Skip to main content

Niatnya Cuma 'Me Time', Malah Sukses Dibuat 'Banjir' Air Mata Sama Film Ini

Poster Film "Jangan Buang Ibu" (Sumber: filmjanganbuangibu/ig).


Hari Ahad lalu, aku akhirnya berhasil menuntaskan satu janji kecil pada diriku sendiri. Rencana yang sebenarnya sudah tertunda selama dua pekan karena padatnya rutinitas, akhirnya benar-benar terwujud kemarin. Aku memutuskan untuk melangkah ke Plasa Cibubur XXI, sengaja mengambil jam pemutaran paling pertama pada pukul 12.15 WIB.

Hari itu aku datang sendirian. Bahkan saat masuk ke dalam bioskop, kursi yang kupesan pun terasa sangat privat - sebuah sudut dengan bangku ganda yang kebetulan sebelah kirinya kosong. Di luar studio, suasana mall dan lobi bioskop sebenarnya cukup ramai. Begitu ramainya sampai-sampai aku merasa agak sungkan dan malu jika harus menyelip di antara kerumunan orang hanya demi berfoto di depan official poster-nya. Namun, begitu melangkah masuk ke Studio 1, suasananya terasa jauh lebih tenang. Kursi penonton hanya terisi hampir setengahnya, menyisakan ruang kosong yang sunyi sekaligus pas untuk menikmati sebuah film drama yang personal.

Di kesunyian studio itulah, pertahanan emosional yang kubangun sebagai anak rantau perlahan-lahan runtuh.


Diangkat dari Kisah yang Menyayat Hati


Film "Jangan Buang Ibu" diproduksi oleh Leo Pictures di bawah tangan dingin sutradara Hadrah Daeng Ratu dan diproduseri oleh Agung Saputra. Drama keluarga berdurasi 119 menit ini sebenarnya merupakan adaptasi dari sebuah novel populer tahun 2014 berjudul "Jangan Buang Ibu, Nak" karya penulis Wahyu Derapriyangga.

Secara garis besar, film ini mengisahkan perjuangan luar biasa dari Ibu Ristiana (diperankan dengan sangat magis oleh Nirina Zubir). Sebagai seorang single mother pasca ditinggal wafat suaminya, ia harus memutar otak dan membanting tulang demi membesarkan ketiga anaknya seorang diri: Tama (Refal Hady), Dewi (Amanda Manopo), dan Tria (Saputra Kori).

Konflik mulai merayap tajam ketika anak-anak tersebut tumbuh dewasa dan meraih kesuksesan di kota besar. Di tengah tuntutan hidup, pekerjaan, dan ego masing-masing, sosok ibu yang dulu menjadi pusat semesta mereka perlahan-lahan tergeser. Puncaknya, karena dianggap sebagai "beban" di tengah kesibukan, Ibu Ristiana justru dititipkan ke panti jompo - sebuah keputusan sepihak yang menyayat hati nurani siapa pun yang menontonnya.


Tamparan Keras untuk Jiwa yang Merantau


Sebagai seorang anak rantau yang kini tinggal jauh dari pelukan Ibu, setiap menit dari film ini terasa seperti guncangan hebat di dadaku. Sosok Ibu Ristiana di layar lebar terus-menerus memantulkan bayangan Ibuku sendiri yang berada jauh di rumah. Walaupun bersyukur kami masih bisa tinggal bersama di bawah satu atap saat aku pulang, kenyataan bahwa aku sedang berjarak dengannya saat ini membuat rasa rindu memuncak berkali-kali lipat selama film diputar.

Air mataku benar-benar jatuh tak tertahankan pada bagian-bagian yang sangat krusial. Momen pertama adalah ketika film memperlihatkan bagaimana anak-anak itu tumbuh tanpa sosok ayah. Di sana, kita disuguhkan realitas betapa tangguhnya seorang wanita. Ibu harus memainkan ribuan peran sekaligus: menjadi pelindung, pencari nafkah, pendidik, sekaligus penenang di kala badai hidup datang menerpa.

Namun, bagian paling menyesakkan dada adalah ketika anak-anak yang telah dirawat dengan tetesan keringat dan air mata itu, ternyata tidak mampu menyediakan sedikit saja ruang di rumah mereka ketika sang ibu menginjak usia senja. Alih-alih menikmati masa tua dengan bahagia dikelilingi anak dan cucu, Ibu Ristiana justru diasingkan ke panti jompo. Dada ini rasanya sesak sekali menyaksikan ketidakberdayaan seorang ibu yang pasrah menerima kenyataan bahwa ia mulai "dibuang" oleh darah dagingnya sendiri.

Ada satu adegan yang juga terasa sangat nyata dan dekat dengan kehidupan modern kita saat ini: perayaan ulang tahun sang ibu. Anak-anaknya terlihat sangat sibuk. Namun, penonton diajak melihat kenyataan pahit bahwa kesibukan itu sebenarnya bukan sepenuhnya karena beban pekerjaan, melainkan karena sosok ibu memang sudah tidak lagi menjadi prioritas utama di dalam hidup mereka.


Akting Juara dan Resonansi yang Luar Biasa


Keberhasilan film ini mengaduk-aduk emosi tentu tidak lepas dari jajaran pemainnya. Bagiku pribadi, penampilan Nirina Zubir sebagai Ibu Ristiana, Amanda Manopo sebagai Dewi, dan aktor cilik Jared Ali yang memerankan karakter Tama kecil, adalah tiga pilar yang membuat film ini terasa sangat hidup. Transisi emosi dan kepolosan masa kecil yang kontras dengan dinginnya kedewasaan berhasil digambarkan dengan sangat apik.

Tak heran jika film yang resmi tayang di bioskop sejak 25 Juni 2026 ini mendapatkan sambutan yang luar biasa hangat. Hingga pertengahan Juli 2026, "Jangan Buang Ibu" telah sukses menembus tiga juta penonton di seluruh bioskop tanah air! Di berbagai platform ulasan film, rating yang diperoleh pun sangat memuaskan, mendominasi bioskop sebagai salah satu film drama keluarga terbaik tahun ini.


Refleksi Akhir: Satu Ibu untuk Banyak Anak


Satu pesan mendalam yang membekas kuat di kepalaku bahkan setelah lampu bioskop dinyalakan kembali adalah sebuah ironi kehidupan yang nyata:

Satu orang ibu bisa berjuang mati-matian untuk menghidupi dan membesarkan semua anaknya. Namun, banyak anak sering kali tidak mampu, atau bahkan sekadar tidak mau, meluangkan waktu dan tenaga untuk menghidupi serta membahagiakan satu orang ibunya di masa tua.

Keluar dari Plasa Cibubur XXI sore itu, langkah kakiku terasa berbeda. Ada rasa sesak yang tertinggal, namun diiringi dengan dorongan kuat untuk segera menghubungi Ibu. Bagi kita semua, terutama yang sedang berjuang di tanah rantau, film ini adalah alarm keras. Jangan tunggu sampai semuanya terlambat. Selagi beliau masih ada, prioritaskanlah sosok yang pernah mempertaruhkan nyawanya demi melihat kita tumbuh dewasa.

Comments

Popular posts from this blog

Tiga Puluh Jam Bersama Habibana

Kenangan Habibana dan Abah serta rombongan. Foto Pecandu Sastra. Dokpri   Jum'at itu menjadi pembuka perjalanan yang mengesankan. Nabastala biru menghampar semesta sore, perlahan mulai memudar. Segera usai berdzikir aku telah bersiap menemani Abah dan jamaah memenuhi undangan majelis peringatan Isra' Mi'raj di salah satu desa di bagian Bogor Timur. Abah, demikian aku memanggil laki-laki yang tengah berusia 50 tahun itu. Seorang pendakwah yang begitu istiqomah, gigih, penyabar, dan sangat mencintai ilmu. Beberapa bulan belakang, aku kerap menemani beliau berdakwah di desa tersebut, sepekan sekali. Tak peduli gerimis, hujan, dingin, ataupun panasnya cuaca, lelah setelah beraktivitas sekalipun, beliau terus istiqomah tanpa absen. Kecuali uzur yang mendesak. Hal tersebut yang menjadi salah satu yang aku kagumi dari sosok Abah. Sore itu, rombongan dijadwalkan berangkat sebelum maghrib. Dikarenakan perjalanan yang cukup memakan waktu, apalagi hari kerja, jam-jam segitu adalah pu...

Jumbo: Animasi Lokal yang Memberi Banyak Pelajaran

  Poster Film Jumbo di Bioskop Bes Cinema Kota Metro (Foto oleh Cendekian/dokpri.2025) Akhirnya dua hari lalu bisa menyaksikan film animasi lokal buatan anak negeri. Film yang sudah sejak pertama official trailernya tayang di platform digital ini menjadi salah satu yang aku nantikan untuk ditonton, karena memang menarik perhatianku. Aku menyaksikan film ini bukan karena ikut-ikutan fomo ya, tapi memang penasaran banget sama filmnya.

Review Film Home Sweet Loan: Asa Anak Muda Menuju Rumah Impian

Refleksi hangat dari film Home Sweet Loan yang menggambarkan perjuangan generasi muda mencari arti rumah dan stabilitas hidup. (Dokpri) Kita sering mengira bahwa perjalanan menuju “rumah” adalah soal membeli properti, mencicil KPR, atau urusan angka dan bank. Tapi film Home Sweet Loan memberi tafsir yang lebih dalam dan emosional: rumah bukan hanya tentang tempat tinggal, tapi tentang tempat berteduh secara batin.

Memetik Cahaya di Cicadas: Tentang Khidmah, Rindu, dan Wajah Guru

Moment foto bersama guru kami Habib Musthofa bin Yahya (Koko Marun) dan Abah Ust. Mahfudin bin H Alif Yunus (Gamis Sage). (Dokpri/Farid). Ada sebuah kebahagiaan yang sulit didefinisikan dengan kata-kata; sebuah rasa yang hanya muncul ketika bibir menyentuh tangan seorang guru, atau saat aroma nasi liwet yang kita tanak sendiri di dapur mereka mengepul hangat untuk menyambut tamu-tamu shalih.

Mengabadikan Moment Bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf

Momen foto bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf. (Dokpri/Fadillah). Setiap orang pasti memiliki momen “one in a million” dalam hidupnya. Sebuah peristiwa langka yang membuat kita tertegun dan merasa seluruh keberuntungan dalam setahun habis dalam satu hari.