Cerita Cendekia adalah ruang ekspresi dan refleksi dari Cendekia Alazzam (Pecandu Sastra) — berisi rangkaian puisi, cerpen, cerbung, esai, opini, serta ulasan buku dan film. Melalui tulisan, aku bercerita tentang kehidupan, gagasan, dan imajinasi, dengan harapan bisa mengajak pembaca berpikir, merasa, dan merdeka.

Search Bar

Monday, November 6, 2017

Peristiwa Satu November

Hak, keadilan, dan kebebasan
Tak sejalan dengan pancasila dan undang-undang


Oleh : Disisi Saidi Fatah (Alfa Arkanan Euonoia)

Masih saja teringat dalam benak
Peristiwa yang begitu perih dan pahit terasa
Dimana diri ini menjadi penghianat diri sendiri

Bagaimana tidak?
Tak pernahku berkhianat seperti ini
Namunku tak bisa pabila terus terpaksa
Melakukan hal yang bertentangan dengan hati, hak, dan kebebasanku

Satu November itu
Akan selalu terkenang dalam hidup
Menjadi pelajaran berharga
Menjadi kisah penuh duka

Dimana
Hak, Keadilan, dan Kebebasan
Tak sejalan dengan pancasila dan undang-undang

Way Kanan, Lampung 6 Nov 2017
Share:

Sunday, November 5, 2017

Bukan Ranjang Mimpi

Oleh : Alfa Arkana Euonoia (Disisi Saidi Fatah)

"Kehidupan di dunia tidaklah seindah puisi,
Dengan rangkaian kata yang dirangkai seindah goresan pena

Dunia bukanlah ranjang mimpi
Dengan ribuan ilusi
Dunia adalah kenyataan
Yang harus diterima dengan rendah hati dan lapang dada

Kehidupan di dunia
Bukanlah keindahan dalam berpuisi
Bukan pula rangkaian kata demi kata
Yang tercipta dengan seindah goresan pena

Way Kanan, 5 November 2017
Share:

Saturday, November 4, 2017

Karier atau Keluarga? Mana Yang Lebih Utama?

Assalamualaikum, Wr Wb
Selamat siang, dan salam sejahtera bagi kita semua

Jumpa lagi dengan aku Disisi Saidi Fatah.
Baiklah, pada kesempatan kali ini aku ingin memaparkan sedikit tulisan mengenai karier dan keluarga, serta berbagi pengalaman pribadiku.
Seberapa pentingkah keluarga dimata kita? Jika disuruh memilih antara karier dan keluarga kamu pilih mana?



Pernah ada pertanyaan yang saya ajukan pada diri saya sendiri.

Antara keluarga dan karier, yang mana harus ku dahulukan?
Aku adalah anak keenam dari tujuh persaudara dikeluarga, dan anak laki-laki yang paling tua didalam keluarga. Kalau kata orang sih pengganti kedudukan orang tua (bapak).
Sebagai anak laki-laki paling tua, Aku berjuang semampu dan sekeras diri untuk memberikan yang terbaik dalam keluarga.
Beberapa tahun lalu aku bekerja mencari rezeki yang tujuan utama nya ialah sebagai upaya memenuhi keperluan sehari-hari, dan sisanya untuk disimpan dan nantinya akan dipergunakan untuk keluarga.

Aku bekerjasama dengan beberapa wirausaha dan wiraswasta, sebelumnya sudah memberi tahu keluarga bahwa aku akan bekerja dengan salah seorang wirausaha, dan akhirnyapun ibunda mengizknkan. Namun bapak masih belum memberi izin sebab suatu alasan.
Namun, sebab keras kepala, akhirnya aku tetap ikut bekerja disitu, bapak dan ibunda-pun menyetujui.

Waktupun berjalan, karierku sudah mulai kelihatan mengembang, namun itu hanya sebentar saja, bahkan usaha kerja keras aku tidak memperlihatkan hasil.
Aku semakin hari semakin bosan dengan karier tersebut, mungkin karena aku terlalu sangat ambisi untuk mendapatkan hasil yang luar biasa, akan tetapi aku lupa dengan keluarga yang telah kupunya.
Aku lebih banyak meluangkan waktu untuk karier dibandingkan keluarga sampai pada suatu hari dimana bapak kembali dipangkuan sang ilahi.

Akhirnya aku tersadar, betapa pentingnya keluarga bagi diriku, aku telah salah dalam memilih antara keluarga dan karier, yang mana harus kudahulukan.
Aku sangat menyesali perbuatan itu, namun semua telah telat dan tidak akan pernah kembali lagi.
Setelah ditinggal alm.bapak beberapa bulan, akhirnya aku mulai hijrah kembali mencari jalan terbaik dan pastinya yang Allah dan ibunda ridhoi.
Tak lama dari itu, Alhamdulillah aku mendapatkan kesempatan untuk bekerja disalah satu yayasan ternama di kota, dimana tempatku tinggal.

Aku meminta izin dan restu dari ibunda, dan Alhamdulillah ibunda-pun mengizinkan.
Ya Alhamdulillah, berkat dari doa restu ibunda, karierku meningkat. Ya memangsih gajinya masih sedikit. Namun, aku tetap mensyukurinya.

Awal-awal bekerja di yayasan, semua berjalan dengan lancar tanpa hambatan, bahkan kegiatanku diluar masih tetap berjalan sebagaimana mestinya, dan aku juga masih bisa mencari kerja sampingan untuk menambah rezeki buat keluarga.
Akupun masih sering jenguk keluarga dua bulan sekali bahkan terkadang sebulan sekali.

***
Seiring berjalannya waktu, semuapun berubah. Aku tak lagi sebebas dahulu.
Sang pemilik yayasan menegorku, ia marah dan mengancamku untuk dikeluarkan dari yayasan tersebut jika aku tidak mematuhi nasihatnya. Padahal selama ini aku selalu patuh, manut, dan tertib dengan peraturan.
Entah apa yang membuat dia berubah?
Kemarin, aku ada kegiatan diluar yang memang tidak bisa aku tinggalkan. Aku izin dengan pemilik yayasan dengan baik dan sopan, namun apa yang didapatkan? Bukannya diberi izin, aku malah di marah, dijelek-jelekkan, bahkan lembaga yang akan ku datangi itu dijelek-jelekkan.
Namun hal itu tak membuatku down, aku kabur keluar tanpa pamitan sebab jika aku pamitan maka aku tak akan pernah mendapatkan izin. Sedangkan aku lebih sayang keluargaku dari karier di yayasan tersebut, aku sih enggak takut jika aku dikeluarkan. Sebab Allah pasti memberikan yang terbaik untukku.

Ini sangat aneh sekali, dan tidak adil bagi diriku. Aku sudah berusaha profesional bekerja dengan tupoksi dan waktu sesuai dengan jadwal. Aku juga jarang sekali izin jika tidak ada kepentingan dan hal yang mendesak.
Bahkan aku ngantor setiap hari, walau tidak ada jadwal ngajar.
Tepi mengapa ini enggak adil denganku, mengapa guru-guru yang lain tak sama seperti diriku.

***
Aku bingung harus kepada siapa diriku mengadu, mencurah isi hatiku. Aku ingin menceritakan semua pada ibunda namun aku takut ibunda kepikiran dengan semua yang aku alami.
Namun jika tidak kuceritakan maka aku tak akan mendapatkan solusinya.

Setelah berfikir lama, akhirnya kuceritakan semua pada ibunda, mbak aku yang jauh lebih memiliki pengalaman dariku, pamanku, dan bapak angkatku.
Mereka bilang agar aku tetap bersemangat, sabar, dan terus berjuang dalam karier itu.

Aku sebenarnya lelah, sebab tidak bebas di yayasan tersebut. Namun aku lebih sayang pada keluarga.
Jadi aku memilih untuk masih bertahan di yayasan itu.
Aku takut kehilangan orang yang aku sayang, sebagaimana alm bapakku.

Aku enggak peduli, seberapa banyak kata-kata kasar, jelek, dan lainnya yang orang timpakan kepadaku, selagi itu bukan dari ibundaku.

Intinya, aku lebih memilih keluargaku dari pada karier. Seandainya ibunda dan mbak, atau paman menyarankanku untuk pergi dari yayasan  tersebut maka aku akan pergi.
Sebab aku takut akan ibundaku, aku takut jika ibunda tak meridhoiku.

 Keluarga adalah hal yang paling utama, keluarga adalah harta yang tak ternilai harganya.
Share:

Friday, November 3, 2017

Menuntut HAM dan Keadilan

Sebuah Opini dari Disisi Saidi Fatah, mengenai HAM, Keadilan, dan Kemanusia.

“Tiap-tiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”


   Setiap mahluk hidup, terutama manusia tentu memiliki hak, yang sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Hak yang dimiliki oleh manusia itu biasa disebut hak asasi manusia (HAM) , yang mana diatur dalam undang-undang.

Ada beberapa poin menjadi acuan kita untuk perlu kita garis bawahi, bahwasanya HAM itu sangat diperlukan dan harus diterapkan di kehidupan sehari-hari tanpa terkecuali.

Yang pertama ialah, UU No.39 tahun 1999, dalam pasal 1 angka 1 yang membahas tentang HAM dan UU No.26 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia, bahwa HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk tuhan yang maha kuasa dan merupakan anugerah-nya yang wajib dihormati, dijunjungtinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang, demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.

Dari penjelasan di atas, tentu sudah menjadi keharusan bahwa setiap orang harus memperlakukan sesamanya sesuai hak asasi manusia yang dimiliki. Namun dalam kehidupan sehari-hari, kita terus saja temui berbagai perbuatan yang melanggar hak asasi orang lain, baik itu yang kita lihat secara langsung, maupun yang kita baca/saksikan melalui media cetak dan elektronik.

Lalu bagaimana jika poin-poin diatas tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sama dengan apa yang sedang saya alami dalam beberapa waktu ini.
Saya adalalah seorang aktivis muda yang juga seorang guru honorer disalah satu sekolah swasta milik yayasan ternama.

Awal saya bekerjasama dengan yayasan tersebut, mula nya baik-baik saja, saya masih bisa mengikuti kegiatan saya sebagaimana biasanya. Sebagai seorang aktivis pasti saya harus banyak melihat, mendengar, merasakan, dan berbaur dengan masyarakat luas.
Saya berusaha bekerja se-professional di sekolah tersebut, setiap hari ngantor dan standby disekolah. Bahkan jarang sekali saya absen apabila tidak ada keperluan yang sangat mendesak.

Namun, hal itu tidak lagi sama dengan peristiwa yang terjadi pada saya beberapa pekan ini. Ketika saya izin untuk mengikuti aktivitas diluar yayasan saya malah diomeli dan dijelek-jelekkan, padahal saya izin dengan baik dan sopan apalagi saya izin ketika tidak ada jam ngantor.
Bukan hanya sekali atau dua kali saja, sudah berkali-kali hal itu terjadi kepada saya. Sang pemilik yayasan tidak mengizinkan saya untuk mengikuti aktivitas diluar yayasan.
Mengapa ini semua tidak adil terhadap saya, apa bedanya saya dengan guru lain?

Saya ngantor tiap hari, sedangkan yang lain tidak pernah bahkan jarang sekali.
Saya bekerja sesuai dengan tupoksi dan jam ajar yang telah disediakan.
Tapi mengapa kok masih dipermasalahkan.
Mengapa yang lain tidak, sedangkan yang lain kerja nya nyabang dan ada juga yang kuliah dan lain-lain.

Ini benar-benar tidak adil. Dimanakah undang-undang, HAM, dan keadilan?
Padahalkan sudah jelas dalam undang-undang, bahwasanya tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak. Sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang NKRI tahun 1945 Pasal 27 ayat (2) yang berbunyi;

“Tiap-tiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”

Ayat ini memuat pengakuan dan jaminan bagi semua orang untuk mendapatkan pekerjaan dan mencapai tingkat kehidupan yang layak bagi kemanusiaan.

Negara kita adalah negara hukum. Semua diatur oleh undang-undang.
Apalagi negara kita Indonesia berlandaskan Pancasila. Lalu dimanakah nilai-nilai pancasila diterapkan?
Mengapa menjadi penghianat perjuangan para leluhur bangsa?

Berhentilah bertindak yang sewenang-wenang terhadap penghidupan orang lain.
Selagi itu tidak menghancurkan dan mengganggu kehidupan kita.
Apapun profesi kita, selagi kita manusia maka kita tak pernah luput dari salah, khilaf dan dosa.
Jangan pernah menganggap diri kita paling benar dan berkuasa sebab diluar sana masih banyak yang lebih dari kita.

Semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik dan saling menerima tanpa harus ada perpecahan, dan menjadi manusia yang lebih manusia.

Wallahualam
Share:

Sahabat Atau Pacar?

Pernah tidak kalian mendapatkan pertanyaan,
yang terkadang membuat kalian bingung sendiri untuk menjawabnya?

Antara pacar atau sahabat, kamu pilih mana?
Ya! Pertanyaan itu sering sekali menjadi pertanyaanku
dalam waktu beberapa pekan ini.



------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku memiliki sahabat yang sudah lama aku kenal, jauh lebih dari aku dan sahabatku mengenal seorang gadis.
Selama kami bersahabat dengan baik-baik saja, kami saling terbuka antara satu dan yang lain tanpa ada sesuatu yang tersebunyikan. Bahkan, kami saling berjanji untuk saling menasehati jika ada diantara kami yang melakukan suatu kesalahan ataupun bertindak berlebihan.
Suatu hari, ada seorang gadis yang sedang dekat dengan sahabatku bahkan mereka sudah memiliki hubungan yang kalau kata anak zaman now adalah pacaran?

"Wow, sahabatku ini benar-benar ambisius banget ya? Aku aja kalah duluan sama dia!"

Ohya, sebut saja sahabat aku Alfa.
Jadi semenjak Alfa pacaran sama gadis itu, semua perjanjian kami ia langgar bahkan ia perlahan-lahan menjauh dariku.
Setiap aku menasehatinya, Alfa selalu marah bahkan cuek denganku. Aku lelah dengan semua perlakuannya.

***
Pada suatu malam, ketika aku hendak tidur, waktu itu jam menunjukkan pukul 23.45, ponselku berdering ada sebuah pesan singkat/sms yang masuk.
Ketikaku buka pesan aingkat itu, betapa sangat terkejutnya aku membacanya fan membuatku bingung sendiri sebab yang sms itu adalah pacat sahabatku sendiri.

"Kakak itu enggak peka ya, aku itu sudah lama sekali jatuh cinta sama kakak sejak kakak pertama sekali menggelar acara di sekolahku. Aku ingin mengungkapkan nya sejak dulu namun aku bingung sebab ada beberapa cewek yang suka dan dekat sama kakak,"

Belum sempat ku balas pesan itu. Ada pesan lagi yang masuk.

Ingat enggak waktu itu, ketika kakak aku tanya di masjid. Mengenai hubungan kakak dengan mbak Intan? Disitu aku merasa terkalahkan sebab mbak Intan menyatakan cintanya duluan dari pada aku.
Dan pada saat itu kakak bilang kalau kakak sedang dekat dan akrab sama Alfa jadi aku ambil Alfa deh buat deketin kakak.

"Maksud nya apa ya? Bingung aku"

"Intinya aku suka sama kakak,"

Percakap itu terus berlanjut sampai pukul 01.00 Wib, dan aku memilih untuk mengakhiri percakapan terdahulu sebab aku sangat terkantuk sekali. Apalagi besok pagi aku ada kegiatan yang akan menyita banyak waktuku.

***
Keesokan hari, aku menemui Melly. Gadis yang kemarin smsku dan menyatakan isi hati secara blak-blakan.

"Mel, apa maksud sms yang kamu kirim semalam"

"Aku hanya mengungkapkan apa yang aku rasakan"

"Yang jelas aku sudah jujur"

"Maaf, aku enggak suka sama kamu Mel. Usia kita terlalu jauh, apalagi kamukan dekat sama Alfa mana mungkin aku merebut kamu darinya."

"Dan aku enggak ingin kamu merusak persahabatn kami"

***
Beberapa hari berlalu, hubungan aku sama Alfa kian tidak sehat bahkan hampir punah.
Alfa tidak pernah mendengarkan nasihat dariku, apalagi ada beberapa berita hoax yang menyatakan bahwa aku menembah pacarnya.

"Sialan, aku dijebak!"

"Itu cewe benar-benar tidak tahu diri, cewe murahan"

"Bukannya dia yang nembak aku, menyatakan cintanya kepadaku secara blak-blakan"

Aku benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya pada hubunganku dan Alfa. Bagaimanapun Alfa adalah sabat tersayangku. Kami sudah seperti adik dan kakak. Apalagi orang tua Alfa sudah mempercayakan dengan persahabatan kami.

Rasa takut itu mulai menyelimuti hari-hariku. Bayang-bayang ketakutan selalu menghantui hariku ecara terus-menerus.
Aku berusaha untuk menyadarkan Alfa dan memisahkannya dari pacar.
Apalagi ketika aku bercerita pada orang tua Alfa mengenai hubungannya dengan gadis itu. Untunglah orang tua nya sangat tidak mensetujui.
Bapak dan ibu memintaku agar kembali menjadi kakak nya Alfa dan meminta untuk memisahkan Alfa dan Melly.
Jika tidak maka Alfa akan dipindahkan keluar kota.

Gila bukan? Kalau Alfa pindah ke kota bagaimana nasib hubungan kami?

***
Aku tidak ingin jika persahabatan yang sudah lama aku jalin akan hancur sebab hal yang sangat aneh ini. Bagaimanapun aku harus bisa merebut Alfa kembali.

"Fa, dengerin aku?"

"Ada apa"

"Kamu masih berhubungan ya sama si Melly"

"Jika masih, memang nya kenapa"

"Dengar ya Fa, Melly itu gadis yang tidak benar. Kamu itu berubah 180• sejak kenal dia. Bahkan kamu enggak semangat buat belajar. Kamu lihatkan nilai dan sekolah kamu berantakan sejak kamu kenal dia"

"Kakak kenapa sih, enggak merestui aku. Kakak gak senang lihat sahabatnya sendiri bahagia"

"Kakak lebih bahagia melihat kamu punya preatasi dan membanggakan orang tua. Kamu gak kasihan lihat orang tua dirumah berjuang keras demi masa depan kamu Fa?"

"Pokok nya, kakak gak mau tahu. Kamu harus putusolin tuh cewe atau kamu tinggalin kakak untuk selamanya"

Sejak kejadian itu, Alfa marah dan tidak pernah menegor aku.
Namun semangatku untuk memperjuangkan persahabatan kami tetap terus berkobar.

Pada suatu hari, aku menghubungi orang tua Alfa. Kuceritakan semua perilaku Alfa selama disekolah dan diasrama.
Untung saja bapak dan ibu masih percaya dengankuu. Aku meminta bapak dan ibu untuk menasihati Alfa. Akhirnya Alfa diminta bapak dan ibu untuk kembali kerumah beberapa hari.


***
Ketika Alfa pulang kerumah orang tua nya. Aku memanfaatkan waktu itu untuk menemui dan menasehati Melly. Meminta supaya Melly melupakan Alfa. Namun gadis itu tidak terima, jadi terpaksa aku pakai cara yang sedikit memaksa.

"Mel, dengar ya. Jika kamu masih berhubungan kembali sama Alfa awas saja. Kamu akan menyesal"

"Bapak dan ibu Alfa saja tidak setuju kalau anak nya pacaran. Apalagi aku sang kakak nya"

"Awas lho kalau masih berhubingan"

Aku memaksa dan mengancam Melly, jika ia masih berhubungan dengan Alfa. Aku sebenarnya enggak tega menggunakan kata kasar terhadap Melly. Namun dia tetap bersikeras tidak mengindahkan perkataanku jadi terpaksa aku harus dengan cara sedikit kasar.


Dua hari berlalu. Alfa kembali ke asrama diantar sang bapak.
Namun Alfa masih seperti kemarin, cuek dan tidak menegorku.

Hingga sampai pada keesokan hari nya. Ia mengirimi aku sebuh surat.
Untuk meminta maaf dan kembali bersahabat sebagaimana terdahulu.

"Kak, aku minta maaf ya sudah salah dan cuek sama kakak. Aku sayang kakak."

"Aku ingin kita lembali bersahabat, dan menjadi adik dan kakak kembali seperti dahulu"

"Miss you kak"

"Oke Fa. Tapi janji kamu harus putusin dulu Melly, baru aku mau tegor kamu dan bersahabat lagi."

"Aku sama Melly. Sudah tidak ada hubungan lagi kak. Bapak bilang kalau aku masih pacaran dan tidak mendengarkan nasihat kakak maka aku akan disuruh pulang dan dipindah ke kota,"

"Siip gitu geh. Itu baru nama sahabat."

"Oh ya kakak minta maaf ya ikut campur urusanmu"

"Sebab aku sayang sama kamu Fa. Kamu sudah aku anggap adik sendiri."
"Aku gak mau kalau kamu malas, apalagi mengecewakan kedua orang tua"

"Iya kak. Terima kasih sudah menjadi kakak aku selama ini"

Akhirnya, aku dan Alfa kembali bersahabat setelah beberapa pekan saling cuek.
Kami sadar bahwa sebuah persahabatan lebih berharga dari pada pacaran. Maka dari itu kami kembali bersabat lagi.

Share:

Thursday, November 2, 2017

Senja

Senjaku kini telah berubah
Tak lagi sama seperti dahulu



 Oleh : Alfa Arkana Euonoia (Disisi Saidi Fatah)

Senja
Kini engkau telah berubah
Tak lagi seperti dahulu

Rinai hujan sore
Bertaburan
Menghapus jejak debu dijalanan

Pergi membawa jutaan kenangan
Menghilang dalam dekapan

Syair-syair lama terhapus sudah
Tergantikan dengan syair baru

Senja
Kau datang dan pergi
Tanpa aturan

Way Kanan, 27 Oktober 2017
Share:

Pagi Yang Kurindu_Alfa

Selamat pagi
Pagi yang kurindu!


 Oleh : Disisi Saidi Fatah (Alfa Arkana Euonoia)

Pancaran sinar mentari
Menghangatkan sekujur tubuh
Memberikan kesan utuh
Menikmati pagi dengan segelas kopi

Kala itu kau hadir
Menebar senyum
Berikan semangat
Untukku

Mengajakku menari-nari
Berdendang sesuka hati
Melantunkan nyanyian rindu
Dengan sesuka hatimu

Canda tawa pagi itu
Menghilangkan penat dihatiku
Ketika pilu tak lagi membisu

Aku rindu pagi itu
Ketika dirimu disisiku

Namun dirimu tak ada lagi disisiku
Entah kemana engkau pergi
Meninggalkan banyak kenangan
Tanpa sevab aku tahu

Selamat pagi
Pagi yang kurindu

Way Kanan, 23 Oktober 2017
Share:

Latest in Tech

Cendekia Al Azzam | Pecandu Sastra©2025. Powered by Blogger.

Pelayan Setia di Majelis Cahaya | Puisi

Ilustrasi dibuat oleh kecerdasan buatan (AI)/Gemini.    Sering kali, di sepertiga malam terakhir saat alam semesta tenggelam dalam kehening...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Blog Archive

Home - Recent Posts (show/hide)

Home - PageNavi (show/hide)

Random Posts

Recent Posts

Labels

Blog Archive