Skip to main content

Puisi Akrostik - Muhammad Zain Kholid

Desain dibuat oleh AI/Gemini


Puisi Akrostiknya ini aku persembahkan untuk keponakanku - cucunda dari Abah Ustadz Mahfudzin bin H Alif Yunus - yang akan memasuki babak pendidikan baru di sekolah dasar; Muhammad Zain Kholid.

---

Mata beningnya menyimpan sejuta mimpi indah
Ukiran senyumnya membawa damai yang tulus di jiwa
Hangat kehadirannya laksana embun penyejuk di pagi hari
Akhlak mulia semoga senantiasa menghias langkahnya
Melangkah dengan kepolosan yang menenangkan kalbu
Menjadi lentera penerang di kala redup melanda
Asih dan doa selalu mengalir tak putus untukmu
Dekapan kasih sayang akan selalu tulus menjagamu


Zikir yang lembut semoga selalu basah di bibirnya
Aliran berkah mengiringi setiap tumbuh kembangmu
Indah pekertimu, duhai anak shalih yang disayang
Napas kehidupanmu semoga senantiasa dipenuhi rida Tuhan


Kokohkan langkahmu mengejar cita-cita mulia
Harapan besar kami titipkan di pundak kecilmu
Obor penyemangat bagi keluarga dan sesama
Langkah kaki yang ringan menuju jalan kebaikan
Iman yang teguh menjadi perisai di dadamu
Di setiap helai waktu, bahagia dan berkah bersamamu


Disisi Saidi Fatah 
Gunung Putri, 14072026

---


Hari ini, langkah kaki kecilmu resmi memulai petualangan baru di sekolah dasar, Dik Muhammad Zain Kholid.

Bagi Om, Zain bukan sekadar keponakan biasa. Ia adalah cucu dari guru, sekaligus orang tua asuh yang membimbing dan merangkul diri yang faqir ini selama menjalani kehidupan di tanah rantau, Bogor. Melihatnya tumbuh dan kini mulai mengenakan seragam sekolah, ada rasa haru dan syukur yang luar biasa membuncah di dada.

Puisi akrostik sederhana ini saya tulis khusus sebagai rangkuman doa, cinta, dan harapan agar langkah Zain selalu dituntun oleh rida-Nya. Selamat belajar dan tumbuh menjadi anak yang shalih serta berakhlak mulia, Zain! 🤍

Comments

Popular posts from this blog

Tiga Puluh Jam Bersama Habibana

Kenangan Habibana dan Abah serta rombongan. Foto Pecandu Sastra. Dokpri   Jum'at itu menjadi pembuka perjalanan yang mengesankan. Nabastala biru menghampar semesta sore, perlahan mulai memudar. Segera usai berdzikir aku telah bersiap menemani Abah dan jamaah memenuhi undangan majelis peringatan Isra' Mi'raj di salah satu desa di bagian Bogor Timur. Abah, demikian aku memanggil laki-laki yang tengah berusia 50 tahun itu. Seorang pendakwah yang begitu istiqomah, gigih, penyabar, dan sangat mencintai ilmu. Beberapa bulan belakang, aku kerap menemani beliau berdakwah di desa tersebut, sepekan sekali. Tak peduli gerimis, hujan, dingin, ataupun panasnya cuaca, lelah setelah beraktivitas sekalipun, beliau terus istiqomah tanpa absen. Kecuali uzur yang mendesak. Hal tersebut yang menjadi salah satu yang aku kagumi dari sosok Abah. Sore itu, rombongan dijadwalkan berangkat sebelum maghrib. Dikarenakan perjalanan yang cukup memakan waktu, apalagi hari kerja, jam-jam segitu adalah pu...

Jumbo: Animasi Lokal yang Memberi Banyak Pelajaran

  Poster Film Jumbo di Bioskop Bes Cinema Kota Metro (Foto oleh Cendekian/dokpri.2025) Akhirnya dua hari lalu bisa menyaksikan film animasi lokal buatan anak negeri. Film yang sudah sejak pertama official trailernya tayang di platform digital ini menjadi salah satu yang aku nantikan untuk ditonton, karena memang menarik perhatianku. Aku menyaksikan film ini bukan karena ikut-ikutan fomo ya, tapi memang penasaran banget sama filmnya.

Review Film Home Sweet Loan: Asa Anak Muda Menuju Rumah Impian

Refleksi hangat dari film Home Sweet Loan yang menggambarkan perjuangan generasi muda mencari arti rumah dan stabilitas hidup. (Dokpri) Kita sering mengira bahwa perjalanan menuju “rumah” adalah soal membeli properti, mencicil KPR, atau urusan angka dan bank. Tapi film Home Sweet Loan memberi tafsir yang lebih dalam dan emosional: rumah bukan hanya tentang tempat tinggal, tapi tentang tempat berteduh secara batin.

Memetik Cahaya di Cicadas: Tentang Khidmah, Rindu, dan Wajah Guru

Moment foto bersama guru kami Habib Musthofa bin Yahya (Koko Marun) dan Abah Ust. Mahfudin bin H Alif Yunus (Gamis Sage). (Dokpri/Farid). Ada sebuah kebahagiaan yang sulit didefinisikan dengan kata-kata; sebuah rasa yang hanya muncul ketika bibir menyentuh tangan seorang guru, atau saat aroma nasi liwet yang kita tanak sendiri di dapur mereka mengepul hangat untuk menyambut tamu-tamu shalih.

Mengabadikan Moment Bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf

Momen foto bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf. (Dokpri/Fadillah). Setiap orang pasti memiliki momen “one in a million” dalam hidupnya. Sebuah peristiwa langka yang membuat kita tertegun dan merasa seluruh keberuntungan dalam setahun habis dalam satu hari.