Cerita Cendekia adalah ruang ekspresi dan refleksi dari Cendekia Alazzam (Pecandu Sastra) — berisi rangkaian puisi, cerpen, cerbung, esai, opini, serta ulasan buku dan film. Melalui tulisan, aku bercerita tentang kehidupan, gagasan, dan imajinasi, dengan harapan bisa mengajak pembaca berpikir, merasa, dan merdeka.

Search Bar

Pelayan Setia di Majelis Cahaya | Puisi

Ilustrasi dibuat oleh kecerdasan buatan (AI)/Gemini. 


 Sering kali, di sepertiga malam terakhir saat alam semesta tenggelam dalam keheningan yang paling sunyi, Tuhan membisikkan pesan-pesan indah melalui mimpi yang teduh. Mimpi bagi seorang penuntut ilmu bukanlah sekadar bunga tidur, melainkan jembatan ruhani yang menghubungkan jiwa dengan sumber-sumber keberkahan.

Share:

Desir Rindu di Jumat Kesembilan | Puisi

Ilustrasi dibuat oleh AI/Gemini. 



 : Disisi Saidi Fatah 


Hari ini, sang surya kembali menyapa dari ufuk timur, membawa berkah penghulu segala hari. Namun, bagi jiwaku yang rindu, ini adalah Jumat kesembilan tanpa kehadiran bayangmu, wahai Murobbi, pelita dalam kegelapanku.

Share:

Puisi Akrostik - Muhammad Zain Kholid

Desain dibuat oleh AI/Gemini


Puisi Akrostiknya ini aku persembahkan untuk keponakanku - cucunda dari Abah Ustadz Mahfudzin bin H Alif Yunus - yang akan memasuki babak pendidikan baru di sekolah dasar; Muhammad Zain Kholid.

Share:

Niatnya Cuma 'Me Time', Malah Sukses Dibuat 'Banjir' Air Mata Sama Film Ini

Poster Film "Jangan Buang Ibu" (Sumber: filmjanganbuangibu/ig).


Hari Ahad lalu, aku akhirnya berhasil menuntaskan satu janji kecil pada diriku sendiri. Rencana yang sebenarnya sudah tertunda selama dua pekan karena padatnya rutinitas, akhirnya benar-benar terwujud kemarin. Aku memutuskan untuk melangkah ke Plasa Cibubur XXI, sengaja mengambil jam pemutaran paling pertama pada pukul 12.15 WIB.

Share:

Rintik yang Kembali Pulang

Ilustrasi diperkaya oleh AI/Gemini.


Hujan bulan Juni kali ini datang lebih awal ke tanah pusaramu, Abah,
Membasahi batu nisan yang menyimpan segala nasihat yang pernah kau arah.
Jika Eyang Sapardi menyebut hujan itu bijak karena merahasiakan rindu,
Maka izinkan aku menjadi hujan yang jujur, yang tak lagi mampu menyembunyikan cintaku padamu.
Share:

Di Bawah Langit yang Menyaksikan Perpisahan Terakhir

Di ufuk Bogor yang menyimpan jejak kaki kita,
Dulu, debu jalanan adalah saksi bisu pengabdian,
Antara desa-desa yang hening dan suara dakwah yang membelah sunyi.
Aku adalah debu yang menempel di jubahmu,
Menyertaimu dalam lelah yang berkah,
Dalam dakwah yang kita rajut di antara sela waktu.
Share:

Ranum di Kebun Firdaus

 

Ilustrasi dibuat oleh AI(Gmn). Ist


Oleh: Disisi Saidi Fatah 

Share:

Sepotong Rindu di Jalur Cariu: Perjalanan Perdana Tanpa Sang Murobbi

Hamparan persawahan yang al faqir abadikan saat melintasi jalanan di Cariu bersama Murobbi pada pagi terakhir saat mengawal beliau berdakwah. (15 Feb 2026/Dokpri/Disisi).


Malam Ahad lalu, aspal jalanan menuju Cariu sebenarnya terasa sama seperti biasanya. Masih dengan kelokan yang sama, dingin yang sama, dan jalur yang sudah teramat akrab di ingatan. Namun, malam itu ada sesuatu yang mengganjal di dada. Ada ruang kosong di hati yang membuat perjalanan kali ini terasa benar-benar berbeda.

Share:

Semangkuk Sekoteng dan Akar yang Patah

 

Ilustrasi oleh AI/Gemini


Oleh: Disisi Saidi Fatah 

Share:

Membuka Lembar Siyarus Salikin Tanpa Tatapan Sang Murobbi

Catatan Majelis bareng Abah Allahyarham Adda'i Illallah Ustadz Mahfudzin bin H Alif Yunus, Desember 2022 lalu. (Didesain oleh AI)



*Memoar Ta'lim Malam Kamis: Menjemput Berkah Kitab Siyarus Salikin Tanpa Kehadiran Abah


     Semalam adalah malam Kamis awal bulan. Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya pergantian hari biasa. Namun bagiku dan almarhum Abah, malam itu adalah waktu yang sakral - saatnya kami membelah jalanan untuk menjemput tetesan embun ruhani. Saya melangkah keluar dari kamar kost, menatap lurus ke arah rumah Abah yang jaraknya hanya pelemparan batu, sekitar sepuluh meter di depan mata.

Share:

Di Balik Gema Takbir Bogor: Idul Adhaku yang Paling Runtuh, Paling Sepi

Suasana shalat idul adha di Cicadas, Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Rabu, 27 Mei 2026. (Dokpri/Disisi)



Bagi seorang anak rantau, hari raya selalu punya dua sisi. Di satu sisi ada rindu yang membuncah pada kampung halaman, di sisi lain ada ketangguhan yang dipaksa tegak di tanah orang. Sejak SMA, aku sudah terbiasa jauh dari orang tua. Angin malam perantauan bukan hal baru bagiku. Namun, tahun ini berbeda. Ini adalah tempat pertamaku beneran merantau jauh, menyeberangi pulau, mengadu nasib di tanah Jawa.

Share:

Berdamai dengan Rindu: Menemukan Diri di Film "Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya?"

Poster Film "Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?" di XXI Plasa Cibubur. Dokpri/Disisi


Malam itu, saya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang agak "nekat": menonton film di jam penayangan terakhir, tepatnya pukul 21.00 WIB. Pilihan saya jatuh pada film yang sedang hangat dibicarakan, judulnya cukup menyentil batin: “Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya?”.

Share:

Sisi Gelap Ambisi dan Jebakan Validasi dalam Film "Tunggu Aku Sukses Nanti"

Poster film "Tunggu Aku Sukses Nanti" di Bioskop XXI Mall Ciputra Cibubur, memancarkan atmosfer komedi keluarga. (Dokpri/Disisi)


Pernahkah kita bertanya-tanya, untuk siapa sebenarnya kita mengejar kesuksesan? Pertanyaan filosofis ini mendadak muncul setelah saya menyaksikan film terbaru karya sutradara Naya Anindita yang berjudul Tunggu Aku Sukses Nanti. Menontonnya di tengah kesunyian bioskop XXI Mall Ciputra, Cibubur, pada Sabtu malam lalu, memberikan ruang bagi saya untuk mencerna setiap emosi yang disuguhkan.

Share:

Di Bawah Naungan Cahaya Murabbi [Kado Milad Abah 2026]

Lentera kecil pengusir kelam, laksana nasihat guru yang menetap di dalam diam. Jawaban doa dalam binar cahaya. (Sumber: Unsplash)


Di antara riuh rendah dunia yang fana,
Engkau hadir sebagai jawaban dari sujud-sujud panjangku,
Seperti rintik hujan yang jatuh di tanah yang dahaga,
Nasihatmu mengalir lembut, menetap dalam sanubari tanpa sengketa.
Share:

Tentang Hati yang Terbelah dan Rindu yang Belum Tuntas

Dermaga saksi bisu langkah kaki yang kembali mengembara, membawa rindu yang belum tuntas di balik birunya laut. (Sumber: Dokumentasi Pribadi/Disisi)


 Duduklah sejenak, kawan. Ambil napas dalam-dalam sebelum jemarimu kembali menari di atas papan ketik atau menggenggam kemudi di tengah riuh rendah klakson kota. Apakah hari ini punggungmu sudah mulai terasa penat oleh tumpukan berkas? Ataukah kakimu sudah kembali akrab dengan aspal panas dan sesaknya gerbong kereta yang seolah tak pernah tidur?

Share:

Tentang Mereka yang Menjadi Alasan untuk Pulang

Perjalanan mudik 2026. Dokpri/Disisi@26.


Oleh: Disisi Saidi Fatah (Cendekia Al Azzam)


 Ada sebuah getar yang tak pernah bisa dijelaskan oleh kata-kata saat roda kendaraan mulai menyentuh aspal tanah kelahiran. Bagi kita yang menghabiskan ratusan hari di tanah rantau, mudik bukan sekadar perkara berpindah tempat atau ritual tahunan menghabiskan jatah cuti.

Share:

Tawaqufan, Ramadan, dan Air Mata Syukur

Di lingkar majelis sederhana ini, nasihat mengalir pelan, menguatkan hati yang ingin pulang pada kebaikan. - Kenangan 7 hari wafat istrinya sahabat majelis - Mas Joko di Citeureup. (Dokpri/Disisi).


 Malam Ahad itu, aspal jalanan menuju Kampung Nameng, Desa Bantar Kuning, Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor, terasa seperti bentangan sajadah yang panjang. Namun ada yang berbeda kali ini. Aku tidak duduk di depan, melainkan di jok belakang motor milik Abah.

Share:

Puisi: Air Langit di Ujung Sajadah

Tiap ayat Al-Waqiah & Ikhlas kuniatkan untukmu. Biarlah ia turun bak hujan, membasahi jiwamu hingga kembali segar. (Picbest).
Share:

Memetik Cahaya di Cicadas: Tentang Khidmah, Rindu, dan Wajah Guru

Moment foto bersama guru kami Habib Musthofa bin Yahya (Koko Marun) dan Abah Ust. Mahfudin bin H Alif Yunus (Gamis Sage). (Dokpri/Farid).


Ada sebuah kebahagiaan yang sulit didefinisikan dengan kata-kata; sebuah rasa yang hanya muncul ketika bibir menyentuh tangan seorang guru, atau saat aroma nasi liwet yang kita tanak sendiri di dapur mereka mengepul hangat untuk menyambut tamu-tamu shalih.

Share:

Latest in Tech

BTemplates.com

blogger-disqus-facebook
Cendekia Al Azzam | Pecandu Sastra©2025. Powered by Blogger.

Pelayan Setia di Majelis Cahaya | Puisi

Ilustrasi dibuat oleh kecerdasan buatan (AI)/Gemini.    Sering kali, di sepertiga malam terakhir saat alam semesta tenggelam dalam kehening...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Home - Recent Posts (show/hide)

Home - PageNavi (show/hide)

Random Posts

Recent Posts

Labels

Blog Archive