Cerita Cendekia adalah ruang ekspresi dan refleksi dari Cendekia Alazzam (Pecandu Sastra) — berisi rangkaian puisi, cerpen, cerbung, esai, opini, serta ulasan buku dan film. Melalui tulisan, aku bercerita tentang kehidupan, gagasan, dan imajinasi, dengan harapan bisa mengajak pembaca berpikir, merasa, dan merdeka.

Showing posts with label Film. Show all posts
Showing posts with label Film. Show all posts

Wednesday, July 15, 2026

Niatnya Cuma 'Me Time', Malah Sukses Dibuat 'Banjir' Air Mata Sama Film Ini

Poster Film "Jangan Buang Ibu" (Sumber: filmjanganbuangibu/ig).


Hari Ahad lalu, aku akhirnya berhasil menuntaskan satu janji kecil pada diriku sendiri. Rencana yang sebenarnya sudah tertunda selama dua pekan karena padatnya rutinitas, akhirnya benar-benar terwujud kemarin. Aku memutuskan untuk melangkah ke Plasa Cibubur XXI, sengaja mengambil jam pemutaran paling pertama pada pukul 12.15 WIB.

Share:

Saturday, May 16, 2026

Berdamai dengan Rindu: Menemukan Diri di Film "Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya?"

Poster Film "Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?" di XXI Plasa Cibubur. Dokpri/Disisi


Malam itu, saya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang agak "nekat": menonton film di jam penayangan terakhir, tepatnya pukul 21.00 WIB. Pilihan saya jatuh pada film yang sedang hangat dibicarakan, judulnya cukup menyentil batin: “Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya?”.

Share:

Wednesday, June 25, 2025

Review Film Home Sweet Loan: Asa Anak Muda Menuju Rumah Impian

Refleksi hangat dari film Home Sweet Loan yang menggambarkan perjuangan generasi muda mencari arti rumah dan stabilitas hidup. (Dokpri)


Kita sering mengira bahwa perjalanan menuju “rumah” adalah soal membeli properti, mencicil KPR, atau urusan angka dan bank. Tapi film Home Sweet Loan memberi tafsir yang lebih dalam dan emosional: rumah bukan hanya tentang tempat tinggal, tapi tentang tempat berteduh secara batin.

Share:

Wednesday, June 11, 2025

Menyibak Tabir Cinta, Dendam, dan Budaya Jawa dalam Film Gowok

Poster Film Gowok: Kamasutra Jawa. (Foto: Dokpri)


Bayangkan sebuah naskah antropologi yang tiba-tiba hidup di layar lebar: begitulah rasanya menyaksikan Gowok: Kamasutra Jawa garapan Hanung Bramantyo. Alih-alih menonjolkan erotika dangkal, film ini mengajak penonton menziarahi cara masyarakat Jawa kuno memaknai seksualitas sebagai ilmu rasa, etika, dan kekuasaan.

Share:

Friday, May 9, 2025

Bukan Sekadar Percintaan, Film Komang Banyak Menyajikannya Pesan Moral

Poster Film Komang yang diabadikan melalui smartphone di Bes Cinema Kota Metro. (Sumber: Dokpri/Cendekia Alazzam)


Siapa di sini yang sudah nonton Film Komang? Yap, film yang tayang di layar lebar dengan durasi satu jam empat puluh tujuh menit ini, hingga kini telah berhasil ditonton hampir tiga juta penonton di seluruh Indonesia. Bergenre roman, drama Indonesia satu ini diadaptasi dari lagu berjudul sama yang diciptakan oleh salah satu tokoh di dalam film ini, yaitu Raim Laode.

Share:

Sunday, May 4, 2025

Jumbo: Animasi Lokal yang Memberi Banyak Pelajaran

 

Poster Film Jumbo di Bioskop Bes Cinema Kota Metro (Foto oleh Cendekian/dokpri.2025)

Akhirnya dua hari lalu bisa menyaksikan film animasi lokal buatan anak negeri. Film yang sudah sejak pertama official trailernya tayang di platform digital ini menjadi salah satu yang aku nantikan untuk ditonton, karena memang menarik perhatianku. Aku menyaksikan film ini bukan karena ikut-ikutan fomo ya, tapi memang penasaran banget sama filmnya.

Share:

Friday, June 28, 2024

Mengenal dan Mengendalikan Emosi dalam Diri Remaja | Review Film Inside Out 2

 

Official Poster Film Inside Out 2 di XXI. Dokpri/Pecandu Sastra

Sudah menonton film Inside Out 2? Film garapan Kelsey Mann ini merupakan film animasi remaja Amerika Serikat yang diproduksi oleh Pixar Animation Studio untuk Walt Disney Pictures, diproduksi oleh Mark Nielsen, dan ditulis oleh Meg LeFauve. Nah, di Indonesia sendiri film ini mulai tayang pada 14 Juni 2024 di bioskop.


Aku tidak mengikuti sekuel ini, jadi film perdananya yang rilis tahun 2015 lalu, tidak tahu seperti apa jalan ceritanya. Selain rumah yang jauh dari bioskop, baru-baru ini juga demen (suka) nonton film dan suka dengan suasana bioskop.


Di awal film kita akan diperkenalkan dengan tokoh utama seorang anak yang bernama Riley Andersen yang baru saja memasuki usia 13 tahun, serta kelima emosinya; Joy atau emosi periang yang digambarkan dengan karakter berwarna kuning, Sadness (sedih) dengan karakter berwarna biru, Anger (marah) berwarna merah, Fear (takut) berwarna ungu, dan Disgust (Jijik) berwarna hijau.


Selayaknya perputaran waktu, setiap kita akan mengalami pertumbuhan, perubahan, dan pastinya akan bertemu atau mengalami masa-masa sulitnya masing-masing. Sebagaimana tokoh Riley di dalam film ini.


Official Poster 


Riley yang kini mengalami masa pubertas, kehadiran emosi baru dalam hidupnya. Jika sebelumnya ia memiliki lima emosi (riang, sedih, marah, takut, dan jijik), kini ada empat emosi baru dalam hidupnya; Anxiety (cemas) yang digambarkan dengan karakter berwarna oren, Ennui (bosan) berwana indigo atau ungu tua, Emberrasment (malu) berwarna pink, dan Envy (iri) dengan warna Sian.


Baca: Melihat Lebih Dekat Masjid Mewah di RS Harapan Bunda Lampung Tengah


Emosi baru yang ditampilkan menambah warna baru dalam mengendalikan kenaifan emosi remaja puber yang sangat related dengan prilakunya. Sebagaimana  dalam film ini menggambarkan dengan sangat jelas bagaimana emosi-emosi tersebut menguasai Riley, terlebih emosi barunya.


Ruang kontrol emosi di benak Riley kini dihuni oleh sembilan emosi yang memiliki karakteristik yang berbeda. Joy memimpin emosi lama untuk menghadapi kelompok emosi baru yang dipimpin oleh Anxiety. Keduanya berusaha mengatur Riley, yang justru menimbulkan perpecahan. Kesembilan emosi itu pun akhirnya berusaha untuk mencari formula terbaik untuk mengatur emosi Riley. Begitulah kehidupan remaja puber, ia harus berjuang mengontrol emosi di dalam dirinya agar berjalan stabil.


Dari film animasi yang mengusung genre slice of life (penggalan kehidupan) dengan durasi sembilan puluh menit ini kita diingatkan bahwa, setiap anak akan mengalami masa pubertas. Film ini sangat related dengan kita yang juga sudah melalui masa puber. Masa di mana rasa anxiety (rasa cemas) dan insecurity (ketidaknyamanan) mengambil alih banyak kesenangan di dalam hidup. Semakin dewasa kita akan semakin sulit merasakan bahagia.


Tidak masalah memiliki ambisi, karena hal itu wajar. Namun, jangan pernah merasa jikalau kita tidak hanyalah seorang diri di dunia ini. Film ini juga menegaskan bahwa peran dan dukungan orang tua serta keadaan lingkungan sekitar juga sangat berpengaruh sekali, terutama bagi diri kita yang masih belum memiliki pondasi diri yang kokoh. 


Baca: Mengapa Nabi Menyebut Ipar Adalah Maut?


Jangan pernah berpikir bahwa masa sulit itu tidak bisa kita lalui, sebab ujian itu Tuhan hadirkan sebab kita dinilai mampu oleh-Nya. Ingat, setiap badai yang datang akan ada masa usainya, dan usai badai berlalu akan ada pelangi indah menanti kita.


Jadi, jangan lupa untuk membahagiakan diri, karena yang tahu cara membahagiakan diri kita, ya diri kita sendiri. Mau sebesar atau sekecil apapun itu, hadapilah dengan riang gembira. Karena seiring berjalannya waktu, kita akan semakin terlatih untuk menjadi dewasa dan berdamai dengan keadaan dunia.


Film ini sangat keren, tidak hanya menjadi sarana hiburan saja, namun memberikan pembelajaran dan makna mendalam. Sebagai penutup tulisan, aku mengutip sebuah kalimat menarik dari karakter Joy (emosi periang) dalam film ini; "Tahukan kamu betapa sulitnya untuk tetap bersikap positif sepanjang waktu? Ketika yang kalian lakukan hanyalah mengeluh, mengeluh, mengeluh!"


Baca: Bukan Sebab Kita Hebat, Tapi Karena Allah Mampukan!

Share:

Saturday, June 22, 2024

Melihat dari Sudut Pandang Penderita Gangguan Kesehatan Mental dalam Film Kukira Kau Rumah

 

Foto oleh Hotstar. Ist


Film Kukira Kau Rumah merupakan film drama Indonesia yang rilis di bioskop pada tanggal 3 Februari 2022. Disutradarai oleh Umay Shahab berdasarkan lagu yang berjudul sama karya Amigdala. Film produksi MD Pictures serta Sinemaku Pictures ini dibintangi oleh Prilly Latuconsina (Niskala), Jourdy Pranata (Pram), Shenina Cinnamon (Dinda), dan Raim Laode (Octavianus). 

Share:

Friday, June 21, 2024

Ipar adalah Maut: Badai Rumah Tangga Tanpa Adanya Sebuah Tanda!

Poster Film Ipar adalah Maut yang dipajang di beranda XXI. Dokpri/Pecandu Sastra-2024.


Ipar adalah Maut merupakan film yang diangkat dari kisah nyata, berawal dari cerita viral yang diunggah oleh Eliza Sifaa melalui akun TikTok miliknya di tahun 2023. Kisah ini merupakan cerita dari salah satu pengikutnya di platform digital tersebut. Berkisah tentang seorang mahasiswi yang dipinang oleh Dosen muda, di mana pernikahan mereka semakin sempurna berkat hadirnya sang buah hati. Namun sayang, kebahagiaan yang menghampiri mereka hanyalah sementara, sebab hadirnya seorang wanita yang tak lain ialah adik ipar dari sang suami.
Share:

Wednesday, June 12, 2024

"How to Make Millions Before Grandma Dies", Drama Keluarga Thailand yang Mengaduk Emosi

 

Arsip Klik Film (2024).

How to Makes Millions Before Grandma Dies adalah film berbahasa Thailand berupa drama keluarga. Berasal dari Negeri Gajah Putih (Thailand), film ini disutradarai dan ditulis oleh Pat Boonnitipat dengan judul Thailand 'Lahn Mah'. Film ini mulai tayang di bioskop Indonesia sejak 15 Mei 2024, -  dibintangi oleh Billkin Putthipong (M), Tontawan Tantivejakul (Mui), Usha Seamkhum (Amah), Pongsatorn Jongwilas (Soei), Sanya Kunakorn (Kiang), Sarinrat Thomas (Chew), dan Himawari Tajiri (Rainbow).

Share:

Monday, June 3, 2024

[Film] Poin Penting dari Film Tuhan Izinkan Aku Berdosa

Poster Film Tuhan Izinkan Aku Berdosa di XXI. Dokpri.


Tuhan Izinkan Aku Berdosa adalah film drama Indonesia bergenre religi garapan Sutradara Hanung Bramantyo yang diadaptasi dari novel berjudul "Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!" karya Muhidin Dahlan. Film ini tayang perdana di Jogja Netpac Asia Film Festival (JAFF) di Empire XXI Yogyakarta pada 1 Desember 2023 dan serentak di bioskop Indonesia pada 22 Mei 2024.

Share:

Monday, May 27, 2024

[Film] Vina Sebelum 7 Hari: Dari Pembullyan Hingga Pelecehan

Cuplikan Film Vina Sebelum 7 Hari. Dok. Dee Company. Ist 


Film Vina: Sebelum Tujuh Hari merupakan karya garapan sutradara; Anggi Umbara yang diproduksi Dee Company dan rilis pada 8 Mei 2024 lalu. Film ini diangkat dari kisah nyata yang menceritakan tragedi pembunuhan dara muda di Kabupaten Cirebon pada tahun 2016 yang lalu.

Share:

Sunday, April 21, 2024

[Film] Air Mata di Ujung Sajadah: Bukti Ketulusan Cinta Seorang Ibu

Foto Poskota. Ist


 Hari kedua lebaran memang paling seru dihabiskan untuk menyenangkan diri. Setelah seharian bersilaturahmi kepada sanak-saudara terdekat di hari pertama - waktu untuk diri sendiri atau yang biasa orang bilang "me time" akhirnya tiba di hari berikutnya.

Share:

Friday, August 11, 2023

Dari "Raden Kian Santang" Jadi Candu Sholawat

 



Kalian pernah nggak secara tiba-tiba kepingin sesuatu, melakukannya dengan keinginan yang amat begitu besar. Hal itu harus banget terlaksana - sesegera mungkin. 


Hal ini pernah aku alami taat kala menduduki bangku sekolah menengah pertama (SMP) di kelas tiga akhir. Kembali pada tahun 2012 silam, berawal dari sebuah sinetron yang tayang di televisi. 


Sebenarnya, aku nggak seberapa suka menonton televisi, lebih banyak bermain dengan teman sebaya. Apalagi saat itu detik-detik menjelang penilaian akhir ujian nasional (UN). Namun, karena ini serial sejarah yang menceritakan kisah masa lampau dan bercerita tentang kerjaan di Nusantara, tentu saja aku sangat antusias. Aku paling suka sekali membaca, mendengar, atau menyaksikan sesuatu yang membahas hal terkait sejarah kerjaan di Indonesia


Rasa ingin yang muncul di dalam diriku bisa dikategorikan sebagai "ngidam". Hanya saja aku bukan orang yang sedang hamil, juga bukan perempuan. Apalagi diriku masih remaja dan belum menikah. Secara kemauan itu besar dan harus banget dilaksanakan. Rasanya ada yang kurang jika hal itu tidak dilaksanakan.


Sinetron Raden Kian Santang yang merupakan produksi MD Entertainment ini ditayangkan di MNCTV dan pertama tayang pada 28 Mei 2012, pukul 20.30 wib. Musim 1 berlangsung pada Mei 2012 hingga Oktober 2014. Berkisah tentang salah satu putra dari Prabu Siliwangi yang merupakan pemegang tahta kerajaan Padjadjaran. Sinetron ini disutradarai oleh Edi S. Jonatan, Iyon Priyoko, dan Udin Berantai. Dibintangi oleh Alwi Assegaf, Ananda George, Ahmad Ridho, dan beberapa aktris serta aktor lainnya.


Baca: Menyingkap Dunia Malam dari Novel Re dan peRempuan 


Salah satu scene atau adegan yang kala itu aku lihat ialah di mana sosok Raden Kian Santang kecil yang diperankan Alwi Assegaf melantunkan salah satu syair indah yang memuji Baginda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam. Kala itu aku belum mengerti jika syair tersebut merupakan sholawat, yang aku pahami hanyalah lagu-lagu religi. Ya, sesuatu yang berhubungan dengan syair Islami, aku tahunya hanyalah lagu religi.


Syair itu begitu indah dan menyentuh kalbu (hati). Seketika hatiku senang dan merasa tenteram kala mendengar lantunan dari suara merdu si kecil Kian Santang tersebut. Sejak itu aku sering melantunkan syairnya di mana saja bahkan selalu terngiang, aku juga jadi mengidolakan sosok Alwi yang memerankan Kian Santang kecil.


Dari kesukaan yang secara tiba-tiba itulah membawaku pada sebuah pertemuan yang tidak disangka-sangka beberapa tahun setelahnya. Dari yang aku tidak tahu sholawat menjadi tahu, bahkan menyukainya. Memasuki dunia pesantren dan mengenalnya, serta mencintai majelis dan duduk di dalamnya. Semua berawal dari sinetron Raden Kian Santang ini. Keingintahuanku pula membawa diriku yang penasaran dengan sosok Alwi Assegaf sebagai Kian Santang kecil yang akhirnya membuat diriku mencari tahu siapa dirinya. Ternyata Alwi merupakan salah satu keturunan dari manusia yang mulia, Baginda Nabi Muhammad saw.


Lama syair itu tenggelam dalam diri, beberapa bulan pasca melepas pakaian putih abu-abu yang menyelimuti tubuh kurusku.  Aku kembali diperkenalkan dengan syair sholawat yang menggetarkan hati, hanya saja yang melantunkannya sosok yang berbeda. Meski keduanya masih sama-sama keturunan dari Nabi Muhammad saw. 


Baca: Tiga Puluh Jam Bersama Habibana 


Melalui untaian syair dan pujian yang disenandungkan Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf itu pula semakin menambah rasa kagum dan syukurku bisa mengenal dan menjadi umat Baginda Nabi Muhammad saw., yang pada akhirnya membawa diriku hanyut dalam lantunan sholawat. 


Sinetron kolosal Raden Kian Santang ini sangat berperan dalam perjalanan hidupku. Tentunya tak lepas dari sosok Sayyid Alwi Assegaf yang berhasil memerankan Kian Santang kecil dengan apik. Dua tahun lebih aku mengikuti kisah dalam sinetron tersebut, hingga akhirnya tamat (2014). Dan beberapa tahun setelahnya tayang kembali untuk musim kedua dan ketiga dengan cerita yang berbeda, namun pada edisi kala itu aku tidak seberapa suka. Sebab beberapa cerita seakan-akan lepas dari sejarah.


Sinetron ini banyak diminati pada masanya, apalagi beberapa pemerannya kala itu sedang menjadi idola anak-anak dan remaja. Tim produksi patut diacungi jempol dalam memilih sosok pemeran dalam sinetron tersebut, seperti Alwi Assegaf yang memiliki background agamis, hafal Al-Qur'an, sehingga sangat sejalan dengan kisah dan karakter Raden Kian Santang yang ia bawakan. Prabu Siliwangi yang diperankan oleh Ananda George pun tak kalah kerennya, ia banyak menuai pujian dari berbagai kalangan, terutama masyarakat Jawa; Sunda. Menurut mereka, sosok Ananda George sudah sangat pas dalam memerankan Siliwangi. Terbukti kedua pemeran tersebut hingga kini banyak dikenal dengan sebutan sosok yang mereka perankan; Kian Santang dan Prabu Siliwangi. 


Baca: Novel Sesuk Tekankan Peran Penting Orang Tua 

Share:

Latest in Tech

Cendekia Al Azzam | Pecandu Sastra©2025. Powered by Blogger.

Rindu yang Menjelma Prasasti Doa

: 3 Bulan Berpulangnya Abah Ustadz Mahfudzin bin H Alif Yunus  Sudah tepat tiga bulan roda waktu berputar sejak hari itu. Tiga bulan yang te...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Blog Archive

Home - Recent Posts (show/hide)

Home - PageNavi (show/hide)

Random Posts

Recent Posts

Labels