirian di tengah malam memberikan suasana yang sangat magis, seolah film ini memang sedang berbicara langsung ke hati saya tanpa gangguan suara orang lain yang sedang mengunyah popcorn.


Kursi Kosong dan Resonansi "Fatherless" yang Sunyi


Selama 1 jam 43 menit, saya diajak menyelami kehidupan di bawah atap "Soto Bu Lia". Film produksi Five Elements Pictures dan Kults Creative ini memotret dinamika keluarga yang tampak utuh dari luar, namun menyimpan kekosongan di dalamnya.

Ada sosok Yudi (diperankan dengan sangat apik oleh Dwi Sasono) yang secara fisik ada, namun secara emosional tidak hadir memberikan arah bagi anak-anaknya.

Fenomena fatherless ini digambarkan dengan sangat jujur, bukan lewat ledakan amarah yang berlebihan, melainkan lewat "bisu kata-kata" yang justru lebih menyesakkan.

Sebagai penonton yang duduk sendirian di jam larut, saya merasa banyak bagian dari tokoh Dira (Mawar de Jongh) dan Darin (Rey Bong) yang beresonansi dengan perjalanan hidup saya sendiri. Ada momen-momen konflik yang ditampilkan di layar yang membuat saya membatin, "Dulu saya juga pernah ada di posisi itu."

Perasaan kurang dekat dengan sosok ayah atau kebingungan mencari arah hidup adalah fase yang sangat manusiawi, dan film ini berhasil merangkainya dengan alur yang sangat mengalir.

Namun, di balik teknis akting yang solid dari jajaran pemain seperti Unique Priscilla sebagai Ibu Lia, ada bagian diri saya yang merasa "kosong" dengan cara yang berbeda. Sejak saya menyelesaikan bangku SMA, saya sudah tidak lagi memiliki sosok ayah karena beliau telah berpulang.

Melihat interaksi ayah dan anak di layar - meskipun penuh gesekan - membuat saya tersadar betapa mahalnya sebuah "kehadiran". Bagi teman-teman yang mungkin masih bisa berdebat atau sekadar duduk bersama ayah di rumah, percayalah, momen-momen itu adalah kemewahan yang seringkali baru terasa nilainya saat sudah tidak ada lagi.


Belajar Memaafkan dan Menemukan Arah di Balik Tragedi


Film ini mencapai titik baliknya lewat sebuah insiden brutal: ledakan kompor yang menghancurkan rutinitas keluarga tersebut. Dari situ, semua kerapuhan, utang yang menumpuk, dan ketidakpastian yang selama ini ditutupi dengan senyum mulai terungkap. Insight terbesar yang saya bawa pulang adalah tentang pentingnya menghargai waktu, komunikasi, dan yang paling sulit: memaafkan masa lalu.

Seringkali kita menyimpan ego terlalu tinggi terhadap orang tua atau orang-orang yang hadir dalam hidup kita, padahal waktu terus berjalan tanpa menunggu kita siap untuk berdamai. Film ini mengingatkan bahwa memaafkan bukan berarti menyetujui kesalahan, melainkan membebaskan diri sendiri agar bisa terus melangkah.

Bagi saya yang kini berjuang menjalani hidup sebagai mahasiswa sekaligus pekerja tanpa tempat curhat langsung dari sosok ayah, film ini menjadi pengingat bahwa jika sudah tidak kuat memendam beban, mengadu kepada Allah adalah satu-satunya jalan pulang yang paling menenangkan.

Secara pribadi, saya memberikan nilai 7/10 untuk film ini. Angka ini cukup subjektif karena bagi saya, keberhasilan sebuah film adalah saat ia mampu membuat penontonnya merenung lama setelah lampu bioskop menyala.

Hingga hari ini, film “Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya?” kabarnya sudah menembus angka 1,5 juta penonton di bioskop tanah air dengan rating yang cukup membanggakan di IMDb, yakni 7,7/10. Sebuah pencapaian yang luar biasa untuk genre drama keluarga yang menyentuh isu sensitif seperti fatherless.


Pulang dengan Perspektif Baru di Tengah Keheningan Kota


Pengalaman unik saya tidak berhenti saat credit scene muncul. Begitu keluar dari studio, saya mendapati suasana mall yang sudah gelap total. Semua lantai sudah sepi, hanya tersisa beberapa karyawan XXI yang sedang merapikan area, petugas security yang berpatroli, dan abang tukang parkir yang masih setia di posnya. Saya sempat tertawa kecil dalam hati; benar-benar pengalaman pertama nonton selarut itu dan pulang saat kota sudah tertidur.

Tapi di balik tawa kecil itu, ada perasaan lega yang menyeruak. Menonton film ini seolah memberikan penegasan bahwa setiap orang punya garis perjuangannya masing-masing.

Ada yang berjuang berdamai dengan ayah yang masih ada namun terasa jauh, dan ada yang seperti saya, berjuang menjaga kenangan dan doa untuk ayah yang sudah tiada agar tetap menjadi kompas dalam melangkah.

Kesimpulannya, film ini layak ditonton bukan hanya bagi mereka yang merindukan sosok ayah, tapi bagi siapa saja yang sedang belajar menjadi dewasa. Ia mengajarkan bahwa komunikasi terbaik tidak selalu harus lewat kata-kata manis, tapi lewat kesediaan untuk tetap hadir dan saling menjaga meski dalam keadaan tersulit sekalipun.

Mari lebih sering menyapa mereka yang masih ada, karena pada akhirnya, kita semua hanyalah anak-anak yang sedang mencari arah untuk pulang. 

Comments

Popular posts from this blog

Tiga Puluh Jam Bersama Habibana

Kenangan Habibana dan Abah serta rombongan. Foto Pecandu Sastra. Dokpri   Jum'at itu menjadi pembuka perjalanan yang mengesankan. Nabastala biru menghampar semesta sore, perlahan mulai memudar. Segera usai berdzikir aku telah bersiap menemani Abah dan jamaah memenuhi undangan majelis peringatan Isra' Mi'raj di salah satu desa di bagian Bogor Timur. Abah, demikian aku memanggil laki-laki yang tengah berusia 50 tahun itu. Seorang pendakwah yang begitu istiqomah, gigih, penyabar, dan sangat mencintai ilmu. Beberapa bulan belakang, aku kerap menemani beliau berdakwah di desa tersebut, sepekan sekali. Tak peduli gerimis, hujan, dingin, ataupun panasnya cuaca, lelah setelah beraktivitas sekalipun, beliau terus istiqomah tanpa absen. Kecuali uzur yang mendesak. Hal tersebut yang menjadi salah satu yang aku kagumi dari sosok Abah. Sore itu, rombongan dijadwalkan berangkat sebelum maghrib. Dikarenakan perjalanan yang cukup memakan waktu, apalagi hari kerja, jam-jam segitu adalah pu...

Jumbo: Animasi Lokal yang Memberi Banyak Pelajaran

  Poster Film Jumbo di Bioskop Bes Cinema Kota Metro (Foto oleh Cendekian/dokpri.2025) Akhirnya dua hari lalu bisa menyaksikan film animasi lokal buatan anak negeri. Film yang sudah sejak pertama official trailernya tayang di platform digital ini menjadi salah satu yang aku nantikan untuk ditonton, karena memang menarik perhatianku. Aku menyaksikan film ini bukan karena ikut-ikutan fomo ya, tapi memang penasaran banget sama filmnya.

Review Film Home Sweet Loan: Asa Anak Muda Menuju Rumah Impian

Refleksi hangat dari film Home Sweet Loan yang menggambarkan perjuangan generasi muda mencari arti rumah dan stabilitas hidup. (Dokpri) Kita sering mengira bahwa perjalanan menuju “rumah” adalah soal membeli properti, mencicil KPR, atau urusan angka dan bank. Tapi film Home Sweet Loan memberi tafsir yang lebih dalam dan emosional: rumah bukan hanya tentang tempat tinggal, tapi tentang tempat berteduh secara batin.

Mengabadikan Moment Bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf

Momen foto bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf. (Dokpri/Fadillah). Setiap orang pasti memiliki momen “one in a million” dalam hidupnya. Sebuah peristiwa langka yang membuat kita tertegun dan merasa seluruh keberuntungan dalam setahun habis dalam satu hari.

Memetik Cahaya di Cicadas: Tentang Khidmah, Rindu, dan Wajah Guru

Moment foto bersama guru kami Habib Musthofa bin Yahya (Koko Marun) dan Abah Ust. Mahfudin bin H Alif Yunus (Gamis Sage). (Dokpri/Farid). Ada sebuah kebahagiaan yang sulit didefinisikan dengan kata-kata; sebuah rasa yang hanya muncul ketika bibir menyentuh tangan seorang guru, atau saat aroma nasi liwet yang kita tanak sendiri di dapur mereka mengepul hangat untuk menyambut tamu-tamu shalih.