Cerita Cendekia adalah ruang ekspresi dan refleksi dari Cendekia Alazzam (Pecandu Sastra) — berisi rangkaian puisi, cerpen, cerbung, esai, opini, serta ulasan buku dan film. Melalui tulisan, aku bercerita tentang kehidupan, gagasan, dan imajinasi, dengan harapan bisa mengajak pembaca berpikir, merasa, dan merdeka.

Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts

Monday, September 22, 2025

Mengabadikan Moment Bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf

Momen foto bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf. (Dokpri/Fadillah).


Setiap orang pasti memiliki momen “one in a million” dalam hidupnya. Sebuah peristiwa langka yang membuat kita tertegun dan merasa seluruh keberuntungan dalam setahun habis dalam satu hari.
Share:

Sunday, June 8, 2025

Ketika Tukang Sol Sepatu Jadi Haji yang Mabrur Tanpa Berhaji

Jutaan jemaah berkumpul di sekitar Ka'bah. Tak semua bisa hadir, tapi niat tulus bisa menghantarkan pahala haji mabrur. (Sumber: Pexels)

 

 "Tolok ukur seorang haji yang mabrur adalah ketika seorang tersebut menjadi pribadi yang lebih baik, berperikemanusiaan, tidak riya, dan sombong setelah berhaji."

- Habib Husein Ja'far al-Hadar


Setiap musim haji, jutaan umat Islam dari seluruh dunia berlomba-lomba menjadi tamu Allah di Baitullah. Namun, bagaimana jika seseorang sudah niat, sudah usaha, tapi gagal berangkat haji karena satu dan lain hal di luar kendali? Ap²akah itu berarti kehilangan segalanya?

Share:

Sunday, April 20, 2025

Berawal Dari Cerita di Buku, Qatar Membuatku Sulit Untuk Berpaling!

 

Pemandangan Museum of Islamic Art (MIA) Doha, Qatar. (Foto oleh: Daily Sabah/ist)



        Beberapa waktu silam aku pernah mendapat kiriman sebuah buku dari salah satu penulis Indonesia yang merupakan tenaga kerja migran di Doha, Qatar. Berjudul Amazing Life in Qatar, Diday Tea penulis berdarah sunda ini berkisah tentang betapa indahnya negeri "Beth Qatraye" atau wilayah orang Qatar ini.

Share:

Tuesday, April 15, 2025

Dalam Hangat Sentuhan Ajaib Mama dan Doa Mustajabnya

Ilustrasi berdoa (Sumber: nusantaranews/istimewa)
Share:

Monday, April 14, 2025

Ketika Sang Imam Keluarga Pergi

Foto oleh clusterenergiacv. Ist


         Kamis pagi usai melaksanakan sholat subuh berjamaah, Alfa bergegas membenahi barang-barangnya yang sempat berantakan. Semalam baru saja Alfa sampai dari kota - sebuah kota di Pulau Jawa, sebab ada kegiatan di sana.

Share:

Sunday, April 13, 2025

Produktif Sejak Dini, Semangat Juang Kevin Membuat Cemburu!

 

Kevin Ridho saat tadarus Al Qur'an usai shalat tarawih (Sumber: dokpri/istimewa)

Bulan ramadan harus terus dihidupkan dengan 'merayu' Tuhan (Allah) melalui kegiatan-kegiatan positif dan bernilai, agar Allah makin sayang dan ridho terhadap kita.

Share:

Thursday, April 3, 2025

Sahur Perdana di Pesantren Tanpa Air Putih

 

Momen sahur ramadan. Foto oleh Kumparan. Ist


       Ada banyak momen di bulan ramadan, dari momen terindah hingga momen-momen tak terduga, sebagaimana yang pernah aku alami ketika pertama kali ikut sahur di sebuah pesantren. Hal itu terjadi beberapa tahun silam, ketika aku berada di tanah rantau.

Share:

Sunday, February 23, 2025

Kisah: Berkah Ratib, Mata Sembuh Usai Terkena Lem Rekat

Foto oleh Kompas. Ist



           Pada suatu kesempatan beberapa waktu yang lalu saat mendampingi Abah menghadiri majelis yang rutin kita ikuti di salah satu desa di bagian Bogor Timur, Jawa Barat. Kala itu, saat kita sedang duduk bersama sembari menghilangkan penat usai perjalanan - ditemani suguhan kopi hitam tanpa gula dan beberapa kudapan yang dijamu oleh tuan rumah, kita saling berbagi cerita. 


Ada hal yang menarik perhatian saya untuk menyimak dengan tertib. Sebuah kisah yang menggetarkan jiwa. Sebenarnya, pada sebelumnya kisah ini sudah pernah diceritakan oleh Abah kepada saya beberapa waktu sebelumnya, dan kini saya mendengarkannya secara langsung dari yang bersangkutan. Dengan ini hati saya jadi semakin yakin, betapa luar biasa akan kuasa-Nya. 


Sebut saja hamba Allah (sebab saya lupa nama beliau yang dalam hal ini sebagai tokoh utama, karena kita baru pertama kali jumpa). Suatu ketika si hamba Allah ini sedang berkegiatan, di mana dia pada saat itu menggunakan  lem cair (sejenis lem yang memiliki rekat kuat).  Lem ini dalam beberapa detik saja mampu merekat pada apa saja, dan sangat kokoh. Singkatnya,  ini lem secara tidak sengaja mengenai salah satu matanya. Bayangkan lem yang rekatnya kuat, tiba-tiba terkena mata, perihnya luar biasa.


Baca juga: Lebih Dekat Dengan Sang Pencetus 'Resolusi Jihad' Melalui Komik Edukasi 


Seketika hamba Allah ini langsung membersihkan area matanya yang terkena cipratan lem, dengan berbagai upaya dilakukan. Karena rekatnya sangat cepat, mata si hamba Allah ini kulitnya menutup (saling merekat). Perih, panas, begitulah yang ia rasakan. Karena berbagai usaha dilakukan belum juga berhasil, akhirnya hamba Allah memutuskan untuk membawanya ke ahli kesehatan. Pihak sana menyarankan agar si hamba Allah segera melalukan tindakan operasi, sebab lem yang mengenai matanya sulit untuk dilepaskan, jika dipaksakan khawatir akan menimbulkan sesuatu yang buruk.


Hamba Allah ini pun pulang ke rumah dengan rasa yang bercampur aduk di hatinya. Pada senja hari menjelang maghrib, hamba Allah yang punya kebiasaan berdzikir ini tetap melakukan aktivitas dzikir sebagaimana biasanya. Dzikir yang biasa ia dawamkan (istiqomah dibaca) ialah Ratib Al-Haddad karangan Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Pada salah satu bacaan dzikir di dalam ratib tersebut ketika ia baca secara tiba-tiba hatinya bergejolak, ia menangis, air matanya membasahi pipi. Masha Allah, mata yang tadi tertutup karena rekat lem cair, atas kuasa Allah terbuka tanpa operasi.


Mendengar kisah itu secara langsung dari orang yang mengalaminya, dada saya seketika sesak, berkecamuk, hati saya bergetar menyebut asma Allah. Masha Allah, begitu luar biasa pertolongan Allah. Padahal ketika beliau periksa ke ahli kesehatan, beliau disarankan untuk operasi karena pihak sana tidak bisa membantu untuk membuka matanya. Jika dipaksakan takut malah justru menimbulkan sesuatu yang buruk.


Baca juga: Kapan Waktu Mustajab di Hari Jum'at?


Pembaca bisa bayangkan, operasi itu selain biayanya mahal, banyak risiko yang harus ditanggung. Belum lagi itu bagian mata yang akan dioperasi. Kita juga belum tahu apakah itu akan berhasil atau tidak. Betapa indahnya pertolongan Allah, sesuatu yang tidak mungkin di mata kita (makhluk-Nya) di saat Ia bertindak, maka tidak ada yang tidak mungkin.


Sahabat pembaca, inilah, betapa pentingnya kita melibatkan Allah dalam setiap urusan. Jika usaha telah kita lakukan, maka, pada akhirnya berserah kepada-Nya adalah final. Dalam kondisi sesulit apapun, teruslah berprasangka baik kepada-Nya, sebab pertolongan-Nya pasti dan tidak pernah telat. Tidak ada sesuatu yang dapat merubah takdir melainkan doa.


Semoga melalui kisah ini dapat menjadi inspirasi bagi kita semua untuk menjadikan cahaya keimanan kita semakin bertambah, rasa syukur kita semakin meningkat, dan sifat optimis kita semakin meluas. Salam.


Baca juga: Keajaiban Waktu Subuh dan Keistimewaannya Dalam Perspektif Islam 

Share:

Monday, June 24, 2024

Bukan Sebab Kita Hebat, Tapi Karena Allah Mampukan!


Sayyidi Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz Tarim saat mengisi kajian subuh di Masjid Istiqlal Jakarta Agustus 2023. Dokpri/Pecandu Sastra.


 Usai sudah perjalanan satu tahun di 2023. Meski banyak tangis-tawa, suka-duka, bahagia, dan cerita lainnya - kini semuanya mampu dilalui dengan akal sehat. Tiga ratus enam puluh lima hari bukanlah suatu yang pendek, juga bukan suatu yang panjang jika kita jalani dengan hati tulus dan ikhlas. Nyatanya, yang katanya tahun paling buruk, paling sakit, dan paling-paling lainnya, tidak juga demikian. Ada banyak hal yang harus disyukuri dan banyak keajaiban-keajaiban yang Allah datangkan tanpa terduga.

Share:

Thursday, February 23, 2023

Pentingnya Menata Niat

Dokpri


Ada sebuah kisah yang sangat menyentuh, perihal pentingnya menata niat dalam hal apapun itu. Kisah ini diceritakan oleh guru kami, Habibana Sayyid Mustofa bin Usman bin Yahya, Pimpinan Majelis Ta'lim Al-Musthofawiyah Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat - saat mengawal beliau ziarah ke waliyullah di Gunung Gambir, Cianjur, beberapa hari lalu.


Sembari jagongan, menikmati kudapan buah rambutan dan mineral yang disajikan Kang  Karim di gubuk beliau yang rindang, ditemani sejuknya sepoi angin khas pegunungan. Beliau, Habib Mustofa berkisah.


Ada seorang santri yang bersilaturahmi ke rumah salah satu ajengan, ia membawa buah pisang. Sedari rumah ia sudah berniat untuk menyambung silaturahmi, sama sekali tidak ada niat lain.


Ajengan ini terkenal darmawan, ramah, dan baik. Baginya siapapun tamu harus dijamu dan diperlakukan dengan baik. Setiap tamu tidak boleh pulang dengan tangan kosong. Ajengan itu bingung hendak membalas buah tangan santri tersebut, sebab di rumahnya tidak tersedia apa-apa. Setelah ia mencari dan memperhatikan sekitar, ia terpana dengan anak kambing miliknya, hanya itu satu-satunya yang bisa ia berikan. Akhirnya diberikan lah anak kambing tersebut sebagai pengganti buah tangan si santri.


Baca: Santri Ganteng yang Disangka Teroris


Melihat hal tersebut, tetangga ajengan itu pun tertarik. Ia langsung berpikir, jika ia turut silaturahmi dan membawa buah tangan, maka ia akan mendapatkan balasan juga. Dirinya berspekulasi, jika santri datang membawa buah pisang dan diberi kambing, lantas bagaimana jika ia datang membawa kambing, pasti akan dibalas dengan sapi.


Singkat cerita, datanglah tetangga ajengan tersebut dengan membawa seekor kambing. Mereka berbincang-bincang dan menikmati kudapan. Tiba saatnya waktu berpisah, si ajengan bingung mau ngasih tetangganya apa. Dan, ia ingat bahwa kemarin dikasih pisang, masih utuh. Akhirnya tetangganya tersebut dikasih pisang sebagai ganti kambing yang dibawa tadi. Orang tersebut kecewa sebab tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan.


Dari kisah di atas kita bisa menyimpulkan, bahwasanya penting untuk menata niat dalam hal apapun. Jangan karena menginginkan sesuatu yang berlandaskan nafsu, niat menjadi rusak, sebagaimana tetangga ajengan berniat silaturahmi karena melihat seorang santri yang datang membawa pisang dan pulang dengan seekor kambing. Berharap jika ia datang membawa kambing, maka akan dibalas dengan seekor sapi. Sapi tidak didapat, justru kekecewaan. Semoga para pembaca budiman lebih bijak dan lebih baik lagi dalam menata niat, Aamiin.


Baca juga:

       • Masihkah Cinta di Wayka?

       • Hikmah | Bersedekah Dengan Cara Bersedekah 

       • Dengan Tekad dan Basmallah 

Share:

Latest in Tech

Cendekia Al Azzam | Pecandu Sastra©2025. Powered by Blogger.

Pelayan Setia di Majelis Cahaya | Puisi

Ilustrasi dibuat oleh kecerdasan buatan (AI)/Gemini.    Sering kali, di sepertiga malam terakhir saat alam semesta tenggelam dalam kehening...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Blog Archive

Home - Recent Posts (show/hide)

Home - PageNavi (show/hide)

Random Posts

Recent Posts

Labels

Blog Archive