Skip to main content

Sahur Perdana di Pesantren Tanpa Air Putih

 

Momen sahur ramadan. Foto oleh Kumparan. Ist


       Ada banyak momen di bulan ramadan, dari momen terindah hingga momen-momen tak terduga, sebagaimana yang pernah aku alami ketika pertama kali ikut sahur di sebuah pesantren. Hal itu terjadi beberapa tahun silam, ketika aku berada di tanah rantau.


Saat itu memasuki puasa di sepuluh hari kedua. Aku yang tinggal bersama orang tua asuhku di rantauan ditinggal sendirian di rumah, sebab mereka lagi balik ke rumah orang tua mereka di Prabumulih - ada salah satu keluarga mereka yang berduka.


Mengantisipasi rasa kesepian dan sedih, aku ajak salah satu teman bimbel (bimbingan belajar) ku untuk hong out (nongkrong) sekalian ngabuburit. Sebut saja Donie namanya, aku kenal dan akrab dengan dia sejak ia gabung di kegiatan bimbel untuk persiapan memasuki perguruan tinggi. Jadi, kegiatan bimbel dulu itu diadakan selama satu bulan dan berlangsung di Pondok Pesantren. Kala itu aku menjadi bagian dari panitia, sedangkan dia salah satu pesertanya.


Mendapat kabar itu, Donie justru memberi saran agar kita silaturahmi ke pondok pesantren tempat kita bimbel dulu, sekalian buka puasa dan sahur di sana, selagi ia dan teman-teman seangkatannya libur. Aku pun segera menyetujui ide itu, karena bagiku yang penting keluar rumah dah biar nggak sendirian.


Baca juga: "Kisah: Berkah Ratib, Mata Sembuh Dari Cipratan Lem"


Sore itu akhirnya kami berangkat dari rumah masing-masing dan berjumpa di taman kota guna menuju pesantren. Donie ditemani Samsul dan Firman teman seangkatannya sewaktu bimbel. Perjalanan kami memakan waktu hampir satu jam tiga puluh menit dengan mengendarai sepada motor melintasi tiga kecamatan.


Sesampainya di pesantren kami disambut dengan hangat oleh Abah, Ibu Nyai, dan para santri. Hidangan lezat dan kurma menjadi menu berbuka.


Usai melaksanakan tarawih berjamaah di masjid, kami istirahat di ruang tamu di temani kopi hitam dan potongan roti yang telah disediakan para santri yang piket hari itu.


Yang paling unik dan aku rindukan adalah momen ketika makan bersama. Kita makan bersama-sama dalam satu nampan besar yang telah diisi nasi dan lauk-pauk, lalu kita duduk melingkar mengelilingi nampan tersebut untuk santap. Tradisi ini namanya mayoran. Biasanya satu nampan untuk lima hingga enam santri. Hal inilah yang membuat persahabatan dan kekeluargaan antar santri semakin hangat dan melekat.


Baca juga: Hidup Positif ala Good Vibes Good Life
 

Namun, yang ingin aku bagikan kekocakannya ialah ketika sahur. Jadi waktu itu pukul tiga lewat - hampir memasuki jam setengah empat pagi. Usai melaksanakan sholat sunnah dua rakaat, beberapa santri datang menemui kami membawa nampan berisi makan untuk sahur. Karena sudah pada lapar kami pun menyantap dengan lahap tanpa memerhatikan jika ada sesuatu yang kurang. Usai santap sahur kami saling tatap, lalu Donie pun nyeletuk; "ini minumnya gimana?" - Dengan anteng salah satu santri menjawab; "Maaf mas, persediaan minum kita habis, santri yang bertugas masak air pada nggak jalan. Kantin juga lagi tutup."


"Lha, terus kita minumnya gimana?" ucap Firman nimbrung pembicaraan. - "Biasanya kita minum air dari keran langsung mas. Aman kok, sehat, sudah teruji," tutur santri yang lain. 


Karena kita belum biasa minum dari air keran secara langsung, walhasil sahur pagi itu ditutup dengan meneguk kopi sisa semalam. Alhamdulillah, meski sahur dengan kopi sebagai penutupnya, puasa kita lancar semua hingga maghrib tiba, badan pun sama sekali tidak loyo. Insha Allah, berkah dan barokah puasanya. Ini adalah momen yang tak terlupakan dalam perjalananku selama di tanah rantau di Bumi Ramik Ragom, Way Kanan, Lampung. Sekian!


Baca juga: "Perkedel Tempe: Menu Sehat Kaya Akan Protein!"


Note: Tulisan ini pertama kali dimuat di Kompasiana saat ramadan 1446 hijriah, dalam event ramadan bercerita 2025 dengan judul sama. Klik di sini untuk membaca! 

Comments

Popular posts from this blog

Pelukan yang Tak Selesai [Cerbung]

Ilustrasi oleh AI Halo sahabat pembaca, terima kasih ya telah setia mampir dan membaca setiap karya kami. Salam hangat dari aku Cendekia Alazzam dan beberapa nama pena yang pernah aku kenakan 😁🙏. 

Cinta, Pengabdian, dan Jejak yang Abadi

  Gambar dibuat oleh AI. Halo, sahabat pembaca. Salam kenal, aku Cendekia Alazzam. Aku hendak menulis cerita bersambung, kurang lebih ada 10 bab. Dengan judul besar "Cinta, Pengabdian, dan Jejak yang Abadi". Bergenre Fiksi Realis, Drama Keluarga, dan Romance.

[4] Dalam Pelukan yang Kupilih

Ilustrasi Dalam Pelukan yang Kupilih 'Cinta, Pengabdian, dan Jejak yang Abadi'. (Sumber: AI) "Hallo, selamat datang di bab 4 perjalanan (Cinta, Pengabdian, dan Jejak yang Abadi). Terima kasih telah menjelajah sejauh ini. Buat yang ketinggalan bisa di cek pada halaman awal ya!  Klik disini!!!  Untuk yang ketinggalan bab sebelumnya (Bab 3) >>> klik di sini <<< untuk menuju ke sana!"

Filosofi Sepeda Untuk Hidup yang Lebih Bermakna

Filosofi sepeda untuk hidup yang lebih bermakna. (Foto oleh: Pixabay/wal_172619) Oleh: Cendekia Alazzam          Seiring berkembangnya zaman, sepeda tidak hanya sekadar menjadi alat transportasi bagi banyak orang, kini ia pun hadir menjadi media olahraga bagi sebagian orang yang gemar berolahraga.  Selain jogging dan berlari, bersepeda menjadi  olahraga favorit yang praktis dan mudah belakangan ini. Dengan turut berkembangnya desain sepeda yang semakin keren dan fungsional, terlebih lagi saat ini pemerintah di beberapa kota sudah menyediakan beberapa titik jalur khusus sepeda sehingga menciptakan rasa yamg semakin aman dan nyaman ketika bersepeda. Berbicara tentang sepeda, ada banyak filosofi tentangnya yang sangat relevan bagi kehidupan. Beberapa poinnya akan kita bahas melalui tulisan singkat ini, semoga sahabat pembaca dapat mengambil hikmahnya dan diterapkan dalam kehidupan. Dari sepeda kita seakan diajarkan untuk bergerak dan terus bergerak. Keti...

Pertemuan yang Tak Biasa

Ilustrasi - pertemuan dua insan di suatu mushola. (Sumber: AI) Di suatu mushola kecil di sudut hari, Langkahku berat, hati terasa enggan menepi. Tempat asing, dinding-dinding sunyi, Tapi tanggung jawab menarikku berdiri. Kupikir hanya akan sholat lalu pergi, Namun takdir menyusun pertemuan sunyi. Seorang anak kecil - Dengan mata teduh dan senyum yang tak biasa mengalir.