Cerita Cendekia adalah ruang ekspresi dan refleksi dari Cendekia Alazzam (Pecandu Sastra) — berisi rangkaian puisi, cerpen, cerbung, esai, opini, serta ulasan buku dan film. Melalui tulisan, aku bercerita tentang kehidupan, gagasan, dan imajinasi, dengan harapan bisa mengajak pembaca berpikir, merasa, dan merdeka.

Showing posts with label relegius. Show all posts
Showing posts with label relegius. Show all posts

Tuesday, July 29, 2025

Solusi Ekonomi Krisis ala Ustadz Segaf Baharun

 

Potret Ustadz Segaf Baharun saat ceramah menyentuh hati tentang iman dan krisis ekonomi. (Sumber foto: Dalwa Gallery.)

Dalam masa ketika harga kebutuhan naik, utang menumpuk, dan pikiran mudah diliputi cemas soal hari esok, hadirnya nasihat dari Ustadz Segaf Baharun terasa seperti segelas air di tengah dahaga. Lewat tausiyahnya yang hangat dan menyejukkan, beliau menyampaikan sebuah solusi krusial namun sering kita abaikan: perkuat iman.

Share:

Sunday, June 8, 2025

Ketika Tukang Sol Sepatu Jadi Haji yang Mabrur Tanpa Berhaji

Jutaan jemaah berkumpul di sekitar Ka'bah. Tak semua bisa hadir, tapi niat tulus bisa menghantarkan pahala haji mabrur. (Sumber: Pexels)

 

 "Tolok ukur seorang haji yang mabrur adalah ketika seorang tersebut menjadi pribadi yang lebih baik, berperikemanusiaan, tidak riya, dan sombong setelah berhaji."

- Habib Husein Ja'far al-Hadar


Setiap musim haji, jutaan umat Islam dari seluruh dunia berlomba-lomba menjadi tamu Allah di Baitullah. Namun, bagaimana jika seseorang sudah niat, sudah usaha, tapi gagal berangkat haji karena satu dan lain hal di luar kendali? Ap²akah itu berarti kehilangan segalanya?

Share:

Monday, May 26, 2025

Qasidah Burdah: Bukan Sekadar Puisi, Tapi Penyembuh Hati

Qasidah Burdah karya Imam Al Busiri (Foto oleh Cendekia)


       Sahabat pembaca pernah dengar qasidah burdah? Kalau kamu pernah denger Qasidah Burdah, mungkin kesannya cuma seperti puisi klasik Arab yang dinyanyikan di pengajian. Tapi sebenarnya, qasidah ini punya makna yang lebih dalam - bisa jadi semacam “obat” untuk hati yang lelah dan kotor karena dosa. Dalam ceramah Dr. KH. Muhammad Faiz Syukron Makmun - yang akrab disapa Gus Faiz - beliau menjelaskan bahwa Al-Burdah itu bukan sekadar karya sastra, tapi alat spiritual buat menyegarkan iman dan membersihkan batin.
Share:

Thursday, May 22, 2025

Rindu yang Mengarah ke Ka'bah: Sebuah Impian Menuju Tanah Suci

Indahnya ka'bah yang dipenuhi oleh umat Islam yang merindu kepada-Nya. (Sumber: Baznas)


       Semua bermula dari sebuah siaran langsung di tv - pemandangan jutaan umat Islam mengenakan ihram sedang memutari Ka'bah dengan lantunan talbiyah, dan menitikkan air mata dalam lautan doa yang tak bertepi. Saat itu, aku masih remaja. Tidak sepenuhnya mengerti makna haji, tapi ada sesuatu yang mengetuk di relung hati. Sebuah rasa yang tumbuh perlahan: ingin, rindu, dan harap.

Share:

Thursday, May 8, 2025

7 Syarat Sujud yang Benar Dalam Shalat

 

Ilustrasi shalat (Sumber: Tokped media)



Shalat merupakan ibadah wajib, atas penghambaan manusia kepada Allah Subhanahu Wata'ala (SWT). Di dalamnya terdapat beberapa aturan, seperti syarat dan rukun shalat. Kesemuanya harus dikerjakan dengan sempurna dan tidak boleh ditinggalkan.

Share:

Sunday, February 23, 2025

Kisah: Berkah Ratib, Mata Sembuh Usai Terkena Lem Rekat

Foto oleh Kompas. Ist



           Pada suatu kesempatan beberapa waktu yang lalu saat mendampingi Abah menghadiri majelis yang rutin kita ikuti di salah satu desa di bagian Bogor Timur, Jawa Barat. Kala itu, saat kita sedang duduk bersama sembari menghilangkan penat usai perjalanan - ditemani suguhan kopi hitam tanpa gula dan beberapa kudapan yang dijamu oleh tuan rumah, kita saling berbagi cerita. 


Ada hal yang menarik perhatian saya untuk menyimak dengan tertib. Sebuah kisah yang menggetarkan jiwa. Sebenarnya, pada sebelumnya kisah ini sudah pernah diceritakan oleh Abah kepada saya beberapa waktu sebelumnya, dan kini saya mendengarkannya secara langsung dari yang bersangkutan. Dengan ini hati saya jadi semakin yakin, betapa luar biasa akan kuasa-Nya. 


Sebut saja hamba Allah (sebab saya lupa nama beliau yang dalam hal ini sebagai tokoh utama, karena kita baru pertama kali jumpa). Suatu ketika si hamba Allah ini sedang berkegiatan, di mana dia pada saat itu menggunakan  lem cair (sejenis lem yang memiliki rekat kuat).  Lem ini dalam beberapa detik saja mampu merekat pada apa saja, dan sangat kokoh. Singkatnya,  ini lem secara tidak sengaja mengenai salah satu matanya. Bayangkan lem yang rekatnya kuat, tiba-tiba terkena mata, perihnya luar biasa.


Baca juga: Lebih Dekat Dengan Sang Pencetus 'Resolusi Jihad' Melalui Komik Edukasi 


Seketika hamba Allah ini langsung membersihkan area matanya yang terkena cipratan lem, dengan berbagai upaya dilakukan. Karena rekatnya sangat cepat, mata si hamba Allah ini kulitnya menutup (saling merekat). Perih, panas, begitulah yang ia rasakan. Karena berbagai usaha dilakukan belum juga berhasil, akhirnya hamba Allah memutuskan untuk membawanya ke ahli kesehatan. Pihak sana menyarankan agar si hamba Allah segera melalukan tindakan operasi, sebab lem yang mengenai matanya sulit untuk dilepaskan, jika dipaksakan khawatir akan menimbulkan sesuatu yang buruk.


Hamba Allah ini pun pulang ke rumah dengan rasa yang bercampur aduk di hatinya. Pada senja hari menjelang maghrib, hamba Allah yang punya kebiasaan berdzikir ini tetap melakukan aktivitas dzikir sebagaimana biasanya. Dzikir yang biasa ia dawamkan (istiqomah dibaca) ialah Ratib Al-Haddad karangan Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Pada salah satu bacaan dzikir di dalam ratib tersebut ketika ia baca secara tiba-tiba hatinya bergejolak, ia menangis, air matanya membasahi pipi. Masha Allah, mata yang tadi tertutup karena rekat lem cair, atas kuasa Allah terbuka tanpa operasi.


Mendengar kisah itu secara langsung dari orang yang mengalaminya, dada saya seketika sesak, berkecamuk, hati saya bergetar menyebut asma Allah. Masha Allah, begitu luar biasa pertolongan Allah. Padahal ketika beliau periksa ke ahli kesehatan, beliau disarankan untuk operasi karena pihak sana tidak bisa membantu untuk membuka matanya. Jika dipaksakan takut malah justru menimbulkan sesuatu yang buruk.


Baca juga: Kapan Waktu Mustajab di Hari Jum'at?


Pembaca bisa bayangkan, operasi itu selain biayanya mahal, banyak risiko yang harus ditanggung. Belum lagi itu bagian mata yang akan dioperasi. Kita juga belum tahu apakah itu akan berhasil atau tidak. Betapa indahnya pertolongan Allah, sesuatu yang tidak mungkin di mata kita (makhluk-Nya) di saat Ia bertindak, maka tidak ada yang tidak mungkin.


Sahabat pembaca, inilah, betapa pentingnya kita melibatkan Allah dalam setiap urusan. Jika usaha telah kita lakukan, maka, pada akhirnya berserah kepada-Nya adalah final. Dalam kondisi sesulit apapun, teruslah berprasangka baik kepada-Nya, sebab pertolongan-Nya pasti dan tidak pernah telat. Tidak ada sesuatu yang dapat merubah takdir melainkan doa.


Semoga melalui kisah ini dapat menjadi inspirasi bagi kita semua untuk menjadikan cahaya keimanan kita semakin bertambah, rasa syukur kita semakin meningkat, dan sifat optimis kita semakin meluas. Salam.


Baca juga: Keajaiban Waktu Subuh dan Keistimewaannya Dalam Perspektif Islam 

Share:

Saturday, February 22, 2025

Keajaiban Waktu Subuh dan Keistimewaannya Dalam Perspektif Islam

 

Keajaiban Shalat Subuh (Buku Republika). Gambar Oleh Pecandu Sastra@2023.ist


           Manusia ibaratnya seperti pohon atau bangunan. Akar dan fondasinya adalah iman, cabang dan dindingnya adalah ibadah. Dalam perumpamaan lain, kita tidak dapat menyelamatkan pohon yang akarnya sakit dengan menyemprotkan obat pada cabang-cabangnya, kita pun tidak dapat memperbaiki sebuah bangunan yang fondasinya telah goyah dengan hanya mengecat dindingnya. Seperti contoh di atas, seorang mukmin yang melalaikan shalat, harus terlebih dahulu menguatkan iman agar dapat merangkul shalat dengan segenap tangannya. (Keajaiban Shalat Subuh, Cemil Tokpinar, Halaman 4).

Share:

Kapan Waktu Mustajab di Hari Jum'at?

Panorama di sore hari. Diambil oleh Fatah. 2024. Ist



           Hari Jum'at merupakan salah satu hari terbaik di dalam Islam, selain memiliki kedudukan tersendiri-baik dari sisi keutamaan, sejarah, juga disyaratkan amal-amalan sunnah yang berlipat ganda pahalanya. Oleh karena itu hari Jum'at harus disambut dan dirayakan dengan riang gembira. 


Dari Abi Hurairah ra, Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda: "Hari terbaik terbitnya matahari adalah pada hari jum'at, pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu pula dimasukkan ke dalam surga dan pada hari tersebut dia dikeluarkan dari surga, " (HR. Muslim). 


Sebagai hari terbaik, maka sudah selayaknya kita menyambut dengan semangat penuh kebaikan dan dengan niat beribadah karena Allah semata. Jika di hari-hari lain kita bersemangat, maka pada hari jum'at harus lebih bersemangat. Jika pada hari lain kita banyak beribadah kepada dan karena Allah, maka di hari jum'at harus lebih banyak lagi. 


Selain dari pada itu, ada satu hal yang harus kita pahami dan manfaatkan betul peluangnya. Ialah waktu mustajab di mana doa-doa kita diijabah oleh Allah swt. Waktu mustajab tersebut terdapat pada hari yang mulia ini; hari jum'at. Oleh karenanya, mari kita manfaatkan waktu ini dengan bermunajat kepada Allah sembari melantunkan doa-doa penuh harapan hanya kepada-Nya dan oleh karena-Nya. 


Sebagaimana diriwayatkan di dalam hadist Nabi oleh Muslim dalam kitab sahihnya, dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi wa Sallam, bersabda; "Sesungguhnya pada hari jum'at terdapat saat tidaklah seorang muslim mendapatkannya dan dia dalam keadaan berdiri (shalat), dia meminta kepada Allah satu kebaikan kecuali Allah memberikannya, dan dia menunjukkan dengan tangannya bahwa saat tersebut sangatlah sedikit." [HR.Muslim No. 852 dan Bukhari No. 5294].


BACA JUGA: Mengapa Waktu Subuh Begitu Istimewa? 


Mengenai makna dari pada hadist tersebut, Syaikh Sa'ad bin Turki Al-Khotslan mengatakan, maksud dari pada waktu mustajab pada hari jum'at, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi tersebut tidaklah lama, hanya sebentar-tidak sampai satu jam. 


Maksud waktu di sini, hanya beberapa saat. Waktu yang paling diharapkan bertepatan dengan waktu doa mustajab di hari jum'at adalah saat-saat terakhir sebelum matahari terbenam di hari jum'at, dan di akhir siang pada hari jum'at. Saat itulah kemungkinan besar waktu mustajab. 


Begitu pula saat khatib naik mimbar, sampai selesai sholat jum'at. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Imam Ibnul Qayyim Rahimakumullah, dua waktu ini yang paling besar kemungkinannya sebagai waktu mustajab di hari jum'at. Pertama, saat-saat terakhir waktu asar atau menit-menit terakhir terbenamnya matahari di hari jum'at. Kedua, saat khatib naik mimbar sampai selesai sholat jum'at.


Mari kita manfaatkan waktu ini untuk bermunajat kepada Allah dengan doa-doa terbaik. 


Wallahu Alam 

Share:

Tuesday, July 2, 2024

Enam Sifat Manusia Terburuk Menurut Rasulullah

Foto Muslim or id. Ist


Enam sifat buruk manusia menurut Baginda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam. Sebagaimana di rangkum dari hadits shoheh yang dibagikan oleh saudara kita dalam majelis online melalui WhatsApp grup. Sifat-sifat tersebut di antaranya ialah;

Share:

Friday, June 14, 2024

Apa itu Haji Mabrur dan Apa Ganjarannya?

Ustad Riyadh Ahmad, Pengasuh Pondok Pesantren Doa Ahlul Quran (DOAQU) Gunungpati, Kota Semarang. Tangkapan layar/NU Online


 Siapa yang tidak menginginkan untuk melaksanakan ibadah haji maupun umrah ke tanah suci? Tentu saja ketika hal itu ditanyakan kepada setiap muslim, jawabannya; ingin. Jangankan melihat secara langsung negeri Baginda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam, mendengar nama Makkah, Madinah, dan segala hal tentangnya saja hati begitu riang gembira. Lantas apa yang menjadikan diri kita 'ingin'?

Share:

Friday, August 11, 2023

Dari "Raden Kian Santang" Jadi Candu Sholawat

 



Kalian pernah nggak secara tiba-tiba kepingin sesuatu, melakukannya dengan keinginan yang amat begitu besar. Hal itu harus banget terlaksana - sesegera mungkin. 


Hal ini pernah aku alami taat kala menduduki bangku sekolah menengah pertama (SMP) di kelas tiga akhir. Kembali pada tahun 2012 silam, berawal dari sebuah sinetron yang tayang di televisi. 


Sebenarnya, aku nggak seberapa suka menonton televisi, lebih banyak bermain dengan teman sebaya. Apalagi saat itu detik-detik menjelang penilaian akhir ujian nasional (UN). Namun, karena ini serial sejarah yang menceritakan kisah masa lampau dan bercerita tentang kerjaan di Nusantara, tentu saja aku sangat antusias. Aku paling suka sekali membaca, mendengar, atau menyaksikan sesuatu yang membahas hal terkait sejarah kerjaan di Indonesia


Rasa ingin yang muncul di dalam diriku bisa dikategorikan sebagai "ngidam". Hanya saja aku bukan orang yang sedang hamil, juga bukan perempuan. Apalagi diriku masih remaja dan belum menikah. Secara kemauan itu besar dan harus banget dilaksanakan. Rasanya ada yang kurang jika hal itu tidak dilaksanakan.


Sinetron Raden Kian Santang yang merupakan produksi MD Entertainment ini ditayangkan di MNCTV dan pertama tayang pada 28 Mei 2012, pukul 20.30 wib. Musim 1 berlangsung pada Mei 2012 hingga Oktober 2014. Berkisah tentang salah satu putra dari Prabu Siliwangi yang merupakan pemegang tahta kerajaan Padjadjaran. Sinetron ini disutradarai oleh Edi S. Jonatan, Iyon Priyoko, dan Udin Berantai. Dibintangi oleh Alwi Assegaf, Ananda George, Ahmad Ridho, dan beberapa aktris serta aktor lainnya.


Baca: Menyingkap Dunia Malam dari Novel Re dan peRempuan 


Salah satu scene atau adegan yang kala itu aku lihat ialah di mana sosok Raden Kian Santang kecil yang diperankan Alwi Assegaf melantunkan salah satu syair indah yang memuji Baginda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam. Kala itu aku belum mengerti jika syair tersebut merupakan sholawat, yang aku pahami hanyalah lagu-lagu religi. Ya, sesuatu yang berhubungan dengan syair Islami, aku tahunya hanyalah lagu religi.


Syair itu begitu indah dan menyentuh kalbu (hati). Seketika hatiku senang dan merasa tenteram kala mendengar lantunan dari suara merdu si kecil Kian Santang tersebut. Sejak itu aku sering melantunkan syairnya di mana saja bahkan selalu terngiang, aku juga jadi mengidolakan sosok Alwi yang memerankan Kian Santang kecil.


Dari kesukaan yang secara tiba-tiba itulah membawaku pada sebuah pertemuan yang tidak disangka-sangka beberapa tahun setelahnya. Dari yang aku tidak tahu sholawat menjadi tahu, bahkan menyukainya. Memasuki dunia pesantren dan mengenalnya, serta mencintai majelis dan duduk di dalamnya. Semua berawal dari sinetron Raden Kian Santang ini. Keingintahuanku pula membawa diriku yang penasaran dengan sosok Alwi Assegaf sebagai Kian Santang kecil yang akhirnya membuat diriku mencari tahu siapa dirinya. Ternyata Alwi merupakan salah satu keturunan dari manusia yang mulia, Baginda Nabi Muhammad saw.


Lama syair itu tenggelam dalam diri, beberapa bulan pasca melepas pakaian putih abu-abu yang menyelimuti tubuh kurusku.  Aku kembali diperkenalkan dengan syair sholawat yang menggetarkan hati, hanya saja yang melantunkannya sosok yang berbeda. Meski keduanya masih sama-sama keturunan dari Nabi Muhammad saw. 


Baca: Tiga Puluh Jam Bersama Habibana 


Melalui untaian syair dan pujian yang disenandungkan Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf itu pula semakin menambah rasa kagum dan syukurku bisa mengenal dan menjadi umat Baginda Nabi Muhammad saw., yang pada akhirnya membawa diriku hanyut dalam lantunan sholawat. 


Sinetron kolosal Raden Kian Santang ini sangat berperan dalam perjalanan hidupku. Tentunya tak lepas dari sosok Sayyid Alwi Assegaf yang berhasil memerankan Kian Santang kecil dengan apik. Dua tahun lebih aku mengikuti kisah dalam sinetron tersebut, hingga akhirnya tamat (2014). Dan beberapa tahun setelahnya tayang kembali untuk musim kedua dan ketiga dengan cerita yang berbeda, namun pada edisi kala itu aku tidak seberapa suka. Sebab beberapa cerita seakan-akan lepas dari sejarah.


Sinetron ini banyak diminati pada masanya, apalagi beberapa pemerannya kala itu sedang menjadi idola anak-anak dan remaja. Tim produksi patut diacungi jempol dalam memilih sosok pemeran dalam sinetron tersebut, seperti Alwi Assegaf yang memiliki background agamis, hafal Al-Qur'an, sehingga sangat sejalan dengan kisah dan karakter Raden Kian Santang yang ia bawakan. Prabu Siliwangi yang diperankan oleh Ananda George pun tak kalah kerennya, ia banyak menuai pujian dari berbagai kalangan, terutama masyarakat Jawa; Sunda. Menurut mereka, sosok Ananda George sudah sangat pas dalam memerankan Siliwangi. Terbukti kedua pemeran tersebut hingga kini banyak dikenal dengan sebutan sosok yang mereka perankan; Kian Santang dan Prabu Siliwangi. 


Baca: Novel Sesuk Tekankan Peran Penting Orang Tua 

Share:

Saturday, April 11, 2020

Islam Nusantara Bukanlah Sebuah Kepercayaan Baru



Oleh : Senja Jingga Purnama 
Instagram : @pecandusastra96


"Pernahkan kita beristighfar dalam hati? Jika pernah, selamat saya ucapkan, sebab disaat kita membaca istighfar dalam hati maka disaat itu pula Allah telah melihat hati kita. Mari bersihkan hati kita dari segala keburukan, terutama berburuk sangka. Yang kita anggap benar, belum pasti benar kebenarannya dihadapan Allah. Begitupun sebaliknya, apa yang kita anggap salah, belum tentu salah dihadapan Allah. Sebab kebenaran hanya milik Allah semata"

Share:

Tuesday, April 7, 2020

Hikmah | Bersedekah Dengan Cara Bersedekah


Yuk simak videonya. Insya Allah ada hikmah yang dapat kita petik.


Pembeli ke-1 membeli 8 roti, tetapi mengambil hanya 4 saja, sementara 4 lainnya diamanahkan kepada penjual untuk disedekahkan kepada yang memerlukan.


Penjual menjaga amanah tersebut, memisahkan antara hak pribadi dengan hak orang lain. 


Si miskin datang memohon dengan sopan barangkali ada bagian rizkinya disini.


Penjual memberi 4 roti tadi. Tetapi, si miskin mengembalikan 2 roti agar tidak mengambil hak fakir-miskin yang lain kerana dia hanya mengambil sekadar keperluannya saja. Dia mungkin miskin harta, tetapi kaya budi-pekerti, orang tuanya dahulu mendidiknya dengan benar. 


Perhatikan betapa santunnya pelayanan si pria penjual dengan wanita miskin itu.


Demikian pula, Pembeli ke-2 membeli 4 roti tetapi hanya mengambil 2 roti saja. 2 roti lainnya diniatkan sedekah untuk fakir atau miskin atau yang memerlukan. Dia tidak sekaya pembeli pertama yang mampu membeli banyak, tapi sedekahnya sama separuh.


Kebaikan hati itu sifat rohaniah, bukan pada banyaknya harta-benda yg disedekahkan.

Nabi S.A.W bersabda:
"Tidak sempurna iman seseorang yang berada dalam kekenyangan sedangkan tetangganya dalam keadaan lapar".

Pelajaran Indah:
Si kaya tidak pelit, si miskin tidak tamak, si penjual tidak khianat.

Ya Allah, bimbnglah kami agar bisa berbagi kepada yg membutuhkan...
Share:

Monday, June 10, 2019

Kemenangan Haqiqi

Oleh ; Alfa Arkana Eounoia (Dsf)

Sumber ; Liputan6.com | Ist


Hari raya berlalu sudah
Ramadhan pun usai kita lalui, ia telah pergi dengan segenap keluarga besarnya
Kemenangan tak hanya sebatas hari raya
Juga bukan sandang pangan belaka, yang serba mewah dan megah
Kemenangan haqiqi adalah bagaimana kita mempertahankan apa yang sudah kita bangun

Mari rebut kembali kemenangan yang fitry
Jangan biarkan ia berlalu dan pergi tanpa perubahan pada diri

Ramadhan boleh usai
Namun puasa tak boleh hilang begitu saja
Masih ada syawwal juga sunnah lainnya
Tadarus al Qur'an harus tetap berkumandang
Kita rebut kemenangan

Bagi yang sudah tuntas tadarusan
Mari mulai kembali dari laman awal
Bagi yang belum mari tuntaskan
Bagi yang belum sama sekali
Ayo beranikan diri, unjuk gigi pada sang ilahi

Sholat malam tetap berjalan
Bergitu pula dengan shodaqoh dan amal kebaikan

Bandar Jaya, 10 Juni 2019
Share:

Wednesday, June 5, 2019

Amalan-Amalan Sunnah di Hari Raya

Oleh : Disisi Saidi Fatah


Alhamdulillahirobbil ‘alamiin, puji syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat, hidayat, inayah, dan beribu kenikmatan yang telah beliau hadirkan untuk kita semua, wabil khusus umat muslim di dunia.
Tak terasa kita sudah berada di penghujung ramadhan. Sebulan penuh kita menikmati ramadhan serta isinya, semoga apa yang kita laksanakan dan kerjakan menjadi amal ibadah dan bisa diterima oleh Allah Swt. Amal yang menjadi penolong kita kelak diakhirat serta menjadi jembatan bagi kita menuju syurga-Nya.
Semoga ini bukanlah ramadhan terakhir bagi kita, semoga Allah memberikan kita kesempatan juga kesehatan untuk dapat berjumpa ramadhan tahun depan Aamiin.

Satu (1) Syawwal 1440 hijriyah jatuh pada hari Rabu, 5 Mei 2019. Merupakan hari kemenangan bagi umat muslim dan telah menjadi tradisi bagi kita semua untuk menyambut dengan riang gembira. 
Adapun amalan-amalan sunnah yang dapat kita laksanakan dalam menyambut hari raya idul fitri, sebagaimana yang pernah dilakukan baginda rosulullah shollallahu ‘alaihi salam, diantaranya ialah;
Pertama, mandi di pagi hari sebelum berangkat sholat ied. Kita disunnahkan untuk membersihkan diri, sebagaimana mandi janabah. Kedua, menggunakan pakaian terbaik yang kita miliki; Rosulullah SAW, beliau sangat menyukai pakaian berwarna putih bagi kaum adam atau laki-laki serta pakaian berwarna gelap untuk kaum hawa atau perempuan. Oleh sebab itu kita dianjurkan untuk mengenakan pakaian sebagaimana kesukaan rasul kita.

Ketiga, bagi laki-laki sangat dianjurkan untuk mengenakan wewangian atau parfums, namun dalam hal ini perempuan tidak dianjurkan. Keempat, sebelum berangkat sholat ied, disunnahkan untuk makan terdahulu. Hal ini merupakan sunnah nabi, adapun hikmahnya; sebagai pertanda bahwa idul fitri ailah kembali berbuka.
Kelima, kita disunnahkan untuk berjalan kaki ketika berangkat menuju masjid atau lokasi tempat kita melaksanakan sholat, begitu juga pulangnya. Keenam, disunnahkan untuk memperbanyak bacaan tasbih, takbir, tahmid, serta tahlil ketika hendak berangkat sholat. Tasbih, takbir, tahmid juga tahlil terus dibaca sampai pada waktu pelaksanaan sholat. Ketika sampai ditempat sholat ied, tidak ada lagi sholat sunnah lainnya, langsung menggelar sajadah lalu duduk dibarisan.
Mengikuti rangkaian sholat idul fitri sebagaimana mestinya dan mengikuti imam; pada rakaat pertama setelah takbiratul ikhram kita membaca doa iftitah, lalu dilanjutkan dengan membaca takbir sebanyak tujuh kali. Adapun rakaat kedua, usai bangkit dari sujud maka ditambah dengan lima kali takbir. 

Usai melaksanakan sholat ied berjama’ah, kita dianjurkan untuk tidak langsung meninggalkan masjid atau tempat sholat. Hendaknya kita mendengarkan khotib sampai dengan selesai ia berkhotbah. Selepas itu disunnahkan untuk saling mendoakan sesama muslim; sebagaimana yang dilakukan oleh salafusholih, mereka mengucapkan “Taqobbalallahu minna wamiinkum taqobbal yaa kariiim” Semoga Allah menerima amal kita semua, semoga Allah yang maha kariim  mengabulkannya.

Demikianlah amalan-amalan sunnah di hari raya yang bisa kita lakukan sebagaimana baginda rosulullah SAW terdahulu. Semoga Allah SWT senantiasa menghendaki kita semua di hari yang penuh kemenangan ini. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin.


*Penulis merupakan pendidik di SMP Integral Manbaul Ulum, Pondok Pesantren Payur Asshiddiqiyah 11 Labuhan Jaya, Gunung Labuhan, Way Kanan. Juga Anggota Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Way Kanan.

Tulisan ini dimuat dimedia online NU Lampung
Share:

Saturday, August 4, 2018

Pada Hijau NUsantara

~ Puisi untuk organisasi tercinta, "Nahdlatul Ulama"
Atas segala cinta dan makna yang telah tertanam dalam atma ~

Dari Santri KH. Hasyim Asy'ari


............................................................

Pada lingkar hijau NUsantara
Ku taruhkan segala cinta
Tertanam. Mendarah daging dalam atma
Cinta sahabat, keluarga, dan para ulama

Sahabat yang telah banyak mengajarkan kebersamaan
Keluarga yang terbentuk atas keberagaman tanpa harus membedakan
Ulama, yang telah mengajarkan berbagai ilmu dan pengetahuan
Wawasan dan pengalam didapatkan

Hijau, yang berarti subur
Aku ingin tumbuh subur sebagaimana arti warna dasarmu
Bergerak, berbuat, menebar kemaslahatan pada umat
Menerjang kemalasan, melawan kebodohan

Nahdlatul Ulama
Ahlussunah Wal Jama'ah
Izinkan aku menaruh cinta padamu
Agar tak lupa peranmu dalam membesarkanku

Engkau istimewa, engkau pantas untuk dicinta
Engkau begitu luar biasa
Begitu banyak yang mencaci maki dan menghina
Namun tak sedikit rasa untuk membalasnya

Guru, sahabat, dan para ulama
Terima kasih atas cinta yang telah tertanam pada atma
Semoga kita selalu bersama
Pada wadah hijau-nya NUsantara

Lantai II PCNU Way Kanan, 04 Agustus 2018
Share:

Tuesday, July 10, 2018

[Cerpen] Rindu Ramadhan Bersamamu

Freepic. Ist




Oleh : Alfa Arkana Eounoia (Pecandu Sastra)

Merupakan kedua kalinya tak bersamamu serta para penyemangatku di tahun ini. Tak berada didekatmu apalagi bersama dalam forum satu atap. Terhitung tiga belas bulan empat belas hari kita tak bersama lagi, melalui hari-hari dengan kesibukan masing-masing. Begitu cepat waktu berlalu, tanpa hitungan minggu sampai tahun-tahun berlalu. Memang ini bukanlah pertemuan terakhir kita, begitu besar harap agar ini perpisahan terakhir untuk kita. Sebab aku yakin akan ada waktu dimana kita akan dipertemukan kembali olehnya; sang khalik Allah azza wajalla dilain waktu. Meski berbeda tempat dan suasana, dan tentunya akan lebih indah dari masa lalau serta kenangan yang pernah kita lalui bersama dan telah menjadi kenangan bersama.

Jadi teringat waktu saat bersama Papa dahulu, kemana-mana selalu berdua dan selalu kompak. Papa yang menjadi penyemangat serta inspirasi hidupku, yang selalu memotivasi diri. Awal jumpa dulu, aku benar-benar dibuat jatuh hati oleh sikap, tutur kata, serta gaya beliau. Hal itulah yang membuat diri begitu penasaran, sampai ada rasa ingin mengenal lebih dekat dengan sosok beliau. Dan Alhamdulillah Allah mendengarkan hal itu sampai kita dipersatukan dalam forum satu atap. Sejak saat itu kita selalu melalui aktivitas bersama, menghabiskan waktu dengan hal—hal yan positif.

Yang paling indah adalah ketika ramadhan dua tahun lalu. Masih teringat begitu jelas nan indah nuansa ramadhan bersamamu kala itu.  Aku yang selalu mencuri waktu agar bisa berjama’ah bersama papa, bahkan sampai terlelap bermalaman diatas sajadah melalui malam dengan dzikir bersama. Sering kali papa memintaku untuk berlarut diatas sajadah membantunya melalui lantunan dzikir. Namun semua kini hanya tinggal kenangan, yang hanya mampu dikenang dan tak bisa terulang.

Aku benar-benar telah dibuat rindu oleh kenangan ramadhan itu, ramadhan yang sederhana namun begitu mengesankan bagiku. Terbukti sampai saat ini masih saja terlintas secara jelas moment itu. Berbeda dengan ramadhan dua tahun belakangan ini, aku banyak menyepi dan menyendiri tanpa keberadaan dan kehadiran sosok sang papa. Jangankan untuk duduk atau bahkan jalan berdua, untuk sekedar menanyakan kabar dari papa saja begitu susahnya. Papa begitu sibuk dengan berbagai aktivitas dan kegiatan, sampai papa lupa akan semua. Sering aku bertanya melalui sosial media baik facebook, instagram, maupun twitter, dan yang paling sering melalui massengger whatsapp, namun hal itu hanya sekedar dibaca, tak pernah terbalas sedikitpun. Ya mungin disaat itu papa sedang sibuk dengan urusan yang memang harus dipertangungjawabkan, aku memaklumi hal itu. Sering kali aku mencuri waktu luang untuk menyapa papa, bahkan banyak kuhabiskan hanya untuk menunggu dan melihat aktivitas papa di akun sosial media milik papa. Bahkan sering kali aku menyapa, namun jarang yang mendapat respon darinya. Diantara puluhan sampai ratusan sapaan itu, aku dapat menghitung berapa kali papa membalasanya, tak lebih dari sepuluh balasan dan jikapun dibalas juga dengan balasan singkat, yakni; ya dan atau Aamiin.

Suatu hari, aku ada pertemuan kerja di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), kebetulan satu kota, juga tak jauh dari rumah kediaman papa, sekitar seratus meter dari rumah. Petang itu, usai kegiatan aku kirim pesan singkat via whatsapp ke mama.

"Assalamu'alaikum. Apa kabar ma. Dimana posisi?”

" Wa'alaikum salam. Alhamdulillah baik kak. Dirumah.”

“Adik-adik gimana kabarnya. Sehat semuakan?”

“Alhamdulillah. Semua sehat.”

“Kakak, di SKB. Rencana mau mampir rumah ma. Adik Tsaqif belum tidurkan? Kakak kangen.”

Ya ada. Mampir kak.


Usai kegiatan kerja, aku mampir ke rumah mama. Berharap bisa bertemu dengan semua; dengan Papa dan adik-adik pasukan Netrahyahimsa-ku untuk melepas rindu dan penat dalam hati. Namun sayang, petang itu akau gagal berjumpa dengan papa, hanya saja bertemu dengan salah satu pasukan Netrahyahimsa; yakni Tsaqif, jagoan yang kesayanganku. Ya setidaknya tidak sia-sia kehadiranku petang itu, meski tidak bertemu dengan semua, semoga esok atau lusa kita segera berjumpa. Aamiin. Malam itu kuhabiskan dirumah mama, melepas rindu dengan jagoan kesayanganku. Sedikit kecewa sebab tak jumpa dengan papa, sebab niat awal agar bisa berjumpa. Sudah lama tak pernah jumpa, hanya saja dengan para jagoan saja yang sring kali. Sebab papa memang jarang ada dirumah, kebanyakan menghabiskan waktu dalam perjalanan dan di kota. Pagi, sebelum beranjak pergi. Sengaja Ku kembali membuka whatsapp, barangkali papa sedang online.


"Ping!!!" pesan singkat terkirim dan centang dua, bertanda papa sedang aktif.


"Assalamu'alaikum. Apa kabar Pa, semoga selalu baik dan sehat. Aamiin,"


Tak lama dari itu, muncul pemberitahuan di titel-bar menu whatsapp, berhologram online. Begitu senangnya hati membaca tulisan itu, bersemangat menanti balasan darinya. Dan benar, tak lama dari itu muncul tulisan berwarna hijau, yang bertuliskan sedang mengetik pesan. Hati ini mulai bergembira, menanti sebuah jawaban yang masih menjadi misteri itu.


"Wa'alaikum salam. Aamiin,"


Yes!!! Alhamdulillah, betapa senangnya hati, ketika melihat sebuah pesan masuk menghampiri. Langsung ku ketik kembali pesan balasan untuk Papa.


"Kemarin kakak ada kegiatan di SKB samping rumah, kebetulan acara sampai malam. Semalam kakak mampir di rumah, papa di mana?"


Lama menunggu, namun tak kunjung juga mendapat balasan dari papa, padahal beliau masih online. Dan beberapa menit kemudian berubah menjadi offline. Yah. Cuma dibaca saja. Meski pesanku tak terbalaskan lagi, aku sangat senang walau hanya sekali balasan. Ya setidaknya aku telah mengetahui kabar beliau hari ini, Alhamdulillah papa baik-baik saja.  Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca dan membalas pesan singkatku, semoga Papa selalu sehat, baik, dan selalu dalam lingdungan Allah.


Sebenarnya aku masih kangen dengan papa, namun bagaimana lagi aku tak dapat berbuat apa-apa. Rindu ini hanyalah sebagai hiasan hati yang entah kapan bisa terobati. Jujur aku sangat kangen sekali dengan papa, apalagi kita sudah lama tak berjumpa, terakhir ketika hari raya idul fitri tahun lalu, dan sekarang memasuki bulan ramadhan kedua tak bersama beliau. Aku rindu moment ramadhan bersama beliau, sahur dan buka bersama, sholat berjamaah sampai terlelap diatas sajadah.


Pa. Terhitung sudah tiga belas bulan empat belas hari kita tak bertatap muka. Komunikasi pun semakin rentan. Aku tahu ini adalah kesalahan kita yang selalu disibukkan dengan urusan yang membuat jarak dan waktu semakin rentan. Sebagai manusia yang memiliki hati, apalagi aku pernah jatuh hati sebab sifat dan cara papa serta gaya yang selalu aku favoritkan.


Apakah salah jika aku menaruh rindu untukmu, untuk seorang yang selalu membuat semangat dan memotivasi serta menginspirasi setiap langkah kakiku. Apalagi papa adalah sosok yang menjadi idola, papa bukan hanya sebagai orang tua bagiku, namun papa adalah sosok guru dan sahabat yang menjadi favorit  bagiku. Sejak kita bersama begitu banyak pelajaran, ilmu, dan wawasan yang aku dapatkan. Namun semua hanya kenang yang hanya dapat aku kenang, dan tak mungkin bisa terulang.



Tapi mengapa, rindu ini tak bisa terobati. Papa juga banyak berubah sekarang. Tak lagi akrab, dan sangat susah untuk dihubungi. Banyak cuek. Aku tahu papa bukanlah sosok yang smeacam itu, sebab papa perhatian dan penuh kasih sayang. Namun mengapa sekarang berubah. Untuk sekedar bertanya di sosial media saja susah, apalagi bertatap muka. Aku harap kita tetap kompak dan selalu bersama, meski tak lagi sama dan bersama dalam satu atap. Rindu kamu pa. Aku merindukan ramadhan yang penuh moment bersamamu.





“BIODATA PENULIS”

Disisi Saidi Fatah, pria berdarah Lampung yang menyukai tulis menulis, dan membaca. Pemilik nama pena Alfa Arkana Eounoia itu mengidolakan Habib Syech Abdul Rahmah Assegaf dan Ananda George (Sang Prabu), serta penyuka puisi. Terjun kedunia tulis menulis sejak kenal jurnalistik, pada saat mengikuti BPUN MataAir Way Kanan 2015.
Beberapa karya diantaranya;
- Antologi Puisi Terbelunggu Media – Kars Publisher ( Juli 2017),
- Antologi Puisi Aku Anak Santri – Kars Publisher (November 2017),
- Antologi Puisi Seuntai Kasih Bernama Sayang (Penerbit Satria) Sebagai Terbaik Delapan (Desember 2017),
- Antologi Puisi Aksara Buku Usang – Kars Publisher (Maret 2018),
- Antologi Puisi dan Essai Namaku Kartini – Kars Publisher ( Mei 2018),
- Novel Perjalanan, Mimpi, & Inspirasi – Kars Publisher (April 2018).
- Antologi Essai Peran Perempuan Dalam Pendidikan - Kars Publisher (Juli 2018)

Disisi dapat dihubungi di:
Instagram : @CatatanAlfa
Twitter : @Netrahyahimsa
Blogg : gemilangtotal.blogspot.com
Email : Disisisf.bpun@gmail.com

Share:

Thursday, June 21, 2018

Ramadhanku Benar-Benar Pergi




Pagi ini kembali ku membuka mata
Kulihat di sekeliling kamar
Ku tatap langit-langitnya
Begitu suram, sepi, dan sunyi


Begitu berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya
Ramai suara berkumandang dari surau rumah-rumah
Berdenting, berdendang suka ria
Malam sunyi itu, berlabuh menjadi ceria bersama keluarga
Menyantap sahur untuk bersama


Ramadhan. Kau benar-benar pergi.
Perlahan kau menjauhi kami
Rindu hati, rindu diri akan hadirmu
Yang membuat lekat kebersamaan dan kekompakan


Aku rindu ramadhan-Mu
Aku rindu sahur bersama yang menjadi wadah kebersamaan keluarga
Aku rindu buka dengan kurma dan manisan lainnya
Aku rindu berjamaah. Aku rindu tarawih mu serta tadarus Al-Qur'an itu
Aku rindu semua


Bengkulu Rejo, 19 Juni 2018
Share:

Friday, June 15, 2018

Dimanakah Kita? Menjadi Puasa Ulat atau Puasanya Ular!

Ilustrasi hari raya. Foto iStock. Ist




"Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar. Lā ilāha illallāhu wallāhu akbar. Allāhu akbar wa lillāhil hamdu"
Share:

Tuesday, May 1, 2018

Puisi di Bulan Sya'ban : Purnama Telah Tiba

"PURNAMA TELAH TIBA"



Oleh : DSF

Purnama dibulan Sya'ban telah datang
Membawa cahaya terang benderang
Menerangi seluruh jagat alam semesta
Pertanda tamu keagungan tak lama lagi akan tiba

Ramadhan
Bulan suci penuh ampunan
Penuh rahmat, sebab banyak datangkan manfaat
Marilah kita bersihkan hati sucikan diri
Meraih prestasi pada ramadhan ini

Janganlah siasiakan ramadhan
Dengan bermanja dan lupa diri
Marilah bermuhasabah diri
Meraih hari yang fitri


Way Kanan, 1 Mei 2018


Share:

Latest in Tech

Cendekia Al Azzam | Pecandu Sastra©2025. Powered by Blogger.

Pelayan Setia di Majelis Cahaya | Puisi

Ilustrasi dibuat oleh kecerdasan buatan (AI)/Gemini.    Sering kali, di sepertiga malam terakhir saat alam semesta tenggelam dalam kehening...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Blog Archive

Home - Recent Posts (show/hide)

Home - PageNavi (show/hide)

Random Posts

Recent Posts

Labels

Blog Archive