Skip to main content

Sampai Kapan Kejahatan di Balik Topeng Agama Dibiarkan?

 

Topeng. Foto Pngtree. Ist


Lagi dan lagi, kembali kita dibuat geger oleh pelaku kejahatan dari balik topeng agama. Dua hari lalu, muncul sebuah berita yang menyebutkan ‘oknum’ Pengasuh Pondok Pesantren menikahi secara siri salah satu santriwatinya tanpa sepengetahuan orang tua santri tersebut.


Dikabarkan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada bulan Agustus 2023 lalu. Kasus yang melibatkan anak perempuan berusia 16 tahun ini terbongkar setelah masyarakat setempat ramai membicarakan isu kehamilan korban.


Mat Rohim selaku orang tua korban mengaku tidak tahu jika anaknya dinikahi oleh Heri, Pengasuh Pondok Pesantren Habib Merah, meski dirinya sering bolak-balik ke pesantren - karena sang anak tidak pernah cerita. Ia justru mengetahui hal itu usai didatangi saudaranya karena banyak masyarakat yang membicarakan sang anak. Dan, setelah ia telusuri, hal itu benar - sang anak pun berkata demikian. Lagi-lagi ‘oknum’ merusak citra agama, berbuat bejat dari balik topeng agamanya. 


Peristiwa ini telah dilaporkan ke Polres Lumajang oleh pihak keluarga korban pada Mei lalu. Sayangnya, respon lambat dari kepolisian membuat pihak keluarga menaruh kecewa. Hingga kemarin orang tua korban didampingi Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak setempat kembali mendatangi Polres Lumajang guna mempertanyakan tindak lanjut laporan tersebut.


Baca: Bukan Sebab Kita Hebat, Tapi Karena Allah Mampukan 


Orang tua mana yang hancur hatinya melihat puteri kesayangannya harus menanggung beban yang begitu berat. Saya yakin korban tidak hanya dipaksa, tetapi juga diancam. Apalagi korban merupakan anak di bawah umur.


Mengapa aparat begitu lamban menangani kasus-kasus semacam ini. Bukti jelas, bahkan korban turut datang didampingi oleh keluarga. Apa karena mereka berasal dari latar belakang yang tak punya? Akhir ini kinerja kepolisian disorot oleh masyarakat luas, dari berbagai kasus, salah satunya kasus Vina Cirebon. Hingga banyak masyarakat yang jadi mempertanyakan kredibilitas dan kinerja kepolisian. Apalagi banyak kasus yang harus menunggu viral terlebih dahulu baru ditindaklanjuti.


Saya jadi teringat dengan kasus-kasus serupa yang mengatasnamakan agama. Tidak usah jauh-jauh, tahun lalu kita juga digemparkan oleh kasus Pondok Pesantren Al-Zaytun yang ajarannya menyimpang jauh. Bahkan sudah viral saja pihak berwajib lambat menanganinya. Dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) hingga yang memiliki hak utama (Kepolisian) pun seakan mengulur waktu untuk segera menangkap pelaku. Padahal sudah jelas bukti-buktinya.


Baca: Melihat Lebih Dekat, Masjid Mewah di RS Harapan Bunda Lampung


Mengapa begitu susahnya aparat menangkap dan mengadili para pelaku yang berlindung di balik topeng agama dan merusak citra agama di tengah masyarakat kita yang mayoritas beragama Islam ini?


Bagaimana nasib anak-anak yang ingin belajar agama dengan tulus, jika rasa was-was terus bermunculan tiap saat mendengar perbuatan dari para munafik bertopeng agama. Jangan sampai masyarakat menjadi takut dengan lembaga pendidikan berlatar belakang agama, karena kasus demikian terus dibiarkan. Aparat harus segera tegas dan bertindak menjadi garda terdepan. Semoga tidak lagi ada orang-orang bejat di balik topeng agama yang memanfaatkan kekuasaannya dengan mengatasnamakan agama serta berlindung di bawah dasar Islam untuk mencari aman.


Baca: Mengenal dan Mengendalikan Emosi dalam Diri Remaja | Review Film Inside Out 2

Comments

Popular posts from this blog

Tiga Puluh Jam Bersama Habibana

Kenangan Habibana dan Abah serta rombongan. Foto Pecandu Sastra. Dokpri   Jum'at itu menjadi pembuka perjalanan yang mengesankan. Nabastala biru menghampar semesta sore, perlahan mulai memudar. Segera usai berdzikir aku telah bersiap menemani Abah dan jamaah memenuhi undangan majelis peringatan Isra' Mi'raj di salah satu desa di bagian Bogor Timur. Abah, demikian aku memanggil laki-laki yang tengah berusia 50 tahun itu. Seorang pendakwah yang begitu istiqomah, gigih, penyabar, dan sangat mencintai ilmu. Beberapa bulan belakang, aku kerap menemani beliau berdakwah di desa tersebut, sepekan sekali. Tak peduli gerimis, hujan, dingin, ataupun panasnya cuaca, lelah setelah beraktivitas sekalipun, beliau terus istiqomah tanpa absen. Kecuali uzur yang mendesak. Hal tersebut yang menjadi salah satu yang aku kagumi dari sosok Abah. Sore itu, rombongan dijadwalkan berangkat sebelum maghrib. Dikarenakan perjalanan yang cukup memakan waktu, apalagi hari kerja, jam-jam segitu adalah pu...

Review Film Home Sweet Loan: Asa Anak Muda Menuju Rumah Impian

Refleksi hangat dari film Home Sweet Loan yang menggambarkan perjuangan generasi muda mencari arti rumah dan stabilitas hidup. (Dokpri) Kita sering mengira bahwa perjalanan menuju “rumah” adalah soal membeli properti, mencicil KPR, atau urusan angka dan bank. Tapi film Home Sweet Loan memberi tafsir yang lebih dalam dan emosional: rumah bukan hanya tentang tempat tinggal, tapi tentang tempat berteduh secara batin.

Filosofi Sepeda Untuk Hidup yang Lebih Bermakna

Filosofi sepeda untuk hidup yang lebih bermakna. (Foto oleh: Pixabay/wal_172619) Oleh: Cendekia Alazzam          Seiring berkembangnya zaman, sepeda tidak hanya sekadar menjadi alat transportasi bagi banyak orang, kini ia pun hadir menjadi media olahraga bagi sebagian orang yang gemar berolahraga.  Selain jogging dan berlari, bersepeda menjadi  olahraga favorit yang praktis dan mudah belakangan ini. Dengan turut berkembangnya desain sepeda yang semakin keren dan fungsional, terlebih lagi saat ini pemerintah di beberapa kota sudah menyediakan beberapa titik jalur khusus sepeda sehingga menciptakan rasa yamg semakin aman dan nyaman ketika bersepeda. Berbicara tentang sepeda, ada banyak filosofi tentangnya yang sangat relevan bagi kehidupan. Beberapa poinnya akan kita bahas melalui tulisan singkat ini, semoga sahabat pembaca dapat mengambil hikmahnya dan diterapkan dalam kehidupan. Dari sepeda kita seakan diajarkan untuk bergerak dan terus bergerak. Keti...

Jumbo: Animasi Lokal yang Memberi Banyak Pelajaran

  Poster Film Jumbo di Bioskop Bes Cinema Kota Metro (Foto oleh Cendekian/dokpri.2025) Akhirnya dua hari lalu bisa menyaksikan film animasi lokal buatan anak negeri. Film yang sudah sejak pertama official trailernya tayang di platform digital ini menjadi salah satu yang aku nantikan untuk ditonton, karena memang menarik perhatianku. Aku menyaksikan film ini bukan karena ikut-ikutan fomo ya, tapi memang penasaran banget sama filmnya.

Air, Kenyamanan, dan Realita Tinggal di Perumahan

Tampak depan rumah di kompleks perumahan - terlihat rapi, tapi di baliknya tersimpan cerita tentang krisis air bersih yang melelahkan (Sumber: Pexels) Ketika pertama kali memutuskan untuk tinggal di perumahan, saya membayangkan suasana yang rapi, nyaman, damai, dan menenangkan. Gambarannya terasa ideal. Dua hingga tiga bulan pertama memang terasa seperti itu. Namun seiring waktu, kenyataan mulai menunjukkan sisi lain yang tidak pernah saya duga sebelumnya - terutama soal kebutuhan paling mendasar: air.