![]() |
| Ilustrasi dibuat oleh AI(Gmn). Ist |
Oleh: Disisi Saidi Fatah
Jejak kaki itu telah menghafal lekuk bumi,
menyusuri sunyi, merajut rintik hujan menjadi selendang,
tujuh belas musim gugur dan semi dilewati tanpa keluh,
ia berjalan bukan mengejar riuh, tapi menuntun rindu pada Sang Nabi.
menyusuri sunyi, merajut rintik hujan menjadi selendang,
tujuh belas musim gugur dan semi dilewati tanpa keluh,
ia berjalan bukan mengejar riuh, tapi menuntun rindu pada Sang Nabi.
Ia adalah air yang luruh dengan setia,
mengetuk pintu-pintu hati yang sempat membatu,
tak peduli sepi berselimut di bangku-bangku jamaah,
atau cibiran yang menjelma duri di sepanjang jalan setapak.
mengetuk pintu-pintu hati yang sempat membatu,
tak peduli sepi berselimut di bangku-bangku jamaah,
atau cibiran yang menjelma duri di sepanjang jalan setapak.
Kini, jemari tuanya mungkin belum memetik semua buah,
namun akar yang ia tanam telah menghujam dalam ke relung jiwa,
tiap bait shalawat yang mengepul dari bibir para murid,
adalah sungai pahala yang mengalir, mengantarnya pulang ke Firdaus-Mu.
namun akar yang ia tanam telah menghujam dalam ke relung jiwa,
tiap bait shalawat yang mengepul dari bibir para murid,
adalah sungai pahala yang mengalir, mengantarnya pulang ke Firdaus-Mu.
---
GP, 120626
Baca juga:

Comments
Post a Comment