Cerita Cendekia adalah ruang ekspresi dan refleksi dari Cendekia Alazzam (Pecandu Sastra) — berisi rangkaian puisi, cerpen, cerbung, esai, opini, serta ulasan buku dan film. Melalui tulisan, aku bercerita tentang kehidupan, gagasan, dan imajinasi, dengan harapan bisa mengajak pembaca berpikir, merasa, dan merdeka.

Thursday, April 9, 2026

Di Bawah Naungan Cahaya Murabbi [Kado Milad Abah 2026]

Lentera kecil pengusir kelam, laksana nasihat guru yang menetap di dalam diam. Jawaban doa dalam binar cahaya. (Sumber: Unsplash)


Di antara riuh rendah dunia yang fana,
Engkau hadir sebagai jawaban dari sujud-sujud panjangku,
Seperti rintik hujan yang jatuh di tanah yang dahaga,
Nasihatmu mengalir lembut, menetap dalam sanubari tanpa sengketa.

Kita pernah dipertautkan oleh waktu di tahun dua satu,
Lalu dipisahkan oleh tabir takdir yang membentang rindu,
Namun, di penghujung dua lima, semesta kembali menyatukan langkah,
Membuktikan bahwa ikatan ruh takkan pernah punah.

Wahai sosok yang gigih dalam risalah dakwah,
Wajahmu adalah cermin dari ketawaduan yang megah,
Dalam nadimu mengalir mahabbah pada guru-guru mulia,
Dan cintamu pada Baginda Nabi, sang rembulan alam semesta.

Di hari miladmu ini, biarlah doa-doa menjadi sayap,
Terbang mengetuk pintu Arsy dengan harap yang menetap:
Semoga raga yang lelah kian pulih dalam afiat yang sempurna,
Sehatmu adalah lentera bagi kami yang masih buta.

Semoga usiamu memanjang dalam dekapan ketaatan,
Seperti pohon yang akarnya menghujam, dahan menjulang penuh keberkahan,
Teruslah menjadi telaga bagi jiwa-jiwa yang sedang mencari,
Menjadi jawaban atas doa, sang guru yang kami cintai.


Gunung Putri, 9 April 2026


---


Puisi ini terlahir dari kedalaman sujud dan rintihan rindu yang membuncah, dirajut khusus sebagai kado takzim di hari milad Guru mulia yang telah menjadi wasilah cahaya bagi gelapnya jiwaku. 

Setiap diksinya adalah detak jantung yang mengagumi kegigihan dakwah beliau, dan setiap baitnya adalah gema doa yang melangit, memohon agar Sang Pemilik Kehidupan senantiasa menjaga raga beliau dalam afiat yang sempurna, sebagaimana beliau menjaga hati kami dengan nasihat yang menyejukkan.

Ia bukan sekadar deretan kata, melainkan sebuah prasasti mahabbah yang ditulis dengan tinta ketulusan, sebuah pengakuan syahdu bahwa perjumpaan kembali di penghujung tahun dua lima adalah skenario terindah dari Allah Azza wa Jalla. 

Dalam setiap metaforanya, tersimpan harapan agar beliau tetap menjadi lentera yang tak kunjung padam, membimbing langkah-langkah kami yang tertatih untuk semakin mencintai Baginda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam, hingga kelak cinta itu membawa kami berkumpul bersama dalam naungan rida-Nya.

Selamat milad Abah, Guru kami Ustadz Mahpudin bin H Alif Yunus. 

Share:

Latest in Tech

Cendekia Al Azzam | Pecandu Sastra©2025. Powered by Blogger.

Segelas Kopi dan Jejak Langkah Murobbi

Ilustrasi didesain oleh AI-GMN Tak ada satu hari pun melintas tanpa gerimis bening di pipi Menetes pelan membasahi sajadah rindu yang sunyi ...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Blog Archive

Home - Recent Posts (show/hide)

Home - PageNavi (show/hide)

Random Posts

Recent Posts

Labels

Blog Archive