Malam Jum'at lalu menjadi malam yang tidak biasa. Langit malam itu menyakinkan, udaranya sejuk pas — tidak sedingin biasanya. Di malam yang bertepatan dengan 1 Rabiul Awwal 1448 Hijriyah, bulan kelahiran Sang Baginda Nabi SAW, aku melangkahkan kaki keluar rumah untuk menuntaskan rindu yang sudah lama membuncah.
Tujuan malam ini adalah Pondok Pesantren Modern Perpaduan Daarul Mughni Al-Maaliki, atau yang lebih akrab disapa Ponpes Daarul Mughni Klapanunggal. Lokasinya berada di Jalan Klapanunggal, Kampung Cibeber II, Desa Cikahuripan, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, di bawah asuhan KH. Mustopa Mughni, M.A. Dari kediamanku di Gunung Putri, Bogor, perjalanan menempuh waktu sekitar 25 hingga 30 menit mengendarai sepeda motor matic hitam. Ini adalah kali pertamaku menginjakkan kaki di pesantren tersebut.
Sepanjang perjalanan, jemari yang menggenggam stang motor diimbangi oleh bibir yang tak henti mendendangkan Sholawat Nariyah dan lantunan sholawat lainnya. Ada getaran aneh yang membuncah di dada; sebuah kerinduan yang mendalam untuk kembali duduk bersimpul di majelis ilmu dan sholawat, khususnya majelis Ahlul Bait.
Sesampainya di lokasi, suasana sudah meluap. Ratusan hingga ribuan jamaah — Syekhermania dari berbagai pelosok, juga keluarga besar dari Pondok Pesantren — telah memadati area pesantren. Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf pun sudah berada di atas panggung utama. Walau tiba saat acara telah berjalan, aku tak patah semangat. Tanpa perlu memaksa atau berdesakan secara kasar, aku terus melangkah santai melintasi celah-celah kosong jamaah yang masih bisa diselipi.
Kuncinya cuma satu: bibir dan hati yang tak lepas bersholawat kepada Nabi. Ajaibnya, seolah dibukakan jalan, kakiku menuntun hingga aku mendapatkan tempat duduk yang cukup terdepan, tak jauh dari deretan tamu VVIP. Dari posisi ini, meski tetap terbantu oleh layar dokumentasi, pandanganku ke panggung terasa begitu dekat dan lapang.
![]() |
| Dokumentasi pribadi | Suasana Sholawat Bersama Habibi |
Pemandangan di sekitar lokasi sungguh menakjubkan. Bendera-bendera majelis berkibar anggun di sisi pinggir dan area belakang jamaah, sehingga sama sekali tidak menghalangi pandangan penonton yang hadir. Cahaya dari hiasan lampu panggung berbaur indah dengan kelap-kelip lampu hias di tangan santri dan dari ponsel para jamaah yang dinyalakan saat lantunan Ahmad Ya Habibi bergema. Ditambah lagi, semerbak aroma parfum dan wewangian khas majelis menyeruak memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang begitu syahdu dan menenangkan.
Melihat Habib Syech dari jarak dekat secara otomatis memutar memori lamaku. Beliau adalah idolaku sejak tahun 2015, kali pertama aku mengenal dan jatuh cinta pada lantunan sholawatnya. Ingatanku melayang pada tahun 2016 di Lampung Tengah Bersholawat. Kala itu, aku mendapat kesempatan luar biasa untuk bertemu langsung secara dekat, berjabat tangan, hingga berfoto bersama beliau saat beliau transit dan beristirahat di Rumah Dinas Bupati Lampung Tengah sebelum acara dimulai. Malam Jum'at ini, rasa kagum itu masih tetap sama, bahkan semakin menebal.
![]() |
| Momen foto bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf. (Dokpri/Fadillah) |
Semua bait sholawat yang dibawakan Habib Syech malam itu terasa sangat menyentuh, hangat, dan menjadi obat penawar bagi jiwaku yang rindu. Terutama saat penggalan syair Qosidah Burdah mulai dilantunkan, rasanya seperti mengusap dahaga spiritual yang lama terendap. Namun, momen yang paling aku nantikan — no debat — adalah saat Mahalul Qiyam.
Ketika seluruh jamaah berdiri dan salam penghormatan kepada Nabi digemakan, di situlah puncak dari segala rasa. Aku merasa puncak doa-doaku terangkat dan tersampaikan tanpa sekat sedikit pun. Air mata meledak begitu saja, merembes tanpa perlu ditahan atau ditutupi. Seluruh jamaah riuh dalam suka cita sekaligus haru, menyenandungkan sholawat bersama sang idola. Kita semua hadir membawa beban hidup, doa, dan harapan dari berbagai ujian yang tengah dihadapi. Malam itu, kami pasrahkan semuanya, berharap sholawat menjadi wasilah agar rintihan hati kami didengar oleh Allah SWT tanpa batas.
![]() |
| Jamaah bersholawat bersama Habib Syech malam Jum'at lalu. |
Dalam tausiyah dan pesannya, ada hal mendalam yang tercetus. Beliau mengingatkan agar kita bangga menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW dan senantiasa menghidupkan malam serta hari-hari kita dengan memperbanyak sholawat. Jangan sampai kita menjadi orang sombong dan fakir yang enggan bersholawat.
Bahkan Abu Lahab — paman Nabi yang membenci Islam — mendapat keringanan azab setiap hari Senin hanya karena ia bersukacita saat mendengar kabar kelahiran Nabi. Lantas bagaimana dengan kita yang mencintai dan mengagungkan Nabi setiap hari?
Hal ini menyempurnakan sebuah kutipan yang sempat kubaca di linimasa media sosial beberapa hari lalu: bahwa tidak perlu dalil untuk mencintai Rasulullah SAW, sebab beliau saja tidak pernah meminta syarat apa pun untuk mencintai kita sebagai umatnya, jauh sebelum kita dilahirkan ke dunia.
Sepanjang majelis berlangsung hingga langkah kakiku pulang menembus larut malam, ada doa khusus yang terus terselip di dalam hati. Semoga Allah ridho dan mencatat setiap helai napas serta langkah kakiku malam itu sebagai amalan yang diterima-Nya. Doa dan pahala itu aku hadiahkan sepenuhnya untuk orang-orang yang sangat kucintai yang telah mendahuluiku:
- Untuk almarhum Bati (Abi) tercinta: Muslim Adi Santosa bin Ahmad Khosim bin Cacang bin Abdullah bin Fulan,
- Untuk Umi tersayang: Nursimah binti Husein bin Damai,
- Untuk guruku, Abi keduaku, kekasih hatiku: Allahyarham Abah Ustadz Mahfudzin bin H. Alif Yunus,
- Untuk orang tua angkat sekaligus guru sastraku: Almarhum Papa Gatot Arifianto bin Warno Sumarto,
- Serta untuk ayundaku tercinta: Almarhumah Diti Sari Fathonah binti Muslim Adi Santosa.
Semoga kelak Allah pertemukan dan persatukan kita kembali di alam Barzakh dan di dalam indahnya Jannah Firdaus-Nya.
Sesampainya di rumah, rasa dada ini terasa begitu plong. Meski saat mata mulai terpejam di larut malam air mata masih sesekali merembes, ada kedamaian tersendiri yang tertinggal. Terus terang, ada rasa rindu yang teramat dalam pada almarhum Abah Guru Ustadz Mahfudzin. Biasanya, beliaulah yang selalu bersamaku, menggandeng tanganku untuk hadir dari satu majelis ke majelis lainnya, terutama Majelis Ahlul Bait.
Malam 1 Rabiul Awwal di Klapanunggal ini bukan sekadar perjalanan fisik menembus malam, melainkan sebuah perjalanan batin — sebuah penawar rindu, penghapus dahaga jiwa, dan ikhtiar untuk terus mendekatkan diri kepada Sang Kekasih.









