Skip to main content

Desir Rindu di Jumat Kesembilan | Puisi

Ilustrasi dibuat oleh AI/Gemini. 



 : Disisi Saidi Fatah 


Hari ini, sang surya kembali menyapa dari ufuk timur, membawa berkah penghulu segala hari. Namun, bagi jiwaku yang rindu, ini adalah Jumat kesembilan tanpa kehadiran bayangmu, wahai Murobbi, pelita dalam kegelapanku.

Sejak fajar kala itu - saat malaikat menjemputmu menjelang subuh yang syahdu - duniaku kehilangan satu pasak spiritualnya. Di atas sajadah ini, aku bersimpuh memeluk rida Ilahi; ikhlas telah kupahatkan di dinding kalbu, namun benteng pertahanan ini kerap luruh oleh badai kerinduan yang tak kuasai.

Setiap kali desau angin malam Jumat datang berbisik, hatiku berdesir hebat bagai riak ombak yang menghantam karang. Ada rasa hangat yang menjalar, berganti dingin yang menusuk tulang, sebuah raga yang meriang karena menahan gejolak rindu yang tak bertepi.

Sungguh, hati ini tidak bisa berdusta, ia merindukan untaian nasihatmu yang menyejukkan jiwa, tatapan matamu yang teduh penuh kasih sayang, dan ketulusanmu dalam menuntun langkahku mendekat kepada Sang Rahman. Engkau telah pergi kembali ke haribaan-Nya, namun jejak kesalehanmu terkunci rapat di dalam sanubari.

Kini, di hari yang penuh berkah ini, kuanyam benang-benang rindu ini menjadi untaian doa yang membubung tinggi ke arsy-Mu, ya Rabb. Wahai Pemilik Semesta Cinta, sampaikanlah salam rindu terdalamku kepada guruku tercinta di taman surga-Mu yang beralaskan sutra.

Biarlah air mata yang menetes di atas sujudku hari ini menjadi saksi, bahwa cinta karena-Mu takkan pernah mati, dan warisan ilmu serta ketulusan Murobbi akan terus menghidupkan lentera di dalam jiwaku yang dhuafa ini.


GP - BGR, 100726

Comments

Popular posts from this blog

Tiga Puluh Jam Bersama Habibana

Kenangan Habibana dan Abah serta rombongan. Foto Pecandu Sastra. Dokpri   Jum'at itu menjadi pembuka perjalanan yang mengesankan. Nabastala biru menghampar semesta sore, perlahan mulai memudar. Segera usai berdzikir aku telah bersiap menemani Abah dan jamaah memenuhi undangan majelis peringatan Isra' Mi'raj di salah satu desa di bagian Bogor Timur. Abah, demikian aku memanggil laki-laki yang tengah berusia 50 tahun itu. Seorang pendakwah yang begitu istiqomah, gigih, penyabar, dan sangat mencintai ilmu. Beberapa bulan belakang, aku kerap menemani beliau berdakwah di desa tersebut, sepekan sekali. Tak peduli gerimis, hujan, dingin, ataupun panasnya cuaca, lelah setelah beraktivitas sekalipun, beliau terus istiqomah tanpa absen. Kecuali uzur yang mendesak. Hal tersebut yang menjadi salah satu yang aku kagumi dari sosok Abah. Sore itu, rombongan dijadwalkan berangkat sebelum maghrib. Dikarenakan perjalanan yang cukup memakan waktu, apalagi hari kerja, jam-jam segitu adalah pu...

Jumbo: Animasi Lokal yang Memberi Banyak Pelajaran

  Poster Film Jumbo di Bioskop Bes Cinema Kota Metro (Foto oleh Cendekian/dokpri.2025) Akhirnya dua hari lalu bisa menyaksikan film animasi lokal buatan anak negeri. Film yang sudah sejak pertama official trailernya tayang di platform digital ini menjadi salah satu yang aku nantikan untuk ditonton, karena memang menarik perhatianku. Aku menyaksikan film ini bukan karena ikut-ikutan fomo ya, tapi memang penasaran banget sama filmnya.

Review Film Home Sweet Loan: Asa Anak Muda Menuju Rumah Impian

Refleksi hangat dari film Home Sweet Loan yang menggambarkan perjuangan generasi muda mencari arti rumah dan stabilitas hidup. (Dokpri) Kita sering mengira bahwa perjalanan menuju “rumah” adalah soal membeli properti, mencicil KPR, atau urusan angka dan bank. Tapi film Home Sweet Loan memberi tafsir yang lebih dalam dan emosional: rumah bukan hanya tentang tempat tinggal, tapi tentang tempat berteduh secara batin.

Memetik Cahaya di Cicadas: Tentang Khidmah, Rindu, dan Wajah Guru

Moment foto bersama guru kami Habib Musthofa bin Yahya (Koko Marun) dan Abah Ust. Mahfudin bin H Alif Yunus (Gamis Sage). (Dokpri/Farid). Ada sebuah kebahagiaan yang sulit didefinisikan dengan kata-kata; sebuah rasa yang hanya muncul ketika bibir menyentuh tangan seorang guru, atau saat aroma nasi liwet yang kita tanak sendiri di dapur mereka mengepul hangat untuk menyambut tamu-tamu shalih.

Mengabadikan Moment Bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf

Momen foto bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf. (Dokpri/Fadillah). Setiap orang pasti memiliki momen “one in a million” dalam hidupnya. Sebuah peristiwa langka yang membuat kita tertegun dan merasa seluruh keberuntungan dalam setahun habis dalam satu hari.