![]() |
| Ilustrasi dibuat oleh AI/Gemini. |
: Disisi Saidi Fatah
Hari ini, sang surya kembali menyapa dari ufuk timur, membawa berkah penghulu segala hari. Namun, bagi jiwaku yang rindu, ini adalah Jumat kesembilan tanpa kehadiran bayangmu, wahai Murobbi, pelita dalam kegelapanku.
Sejak fajar kala itu - saat malaikat menjemputmu menjelang subuh yang syahdu - duniaku kehilangan satu pasak spiritualnya. Di atas sajadah ini, aku bersimpuh memeluk rida Ilahi; ikhlas telah kupahatkan di dinding kalbu, namun benteng pertahanan ini kerap luruh oleh badai kerinduan yang tak kuasai.
Setiap kali desau angin malam Jumat datang berbisik, hatiku berdesir hebat bagai riak ombak yang menghantam karang. Ada rasa hangat yang menjalar, berganti dingin yang menusuk tulang, sebuah raga yang meriang karena menahan gejolak rindu yang tak bertepi.
Sungguh, hati ini tidak bisa berdusta, ia merindukan untaian nasihatmu yang menyejukkan jiwa, tatapan matamu yang teduh penuh kasih sayang, dan ketulusanmu dalam menuntun langkahku mendekat kepada Sang Rahman. Engkau telah pergi kembali ke haribaan-Nya, namun jejak kesalehanmu terkunci rapat di dalam sanubari.
Kini, di hari yang penuh berkah ini, kuanyam benang-benang rindu ini menjadi untaian doa yang membubung tinggi ke arsy-Mu, ya Rabb. Wahai Pemilik Semesta Cinta, sampaikanlah salam rindu terdalamku kepada guruku tercinta di taman surga-Mu yang beralaskan sutra.
Biarlah air mata yang menetes di atas sujudku hari ini menjadi saksi, bahwa cinta karena-Mu takkan pernah mati, dan warisan ilmu serta ketulusan Murobbi akan terus menghidupkan lentera di dalam jiwaku yang dhuafa ini.
GP - BGR, 100726

Comments
Post a Comment