Skip to main content

Pelayan Setia di Majelis Cahaya | Puisi

Ilustrasi dibuat oleh kecerdasan buatan (AI)/Gemini. 


 Sering kali, di sepertiga malam terakhir saat alam semesta tenggelam dalam keheningan yang paling sunyi, Tuhan membisikkan pesan-pesan indah melalui mimpi yang teduh. Mimpi bagi seorang penuntut ilmu bukanlah sekadar bunga tidur, melainkan jembatan ruhani yang menghubungkan jiwa dengan sumber-sumber keberkahan.

Di saat dunia terlelap, ada hati yang dituntun kembali ke sebuah ruang yang benderang - sebuah majelis tempat embun rida Tuhan menetes tiada henti. Di sanalah kedamaian sejati bermula, memanggil jiwa yang rindu untuk kembali pulang dan bersimpuh.

Dalam tradisi para pencari kebenaran, kedudukan paling mulia bukanlah saat kita berada di tempat yang tinggi untuk dipuji, melainkan ketika kita memiliki kerelaan hati untuk menjadi pelayan bagi mereka yang membawa pelita cahaya.

Menjadi abdi dalem yang penuh takzim, menyeduh teh kehangatan, hingga merapikan sajadah doa, adalah bentuk cinta yang paling murni kepada sang Murabbi. Sebab, kita meyakini dengan sepenuhnya bahwa di balik senyum tulus dan rida seorang guru, mengalir pula rida dari Sang Pencipta yang membimbing langkah-langkah dhuafa kita menuju cahaya-Nya.

Untaian bait dalam puisi "Pelayan Setia di Majelis Cahaya" ini lahir dari kedalaman rasa takzim dan kerinduan yang membuncah menjelang fajar menyapa di sudut Gunung Putri.

Melalui larik-larik yang sarat akan makna pengabdian, tulisan ini menjadi sebuah kesaksian bahwa ikatan batin antara murid dan pemandu jiwa tidak akan pernah luntur oleh jarak maupun dimensi yang berbeda.

Semoga catatan kecil ini dapat menyentuh relung hati pembaca, serta menularkan keindahan rasa khidmat dan ketulusan dalam merajut cinta karena Allah Subhanahu wa Ta'ala. Selamat meresapi bait-bait rindu berikut ini.


Pelayan Setia di Majelis Cahaya

: Disisi Saidi Fatah 

Dalam kesunyian malam yang paling sunyi,
Terangkai sebuah kisah tanpa aksara di balik sepi.
Langkahku kembali menapak pada sebuah ruang,
Bukan rumah tua yang dulu kerap kukunjungi,
Melainkan sebuah kediaman indah nan megah yang benderang,
Di mana embun rida Allah menetes tiada henti.

Mimpi semalam, mimpi ketiga yang terangkai indah,
Sebelum subuh menyapa dengan seberkas cahaya.
Di sana, di sebuah majelis ilmu yang berpilar cahaya,
Aku kembali mengambil peran yang paling kuinginkan.
Menjadi abdi dalem, pelayan setia yang penuh khidmat,
Menyeduh kopi kehangatan untuk para pencari kebenaran,
Merapikan sajadah doa di atas hamparan lantai yang berkat,
Semata-mata demi menanti sebentuk senyum tulus dari Sang Murabbi.

Ah, alangkah indahnya saat rona itu kembali merekah,
Tatapan matamu teduh, memancarkan bahagia yang membuncah.
Senyummu kini jauh lebih benderang dan murni,
Mengalahkan ribuan lampion yang menghias istana dunia ini.
Pengabdian ini takkan pernah sirna ditelan masa,
Walau kita kini berdiri dalam dimensi yang berbeda,
Hati ini akan selalu terpaut pada sosok pemandu jiwa,
Yang menuntun langkah dhuafaku menuju rida-Nya.


---

Gunung Putri, 11 Juli 2026 - Menjelang Subuh

Comments

Popular posts from this blog

Tiga Puluh Jam Bersama Habibana

Kenangan Habibana dan Abah serta rombongan. Foto Pecandu Sastra. Dokpri   Jum'at itu menjadi pembuka perjalanan yang mengesankan. Nabastala biru menghampar semesta sore, perlahan mulai memudar. Segera usai berdzikir aku telah bersiap menemani Abah dan jamaah memenuhi undangan majelis peringatan Isra' Mi'raj di salah satu desa di bagian Bogor Timur. Abah, demikian aku memanggil laki-laki yang tengah berusia 50 tahun itu. Seorang pendakwah yang begitu istiqomah, gigih, penyabar, dan sangat mencintai ilmu. Beberapa bulan belakang, aku kerap menemani beliau berdakwah di desa tersebut, sepekan sekali. Tak peduli gerimis, hujan, dingin, ataupun panasnya cuaca, lelah setelah beraktivitas sekalipun, beliau terus istiqomah tanpa absen. Kecuali uzur yang mendesak. Hal tersebut yang menjadi salah satu yang aku kagumi dari sosok Abah. Sore itu, rombongan dijadwalkan berangkat sebelum maghrib. Dikarenakan perjalanan yang cukup memakan waktu, apalagi hari kerja, jam-jam segitu adalah pu...

Jumbo: Animasi Lokal yang Memberi Banyak Pelajaran

  Poster Film Jumbo di Bioskop Bes Cinema Kota Metro (Foto oleh Cendekian/dokpri.2025) Akhirnya dua hari lalu bisa menyaksikan film animasi lokal buatan anak negeri. Film yang sudah sejak pertama official trailernya tayang di platform digital ini menjadi salah satu yang aku nantikan untuk ditonton, karena memang menarik perhatianku. Aku menyaksikan film ini bukan karena ikut-ikutan fomo ya, tapi memang penasaran banget sama filmnya.

Review Film Home Sweet Loan: Asa Anak Muda Menuju Rumah Impian

Refleksi hangat dari film Home Sweet Loan yang menggambarkan perjuangan generasi muda mencari arti rumah dan stabilitas hidup. (Dokpri) Kita sering mengira bahwa perjalanan menuju “rumah” adalah soal membeli properti, mencicil KPR, atau urusan angka dan bank. Tapi film Home Sweet Loan memberi tafsir yang lebih dalam dan emosional: rumah bukan hanya tentang tempat tinggal, tapi tentang tempat berteduh secara batin.

Memetik Cahaya di Cicadas: Tentang Khidmah, Rindu, dan Wajah Guru

Moment foto bersama guru kami Habib Musthofa bin Yahya (Koko Marun) dan Abah Ust. Mahfudin bin H Alif Yunus (Gamis Sage). (Dokpri/Farid). Ada sebuah kebahagiaan yang sulit didefinisikan dengan kata-kata; sebuah rasa yang hanya muncul ketika bibir menyentuh tangan seorang guru, atau saat aroma nasi liwet yang kita tanak sendiri di dapur mereka mengepul hangat untuk menyambut tamu-tamu shalih.

Mengabadikan Moment Bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf

Momen foto bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf. (Dokpri/Fadillah). Setiap orang pasti memiliki momen “one in a million” dalam hidupnya. Sebuah peristiwa langka yang membuat kita tertegun dan merasa seluruh keberuntungan dalam setahun habis dalam satu hari.