Cerita Cendekia adalah ruang ekspresi dan refleksi dari Cendekia Alazzam (Pecandu Sastra) — berisi rangkaian puisi, cerpen, cerbung, esai, opini, serta ulasan buku dan film. Melalui tulisan, aku bercerita tentang kehidupan, gagasan, dan imajinasi, dengan harapan bisa mengajak pembaca berpikir, merasa, dan merdeka.

Showing posts with label Ramadhan. Show all posts
Showing posts with label Ramadhan. Show all posts

Thursday, April 24, 2025

Darul Amal, Halal Bihalal, dan Pengingat Diri

Suasana khusyuk saat ibadah shalat. (Foto mualliminenamtahun/istimewa).



"Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar. Laailaaha illaallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar wa lillaahil hamdu."
Share:

Monday, April 21, 2025

Dari Bilik Dapur Minimalis Untuk Hari Raya yang Manis

Kue bangkit, salah satu hidangan hari raya (Sumber: Dokpri/Cendekian Alazzam)


       Dalam hitungan hari, puncak ramadan akan segera tiba. Hari raya idul fitri 1446 hijriah yang dinantikan semua umat muslim di penjuru dunia akan hadir di tengah-tengah kita. 

Share:

Sunday, April 13, 2025

Produktif Sejak Dini, Semangat Juang Kevin Membuat Cemburu!

 

Kevin Ridho saat tadarus Al Qur'an usai shalat tarawih (Sumber: dokpri/istimewa)

Bulan ramadan harus terus dihidupkan dengan 'merayu' Tuhan (Allah) melalui kegiatan-kegiatan positif dan bernilai, agar Allah makin sayang dan ridho terhadap kita.

Share:

Saturday, April 12, 2025

Aku 'Zero Waste' Aku Tamak?

Ilustrasi. (Foto: stock.adobe) Istimewa


         Dalam beberapa kesempatan taat kala berkumpul dengan teman maupun orang-orang baru, ada hal yang seringkali membuatku nggak nyaman, terutama ketika kita makan bersama di satu meja atau duduk bersampingan. Karena setiap makan, kebiasaan yang aku anut ialah tidak menyisakan makanan sedikitpun di piring, meski itu hanya sebutir nasi.

Share:

Capcay Sayur Bakso: Makanan Sehat - Kantong Hemat ala Anak Kost

Capcay Sayur Bakso. Foto oleh Disisi/Cendekia/PS_2025


       Hidup mandiri di tanah rantau adalah satu hal yang harus disyukuri. Karena, tidak semua orang bisa dan berkesempatan menjalaninya. Selain kita dituntut harus serba bisa, jarak dengan keluarga juga membuat kita harus 'tetap waras', apalagi di bulan ramadan seperti ini, hidup hemat terus-menerus diupayakan.

Share:

Friday, April 11, 2025

Ketulusan Cinta An-Nass dan Sepiring Mie Instan

 

Olahan Mie Instan. Foto oleh Klik Dokter. Istimewa.
Share:

Thursday, April 3, 2025

Sahur Perdana di Pesantren Tanpa Air Putih

 

Momen sahur ramadan. Foto oleh Kumparan. Ist


       Ada banyak momen di bulan ramadan, dari momen terindah hingga momen-momen tak terduga, sebagaimana yang pernah aku alami ketika pertama kali ikut sahur di sebuah pesantren. Hal itu terjadi beberapa tahun silam, ketika aku berada di tanah rantau.

Share:

Thursday, July 4, 2024

Refleksi Diri Dalam Buku Surat Cinta Untuk Ramadhan

 

Buku Surat Cinta Untuk Ramadhan. Dokpri.


Ramadhan adalah bulan suci penuh kemenangan. Di mana terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan; yaitu malam lailatul qodar. Bulan yang kehadirannya selalu dinantikan dan dirindukan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia.


Ada banyak kisah dan cerita yang terukir pada bulan ramadhan. Tidak hanya suka-suka, ada tangis, tawa, bahagia, dan yang lainnya. Dan, tentunya kebahagiaan yang terukir indah. Kemarin contohnya, kita melihat bagaimana euforia ramadhan turut dirasakan tidak hanya umat Islam, bahkan umat beragama lain turut mendapatkan keberkahan. Mereka berlomba-lomba menyerbu takjil menjelang buka puasa, sungguh indah!


Berbicara perihal bulan Ramadhan, awal syawal kemarin aku mendapat hadiah istimewa dari salah satu penerbit indie; Santri Nulis Publishing. Berupa sebuah buku dengan nuansa biru langit, berlatar sebuah masjid klasik berwarna cokelat yang magis akan makna.



Buku antologi yang ditulis oleh Ustad Saiful Falah, founder Santri Nulis bersama beberapa calon penulis muda yang merupakan santri maupun alumni pondok pesantren, serta masyarakat umum lainnya. Bertutur mengenai kegiatan hingga kenangan di bulan ramadhan sebagai bahan refleksi diri.


Berbagai cerita terlukiskan dengan beragam sudut pandang, dari ramadhan bersama keluarga dan orang terdekat yang dicinta, hingga pengalaman di tanah rantau, bahkan sampai ke negeri seberang nun jauh di sana. Setiap paragraf tertuang memiliki nilai dan hikmah yang dapat dipetik dan dijadikan pelajaran bagi setiap pembaca. Membacanya seakan berkaca diri, merefleksi sejauh perjalanan apakah waktu maksimal digunakan untuk kebaikan atau sebaliknya, terlebih pada bulan suci ramadhan.



Jika ramadhan ini menjadi yang terakhir kalinya, lantas persiapan apa yang sudah dilakukan dan dipersiapkan menuju kembali kepada-Nya? Masih adakah waktu untuk sampai pada ramadhan berikutnya! Wallahu alam.


Sebagaimana manusia, tak ada yang sempurna. Begitu pun dengan buah karyanya. Buku dengan ketebalan 194 halaman ini tentunya masih butuh proses yang panjang menuju kebaikan yang lebih. Meski demikian, nilai-nilai dan pesan yang hendak disampaikan oleh para penulis sejauh ini cukup bisa dipahami oleh diriku sebagai pembaca, semoga sama dengan yang lainnya.


Kritik dan saran tentu dinantikan agar ke depan dapat menyuguhkan karya dengan lebih baik dan lebih baik lagi. Tertarik membaca bukunya? Kamu bisa meminangnya melalui jejaring sosial media - akun instagram Santri Nulis (@santrinulis).

Share:

Wednesday, June 5, 2019

Amalan-Amalan Sunnah di Hari Raya

Oleh : Disisi Saidi Fatah


Alhamdulillahirobbil ‘alamiin, puji syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat, hidayat, inayah, dan beribu kenikmatan yang telah beliau hadirkan untuk kita semua, wabil khusus umat muslim di dunia.
Tak terasa kita sudah berada di penghujung ramadhan. Sebulan penuh kita menikmati ramadhan serta isinya, semoga apa yang kita laksanakan dan kerjakan menjadi amal ibadah dan bisa diterima oleh Allah Swt. Amal yang menjadi penolong kita kelak diakhirat serta menjadi jembatan bagi kita menuju syurga-Nya.
Semoga ini bukanlah ramadhan terakhir bagi kita, semoga Allah memberikan kita kesempatan juga kesehatan untuk dapat berjumpa ramadhan tahun depan Aamiin.

Satu (1) Syawwal 1440 hijriyah jatuh pada hari Rabu, 5 Mei 2019. Merupakan hari kemenangan bagi umat muslim dan telah menjadi tradisi bagi kita semua untuk menyambut dengan riang gembira. 
Adapun amalan-amalan sunnah yang dapat kita laksanakan dalam menyambut hari raya idul fitri, sebagaimana yang pernah dilakukan baginda rosulullah shollallahu ‘alaihi salam, diantaranya ialah;
Pertama, mandi di pagi hari sebelum berangkat sholat ied. Kita disunnahkan untuk membersihkan diri, sebagaimana mandi janabah. Kedua, menggunakan pakaian terbaik yang kita miliki; Rosulullah SAW, beliau sangat menyukai pakaian berwarna putih bagi kaum adam atau laki-laki serta pakaian berwarna gelap untuk kaum hawa atau perempuan. Oleh sebab itu kita dianjurkan untuk mengenakan pakaian sebagaimana kesukaan rasul kita.

Ketiga, bagi laki-laki sangat dianjurkan untuk mengenakan wewangian atau parfums, namun dalam hal ini perempuan tidak dianjurkan. Keempat, sebelum berangkat sholat ied, disunnahkan untuk makan terdahulu. Hal ini merupakan sunnah nabi, adapun hikmahnya; sebagai pertanda bahwa idul fitri ailah kembali berbuka.
Kelima, kita disunnahkan untuk berjalan kaki ketika berangkat menuju masjid atau lokasi tempat kita melaksanakan sholat, begitu juga pulangnya. Keenam, disunnahkan untuk memperbanyak bacaan tasbih, takbir, tahmid, serta tahlil ketika hendak berangkat sholat. Tasbih, takbir, tahmid juga tahlil terus dibaca sampai pada waktu pelaksanaan sholat. Ketika sampai ditempat sholat ied, tidak ada lagi sholat sunnah lainnya, langsung menggelar sajadah lalu duduk dibarisan.
Mengikuti rangkaian sholat idul fitri sebagaimana mestinya dan mengikuti imam; pada rakaat pertama setelah takbiratul ikhram kita membaca doa iftitah, lalu dilanjutkan dengan membaca takbir sebanyak tujuh kali. Adapun rakaat kedua, usai bangkit dari sujud maka ditambah dengan lima kali takbir. 

Usai melaksanakan sholat ied berjama’ah, kita dianjurkan untuk tidak langsung meninggalkan masjid atau tempat sholat. Hendaknya kita mendengarkan khotib sampai dengan selesai ia berkhotbah. Selepas itu disunnahkan untuk saling mendoakan sesama muslim; sebagaimana yang dilakukan oleh salafusholih, mereka mengucapkan “Taqobbalallahu minna wamiinkum taqobbal yaa kariiim” Semoga Allah menerima amal kita semua, semoga Allah yang maha kariim  mengabulkannya.

Demikianlah amalan-amalan sunnah di hari raya yang bisa kita lakukan sebagaimana baginda rosulullah SAW terdahulu. Semoga Allah SWT senantiasa menghendaki kita semua di hari yang penuh kemenangan ini. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin.


*Penulis merupakan pendidik di SMP Integral Manbaul Ulum, Pondok Pesantren Payur Asshiddiqiyah 11 Labuhan Jaya, Gunung Labuhan, Way Kanan. Juga Anggota Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Way Kanan.

Tulisan ini dimuat dimedia online NU Lampung
Share:

Tuesday, July 10, 2018

[Cerpen] Rindu Ramadhan Bersamamu

Freepic. Ist




Oleh : Alfa Arkana Eounoia (Pecandu Sastra)

Merupakan kedua kalinya tak bersamamu serta para penyemangatku di tahun ini. Tak berada didekatmu apalagi bersama dalam forum satu atap. Terhitung tiga belas bulan empat belas hari kita tak bersama lagi, melalui hari-hari dengan kesibukan masing-masing. Begitu cepat waktu berlalu, tanpa hitungan minggu sampai tahun-tahun berlalu. Memang ini bukanlah pertemuan terakhir kita, begitu besar harap agar ini perpisahan terakhir untuk kita. Sebab aku yakin akan ada waktu dimana kita akan dipertemukan kembali olehnya; sang khalik Allah azza wajalla dilain waktu. Meski berbeda tempat dan suasana, dan tentunya akan lebih indah dari masa lalau serta kenangan yang pernah kita lalui bersama dan telah menjadi kenangan bersama.

Jadi teringat waktu saat bersama Papa dahulu, kemana-mana selalu berdua dan selalu kompak. Papa yang menjadi penyemangat serta inspirasi hidupku, yang selalu memotivasi diri. Awal jumpa dulu, aku benar-benar dibuat jatuh hati oleh sikap, tutur kata, serta gaya beliau. Hal itulah yang membuat diri begitu penasaran, sampai ada rasa ingin mengenal lebih dekat dengan sosok beliau. Dan Alhamdulillah Allah mendengarkan hal itu sampai kita dipersatukan dalam forum satu atap. Sejak saat itu kita selalu melalui aktivitas bersama, menghabiskan waktu dengan hal—hal yan positif.

Yang paling indah adalah ketika ramadhan dua tahun lalu. Masih teringat begitu jelas nan indah nuansa ramadhan bersamamu kala itu.  Aku yang selalu mencuri waktu agar bisa berjama’ah bersama papa, bahkan sampai terlelap bermalaman diatas sajadah melalui malam dengan dzikir bersama. Sering kali papa memintaku untuk berlarut diatas sajadah membantunya melalui lantunan dzikir. Namun semua kini hanya tinggal kenangan, yang hanya mampu dikenang dan tak bisa terulang.

Aku benar-benar telah dibuat rindu oleh kenangan ramadhan itu, ramadhan yang sederhana namun begitu mengesankan bagiku. Terbukti sampai saat ini masih saja terlintas secara jelas moment itu. Berbeda dengan ramadhan dua tahun belakangan ini, aku banyak menyepi dan menyendiri tanpa keberadaan dan kehadiran sosok sang papa. Jangankan untuk duduk atau bahkan jalan berdua, untuk sekedar menanyakan kabar dari papa saja begitu susahnya. Papa begitu sibuk dengan berbagai aktivitas dan kegiatan, sampai papa lupa akan semua. Sering aku bertanya melalui sosial media baik facebook, instagram, maupun twitter, dan yang paling sering melalui massengger whatsapp, namun hal itu hanya sekedar dibaca, tak pernah terbalas sedikitpun. Ya mungin disaat itu papa sedang sibuk dengan urusan yang memang harus dipertangungjawabkan, aku memaklumi hal itu. Sering kali aku mencuri waktu luang untuk menyapa papa, bahkan banyak kuhabiskan hanya untuk menunggu dan melihat aktivitas papa di akun sosial media milik papa. Bahkan sering kali aku menyapa, namun jarang yang mendapat respon darinya. Diantara puluhan sampai ratusan sapaan itu, aku dapat menghitung berapa kali papa membalasanya, tak lebih dari sepuluh balasan dan jikapun dibalas juga dengan balasan singkat, yakni; ya dan atau Aamiin.

Suatu hari, aku ada pertemuan kerja di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), kebetulan satu kota, juga tak jauh dari rumah kediaman papa, sekitar seratus meter dari rumah. Petang itu, usai kegiatan aku kirim pesan singkat via whatsapp ke mama.

"Assalamu'alaikum. Apa kabar ma. Dimana posisi?”

" Wa'alaikum salam. Alhamdulillah baik kak. Dirumah.”

“Adik-adik gimana kabarnya. Sehat semuakan?”

“Alhamdulillah. Semua sehat.”

“Kakak, di SKB. Rencana mau mampir rumah ma. Adik Tsaqif belum tidurkan? Kakak kangen.”

Ya ada. Mampir kak.


Usai kegiatan kerja, aku mampir ke rumah mama. Berharap bisa bertemu dengan semua; dengan Papa dan adik-adik pasukan Netrahyahimsa-ku untuk melepas rindu dan penat dalam hati. Namun sayang, petang itu akau gagal berjumpa dengan papa, hanya saja bertemu dengan salah satu pasukan Netrahyahimsa; yakni Tsaqif, jagoan yang kesayanganku. Ya setidaknya tidak sia-sia kehadiranku petang itu, meski tidak bertemu dengan semua, semoga esok atau lusa kita segera berjumpa. Aamiin. Malam itu kuhabiskan dirumah mama, melepas rindu dengan jagoan kesayanganku. Sedikit kecewa sebab tak jumpa dengan papa, sebab niat awal agar bisa berjumpa. Sudah lama tak pernah jumpa, hanya saja dengan para jagoan saja yang sring kali. Sebab papa memang jarang ada dirumah, kebanyakan menghabiskan waktu dalam perjalanan dan di kota. Pagi, sebelum beranjak pergi. Sengaja Ku kembali membuka whatsapp, barangkali papa sedang online.


"Ping!!!" pesan singkat terkirim dan centang dua, bertanda papa sedang aktif.


"Assalamu'alaikum. Apa kabar Pa, semoga selalu baik dan sehat. Aamiin,"


Tak lama dari itu, muncul pemberitahuan di titel-bar menu whatsapp, berhologram online. Begitu senangnya hati membaca tulisan itu, bersemangat menanti balasan darinya. Dan benar, tak lama dari itu muncul tulisan berwarna hijau, yang bertuliskan sedang mengetik pesan. Hati ini mulai bergembira, menanti sebuah jawaban yang masih menjadi misteri itu.


"Wa'alaikum salam. Aamiin,"


Yes!!! Alhamdulillah, betapa senangnya hati, ketika melihat sebuah pesan masuk menghampiri. Langsung ku ketik kembali pesan balasan untuk Papa.


"Kemarin kakak ada kegiatan di SKB samping rumah, kebetulan acara sampai malam. Semalam kakak mampir di rumah, papa di mana?"


Lama menunggu, namun tak kunjung juga mendapat balasan dari papa, padahal beliau masih online. Dan beberapa menit kemudian berubah menjadi offline. Yah. Cuma dibaca saja. Meski pesanku tak terbalaskan lagi, aku sangat senang walau hanya sekali balasan. Ya setidaknya aku telah mengetahui kabar beliau hari ini, Alhamdulillah papa baik-baik saja.  Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca dan membalas pesan singkatku, semoga Papa selalu sehat, baik, dan selalu dalam lingdungan Allah.


Sebenarnya aku masih kangen dengan papa, namun bagaimana lagi aku tak dapat berbuat apa-apa. Rindu ini hanyalah sebagai hiasan hati yang entah kapan bisa terobati. Jujur aku sangat kangen sekali dengan papa, apalagi kita sudah lama tak berjumpa, terakhir ketika hari raya idul fitri tahun lalu, dan sekarang memasuki bulan ramadhan kedua tak bersama beliau. Aku rindu moment ramadhan bersama beliau, sahur dan buka bersama, sholat berjamaah sampai terlelap diatas sajadah.


Pa. Terhitung sudah tiga belas bulan empat belas hari kita tak bertatap muka. Komunikasi pun semakin rentan. Aku tahu ini adalah kesalahan kita yang selalu disibukkan dengan urusan yang membuat jarak dan waktu semakin rentan. Sebagai manusia yang memiliki hati, apalagi aku pernah jatuh hati sebab sifat dan cara papa serta gaya yang selalu aku favoritkan.


Apakah salah jika aku menaruh rindu untukmu, untuk seorang yang selalu membuat semangat dan memotivasi serta menginspirasi setiap langkah kakiku. Apalagi papa adalah sosok yang menjadi idola, papa bukan hanya sebagai orang tua bagiku, namun papa adalah sosok guru dan sahabat yang menjadi favorit  bagiku. Sejak kita bersama begitu banyak pelajaran, ilmu, dan wawasan yang aku dapatkan. Namun semua hanya kenang yang hanya dapat aku kenang, dan tak mungkin bisa terulang.



Tapi mengapa, rindu ini tak bisa terobati. Papa juga banyak berubah sekarang. Tak lagi akrab, dan sangat susah untuk dihubungi. Banyak cuek. Aku tahu papa bukanlah sosok yang smeacam itu, sebab papa perhatian dan penuh kasih sayang. Namun mengapa sekarang berubah. Untuk sekedar bertanya di sosial media saja susah, apalagi bertatap muka. Aku harap kita tetap kompak dan selalu bersama, meski tak lagi sama dan bersama dalam satu atap. Rindu kamu pa. Aku merindukan ramadhan yang penuh moment bersamamu.





“BIODATA PENULIS”

Disisi Saidi Fatah, pria berdarah Lampung yang menyukai tulis menulis, dan membaca. Pemilik nama pena Alfa Arkana Eounoia itu mengidolakan Habib Syech Abdul Rahmah Assegaf dan Ananda George (Sang Prabu), serta penyuka puisi. Terjun kedunia tulis menulis sejak kenal jurnalistik, pada saat mengikuti BPUN MataAir Way Kanan 2015.
Beberapa karya diantaranya;
- Antologi Puisi Terbelunggu Media – Kars Publisher ( Juli 2017),
- Antologi Puisi Aku Anak Santri – Kars Publisher (November 2017),
- Antologi Puisi Seuntai Kasih Bernama Sayang (Penerbit Satria) Sebagai Terbaik Delapan (Desember 2017),
- Antologi Puisi Aksara Buku Usang – Kars Publisher (Maret 2018),
- Antologi Puisi dan Essai Namaku Kartini – Kars Publisher ( Mei 2018),
- Novel Perjalanan, Mimpi, & Inspirasi – Kars Publisher (April 2018).
- Antologi Essai Peran Perempuan Dalam Pendidikan - Kars Publisher (Juli 2018)

Disisi dapat dihubungi di:
Instagram : @CatatanAlfa
Twitter : @Netrahyahimsa
Blogg : gemilangtotal.blogspot.com
Email : Disisisf.bpun@gmail.com

Share:

Thursday, June 21, 2018

Ramadhanku Benar-Benar Pergi




Pagi ini kembali ku membuka mata
Kulihat di sekeliling kamar
Ku tatap langit-langitnya
Begitu suram, sepi, dan sunyi


Begitu berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya
Ramai suara berkumandang dari surau rumah-rumah
Berdenting, berdendang suka ria
Malam sunyi itu, berlabuh menjadi ceria bersama keluarga
Menyantap sahur untuk bersama


Ramadhan. Kau benar-benar pergi.
Perlahan kau menjauhi kami
Rindu hati, rindu diri akan hadirmu
Yang membuat lekat kebersamaan dan kekompakan


Aku rindu ramadhan-Mu
Aku rindu sahur bersama yang menjadi wadah kebersamaan keluarga
Aku rindu buka dengan kurma dan manisan lainnya
Aku rindu berjamaah. Aku rindu tarawih mu serta tadarus Al-Qur'an itu
Aku rindu semua


Bengkulu Rejo, 19 Juni 2018
Share:

Friday, June 15, 2018

Dimanakah Kita? Menjadi Puasa Ulat atau Puasanya Ular!

Ilustrasi hari raya. Foto iStock. Ist




"Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar. Lā ilāha illallāhu wallāhu akbar. Allāhu akbar wa lillāhil hamdu"
Share:

Tuesday, May 1, 2018

Puisi di Bulan Sya'ban : Purnama Telah Tiba

"PURNAMA TELAH TIBA"



Oleh : DSF

Purnama dibulan Sya'ban telah datang
Membawa cahaya terang benderang
Menerangi seluruh jagat alam semesta
Pertanda tamu keagungan tak lama lagi akan tiba

Ramadhan
Bulan suci penuh ampunan
Penuh rahmat, sebab banyak datangkan manfaat
Marilah kita bersihkan hati sucikan diri
Meraih prestasi pada ramadhan ini

Janganlah siasiakan ramadhan
Dengan bermanja dan lupa diri
Marilah bermuhasabah diri
Meraih hari yang fitri


Way Kanan, 1 Mei 2018


Share:

Saturday, June 17, 2017

Mengejar Keistimewaan Lailatul Qodar | Salman Khan



Tanpa terasa bulan suci ramadhan akan segera  berakhir,  kita baru saja melewatkan 10 malam yang pertama yakni malam yang penuh rahmat,  dan 10 malam yang kedua yakni malam  yang penuh dengan ampunan.

"Sesungguhnya tanda Lailatul Qodar adalah malam cerah, terang, seolah-olah ada bulan, malam yang tenang dan tentram, tidak dingin dan tidak pula panas, pada malam itu tidak dihalalkan dilemparnya bintang, sampai pagi harinya, dan sesungguhnya tanda Lailatul Qodar adalah matahari di pagi harinya terbit dengan indah, tidak bersinar kuat, seperti bulan purnama, dan tidak pula dihalalkan bagi setan untuk keluar bersama matahari pagi."

Lalu apa keistimewaan pada 10 malam ramadhan yang terakhir?  
Keistimewaan pada 10  malam ramadhan yang terakhir , salah satunya adalah terdapat malam yang begitu mulia yakni Lailatul Qodar.  Lailatul Qodar adalah  malam yang penuh keberkahan dimana pada malam itu waktu diturunkan nya Al Qur'an, malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Sebagaimana firman Allah SWT  dalam Qur'an  Surah  Al -Qodr Ayat 1-5

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“(1) Sesungguhnya kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam kemuliaan. (2) Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (3) Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (4) Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. (5) Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (QS. Al-Qadr: 1-5).

Dari A’isyah radhiallahu’anha, beliau  berkata;
“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersungguh-sungguh pada sepuluh malam terakhir dengan kesungguhan yang tidak beliau lakukan pada waktu-waktu lainnya. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam apabila memasuki sepuluh malam terakhir, beliau mengikat sarungnya, menghidupkan malamnya dan membangunkan istri-istrinya (untuk shalat malam).

Lailatul Qodar terjadi pada sepuluh malam terakhir dan terjadi pada malam-malam yang ganjil. Barangsiapa yang menghidupkan malam-malam itu karena berharap keutamaannya maka sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya tanda Lailatul Qodar adalah malam cerah, terang, seolah-olah ada bulan, malam yang tenang dan tentram, tidak dingin dan tidak pula panas, pada malam itu tidak dihalalkan dilemparnya bintang, sampai pagi harinya, dan sesungguhnya tanda Lailatul Qodar adalah matahari di pagi harinya terbit dengan indah, tidak bersinar kuat, seperti bulan purnama, dan tidak pula dihalalkan bagi setan untuk keluar bersama matahari pagi.

Kita tidak tahu pasti kapan lailatul qodar itu hadir, sebab kita  hanyalah manusia biasa.  Mari kita perbanyak istighfar dan ber-i'tiqaf, perbanyak doa memohon ampunan kepada Allah dengan merendahkan diri kita dan berharap ridho darinya.

Marilah kita selalu berdoa dan meminta kepadanya, memohon taufiqnya agar kita diberi kemudahan dalam ketaatan dan diberi kesempatan untuk dapat menuai pahala darinya dengan berpuasa, qiyamul lail dan melakukan ibadah-ibadah lainnya di bulan Ramadhan .
Shingga kita keluar dari bulan yang penuh berkah ini dengan penuh keimanan, takut, berharap dan cinta hanya kepadanya semata. Dan mudah-mudahan Allah senantiasa membimbing dan memberikan kita kekuatan untuk tetap tsabat dan istiqamah di atas jalannh yang lurus, jalan orang-orang yang diridhai dan diberikan kenikmatan olehnya sampai kita bertemu dengannya nanti. Aamiin Ya Rabbal Alamin

Oleh : Disisi Saidi Fatah
**Alumni BPUN Mataair Way Kanan 2015. Guru pengampu IPA dan TIK di SMP Manba'ul 'Ulum Pondok Pesantren Asshiddiqiyah 11 Way Kanan Lampung.
Share:

Saturday, June 10, 2017

Berbagi Memberi Manfaat Sesama

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Selamat datang dan selamat membaca para sahabat pembaca yang budiman.
Pada kesempatan kali ini aku ingin berbagi pengalaman aku di bulan suci ramadhan pada tahun 2017/1438 H.
Seperti biasanya setiap memasuki bulan suci ramadhan, aku dan kawan-kawan yang tergabung dalam komunitas Pemuda Peduli Lingkungan dan Alam atau yang lebih dikenal dengan Pemula Way Kanan melaksanakan kegiatan berbagi bersama.
Sama dengan kegiatan tahun sebelumnya yakni berbagi sembako untuk para yatim piatu, fakir miskin, dan juga kaum du'afa.

Dokumentasi kegiatan berbagi Pemula | Foto.Humas Pemula/2017

Kegiatan ini bertujuan untuk memotivasi kita para pemuda, terkhususnya para pemuda yang tergabung dalam komunitas Pemula ini, agar lebih peduli dengan sesama dan saling berbagi. Sebab sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain. Dan manusia adalah mahluk sosial yang saling membutuhkan antara satu dan yang lainnya.

Pemuda adalah generasi penerus bangsa, pemuda sekarang butuh wadah yang positif untuk membentuk karakter-karakter yang lebih posotif lagi. Salah satunya melalui organisai kepemudaan atau komunitas! Karakter seseorang terbentuk melalui lingkungannya, mulai dari keluarga, sahabat, teman, hingga kerabat baik dilingkungan sekolah ataupun tempat kerjanya. Baik atau buruknya lingkungan dan pelajaran yang ia hadapi itu akan menjadi penentu karakter seseorang..

Kembali ke topik utama, aku merasa sangaat bangga sekali bisa kenal dan bergabung dengan komunitas kecil ini, walaupun kami masih lingkup lokal tapi kami yakin melalui aksi-aksi yang kami lakukukan ini komunitas kami memiliki kwalitas yang global.

Ok. Kembali ke kegiatan kita yang kemarin. Kami sebelumnya sudah bermusyawarah terdahulu satu bulan sebelum ramadhan tiba untuk mengagendakan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan di bulan suci ramadhan. Melalui musyawarah bersama alhasil muncullah gagasan untuk berbagi dengan sesama.
Dengan kekompakan bersama untuk menginfakkan sebagian rezekinya, alhamdulillah kita pada bulan ramadhan tahun ini bisa membagikan sekitar 50 paket sembako untuk anak yatim, fakir miskin, dan kaum du'afa yang berada di wilayah Kecamatan Blambangan Umpu, Kab Way Kanan, Lampung.

Setelah membagikan sembako, seperti biasa kami menikmati buka bersama dilanjutkan sholat maghrib berjamaah, lalu makan malam, dan yang terakhir adalah evaluasi kegiatan. Yang paling penting dan yang selalu diutamakan dalam melaksanakan kegiatan adalah evaluasi agar kedepan menjadi lebih baik lagi tentunya, dan mengagendakan kegiatan yang akan kita laksanakan selanjutnya.

Disini kami, terkhususnya aku sendiri mendapatkan banyak pengalam berharga, ilmu, serta wawasan baru.
Dengan berkumpul bersama serta musyawarah bareng aku bisa mengenal kawan-kawanku, sikapnya karakternya dll.
Dengan menyambangi rumah penerima sembako satu persatu, kami bersilaturahmi dan juga melihat secara langsung dilapangan.

Sempat meneteskan air mata dan merasa sedih ketika melihat beberapa warga penerima sembako, mereka yang hidup dengan sederhana, serba berkecukupan, bahkan ada yang hidup sebatang kara, namun mereka tetap kuat dan tidak pernah mengeluh. Seakan-akan mereka tidak punya beban, tidak punya masalah. Hanya senyuman manis yang terpampang pada wajah mereka.
Disini aku meresa terharu, ternyata diluar sana masih banyak orang-orang hidup sederhana, dengan serba kecukupan bahkan masih ada yang hidupnya berkurang. Namun mereka tidak pernah mengeluh, mereka selalu mensyukuri nikmat yang Allah berikan. Beda dengan kita yang masih punya orang tua, masih memiliki keluarga yang utuh, hidup dengan serba ada, namun selalu tidak merasa puas dan terkadang tidak pernah mensyukuri nikmatnya (Allah SWT).

Semoga kita semua, termasuk dalam golongan orang-orang yang peduli terhadap sesama tanpa membeda-bedakan antara satu dan yang lainnya. Sebab kita adalah manusia mahluk sosial yang saling membutuhkan.
Dan semoga semua bisa termotivasi untuk melakukan hal-hal yang positif yang lainnya.



Baca juga >>> Pemula Way Kanan Salurkan Sembako Kepada Fakir, Yatim Piatu, dan Kaum Du'afa

Share:

Latest in Tech

Cendekia Al Azzam | Pecandu Sastra©2025. Powered by Blogger.

Pelayan Setia di Majelis Cahaya | Puisi

Ilustrasi dibuat oleh kecerdasan buatan (AI)/Gemini.    Sering kali, di sepertiga malam terakhir saat alam semesta tenggelam dalam kehening...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Blog Archive

Home - Recent Posts (show/hide)

Home - PageNavi (show/hide)

Random Posts

Recent Posts

Labels

Blog Archive