: 3 Bulan Berpulangnya Abah Ustadz Mahfudzin bin H Alif Yunus
Sudah tepat tiga bulan roda waktu berputar sejak hari itu. Tiga bulan yang terasa seperti satu helaan napas yang sesak, sekaligus sebuah mimpi panjang yang tiada bertepi. Terkadang hati ini masih enggan percaya bahwa sosok yang amat dicintai, yang senyumnya selalu mampu meneduhkan jutaan gelisah, kini telah berpulang ke kampung halaman keabadian.
Namun realita takdir menegaskan: fakta bahwa Abah telah mendahului kita menuju hadirat-Nya adalah takdir mutlak yang harus dipeluk dengan ridha, walau air mata terus saja menetes tanpa sanggup dibendung.
Panggilan yang Terlahir dari Keheningan Hati
Panggilan "Abah" bagi al-Maghfurlah Al-Ustadz Mahfudzin bin H. Alif Yunus bukanlah sebuah sebutan yang dirancang atau dibuat-buat. Ada kenangan yang takkan pernah pudar dalam ingatan.
Suatu ketika, usai menunaikan salat Maghrib di tengah perjalanan mendampingi beliau berdakwah, bibir ini secara alami dan tiba-tiba mengucapkan kata "Abah" - padahal niat awal hendak menyapa dengan sebutan "Ustadz". Ada rasa kaget yang sempat terbersit, namun seketika itu pula kehangatan yang luar biasa merayap di dalam dada. Panggilan itu terasa begitu akrab, begitu lekat, dan menyatu dalam sanubari.
Sejak saat itu, panggilan itu lekat padanya. Bagiku, Abah bukan hanya sekadar guru pendidik jiwa dalam spiritual, melainkan telah menjadi sosok ayah kandung dalam jiwa.
Waktu Singkat di Ujung Bogor Timur
Perjalanan takdir manusia memang penuh misteri. Setelah terpisah oleh jarak dan ruang selama kurun waktu hampir 2,7 tahun, doa-doa khusyuk yang dipanjatkan saban hari akhirnya diijabah oleh Allah SWT.
Momentum perjumpaan kembali itu disambut dengan rasa syukur yang membuncah. Dalam setiap sujud, terucap doa yang sama: memohon agar diizinkan membersamai Abah, mengabdi sebagai pengawal dan pendamping dakwah beliau, setidaknya untuk kurun waktu 3 hingga 5 tahun ke depan.
Namun, Allah Sang Pemilik Waktu memiliki ketetapan lain yang lebih indah. Waktu perjumpaan kembali itu ternyata hanya dianugerahkan selama 6 bulan saja. Enam bulan yang begitu singkat, namun sarat akan makna mendalam. Masih terekam jelas bagaimana rasanya duduk di samping Abah, menyusuri jalanan desa di ujung Kabupaten Bogor bagian timur. Menyusuri pelosok demi menyebarkan dakwah Baginda Nabi Muhammad SAW melalui alunan Ratib wal Maulid.
Karakter Sang Murobbi: Semangat Tanpa Batas dan Kasih Ayah
Sosok Abah Ustadz Mahfudzin adalah pejuang syiar yang pantang menyerah. Jika sudah berkaitan dengan kecintaan kepada Baginda Rasulullah SAW, semangat beliau seolah-olah tak pernah padam. Beliau tak pernah peduli pada rasa lelah, tubuh yang kurang tidur, sengatan terik matahari, ataupun guyuran hujan lebat. Bahkan, ketika perbekalan materi hanya cukup untuk membeli bensin kendaraan saja, langkah kaki beliau tetap berayun maju melintasi batas-batas desa. Dakwah harus terus berjalan; syiar shalawat harus tetap bergema.
Di balik ketegasan semangat dakwahnya, Abah adalah sosok yang memancarkan keteduhan luar biasa. Senyum beliau memiliki keajaiban tersendiri — bagiku pribadi memandang teduh wajah beliau dan lekat senyumnya dapat menumbuhkan rasa kedamaian yang mendalam, seolah segala beban hidup dan permasalahan seketika sirna. Beliau memperlakukan al faqir persis seperti anaknya sendiri.
Dalam berbagai safari dakwah dan di beberapa kesempatan kita bermalam, Abah tak pernah membiarkan al faqir kelaparan atau kehausan. Saat sedang menjalankan ibadah syaum (puasa), beliau sengaja mampir ke warung hanya untuk membelikan menu berbuka.
Dan, ketika al faqir terlelap karena kelelahan, tangan lembut Abah menyelimuti diri ini dengan sorban, bahkan pernah beliau sendiri yang memasangkan obat nyamuk agar diri yang faqir ini istirahat dengan tenang tanpa terganggu.
Bahkan, hingga saat-saat terakhir ketika tubuh renta beliau terbaring sakit dan harus dirawat di rumah sakit, perhatian itu tak berkurang sedikit pun. Di tengah perjuangan menahan sakit, Abah masih sempat bertanya, apakah perjalanan daku menuju rumah sakit tertimpa hujan atau tidak. Sungguh, sebuah keteladanan kasih sayang yang takkan pernah sanggup dibayar dengan materi apa pun di dunia ini.
Wasiat Terakhir dan Keindahan Husnul Khatimah
Di antara ribuan nasehat yang beliau curahkan — baik dalam keheningan maupun dalam perbincangan hangat — ada satu pesan yang terus membekas menancap di ulu hati. Kurang lebih dua hingga tiga minggu sebelum beliau wafat pada Subuh hari Jumat yang berkah itu, Abah menyampaikan wasiat dengan nada yang sangat lembut namun mendalam: "Jangan lelah untuk mencintai Nabi, tanda cinta kita kepada Nabi, ialah dengan memperbanyak shalawat kepadanya." Dan, yang paling amat terasa sakit bagi daku ketika mengingatnya, ialah; "jangan putus mendoakan Ana ya!" Demikian ucap Abah malam itu.
Kepergian Abah pada hari Jumat, 15 Mei 2026 pukul 04.25 WIB di kamar 1104 lantai 12 Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) Depok, memberikan pelajaran berharga tentang hakikat akhir kehidupan.
Bahkan dalam masa-masa sakitnya beliau, bibir dan hati beliau tak pernah terputus dari dzikir, ratib, dan bacaan maulid. Beliau berpulang dalam keadaaan yang dicemburui oleh para pencari kebaikan: sebuah persaksian Husnul Khatimah yang sempurna. Kepergian beliau mengisikan rasa iri positif dalam dada, menumbuhkan tekad untuk bisa mengakhiri hidup dalam kondisi sebaik yang dicontohkan oleh beliau.
Menjaga Warisan dan Ziarah Saban Pagi
Tiga bulan telah berlalu sejak jasad Abah dibaringkan di pangkuan bumi. Namun, ajaran, ijazah shalawat, wirid dzikir, serta nasehat-nasehat emas beliau tetap diistikamahkan dengan penuh khidmat saban hari.
Setiap pagi, sebelum melangkah menapaki rutinitas duniawi, langkah kaki senantiasa disempatkan untuk mampir ke "rumah baru" Abah. Berdiri di samping pusara beliau, menyiramkan doa-doa terbaik, serta menghadiahkan bacaan Al-Qur'an dan shalawat sebagai wasilah penyambung rindu.
Kehilangan Abah Ustadz Mahfudzin adalah episode kehilangan terbesar dan terberat sepanjang jalan kehidupan ini. Sebuah perpisahan yang membuat hati tak lagi meletakkan harapan tinggi pada perhiasan dunia yang fana. Satu-satunya cita-cita dan harapan yang tersisa kini adalah memohon agar Allah SWT meridhai, memaafkan segala khilaf dan dosa hamba yang faqir ini.
Semoga perpisahan dan jarak di dunia ini tidaklah terlalu lama. Dan kelak, di akhirat yang abadi, Allah SWT mengumpulkan, memertemukan, serta memersatukan kembali sang murid bersama Sang Murobbi, di bawah naungan panji Rasulullah SAW. Lahul Fatihah...






