Kunanti Rindumu Sebagaimana Rinduku
Meski ribuan duri kau tancapkan pada hati
Tak sedikitpun mampu melukai
Ribuan bahkan milyaran cara, kau lakukan semua
Tak akan pernah bisa menggores sedikit tinta pada atma
Ku tahu, semua tindakan yang kau lakukan adalah keterpaksaan
Ada hal yang memang kau sembunyikan dan tak perlu kau jelaskan
Sebab itu, tak sedikit hati kubiarkan tergores tinta hitam
Yang memang tak perlu tergoreskan
Kau bukanlah penanam benci
Juga bukan pemberi harapan yang tak pasti
Kau begitu polos, hingga mampu terhasut
Berbagai hasutan negatif yang menjadi provokatif
Aku masih menyimpan harap
Agar kau segera terlelap dan kembali sebagaimana kau yang lalu
#UntukmuYangSelaluKunantiRindumu
Mingguan di Majelis
"Malam ini begitu indah dan istemewa. Majelis pekan ini memang berbeda, mungkin sebab kehadiran santri baru yang membuat berbeda."
Ahad ini adalah Ahad yang paling bersejarah dalam hidupku, dapat berbagi senyum, kasih dan sayang, serta kebahagiaan dengan mereka semua. Terutama dia. Radja, seorang murid baruku. Satu bulan sudah kita dipertemukan dalam forum pendidikan di Madrasah Yayasan Deen Salam. Namun baru sekarang, lebih tepatnya pada malam ini di Mejelis Dzikir dan Ta'lim Deen Salaam, kita akrab dan bersua bersama.
Baru kusadari bahwasanya muridku yang satu ini berasal dari kota yang sama denganku. Kota dimana aku berproses selama empat tahun lamanya, pada masa putih abu-abu. Sejak Mei 2012 lalu semua bermula, lika-liku kehidupan yang masih membingungkan dan penuh tanda tanya dalam anganku. Sedari aku tak mengerti akan hiruk pikuknya kehidupan yang sebenarnya, yang aku tahu hanyalah kebahagiaan yang didapatkan dan tak pernah mementingkan seberapa banyak pengorbanan dan usaha untuk mendapatkan kebahagiaan itu sendiri. Sampai pada pertengahan April 2017, dimana aku harus kehilangan semua yang pernah aku dapatkan, yang membawaku pada secerca cahaya kehidupan di madrasah ini.
"Eh Abang. Sehat bang," jawabnya sembari mengulurkan tangan dan mencium tanganku.
"Aku perhatikan kau bengong saja sedari tadi dik,"
"Tidak apa-apa bang, aku hanya sedang menunggu kedatangan seseorang," jawabnya dengan polos.
"Kalau boleh abang tahu, adik sedang menanti kedatangan siapakah?"
"Sudahlah lupakan," ujar anak itu mengalihkan pembicaraan.
Anak-anak memang tak pernah memanggilku bapak atau pak guru. Sebab aku yang tidak ingin dipanggil dengan panggilan itu. Aku merasa risi saja jika ada yang memanggilku dengan sebutan itu. Sebab umurku masih muda. Aku lebih suka jika di panggil kakak, mas, ataupun abang.
"Dengan siapa abang kemari?"
"Keluarga dik," jawabku. "Ohya namamu siapa, abang lupa," tuturku balik bertanya.
Maklum akhir ini aku banyak aktivitas yang mengharuskan diriku sibuk. Jadi belum bisa bertatap muka sepenuhnya dengan murid baru di madrasah. Butuh waktu yang ekstra untuk mengenali satu persatu wajah mereka agar aku ingat. Belakangan ini, aku banyak disibukkan dengan berbagai kegiatan. Apalagi kemarin aku diberi mandat sebagai penyelenggara pemilu di tingkat kecamatan di kotaku. Hiruk pikuk demokrasi membuat waktuku banyak tersita, ditambah persiapan masuk perguruan tinggi. Jadi harus pintar-pintar membagi waktu.
"Aku Radja, dari Bandar Lampung," jawab anak itu yang semakin membuatku penasaran.
"Nama lengkapmu siapa dik?" tanyaku semakin serius.
"Radja aja. Tak ada yang lain!"
"Ha?" timpalku dengan nada sedikit tinggi yang mungundang tatapan seluruh mata tertuju kepadaku. "Namamu panjang sekali. Aneh lagi," bisikku kepadanya.
"Radja Aja Tak Ada Yang Lain. Jadi abang panggil apa ini?"
"Aduh bang. Maksudnya nama lengkapku ya Radja. Hanya itu,"
"Astaghfirullah, maafkan aku dik yang gagal fokus denganmu."
Mati aku menahan malu. Bisa-bisanya pertanyaan macam itu terucap oleh bibirku. Kemanakah pikiran-pikiran ini tuhan.
Aku terdiam beberapa saat, tak ada kata terucap lagi dari bibirku. Aku tersipu malu dengan Radja. Pertanyaan konyol itu membuatku tergelitik lucu. Jika aku pikirkan dan ulangi kata-kata itu, aku jadi malu sendiri dengan diri. Aku terdiam sembari memainkan kamera DSLR. Kuambil gambar empat sampai lima kali jepretan, sesekali aku lihat hasil jepretan sembari memandang Radja.
Aku pikir Radja akan tertawa terbahak-bahak oleh pertanyaan oleh pertanyaanku tadi, ternyata ia hanya diam sembari memperhatikan ku yang sedang mengambil gambar. Mungkin sebab aku gurunya, jadi ia tidak ingin menertawakanku atau mungkin ia memang bukan tipe orang yang senang menertawakan kesalahan orang lain.
Sembari menikmati hidangan dan tampilan yang disajikan anak-anak Madrasah Deen Salaam, aku kembali berbincang dengan Radja. Sesekali mendokumentasikannya dalam bentuk foto maupun video. Sebelumnya aku memang diminta Abah Yusuf, Kiai pimpinan Yayasan Deen Salaam untuk selalu mendokumentasikan setiap acara dan kegiatan di yayasan.
"Radja berasal dari Kota Bandar Lampung ya?"
"Iya bang. Benar"
"Dari pasar tradisional masuk lagi sekitar tiga kilo bang," ujar Radja sambil memainkan jari-jari tangannya.
"Oh di daerah situ ya," sambungku sambil mengangguk, pura-pura paham namun sebenarnya tidak. "Abang dulu tinggal di Bandar Lampung juga selama empat tahun."
"Abang sendiri tinggal dimana?"
"Abang aslinya orang Lampung Tengah, disini tinggal dengan Bapak Angkat. Tak jauh dari sini, sekitar sepuluh menit sampai jika naik kendaraan,"
Suasaba semakin larut malam. Angin malam yang semakin mengundang kantukku, apalagi banyak aktivitas hari ini semakin membuatku lelah. Namun aku berusaha untuk menguatkan diri sampai di penghujung majelis ini. Bagiku majelis ini adalah ajang silaturahmi antara aku dan para wali santri serta ajang untuk mengasuh kemampuan bagi santriwan-santriwati.
Tak terasa tiba sudah di detik-detik penghujung acara. Aku menoleh ke arah samping kananku, Radja sedang tertidur lelap diatas pundakku. Sengaja tadi aku biarkan ia tertidur sebab aku tak tega melihat ia terlalu lelah menahan kantuk.
"Radja. Dik. Ayo bangun, acara sudah selasai," tuturku perlahan sembari membangunkan Radja.
"Aku tertidur ya bang," jawabnya kaget.
"Iya. Tadi sengaja abang tidak bangunkan kamu. Sebab abang tak tega melihat adik terlalu lelah menahan kantuk,"
"Sudah. Sekarang Radja pulang ke asrama ya. Istiharat dulu, besokkan ada kegiatan dari pagi,"
"Abang tidak menginap disini?"
"Abang tidur dirumah dik. Bapak dan Ibu mengajak pulang,"
"Mengapa tidak tidur bareng disini saja bang?" pintanya padaku.
"Lain kali ya, kalau abang tidak sibuk," jawabku sembari melepas senyum kepada Radja. "Ohya, Radja kita selfie bareng dulu ya. Buat kenang-kenangan," pintaku sebelum ia berlalu.
Usai foto bareng, Radja pamitan kepadaku untuk kembali ke asrama. Begitu juga sebaliknya denganku, aku pamitan untuk pulang kerumah pada Radja dan kawan-kawannya.
Sebenarnya aku ingin menghabiskan malam ini di pesantren, namun besok pagi aku harus standby disini sedari pagi. Jadi aku putuskan untuk pulang kerumah saja, agar bisa membagi waktu dirumah.
Malam ini begitu indah sekali. Berkesan dan istimewa. Majelis pekan ini juga sangat berbeda dari majelis sebelumnya. Mungkin sebab kehadiran santriwan-santriwati baru yang membuat suasana berbeda.
Sampai jumpa kembali esok pagi, Radja dan Deen Salaam.
"Nama lengkapmu siapa dik?" tanyaku semakin serius.
"Radja aja. Tak ada yang lain!"
"Ha?" timpalku dengan nada sedikit tinggi yang mungundang tatapan seluruh mata tertuju kepadaku. "Namamu panjang sekali. Aneh lagi," bisikku kepadanya.
"Radja Aja Tak Ada Yang Lain. Jadi abang panggil apa ini?"
"Aduh bang. Maksudnya nama lengkapku ya Radja. Hanya itu,"
"Astaghfirullah, maafkan aku dik yang gagal fokus denganmu."
Mati aku menahan malu. Bisa-bisanya pertanyaan macam itu terucap oleh bibirku. Kemanakah pikiran-pikiran ini tuhan.
Aku terdiam beberapa saat, tak ada kata terucap lagi dari bibirku. Aku tersipu malu dengan Radja. Pertanyaan konyol itu membuatku tergelitik lucu. Jika aku pikirkan dan ulangi kata-kata itu, aku jadi malu sendiri dengan diri. Aku terdiam sembari memainkan kamera DSLR. Kuambil gambar empat sampai lima kali jepretan, sesekali aku lihat hasil jepretan sembari memandang Radja.
Aku pikir Radja akan tertawa terbahak-bahak oleh pertanyaan oleh pertanyaanku tadi, ternyata ia hanya diam sembari memperhatikan ku yang sedang mengambil gambar. Mungkin sebab aku gurunya, jadi ia tidak ingin menertawakanku atau mungkin ia memang bukan tipe orang yang senang menertawakan kesalahan orang lain.
Sembari menikmati hidangan dan tampilan yang disajikan anak-anak Madrasah Deen Salaam, aku kembali berbincang dengan Radja. Sesekali mendokumentasikannya dalam bentuk foto maupun video. Sebelumnya aku memang diminta Abah Yusuf, Kiai pimpinan Yayasan Deen Salaam untuk selalu mendokumentasikan setiap acara dan kegiatan di yayasan.
"Radja berasal dari Kota Bandar Lampung ya?"
"Iya bang. Benar"
"Dari pasar tradisional masuk lagi sekitar tiga kilo bang," ujar Radja sambil memainkan jari-jari tangannya.
"Oh di daerah situ ya," sambungku sambil mengangguk, pura-pura paham namun sebenarnya tidak. "Abang dulu tinggal di Bandar Lampung juga selama empat tahun."
"Abang sendiri tinggal dimana?"
"Abang aslinya orang Lampung Tengah, disini tinggal dengan Bapak Angkat. Tak jauh dari sini, sekitar sepuluh menit sampai jika naik kendaraan,"
Suasaba semakin larut malam. Angin malam yang semakin mengundang kantukku, apalagi banyak aktivitas hari ini semakin membuatku lelah. Namun aku berusaha untuk menguatkan diri sampai di penghujung majelis ini. Bagiku majelis ini adalah ajang silaturahmi antara aku dan para wali santri serta ajang untuk mengasuh kemampuan bagi santriwan-santriwati.
Tak terasa tiba sudah di detik-detik penghujung acara. Aku menoleh ke arah samping kananku, Radja sedang tertidur lelap diatas pundakku. Sengaja tadi aku biarkan ia tertidur sebab aku tak tega melihat ia terlalu lelah menahan kantuk.
"Radja. Dik. Ayo bangun, acara sudah selasai," tuturku perlahan sembari membangunkan Radja.
"Aku tertidur ya bang," jawabnya kaget.
"Iya. Tadi sengaja abang tidak bangunkan kamu. Sebab abang tak tega melihat adik terlalu lelah menahan kantuk,"
"Sudah. Sekarang Radja pulang ke asrama ya. Istiharat dulu, besokkan ada kegiatan dari pagi,"
"Abang tidak menginap disini?"
"Abang tidur dirumah dik. Bapak dan Ibu mengajak pulang,"
"Mengapa tidak tidur bareng disini saja bang?" pintanya padaku.
"Lain kali ya, kalau abang tidak sibuk," jawabku sembari melepas senyum kepada Radja. "Ohya, Radja kita selfie bareng dulu ya. Buat kenang-kenangan," pintaku sebelum ia berlalu.
Usai foto bareng, Radja pamitan kepadaku untuk kembali ke asrama. Begitu juga sebaliknya denganku, aku pamitan untuk pulang kerumah pada Radja dan kawan-kawannya.
Sebenarnya aku ingin menghabiskan malam ini di pesantren, namun besok pagi aku harus standby disini sedari pagi. Jadi aku putuskan untuk pulang kerumah saja, agar bisa membagi waktu dirumah.
Malam ini begitu indah sekali. Berkesan dan istimewa. Majelis pekan ini juga sangat berbeda dari majelis sebelumnya. Mungkin sebab kehadiran santriwan-santriwati baru yang membuat suasana berbeda.
Sampai jumpa kembali esok pagi, Radja dan Deen Salaam.
Untukmu RJ (Murid Kesayanganku)
Senja Jingga Purnama8/31/2018 09:23:00 AMCatatanAlfa, CatatanDisisi, Coretan Pena, Penyemangatku, RJ, Sastra, Surat
No comments
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
Salam sayang untukmu anakku, yang selalu membuat semangat diri dan mewarnai setiap hari.
Nak, terhitung sudah memasuki Minggu kedelapan kita bersama, dipertemukan dalam forum pendidikan pada yayasan ini. Aku bersyukur dapat bertemu denganmu, dan aku sangat berterima kasih kepada Allah SWT yang telah menghadirkan sosokmu dalam duniaku. Sosok yang membuat aku semakin bersemangat untuk terus berbagi dan mengabdi pada dunia literasi.
Nak, terhitung sudah memasuki Minggu kedelapan kita bersama, dipertemukan dalam forum pendidikan pada yayasan ini. Aku bersyukur dapat bertemu denganmu, dan aku sangat berterima kasih kepada Allah SWT yang telah menghadirkan sosokmu dalam duniaku. Sosok yang membuat aku semakin bersemangat untuk terus berbagi dan mengabdi pada dunia literasi.
Nak, namun pada akhir ini, aku merasa banyak perubahan darimu sejak kita bertemu pada Sabtu malam itu. Ketika kita berbincang santai sembari menikmati hiburan Hadroh pada malam majelis dzikir dan ta'lim. Kau banyak bertanya tentangku, demikian pula denganku yang semakin penasaran akan dirimu. Sejak malam itu, aku jatuh hati dan menaruh sayang padamu. Manis senyummu tak pernah luput dari ingatan ini, begitu pula dengan sikap dan tutur sapamu, selalu terngiang dalam pikiran. Aku yang dahulu tidak begitu bersemangat dan betah dengan yayasan, sebab ada suatu konflik yang membuat luka pada hati. Kini semangat itu tumbuh dan mekar bersama dengan hadirmu. Aku yang hanya memiliki jadwal tiga hari dalam sepekan, kini ingin setiap hari berkunjung ke yayasan sebab ingin melihat dirimu seorang.
Diam-diam aku menaruh sayang dan perhatian padamu, sengajaku berkomentar tentang penampilanmu yang kurang rapi dan sifat malasmu ketika berada dalam kelas. Sebab aku ingin kau seperti yang lain, rapi dan menarik, serta rajin dalam setiap pelajaran. Semua kulakukan demi kebaikan dan masa depanmu.
Namun, sikap dan caraku kau anggap suatu keanehan dan hal yang berlebihan. Kau bilang aku mengatur hidupmu dan hal itu tak kau sukai. Apalagi ketika aku memaksa dirimu untuk mengerjakan tugas tempo hari lalu. Aku memaksa sebab kau adalah muridku, dan aku adalah gurumu. Orang yang telah dipilih untuk mendidikmu selama tiga tahun kedepan. Apalagi ketika orang tuamu menitipkan kau pada yayasan ini, maka ini adalah tanggungjawab kami untuk mendidik dan mengajarkan kebaikan padamu.
Nak, sebagai guru aku memiliki prinsip. Siapapun yang menjadi anak muridku, tak perdulikan warna, status, dan latar belakang. Ketika ia menjadi muridku, maka ia harus aku rangkul, harus aku sayangi, dan aku didik, serta harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan. Selagi itu dalam kebaikan maka semua wajib untuk mengikutinya.
Salahkah aku jika menaruh perhatian dan sayang padamu nak? Jika aku salah, aku minta maaf.
Salahkah aku jika menaruh perhatian dan sayang padamu nak? Jika aku salah, aku minta maaf.
Mengenai permintaan untuk menjauh dari kehidupanmu, agar tidak ikut campur dalam urusanmu. Aku bisa mengabulkan semua, jika semua adalah kebaikan untukmu dan membawamu dalam perubahan yang baik, aku siap melepasmu. Namun, jika hal itu justru membuatmu semakin tidak baik dan demikiannya. Mohon maaf aku tidak bisa nak. Jangankan untuk melepaskanmu, sekedar tak peduli saja aku tak mau. Sebab kau adalah amanah yang harus dipertanggung jawabkan.
Semoga kau mengerti akan semua nak, dan semoga Allah memberikan kasih sayangnya untukmu. Semoga kau bahagia dan kembali bersahabat seperti sedia kala. Aamiin
Salam sayang, dari gurumu.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
Way Kanan, 30 Agustus 2018
Tentang Penulis :
Alfa Arkana Eounoia atau Disisi Saidi Fatah merupakan pria kelahiran Lampung Tengah, pada 27 September. Penikmat lantunan sholawat Habib Syech AA dan pengagum ulama Sastra KH Mustofa Bisri (Gus Mus), Ust.Yusuf Mansyur, dan aktor Ananda George, kini menyibukkan diri pada dunia pendidikan. Ia sangat mencintai dunia literasi itu, selain berbagi pengetahuan dan ilmu, ia merasa sangat senang ilmunya dapat bermanfaat untuk semua. Pemilik motto "Tak ada pemandangan terindah, selain menatap wajah mama" sangat suka dengan kegiatan menulis, terutama dalam mengungkapkan rasa.
Dengan menulis ia dapat mengutarakan apa saja yang ia rasakan tanpa harus berbicara banyak pada orang.
Penulis dapat dihubungi ;
Facebook : Disisi Saidi Fatah
Instagram : @Netrahyahimsa
Twitter : @Netrahyahimsa
E-mail : disisisf.bpun@gmail.com
Blogs : gemilangtotal.blogspot.com
Facebook : Disisi Saidi Fatah
Instagram : @Netrahyahimsa
Twitter : @Netrahyahimsa
E-mail : disisisf.bpun@gmail.com
Blogs : gemilangtotal.blogspot.com
#paradigmaimaji
#komunitassastra
#calonpenulishebatindonesia
#komunitassastra
#calonpenulishebatindonesia
Patidusa - Untukmu
Teruntuk yang selalu ku kagumi. Namun tak mampu untuk kumiliki. Terima kasih telah mengajarkanku bahwa cinta tak harus memiliki. Bahwa setiap rasa tak perlu untuk diutarakan.
Meski kau tak suka
Atas perhatian kuberikan
Tak mengapa
Kesayangan!
Aku
Begitu sayang
Tak mungkin meninggalkan
Kau seorang tanpa perhatian
Sebab kau adalah bunga
Yang selalu kusiramkan
Dengan kasih
Sayang
Kau
Adalah kisah
Dalam setiap catatan
Yang akan selalu terkenang
Lampung, 23 Agustus 2018
Meski kau tak suka
Atas perhatian kuberikan
Tak mengapa
Kesayangan!
Aku
Begitu sayang
Tak mungkin meninggalkan
Kau seorang tanpa perhatian
Sebab kau adalah bunga
Yang selalu kusiramkan
Dengan kasih
Sayang
Kau
Adalah kisah
Dalam setiap catatan
Yang akan selalu terkenang
Lampung, 23 Agustus 2018
Puisi Maaf
By : Alfa Arkana Eounoia aka Pecandu Sastra
Atas pilu yang kau lukiskan
Atas kata yang terucapkan
Atas amarah pada malam
Aku hanya mampu terdiam
Tak mengapa jika demikian kau harapkan
Aku memilih untuk meninggalkan
Namun tidak untuk melepaskan
Atas kasih sayang dan perhatian
Maaf. Jika sikap kemarin tak kau suka
Semua kulakukan untuk kebaikan bersama
Kau sebagai pemimpin utama
Aku sebagai pembina
Asshidiqiyah, 24 Agustus 2018
Patidusa Asli - Tinggal Kenangan
Karya : Alfa Arkana Eounoia
Malam berbintang sejuk berkelabu
Semua akan terkenang
Bersama kenangan
Malam
Sebab
Mengapa pergi
Semua atas permintaanmu
Tak ingin aku bersama
Tak mengapa semua berakhir
Pada penghantar cerita
Suatu senja
Bersama
Namun
Besar harapan
Tak ada dendam
Menaruh amarah menyisakan luka
Way Kanan, 24 Agustus 2018
Malam berbintang sejuk berkelabu
Semua akan terkenang
Bersama kenangan
Malam
Sebab
Mengapa pergi
Semua atas permintaanmu
Tak ingin aku bersama
Tak mengapa semua berakhir
Pada penghantar cerita
Suatu senja
Bersama
Namun
Besar harapan
Tak ada dendam
Menaruh amarah menyisakan luka
Way Kanan, 24 Agustus 2018
Lekas Sembuh, Adikku!
| With Reja. Ist |
Lekas sembuh adik kecilku
Aku harap kau selalu semangat dalam menjalani harimu
Semoga kau selalu diberi kekuatan dan betah tinggal dirumah barumu ini
Kelak kau akan mengerti apa arti kehidupan ini dan kau akan mengerti mengapa semua harus kau lalui
Maaf jika akhir ini aku banyak menaruh perhatian padamu, semua sebab aku peduli dan sayang padamu. Tak ada maksud lain selain ingin akrab denganmu
Kau tahu?
Mengapa akhir ini aku begitu semangat
Semua sebab ingin bertemu kau seorang diri
Meski posisi kesehatan sedang tidak memungkinkan, namun tetap aku bertahan melangkahkan kaki menuju tempat biasa kita bertemu
Tak lain hanya ingin melihat senyum manismu
Senyum yang membuatku bahagia dan semangat, kala berjumpa denganmu
Kau tahu?
Sejak malam itu, ketika kita berbincang dan duduk berdua
Aku jatuh cinta pada sosok yang begitu aku kagumi
Dan itu tak lain ialah dirimu
ASHD, 16 Agustus 2018
Bahagiaku Memiliki Kalian Anakku
![]() |
| Salah satu muridku | Reja. Ist |
Menjadi seorang guru itu adalah sebuah kebahagiaan, kemuliaan, dan keistimewaan
Bahagia dapat berbagi dan ikut dalam membangun karakter bangsa serta kecerdasan bangsa
Mulia, sebab meski terkadang tak pernah dihargai namun tetap masih konsisten untuk berbagi
Istimewa, sebab bukan karena seorang guru tak mungkin akan lahir generasi-generasi penerus
Bahagiannya aku memiliki kalian anak-anakku
~ Alfa Arkana Eounoia ~
#CatatanAlfa
Blambangan Umpu, 20 Agustus 2018
Renungan Atas Kelalaian
Darah dan nyawa telah kau berikan
Kepada bangsa dan tanah air tercinta
Segenap jiwa raga kau korbankan
Untuk negeri aman dan sentosa
Dengan tekad bulat
Dan semangat yang melekat
Kau singsingkan lengan angkat senjata
Memperjuangkan bumi pertiwi tercinta
Pahlawan-pahlawan bangsa
Telah berjatuhan dimedan perang
Melawan penjajah di bumi nusantara
Lalu apa yang telah kita berikan sekarang?
Masihkah kita menghianati jasa pahlawan
Masihkah kita acuh tak acuh pada bumi nusantara
Masihkah kita sibuk dengan warna yang membedakan
Lalu bagaimana dengan keberagaman ini semua!
Maafkan kami atas segala salah dan khilaf
Maafkan kami atas segala kebodohan
Maafkan kami belum bisa berbuat
Atas warisan yang diberikan
Hanya itu yang bisa kita lakukan
Hanya itu yang bisa kita lantunkan
Sedangkan mulut kita terdiam
Mulut kita terbungkam dalam-dalam
Pejabat korupsi kau biarkan
Harta bumi pertiwi direnggut pihak asing kau diam
Rakyat kecil angkat bicara kau bungkam
Pejabat-pejabat merajalela kau terdiam
Apakah ini keadilan
Yang kau namakan kesejahteraan
Apa ini yang kau sebut pengorbanan
Atas jasa para pahlawan
Mari kawan kita renungkan
Jasa pahlawan yang telah diberikan
Mari sama-sama kita lestarikan
Kedamaian, kebersamaan, keberagaman, dan kekeluargaan
Nusantara, 17 Agustus 2018
Dear ; Penyemangatku
Terima kasih adik masih setia denganku.
Meski kita tak ada ikatan darah sedikitpun, kau dan aku masih setia bersama.
Aku bangga mengenalmu, sampai kita akrab begini.
Bahkan, sebab persahabatan dan kesetiaan kita, tak disangka Allah berikan kesempatan untuk orang tua kita berjumpa, menjalin sebuah keluarga.
Kau yang selalu aku cinta, dalam suka maupun duka
Kau adalah alasan sebab mengapa aku bertahan
Kau adalah sebab kita menjadi keluarga
Hadirmu adalah semangat dan bahagiaku
Kisahmu adalah kasih dalam kehidupanku
Senyummu semangat penuh cintaku
Lantunan syair sholawat yang kau lantunkan, setiap nada-nada adalah doa yang menggetarkan kalbu dan atma.
Nusantara, 18 Agustus 2018
Rasa Yang Tak Biasa
Kala kita tak saling tatap
Ada rasa untuk bisa menetap
Menghabiskan waktu bersua
Meski tak selamanya bersama
Aku harap akan ada waktu berjumpa
Untuk bisa melepas rindu pada atma
Ada rasa untuk bisa menetap
Menghabiskan waktu bersua
Meski tak selamanya bersama
Aku harap akan ada waktu berjumpa
Untuk bisa melepas rindu pada atma
Namun apa dinyana
Kau pergi entah kemana
Tak sedikit memberi kabar
Meski hanya melalui selembar kertas
Kau pergi entah kemana
Tak sedikit memberi kabar
Meski hanya melalui selembar kertas
Way Kanan, 30 Juli 2018
Ditinggalkan atau Meninggalkan?
Antara meninggalkan dan ditinggalkan
Aku memilih untuk ditinggalkan, mengapa demikian?
Sebab aku tak ingin menjadi penghianat dalam setiap keindahan yang telah kau lukiskan
Tak apa jika sakit dan kekecewaan nantinya akan kuterima
Aku ikhlas terhadap semua kenangan yang pernah kita lalui, kau lupakan begitu saja
@CatatanAlfa
@Netrahyahimsa
Muhammad Salman Alfarizi
Senja Jingga Purnama8/11/2018 11:56:00 AMAlfa, CatatanAlfa, CatatanDisisi, Penyemangatku, Puisi, Sajak
No comments
Untukmu Penyemangatku.. Rindu sangatlah aku
| Muhammad Salman Alfarizi |
M ana mungkin aku pergi
U ntuk meninggalkanmu sendiri
H ari semua akan sunyi
A pabila kau tak lagi mengisi hati
M ana mungkin aku bisa menyendiri
M elangkahkan kaki tanpa iringan penyemangat diri
A ku harap kita masih setia
D alam menjalani hidup penuh tanda tanya
U ntuk meninggalkanmu sendiri
H ari semua akan sunyi
A pabila kau tak lagi mengisi hati
M ana mungkin aku bisa menyendiri
M elangkahkan kaki tanpa iringan penyemangat diri
A ku harap kita masih setia
D alam menjalani hidup penuh tanda tanya
S elama kehadiranmu
A ku tak lagi bersedih hati
L uka lama perlahan mulai membaik
M emang Allah itu lebih tahu
A kan cara menghidupkan semangat diri
N yatanya ketika kau hadir semua mulai membaik
A ku tak lagi bersedih hati
L uka lama perlahan mulai membaik
M emang Allah itu lebih tahu
A kan cara menghidupkan semangat diri
N yatanya ketika kau hadir semua mulai membaik
A ku harap kau selalu ada dan semangat
L ewati semua tantangan hidup
F rustasi harus dipatahkan dengan prestasi
A gar kelak hidup semakin berisi
R indu akan selalu bersama
I ngin segera melepas rasa, namun belum bisa
Z ikir, hanya itu yang mampu terlaksana
I iringi segala harapan dan doa
L ewati semua tantangan hidup
F rustasi harus dipatahkan dengan prestasi
A gar kelak hidup semakin berisi
R indu akan selalu bersama
I ngin segera melepas rasa, namun belum bisa
Z ikir, hanya itu yang mampu terlaksana
I iringi segala harapan dan doa
Indonesia, 8 Agustus 2018
Salman Alfarizi
Senja Jingga Purnama8/11/2018 11:52:00 AMAlfa, CatatanAlfa, CatatanDisisi, Coretan Pena, Sajak
No comments
S enyuman indah yang merekah pada bibirmu
A kan abadi bersama semangat hidupku
L ewati titik liku kehidupan duniawi
M asamasa kelam menuai pencerahan
A tma yang kosong kini tak lagi sunyi
N yaman terasa selalu bersamamu
A ku ingin kau selalu ada untuktu
L upakan masa lalu pahit itu
F ajar akan menjadi saksi bersama
A kan kisah persahabatan antara kita
R indu menyelimuti kalbu
I ngin segera berjumpa melepas rasa
Z ikir padanya terselipkan doa
I man dan taqwa agar selalu menyerta
Nusantara, 7 Agustus 2018
Pada Hijau NUsantara
~ Puisi untuk organisasi tercinta, "Nahdlatul Ulama"
Atas segala cinta dan makna yang telah tertanam dalam atma ~
Dari Santri KH. Hasyim Asy'ari
............................................................
Pada lingkar hijau NUsantara
Ku taruhkan segala cinta
Tertanam. Mendarah daging dalam atma
Cinta sahabat, keluarga, dan para ulama
Sahabat yang telah banyak mengajarkan kebersamaan
Keluarga yang terbentuk atas keberagaman tanpa harus membedakan
Ulama, yang telah mengajarkan berbagai ilmu dan pengetahuan
Wawasan dan pengalam didapatkan
Hijau, yang berarti subur
Aku ingin tumbuh subur sebagaimana arti warna dasarmu
Bergerak, berbuat, menebar kemaslahatan pada umat
Menerjang kemalasan, melawan kebodohan
Nahdlatul Ulama
Ahlussunah Wal Jama'ah
Izinkan aku menaruh cinta padamu
Agar tak lupa peranmu dalam membesarkanku
Engkau istimewa, engkau pantas untuk dicinta
Engkau begitu luar biasa
Begitu banyak yang mencaci maki dan menghina
Namun tak sedikit rasa untuk membalasnya
Guru, sahabat, dan para ulama
Terima kasih atas cinta yang telah tertanam pada atma
Semoga kita selalu bersama
Pada wadah hijau-nya NUsantara
Lantai II PCNU Way Kanan, 04 Agustus 2018
Atas segala cinta dan makna yang telah tertanam dalam atma ~
Dari Santri KH. Hasyim Asy'ari
............................................................
Pada lingkar hijau NUsantara
Ku taruhkan segala cinta
Tertanam. Mendarah daging dalam atma
Cinta sahabat, keluarga, dan para ulama
Sahabat yang telah banyak mengajarkan kebersamaan
Keluarga yang terbentuk atas keberagaman tanpa harus membedakan
Ulama, yang telah mengajarkan berbagai ilmu dan pengetahuan
Wawasan dan pengalam didapatkan
Hijau, yang berarti subur
Aku ingin tumbuh subur sebagaimana arti warna dasarmu
Bergerak, berbuat, menebar kemaslahatan pada umat
Menerjang kemalasan, melawan kebodohan
Nahdlatul Ulama
Ahlussunah Wal Jama'ah
Izinkan aku menaruh cinta padamu
Agar tak lupa peranmu dalam membesarkanku
Engkau istimewa, engkau pantas untuk dicinta
Engkau begitu luar biasa
Begitu banyak yang mencaci maki dan menghina
Namun tak sedikit rasa untuk membalasnya
Guru, sahabat, dan para ulama
Terima kasih atas cinta yang telah tertanam pada atma
Semoga kita selalu bersama
Pada wadah hijau-nya NUsantara
Lantai II PCNU Way Kanan, 04 Agustus 2018
Puisi : Untukmu Pejuang Mimpi
Oleh : Disisi Saidi Fatah (Pecandu Sastra alias Alfa Arkana Eounoia)
![]() |
| Desain oleh Pecandu Sastra©2018 |
Pantang pasrah apalagi menyerah
Semangat harus ada dalam diri
Menjadi berharga tidaklah mudah
Minimal kau mengenal potensi diri
Ketahuilah, semua butuh proses
Sebagaimana kedelai yang diolah sebelum menjadi tempe
Tahap demi tahap dilaluinya
Dari tak berharga menjadi ada
Hidup adalah proses menuju kebaikan
Sebagaimana netra yang tak henti memandang
Ribuan kebaikan yang tuhan berikan
Agar selalu bersyukur atas ciptaannya
Kau harus kuat, juga bermanfaat
Sebagaimana pohon kelapa yang menjulang
Setiap komponen yang ada padanya
Tak satupun yang tidak bermanfaat
Taruhlah semangat dalam diri
Teruslah belajar tanpa henti
Kelak kau akan mengerti
Arti pada sebuah mimpi
Nusantara, 15 Juli 2018
Cinta Tak Sejalan
Kolaburasi Puisi 🥀
Oleh Kelompok 3
Komunitas Paradigma Imaji
Aku mencinta setulus rasa
Berikhtiar demi sepanjang masa
Memantaskan diri agar dapat bersama
Berharap kau punya asa yang sama
Namun apa dinyana
Kau dan aku tak mungkin menjadi kita
Rupanya aku hanya menjadi bungamu sementara
Bukan untuk selamanya
Telah kau temukan sosok pengganti
Padahal diriku tengah menanti
Tanpa berpikir untuk ke lain hati
Hingga diriku yang tersakiti
Kepercayaanku telah luruh
Bangunan cinta bergemeretak rubuh
Padamu aku berikan seluruh
Bagimu aku hanya gemuruh
Kau sungguh pintar !
Bermain cantik di belakang layar
Ketika kuncup cinta mulai mekar dengan harap bahagia di altar
Kau ingkar !
Aku hanya setangkai bunga
Yang harap bersanding dengan kumbang setia
Arghhh, tapi aku lupa kalau semua kumbang itu sama sahaja
Sekedar hinggap sesaat membelai afeksi, lalu terbang melayang sembarang menjerat retisalya
Jangan coba kau ketuk pintu hati lamat-lamat
Jika nyatanya cintamu hanya mampu terlukis sesaat
Jika nyatanya kau hanya melingkarkan seutas penat bergurat
Jika nyatanya kau tak lebih dari sekedar pengkhianat
Aku hanyalah insan dengan seuntai nurani
Untuk memahami betapa indah terai mencintai
Bukan untuk kau curi, lalu ditusuk dengan sakit tak terperi
Dengan mudah kau tinggal pergi, meninggalkan atma terkimbang-kimbang begini
Kau perlakukan diriku bak boneka
Sebagai ajang pelampiasan semata
Hanya mampu mendengar apa yang kau rasa
Namun tidak untuk rasa yang kupunya
Lalu apa arti semua?
Atas senarai atensi yang kau tembangkan dengan ceria
Lalu mengapa kau lancang menoreh cinta semaunya ?
Namun, kau melayang pergi tanpa tapak keberanian setitik saja
Nusantara, 25 Juli 2018
Penulis :
Oleh Kelompok 3
Komunitas Paradigma Imaji
Aku mencinta setulus rasa
Berikhtiar demi sepanjang masa
Memantaskan diri agar dapat bersama
Berharap kau punya asa yang sama
Namun apa dinyana
Kau dan aku tak mungkin menjadi kita
Rupanya aku hanya menjadi bungamu sementara
Bukan untuk selamanya
Telah kau temukan sosok pengganti
Padahal diriku tengah menanti
Tanpa berpikir untuk ke lain hati
Hingga diriku yang tersakiti
Kepercayaanku telah luruh
Bangunan cinta bergemeretak rubuh
Padamu aku berikan seluruh
Bagimu aku hanya gemuruh
Kau sungguh pintar !
Bermain cantik di belakang layar
Ketika kuncup cinta mulai mekar dengan harap bahagia di altar
Kau ingkar !
Aku hanya setangkai bunga
Yang harap bersanding dengan kumbang setia
Arghhh, tapi aku lupa kalau semua kumbang itu sama sahaja
Sekedar hinggap sesaat membelai afeksi, lalu terbang melayang sembarang menjerat retisalya
Jangan coba kau ketuk pintu hati lamat-lamat
Jika nyatanya cintamu hanya mampu terlukis sesaat
Jika nyatanya kau hanya melingkarkan seutas penat bergurat
Jika nyatanya kau tak lebih dari sekedar pengkhianat
Aku hanyalah insan dengan seuntai nurani
Untuk memahami betapa indah terai mencintai
Bukan untuk kau curi, lalu ditusuk dengan sakit tak terperi
Dengan mudah kau tinggal pergi, meninggalkan atma terkimbang-kimbang begini
Kau perlakukan diriku bak boneka
Sebagai ajang pelampiasan semata
Hanya mampu mendengar apa yang kau rasa
Namun tidak untuk rasa yang kupunya
Lalu apa arti semua?
Atas senarai atensi yang kau tembangkan dengan ceria
Lalu mengapa kau lancang menoreh cinta semaunya ?
Namun, kau melayang pergi tanpa tapak keberanian setitik saja
Nusantara, 25 Juli 2018
Penulis :
Penantian Tak Berujung
Alfa Arkana Eunoia aka Pecandu Sastra
Kemana saja dirimu
Kau bilang hanya pergi sebentar
Nyatanya tak juga kunjung kembali
Aku lelah jika hanya menanti yang tak pasti
Kau bilang hanya pergi sebentar
Nyatanya tak juga kunjung kembali
Aku lelah jika hanya menanti yang tak pasti
[Cerpen] Rindu Ramadhan Bersamamu
![]() |
| Freepic. Ist |
Oleh : Alfa Arkana Eounoia (Pecandu Sastra)
Merupakan kedua kalinya tak bersamamu serta para penyemangatku di tahun ini. Tak berada didekatmu apalagi bersama dalam forum satu atap. Terhitung tiga belas bulan empat belas hari kita tak bersama lagi, melalui hari-hari dengan kesibukan masing-masing. Begitu cepat waktu berlalu, tanpa hitungan minggu sampai tahun-tahun berlalu. Memang ini bukanlah pertemuan terakhir kita, begitu besar harap agar ini perpisahan terakhir untuk kita. Sebab aku yakin akan ada waktu dimana kita akan dipertemukan kembali olehnya; sang khalik Allah azza wajalla dilain waktu. Meski berbeda tempat dan suasana, dan tentunya akan lebih indah dari masa lalau serta kenangan yang pernah kita lalui bersama dan telah menjadi kenangan bersama.
Jadi teringat waktu saat bersama Papa dahulu, kemana-mana selalu berdua dan selalu kompak. Papa yang menjadi penyemangat serta inspirasi hidupku, yang selalu memotivasi diri. Awal jumpa dulu, aku benar-benar dibuat jatuh hati oleh sikap, tutur kata, serta gaya beliau. Hal itulah yang membuat diri begitu penasaran, sampai ada rasa ingin mengenal lebih dekat dengan sosok beliau. Dan Alhamdulillah Allah mendengarkan hal itu sampai kita dipersatukan dalam forum satu atap. Sejak saat itu kita selalu melalui aktivitas bersama, menghabiskan waktu dengan hal—hal yan positif.
Yang paling indah adalah ketika ramadhan dua tahun lalu. Masih teringat begitu jelas nan indah nuansa ramadhan bersamamu kala itu. Aku yang selalu mencuri waktu agar bisa berjama’ah bersama papa, bahkan sampai terlelap bermalaman diatas sajadah melalui malam dengan dzikir bersama. Sering kali papa memintaku untuk berlarut diatas sajadah membantunya melalui lantunan dzikir. Namun semua kini hanya tinggal kenangan, yang hanya mampu dikenang dan tak bisa terulang.
Aku benar-benar telah dibuat rindu oleh kenangan ramadhan itu, ramadhan yang sederhana namun begitu mengesankan bagiku. Terbukti sampai saat ini masih saja terlintas secara jelas moment itu. Berbeda dengan ramadhan dua tahun belakangan ini, aku banyak menyepi dan menyendiri tanpa keberadaan dan kehadiran sosok sang papa. Jangankan untuk duduk atau bahkan jalan berdua, untuk sekedar menanyakan kabar dari papa saja begitu susahnya. Papa begitu sibuk dengan berbagai aktivitas dan kegiatan, sampai papa lupa akan semua. Sering aku bertanya melalui sosial media baik facebook, instagram, maupun twitter, dan yang paling sering melalui massengger whatsapp, namun hal itu hanya sekedar dibaca, tak pernah terbalas sedikitpun. Ya mungin disaat itu papa sedang sibuk dengan urusan yang memang harus dipertangungjawabkan, aku memaklumi hal itu. Sering kali aku mencuri waktu luang untuk menyapa papa, bahkan banyak kuhabiskan hanya untuk menunggu dan melihat aktivitas papa di akun sosial media milik papa. Bahkan sering kali aku menyapa, namun jarang yang mendapat respon darinya. Diantara puluhan sampai ratusan sapaan itu, aku dapat menghitung berapa kali papa membalasanya, tak lebih dari sepuluh balasan dan jikapun dibalas juga dengan balasan singkat, yakni; ya dan atau Aamiin.
Suatu hari, aku ada pertemuan kerja di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), kebetulan satu kota, juga tak jauh dari rumah kediaman papa, sekitar seratus meter dari rumah. Petang itu, usai kegiatan aku kirim pesan singkat via whatsapp ke mama.
"Assalamu'alaikum. Apa kabar ma. Dimana posisi?”
" Wa'alaikum salam. Alhamdulillah baik kak. Dirumah.”
“Adik-adik gimana kabarnya. Sehat semuakan?”
“Alhamdulillah. Semua sehat.”
“Kakak, di SKB. Rencana mau mampir rumah ma. Adik Tsaqif belum tidurkan? Kakak kangen.”
“Ya ada. Mampir kak.”
Usai kegiatan kerja, aku mampir ke rumah mama. Berharap bisa bertemu dengan semua; dengan Papa dan adik-adik pasukan Netrahyahimsa-ku untuk melepas rindu dan penat dalam hati. Namun sayang, petang itu akau gagal berjumpa dengan papa, hanya saja bertemu dengan salah satu pasukan Netrahyahimsa; yakni Tsaqif, jagoan yang kesayanganku. Ya setidaknya tidak sia-sia kehadiranku petang itu, meski tidak bertemu dengan semua, semoga esok atau lusa kita segera berjumpa. Aamiin. Malam itu kuhabiskan dirumah mama, melepas rindu dengan jagoan kesayanganku. Sedikit kecewa sebab tak jumpa dengan papa, sebab niat awal agar bisa berjumpa. Sudah lama tak pernah jumpa, hanya saja dengan para jagoan saja yang sring kali. Sebab papa memang jarang ada dirumah, kebanyakan menghabiskan waktu dalam perjalanan dan di kota. Pagi, sebelum beranjak pergi. Sengaja Ku kembali membuka whatsapp, barangkali papa sedang online.
"Ping!!!" pesan singkat terkirim dan centang dua, bertanda papa sedang aktif.
"Assalamu'alaikum. Apa kabar Pa, semoga selalu baik dan sehat. Aamiin,"
Tak lama dari itu, muncul pemberitahuan di titel-bar menu whatsapp, berhologram online. Begitu senangnya hati membaca tulisan itu, bersemangat menanti balasan darinya. Dan benar, tak lama dari itu muncul tulisan berwarna hijau, yang bertuliskan sedang mengetik pesan. Hati ini mulai bergembira, menanti sebuah jawaban yang masih menjadi misteri itu.
"Wa'alaikum salam. Aamiin,"
Yes!!! Alhamdulillah, betapa senangnya hati, ketika melihat sebuah pesan masuk menghampiri. Langsung ku ketik kembali pesan balasan untuk Papa.
"Kemarin kakak ada kegiatan di SKB samping rumah, kebetulan acara sampai malam. Semalam kakak mampir di rumah, papa di mana?"
Lama menunggu, namun tak kunjung juga mendapat balasan dari papa, padahal beliau masih online. Dan beberapa menit kemudian berubah menjadi offline. Yah. Cuma dibaca saja. Meski pesanku tak terbalaskan lagi, aku sangat senang walau hanya sekali balasan. Ya setidaknya aku telah mengetahui kabar beliau hari ini, Alhamdulillah papa baik-baik saja. Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca dan membalas pesan singkatku, semoga Papa selalu sehat, baik, dan selalu dalam lingdungan Allah.
Sebenarnya aku masih kangen dengan papa, namun bagaimana lagi aku tak dapat berbuat apa-apa. Rindu ini hanyalah sebagai hiasan hati yang entah kapan bisa terobati. Jujur aku sangat kangen sekali dengan papa, apalagi kita sudah lama tak berjumpa, terakhir ketika hari raya idul fitri tahun lalu, dan sekarang memasuki bulan ramadhan kedua tak bersama beliau. Aku rindu moment ramadhan bersama beliau, sahur dan buka bersama, sholat berjamaah sampai terlelap diatas sajadah.
Pa. Terhitung sudah tiga belas bulan empat belas hari kita tak bertatap muka. Komunikasi pun semakin rentan. Aku tahu ini adalah kesalahan kita yang selalu disibukkan dengan urusan yang membuat jarak dan waktu semakin rentan. Sebagai manusia yang memiliki hati, apalagi aku pernah jatuh hati sebab sifat dan cara papa serta gaya yang selalu aku favoritkan.
Apakah salah jika aku menaruh rindu untukmu, untuk seorang yang selalu membuat semangat dan memotivasi serta menginspirasi setiap langkah kakiku. Apalagi papa adalah sosok yang menjadi idola, papa bukan hanya sebagai orang tua bagiku, namun papa adalah sosok guru dan sahabat yang menjadi favorit bagiku. Sejak kita bersama begitu banyak pelajaran, ilmu, dan wawasan yang aku dapatkan. Namun semua hanya kenang yang hanya dapat aku kenang, dan tak mungkin bisa terulang.
Tapi mengapa, rindu ini tak bisa terobati. Papa juga banyak berubah sekarang. Tak lagi akrab, dan sangat susah untuk dihubungi. Banyak cuek. Aku tahu papa bukanlah sosok yang smeacam itu, sebab papa perhatian dan penuh kasih sayang. Namun mengapa sekarang berubah. Untuk sekedar bertanya di sosial media saja susah, apalagi bertatap muka. Aku harap kita tetap kompak dan selalu bersama, meski tak lagi sama dan bersama dalam satu atap. Rindu kamu pa. Aku merindukan ramadhan yang penuh moment bersamamu.
“BIODATA PENULIS”
Disisi Saidi Fatah, pria berdarah Lampung yang menyukai tulis menulis, dan membaca. Pemilik nama pena Alfa Arkana Eounoia itu mengidolakan Habib Syech Abdul Rahmah Assegaf dan Ananda George (Sang Prabu), serta penyuka puisi. Terjun kedunia tulis menulis sejak kenal jurnalistik, pada saat mengikuti BPUN MataAir Way Kanan 2015.
Beberapa karya diantaranya;
- Antologi Puisi Terbelunggu Media – Kars Publisher ( Juli 2017),
- Antologi Puisi Aku Anak Santri – Kars Publisher (November 2017),
- Antologi Puisi Seuntai Kasih Bernama Sayang (Penerbit Satria) Sebagai Terbaik Delapan (Desember 2017),
- Antologi Puisi Aksara Buku Usang – Kars Publisher (Maret 2018),
- Antologi Puisi dan Essai Namaku Kartini – Kars Publisher ( Mei 2018),
- Novel Perjalanan, Mimpi, & Inspirasi – Kars Publisher (April 2018).
- Antologi Essai Peran Perempuan Dalam Pendidikan - Kars Publisher (Juli 2018)
Disisi dapat dihubungi di:
Instagram : @CatatanAlfa
Twitter : @Netrahyahimsa
Blogg : gemilangtotal.blogspot.com
Email : Disisisf.bpun@gmail.com
Catatan di Akhir Jabatan
Bengkulu Rejo, 2 Juli 2018
Lima bulan sudah telah usai dilalui, pesta demokrasi pun usai digelar bersama. Semoga semua letih, lelah, menjadi lillah yang di ridhoi oleh Allah. Aamiin Ya Rabbal 'alamin
Alhamdulillah, sembah sujud untukmu ya Allah. Kebersamaan yang tak pernah sia-sia ini, telah membawaku dalam forum ini sebagai salah satu bagian dari tim Penyelenggara Pilkada Lampung, dalam rangka Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung tahun 2018.
Sebagaimana dalam forum, sangatlah mustahil jika harus lurus dan satu macam. Tentulah berbeda-beda, sikap, karakter, serta latar belakang antara kita. Namun, hal itu tidak mematahkan semangat kita untuk tetap bersama mengemban amanah negara, berbhakti untuk negeriku; Indonesia.
Meski berbeda, aku sangatlah bangga dan bahagia bisa bersama dengan mereka. Kita yang berasal dari berbagai macam karakter dan latar belakang dapat kompak dalam satu tim. Dan Alhamdulillah kita sukses menyelenggarakan Pilkada damai, dengan kondusif dan lancar.
Disinilah aku belajar berbagai hal; dalam memahami karakter, menerima perbedaan, mengemban amanah, memanajemen waktu, leadership, serta membentuk tim yang sholid.
تٓريما كاسيه يا الله،
تٓريما كاسيه تيم،
سٓموغا الله كٓمبالي مٓمفٓرتٓموكان كيتا دي لاين واكتو، تٓنتويا دٓغان كٓاداّن ياغ سٓحاة، چٓرداس، فينتار، دان لٓبيه بٓرمانفأة .
سٓرتا لٓبيه تاكوة لاغي، تاكوة هايا كٓڤادا الله سٓماتا.
امين
Alfa Arkana Eounoia
Rindu
Senja Jingga Purnama6/28/2018 10:24:00 AMAlfa, CatatanAlfa, CatatanDisisi, Coretan Pena, Sajak
No comments
Ramadhanku Benar-Benar Pergi
Pagi ini kembali ku membuka mata
Kulihat di sekeliling kamar
Ku tatap langit-langitnya
Begitu suram, sepi, dan sunyi
Begitu berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya
Ramai suara berkumandang dari surau rumah-rumah
Berdenting, berdendang suka ria
Malam sunyi itu, berlabuh menjadi ceria bersama keluarga
Menyantap sahur untuk bersama
Ramadhan. Kau benar-benar pergi.
Perlahan kau menjauhi kami
Rindu hati, rindu diri akan hadirmu
Yang membuat lekat kebersamaan dan kekompakan
Aku rindu ramadhan-Mu
Aku rindu sahur bersama yang menjadi wadah kebersamaan keluarga
Aku rindu buka dengan kurma dan manisan lainnya
Aku rindu berjamaah. Aku rindu tarawih mu serta tadarus Al-Qur'an itu
Aku rindu semua
Bengkulu Rejo, 19 Juni 2018
Kulihat di sekeliling kamar
Ku tatap langit-langitnya
Begitu suram, sepi, dan sunyi
Begitu berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya
Ramai suara berkumandang dari surau rumah-rumah
Berdenting, berdendang suka ria
Malam sunyi itu, berlabuh menjadi ceria bersama keluarga
Menyantap sahur untuk bersama
Ramadhan. Kau benar-benar pergi.
Perlahan kau menjauhi kami
Rindu hati, rindu diri akan hadirmu
Yang membuat lekat kebersamaan dan kekompakan
Aku rindu ramadhan-Mu
Aku rindu sahur bersama yang menjadi wadah kebersamaan keluarga
Aku rindu buka dengan kurma dan manisan lainnya
Aku rindu berjamaah. Aku rindu tarawih mu serta tadarus Al-Qur'an itu
Aku rindu semua
Bengkulu Rejo, 19 Juni 2018
Maafkan Aku
By : Disisi Saidi Fatah
Syawwal ini aku kembali merenung
Terbungkam, terdiam membisu
Tak ingin keluar melangkahkan kaki
Meski bersliaturahmi pada sanak famili
Maafkan atas keegoisanku
Aku yang belum dapat menerima kenyataan, yang Allah berikan
Terhadap almarhum bati tercinta
Yang kini Allah lebih mencintainya
Maafkan aku atas segala salah, dan atas segala kebodohan serta kekuranganku ini
Yang masih jauh dari sempurna
Maafkan aku, bekum move on dari segala rindu pada bati
Seputih Jaya, 15 Juni 2018
Catatan Alfa di Akhir Ramadhan 1439 H
Di penghujung akhir ramadhan ini, aku kembali menjenguk mu untuk melepas rindu. Rindu berkepanjangan yang tak tahu kapan akan kepastian akhirnya. Aku tak tahu kapan tuhan akan mempertemukan kita pada surganya. Surga yang menjadi impian dan idaman banyak insan. Tapi ketahuilah rindu ini adalah rindu lama yang bersemayam. Ia hadir dalam setiap lamunan, perjalanan, dan doa-doa. Terkadang aku menggila berbincang seorang diri, untuk menghibur hati yang rindu akan dirimu. Sore ini aku hadir dengan ribuan keharuman bunga yang diiringi doa-doa terpanjat hanya untukmu. Semoga bati tenang si surganya, bersama bidadari-bidadari dambaan para hamba.
#CatatanAlfa
11 Juni 2018
Kartini Dimata Pemuda
Oleh : Disisi Saidi Fatah
Raden Adjeng Kartini atau sebenarnya lebih tepat Raden Ayu Kartini (R.A Kartini) merupakan sosok wanita pribumi dari keturunan bangsawan, anak ke lima dari sebelas bersaudara yang lahir di Jepara, pada 21 April 1879. Seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia, yang dikenal sebagai pelopor kebangkitan pribumi. Wanita yang sangat antusias dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan.
Namun sayang, sebab keharusan orang tua, Kartini hanya boleh menimba ilmu hanya sampai sekolah dasar saja, sebab ia harus di pingit. Kartini merupakan wanita yang sangat gemar membaca dan menulis, oleh sebab itu dan tekad bulat untuk mencapai cita-citanya.
Aku Cemburu!
Aku cemburu
Ketika kedua mataku melihat kau akrab pada yang lain
Aku cemburu, kau lebih asik dengan mereka
dan aku lebih cemburu
Ketika pesanku tak pernah terbalaskan,
Sedang yang lain selalu saja kau menyempatkan
Apa bedanya mereka dengan diriku?
Mengapa tak pernah ada waktu bagiku
Mengapa kau tak berterus terang saja
Salahku dimana?
Blambangan Umpu, 13 Juni 2018
Catatan Alfa (2) | 08 Juni 2018
Sebagaimana paku yang telah ditancapkan pada sebuah dinding atau kayu, seindah apapun cara kita mencabut paku tersebut dan sebesar apapun usaha kita untuk menghilangkan bekas tancapan tersebut maka tak akan pernah bisa menghilangkan bekasnya. Sama halnya dengan hati yang rapuh ini, seikhlas apapun diri memafkan akan tetap ada bekas luka.
Berkali-kali diri memafkan dan mengikhlaskan apa yang pernah ia lakukan dan apa yang pernah orang perbuat padanya. Namun tetap saja gagal dan hasilnya masih terasa sisasisa luka yang kau berikan dan setiap bayang emosi dalam kejadian tempo hari selalu menghantui tak pernah henti.
Apa yang harus aku lakukan? Mohon untuk saran darimu wahai pemberi luka!
#CatatanAlfa di ujung tahun kebersamaan
Menuju Kota Bandar Lampung, 08 Juni 2018
Catatan Alfa (1) | 08 Juni 2018
#CatatanAlfa diakhir tahun kebersamaan
Bengkulu Rejo, 08 Juni 2018
Buku : Perjalanan, Mimpi, & Inspirasi
![]() |
| Anisa Nuraini - Santriwati Ponpes Asshiddiqiyah 11 Way Kanan Lampung | Model Istimewa | Dokumentasi Pribadi.Ist |
Noia adalah seorang pemuda yang sangat ambisius dan penuh mimpi serta cita-cita. Pada suatu hari ia kebingungan dan menggalaukan masalah yang sedang ia hadapi sebab tidak seperti biasanya; orang yang sangat ia sayang dan yang selalu menjadi penyemangat utamanya secara tiba-tiba bersikap cuek dan diam padanya. Hal itu membuat Noia bertanya-tanya, sampai suatu hari ia berjumpa dengan Bunga (Sahabat SMA Noia) yang sudah lama tak bersua. Akhirnya Noia bercerita mengenai masalah yang ia hadapi dan meminta solusi kepada Bunga. Bunga menyarankan agar masalah tersebut dibicarakan baik-baik dan meminta agar Noia melakukan sholat istigkhoroh serta meminta petunjuk kepada Allah.
Suatu hari Noia, berkunjung ke pesantren, dimana ia pernah belajar dan berjuang bersama teman seperjuangan selama satu bulan penuh. Sampai di pesantren Noia terkejutkan oleh seorang anak yang begitu membuatnya bangkit dari keterpurukan dan membuatnya kembali semangat. Sejak saat itu Noia seribg berkunjung ke pesantren yang ia namakan pesantren impian. Bahkan ia sering membolos kerja jika tidak bersemangat.
Perjalanan Noia menuju lembaran baru membuat Noia terluka dan sedikit kecewa, sebab berat hati harus meninggalkan orang yang sangat ia sayang dan menjadi penyemangat utamanya. Namun perlahan menuai pencerahan di pesantren impian. Bagaimakah kisah perjalanan Noia? Akankah pencerahan di pesantren impian terus berlanjut atau malah sebaliknya. Selengkapnya di buku "PERJALANAN, MIMPI, & INSPIRASI".
IDENTITAS BUKU :
Judul : Perjalanan, Mimpi, & Inspirasi
Penulis : Alfa Arkana Eounoia (@DisisikuDisisimu)
Penerbit : Kars Publisher
Tebal : 101 Halaman 13x19
ISBN : 978-602-51843-0-7
Pemesanan :
Whatsapp : 082371154400
Facebook : Disisi Saidi Fatah
Instagram : @Netrahyahimsa
Twitter : @Netrahyahimsa
Peran Ibu Dalam Pendidikan Keluarga
Oleh : Disisi Saidi Fatah
Pendidikan adalah sebuah proses pembentukan kwalitas dan karakter seseorang agar memiliki pandangan atau pengetahuan yang luas kedepan, agar mampu menggapai suatu cita-cita yang diharapkan mampu beradaptasi secara cepat dan tepat diberbagai lingkungan. Menurut UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003, pendidikan pada dasarnya ialah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan sudah berawal sejak kita masih dalam kandungan, sebagaimana dilakukan oleh kebanyakan orang dengan cara memainkan musik, membaca al-Qur'an, dan hal-hal positif lainnya, berbicara kepada sang calon bayi dengan harapan ia bisa mengajari si calon bayi sebelum bayi lahir.
Bagi sebagian orang, kehidupan sehari-hari lebih berarti dibandingkan pendidikan formal. Sebagaimana ungkapan Mark Twain, "Saya tidak pernah membiarkan sekolah mengganggu pendidikan saya". Hal itu sejalan dengan pengalam yang kita dapatkan dalam kehidupan sehari-hari. Bukankah kita jauh memiliki pengetahuan dan pandangan yang luas ketika kita merasakan langsung asam garam nya kehidupan? Hal inilah yang mampu membuat kita lebih cerdas, dan terdidik.
Berbicara pendidikan, tak lepas dari peran kedua orang tua. Pendidikan dan orang tua adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Sebab, di mana ada keluarga disitu ada pendidikan. Dan dimana ada orang tua disitu pula ada anak yang merupakan suatu kemestian dalam keluarga. Ketika ada orang tua yang ingin mendidik anaknya, maka pada waktu yang sama ada anak yang menghajatkan pendidikan dari orang tua. Dari sinilah muncullah istilah “pendidikan keluarga”, yang berarti, pendidikan yang berlangsung dalam keluarga yang dilaksanakan oleh orang tua sebagai tugas dan tanggung jawabnya dalam mendidik anak dalam keluarga.
Peran Ibu Dalam Pendidikan Keluarga
Seorang ibu adalah guru paling utama yang berperan dalam pembentukan karakter dan kwalitas seorang anak, sebab dari sejak lahir anak sudah banyak diajarkan olehnya. Mulai dari ia merangkak sampai ia bisa berjalan sebagaimana mestinya, belajar mengeja kata demi kata, berbicara, menulis, membaca, sampai ia mengenali lingkungan sekitar.
Layaknya seorang guru, ibu memiliki peran penting dalam mendidik anak-anaknya mengenai pendidikan iman, moral, fisik dan jasmani, intelektual, psikologis, dan juga sosial. Melalui didikan seorang ibu, kepribadian seorang anak bisa terbentuk dengan baik karena ibu terus membimbingnya tanpa lelah sejak anak masih kecil. Ibu harus bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya karena anak akan mencontoh sikap dan perilaku orangtuanya.
Pemberdayaan peranan ibu dalam proses pendidikan anak akan mengantarkan anak bangsa yang berbudi luhur. Jayanya suatu bangsa tidak semata karena penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Lebih dari itu adalah karena karakter dan ciri khas bangsa yang berbudi pekerti mulia. Peranan ibu juga sangat penting dalam mendorong anak belajar di rumah. Mendampingi anak dalam menghadapi persoalan belajar dengan memberikan motivasi bagi mereka. Persoalan belajar yang dialami anak. Keluhan anak dalam menghadapi pekerjaan rumah (PR) dapat diatasi oleh ibu melalui motivasi yang diberikan kepada anak. Anak menjadi bergairah untuk belajar, tidak mudah pustus asa dalam menghadapi masalah belajar.
Begitu pula dalam rumah tangga, ibu paling mengerti karakter anak sehingga dapat memotivasi bagaimana anak dapat belajar dengan baik. Peran ibu tersebut akan memacu dan memicu agar anak berprestasi belajar di sekolah, tidak hanya prestasi bidang akdemik melainkan juga prestasi dalam kegiatan pengembangan diri. Seorang ibu juga telah memiliki kesabaran luar biasa dalam menghadapi anak. Itu telah terbukti sejak anak masih dalam kandungan. Ketika anak lahir kesabaran seorang ibu masih dituntut ketika anak masih bayi sampai menduduki bangku sekolah. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa,ibu yang paling dekat dengan anak, paling mengerti dan paham persoalan anak secara mendalam. Posisi seorang ibu memang sangat berpengaruh terhadap proses pendidikan anak di lingkungan keluarga.
Masihkan Cinta di Pesantren Impian?
![]() |
| Dokumentasi Pribadi | Instagram @netrahyahimsa |
Oleh : Disisi Saidi Fatah
Masih teringat jelas dalam benakku kisah awal setahun lalu, yang menjadi faktor utama diri ini berada di pesantren impian. Sebuah keistimewaan dibulan April yang menjadi penghubung dan perekat terjalinnya persahabatan dan persaudaraan kedua mahluk ciptaan tuhan, hingga sampai detik ini masih diberikan waktu untuk bersama.
Tak henti bersyukur kepada-Nya sang khalik yang maha segala-galanya atas nikmat dan beribu keajaiban yang beliau berikan. Dahulu hanya bisa bermimpi berada di pesantren impian untuk mendampingi dan menemani penyemangat diri.
Setahun lalu ketika diri karam akan arah dan tujuan, sedangkan hati galau dan gundah tak menentu akan arah mana yang dituju. Sehingga membuat tak percaya akan semangat untuk hidup, kesana kemari tak kunjung mendapatkan ketenangan diri.
Sampai suatu ketika Allah menghadirkan Bunga. Bunga adalah sahabat SMA yang sudah lama tak berjumpa, sejak lulus SMA Bunga tinggal di Pulau Jawa. Sangat beruntung sekali ia dapat melanjutkan pendidikan kejenjang perguruan tinggi ternama di Pulau Jawa dengan beasiswa penuh.
Awal berpisah dengan Bunga, hubungan kami masih baik-baik saja. Masih sering kasih kabar dan komunikasi masih berlanjut baik via telepon, medsos, maupun email. Namun seiring berjalannya waktu hubungan kami tenggelam bagaikan kapal yang karam ditengah lautan. Dua tahun tak bertemu, komunikasi putus dan benar-benar menghilang. Sampai pada malam itu, tiba-tiba saja ada orang yang tidak dikenal identitasnya menyapaku melalui massenger. Dan ternyata orang itu adalah Bunga. Betapa senangnya hati bisa berhubungan kembali setelah dua tahun saling menghilang.
Alhasil pada malam itu kami saling melepas rindu, maklum sudah lama tak berjumpa jadi rindu akan sahabat lama menumpuk bagaikan gunung yang berjulang tinggi. Banyak yang kami obrolkan pada malam itu, dari aktivitas hingga kisah dan perjalanan kami selama dua tahun ini.
Tidak sengaja aku menyinggung suatu masalah yang begitu menjanggal hati dan membuat galau sampai enggak doyan makan dan mood menurun. Melakukan aktivitas apa saja semua berasa tak ada daya dan upaya. Sudah hampir dua bulan, galau melanda kehidupanku. Ia selalu bermanja dan tak ingin pergi sedikitpun melangkahkan kakinya dariku. Kebingungan pada saat itu juga membuatku tak bergairah dan bersemangat, jangankan mau makan untuk beranjak dari tempat tidur saja enggan sekali.
∆∆∆∆∆∆∆
Dulu ketika masih bersama beliau (orang yang aku panggil Papa), aku begitu bersemangat dan sangat bergairah dalam menjalani hidup, sangkin bersemangat apapun yang beliau perintah tak pernah sedikitpun aku menolak. Beliau menjadi penyemangat hidup, menjadi idola dan inspirasiku. Sering kali aku dan Papa kemana-mana selalu bersama, beliau selalu meminta agar aku menemaninya dan kami selalu terbuka untuk hal apa saja, namun tetap saja ada yang menjadi privasi diantara kami. Hingga pada suatu hari beliau terdiam membisu dan enggan bercerita mengenai masalah yang ia hadapi, bahkan sampai berhari-hari beliau terdiam, cuek, sama sekali tidak menegurku. Tidak biasanya beliau bersikap seperti itu.
Aku takut terjadi sesuatu kepada beliau, oleh sebab itu aku memberanikan diri untuk bertanya, bahkan aku meminta maaf jika ada yang salah terhadapku, namun beliau masih saja enggan bercerita dan selalu cuek terhadapku seolah-olah ada sesuatu kesalahan yang telah aku lakukan.
Beruntung punya sahabat seperti Bunga, selain pintar dan cerdas ia juga sangat religius. Malam itu Bunga menyarankan agar aku melaksanakan sholat istigkhoroh dan meminta petunjuk serta pertolongan kepada Allah, Tuhan yang maha memberi petunjuk dan memberi pertolongan. Mendapat saran dari Bunga, segera kulaksanakan sholat itu untuk memohon petunjuk agar diberikan yang terbaik untuk aku dan Papa.
∆∆∆∆∆∆∆∆
Biasanya, jika aku sedang dilanda galau yang enggak jelas. Pikiran kacau dan mood menurun, aku selalu ingin menyendiri dan menyepi. Namun berbeda kali ini, setelah mengikuti sarah Bunga, ada sesuatu yang menyelinap masuk dalam hatiku. Tiba-tiba saja terlintas dalam benakku untuk mengunjungi sebuah pesantren dimana aku pernah tinggal bersama dengan teman-teman seperjuangan selama satu bulan. Ya mungkin dengan berkunjung kesana aku akan mendapatkan jawaban dan sedikit tenang dari masalah yang aku hadapi.
Tiba di pesantren, aku terkejutkan oleh seorang anak. Ia tertunduk menyapaku dan meraih tangan kananku lalu dicium olehnya. Kutatap wajah beningnya, darisana terpanjang keanggunan dan ketentraman yang membat sejuk hati, matanya yang tenang serta senyum di bibirnya yang membuatku tersipu malu. Tak tahu siapa nama dan asalnya, setahuku dia santri baru disitu. Ada yang menarik pada anak itu, entah apa yang jelas aku seakan-akan menemukan semangat hidup dan bangkit dari keterpurukan yang melanda diri.
Sejak saat itu, aku sering berkunjung dan meluangkan waktu bahkan aku sering bolos kerja jika lagi tidak bersemangat hanya untuk bertemu dia. Sebab dia mampu membangkitkan semangat dalam diriku. Dengan melihat wajahnya, menatap mata, dan merasakan hadirnya senyuman pada bibirnya.
Sebab kehadiran yang selalu tak pernah absen tiap minggu nya, membuat pimpinan pesantren tersebut heran dan senang terhadapku hingga pada suatu hari beliau memanggil agar aku segera menghadap.
“Assalamu’alaikum. Apa gerangan abah, saya dipanggil keruangan abah?”
“Wa’alaikum salam. Begini Noia, abah lihat kamu begitu senang sekali berkunjung ke pesantren sepertinya kamu kerasan disini. Bagaimana jika nak Noia tinggal saja disini, ya bantu abah mengajar anak-anak,” demikian tutur abah kepadaku.
Mendengar kabar itu, aku sangat senang. Sebab ada jalan keluar dari permasalahan yang lalu, apalagi menjadi seorang guru itu adalah hal yang sangat luar biasa, bisa dekat dengan anak-anak dan juga memanfaatkan ilmu yang telah aku dapatkan selama dibangku pendidikan. Aku setuju dengan kabar ini, namun aku tidak bisa langsung mengiyakan. Harus kubicarakan kepada mama dan harus dipikirkan matang-matang.
Usai bertandang ke pesantren, aku segera mengabarkan hal itu kepada mama. Mama menyetujui akan hal itu selagi baik dan selagi masih ada orang yang bisa ia hubungi jika sewaktu-waktu aku tidak bisa di hubungi. Maklum mama orang nya sangat khawatir terhadap anak-anak nya, ya itu pertanda bahwa mama adalah sosok yang penuh kasih sayang.
Aku sangat bangga dan bahagia punya mama, mama penuh pengertian dan kasih sayang terhadap anak-anaknya. Apalagi ketika aku bilang bahwa ada seorang anak yang selalu membuat semangat hari-hariku dan dia tinggal di pesantren tersebut. Maka dari itu mama setuju akan niatku untuk menerima tawaran dari abah.
Sejak saat itu aku berhijrah ke pesanren, meninggalkan papa. Namun sebelumnya masalah diantara kami sudah selesai dan aku juga sudah mengerti mengapa saban hari lalu papa bersikap cuek kepadaku.
∆∆∆∆∆∆∆
Di pertengahan bulan April pada musim kemarau tiba, pada saat itu aku memulai perjalanan, kisah, dan kehidupan baru di pesantren. Aku berharap dengan hijrah ini akan lebih baik kedepan dan semakin bermanfaat lagi ilmu yang telah aku dapatkan di bangku pendidikan selama bertahun-tahun lamanya.
Awal di pesantren semua berjalan dengan baik, begitu pula dengan kegiatan mengajar di sekolah, hubungan antara aku dan anak-anak juga semula berjalan baik hingga sampai di bulan keempat. Sebelumnya aku menerima tawaran abah untuk membantu beliau di pesantren disebabkan karena ada Alfa, anak yang saban hari selalu membuat semangat hari-hariku dan karena sifatnya membantu pesantren aku rasa itu adalah ladang amal bagiku ya seenggaknya sih begitu, selain itu juga karena pada saat itu memang aktivitas dan kegiatan memang masih libur begitu juga dengan kuliah masih off.
Semakin berjalannya waktu, aku semakin kerasan berada di pesantren namun seperti pepatah mengatakan semakin kuat iman seseorang maka semakin besar cobaan menerpanya dan semakin tinggi pohon semakin besar pula angin yang menjemputnya. Ya seperti itulah kehidupan di pesantren.
Sebagai pengajar yang juga ditunjuk sebagai pembina di asrama, sudah pasti harus siap menerima segala amanah dan tanggung jawab yang diberikan. Sebagai manusia insyan yang masih jauh dari kata sempurna, yang disibukkan dengan kerjaan disekolah sudah pasti tidak bisa untuk selalu bersama anak-anak nya. Apalagi anak-anak yang dibimbing sangat banyak, sudah pasti tidak bisa diperhatikan satu persatu setiap menitnya.
Awalnya aku merasa biasa dengan masalah yang selalu diutarakan kepadaku, setiap masalah yang anak-anak lakukan selalu saja aku yang kena batunya. Ya namanya juga pengajar dan pembina, its oke tidak apa-apa mungkin memang harus aku yang mengalah. Aku selalu mencoba untuk bersabar dan terus bersabar, namun sebagai manusia kesabaran tetap saja ada batasnya. Pernah aku ingin pergi meninggalkan semua, meninggalkan tanggung jawab dan kerjaku sebagai pengajar dan meninggalkan kebahagiaan yang sedang bersamaku. Namun setiap kali aku ingin pergi, aku selalu teringat akan Alfa, sebab dialah yang selalu membuatku semangat. Apalagi Alfa pernah bilang kepadaku sejak saat ia bersamaku ia semakin rajin belajar dan bersemangat, aku jadi semakin enggak tega pergi
Semakin aku mencoba untuk terus bersabar, namun ada saja alasan dan masalah yang menghamiri. Pernah juga aku dimarah dan dimaki sama abah dihadapan anak-anak, padahal aku tidak melakukan kesalahan, aku hanya melakukan yang memang itu benar. Setiap anak-anak melakukan kesalahan aku juga yang dimarah. Abah bilang aku gak perhatianlah dan enggak pernah ada waktu untuk anak-anak. Padahal anak-anak kan banyak jadi enggak mungkin sebanyak itu anak-anak aku perhatikan satu persatu setiap menitnya.
Sebenarnya aku sudah enggak kuat lagi bertahan disini, aku juga lelah selalu dimarah dengan alasan kesalahan yang bukan aku pelakunya. Aku ingin meninggalkan semua dan pergi jauh agar lebih bebas. Namun aku kasihan dengan Alfa, dia masih membutuhkanku disini. Alfa bilang dengan adanya aku ia semakin bersemangat dan semakin rajin dan itu juga terbukti pada semester lalu ia berhasil masuk top enam dikelasnya, padahal semester-semester yang lalu dia tidak pernah masuk top enam. Jangankan top enam untuk masuk top sepuluh saja nilainya masi kurang.
Mama dan bapak nya Alfa juga kurang setuju apabila aku harus meninggalkan pesantren. Kedua orang tuanya Alfa sudah seperti orang tuaku sendiri, mereka menganggap aku sudah seperti kakak nya Alfa. Jadi kalau ada apa-apa dengan diriku, merekalah yang menjadi sasaran utamaku untuk meminta pendapat dan pertolongan. Oleh sebab itu aku masih bertahan di pesantren sampai pada saat ini. Sebab aku tak ingin Alfa sedih dan prestasinya menurun kembali. Aku ingin selalu menemani Alfa sampai ia menyelesaikan studinya pada tahun depan.
Akankah aku akan bertahan sampai batas waktunya?
Masihkah cinta ini bersemayam di pesantren impian?
Wallahu alam
Hanya Allah yang tahu. Sebab beliau yang maha mengetahui segala-galanya.
------------------------------------------------------------------------------------------------
Biodata Penulis : *
Disisi Saidi Fatah (Alfa Arkana Eounoia) nama pena. Pria berdarah Lampung kelahiran Gedung Harta, Lampung Tengah, 27 September. Hobi membaca, menulis, sastra dan puisi.
Alumni SMAN 1 Blambangan Umpu, Lampung itu kini tengah disinukkan dengan kegiatan mengajar di SMP Manba’ul ‘Ulum Asshiddiqiyahn11 Way Kanan. Mengenal dunia jurnalistik sejak ikut BPUN MataAir Way Kanan, yang dibimbing langsung oleh Gatot Arifianto, CH, CNNLP.
Alumni Hpnotherapy Akademi Hypnotherapy Karya Tunas Bangsa; beberapa karyanya di publikasikan pada media cetak maupun online, diantaranya; NU Lampung Online, Media MataAir, Antologi Puisi Terbelunggu Media – Kars Publisher (2017), Antologi Puisi Aku Anak Santri – Kars Publisher (2017), Antologi Puisi Resah WA Publisher (2017), Antologi Puisi Aksara Buku Usang – Kars Publisher (2018), Antologi Puisi Seuntai Kasih Yang Terukir Sayang – Penerbit Satria (2018) .
Pengagum ulama sastra KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) dan Ust.Yusuf Mansyur, serta penyuka sholawat Habib Syech AA dan Ananda Takeshi George (Sang Prabu) ini dapat dihubungi melalui akun sosmed nya;
Faceboook : Facebook.com/Netrahyahimsa
Twitter, Instagram, Line : @Netrahyahimsa
E-mail : disisisf.bpun@gmail.com
CP : 0823-7750-5585
Blogs : netrahyahimsa.blogspot.com












.jpeg)


.jpeg)
.jpeg)









.jpeg)





.jpeg)




.jpeg)





